Simfoni

Foto ini diambil saat gua dan teman-teman kuliah sedang melangsungkan semacam malam perpisahan, sekitar pertengahan tahun 2007, saat kami masih kurus dan cicilan rumah belum menjadi masalah.

kuliah

Ga bisa dipungkiri, kuliah dan tugas adalah dua hal yang ga bisa dipisahkan. Ngejar deadline tugas jadi aktivitas mayoritas bagi mahasiswa macam gua waktu itu. Bergadang sampai pagi lalu langsung berangkat kuliah tanpa tidur, jadi sebuah kegiatan yang terlihat lumrah dilakukan secara biologis.

Tapi tugaslah yang ternyata mampu mengakselerasi keakraban gua dan teman-teman kuliah. Rasa senasib dan sepenanggungan menjadi katalis bagi kedekatan kami. Kebutuhan untuk bercerita dan berkeluh kesah, menjadikan teman satu-satunya telinga yang mampu mengerti. Pengen sih cerita ke orang tua, tapi rasanya sulit untuk menceritakan betapa beratnya tugas kuliah Total Quality Management itu tanpa diberondong oleh ekspersi “Hah?”

Meski tugas bertumpuk, kami bukanlah segerombolan mahasiswa kutu buku yang kupu-kupu. Kuliah pulang, kuliah pulang. Kami lebih cocok disebut kumbang-kumbang. Kuliah ngambang, kuliah ngambang. Ngambang entah ke mana sepulang kuliah.

Ada banyak cerita menarik ketika kami memutuskan untuk ngambang setelah suatu kelas dinyatakan selesai atau saat ga ada kuliah sama sekali. Namun salah satu cerita favorit gua adalah ketika kami nonton di mall baru yang berada lumayan jauh dari kost-an. Sebuah cerita yang berawal dari ajakan iseng untuk nonton Shrek.

“Eh, makan terus nonton yuk? Ke mall Margonda aja,” ajak gua ke teman-teman kuliah yang kebetulan lagi berkumpul di kost-an Akbar.

Akbar, sambil masih mengenakan sarung dan kaos oblong, menanggapi, “Yuk. Boleh, boleh. Mau nonton apa?”

“Hmm,” gua mengingat-ingat film apa yang sedang tayang minggu itu, “Gimana kalo nonton Shrek?”

“Hah?” Akbar terlihat kaget, “Nonton SEKS? Di mana? DI MANA?”

“…”

Akhirnya, tanpa membahas lebih lanjut kenapa Akbar bisa salah mendengar sejauh itu, gua, Akbar dan beberapa teman lainnya berangkat ke sebuah town square di kawasan jalan Margonda. Mall itu terbilang baru sehingga kami penasaran dan pengen nyobain ke sana. Berbekal uang beberapa puluh ribu, kamu pun berangkat dengan naik angkutan umum.

Sebelum nonton, kami mau makan di food court di mall yang sama. Karena masih terhitung baru, mall itu masih sepi, begitupun dengan food court-nya. Yang kamu ga tau, makan di food court kala sepi adalah sebuah adegan yang mirip cerita horor. Kalo sepi, pegawai setiap counter makanan di food court jadi… SANGAT BERINGAS.

Ketika gua dan Akbar duduk, seorang wanita penjaga counter dengan sigap langsung mendekati meja kami sambil membawa menu.

“Makan, Mas.” Ini nawarin apa merintah nih?

“Nanti, Mbak. Masih mikir. Hehe,” jawab Akbar sambil senyum.

“Iya, Mbak.” Gua menimpali.

Gua dan Akbar masih asik melihat-lihat sekeliling food court, ketika si Mbak tadi membelah diri kayak amoeba. Tiba-tiba aja, ada banyak mbak penjaga counter yang mengelilingi meja gua. Dan semuanya bawa menunya masing-masing yang langsung ditodong ke muka gua.

“Duh, nanti, Mbak. Nant…”

“Yang ini enak, Mas,” potong Mbak penjaga counter nasi goreng.

“Eh, yang ini lebih enak, Mas!” Mbak penjaga counter pecel ayam ga mau kalah.

“Ngaku-ngaku! Nasi goreng saya yang enak, Mas!”

“Pecel saya!”

Si Mbak Nasi Goreng menatap penuh dengki ke arah Mbak Pecel Ayam. Keadaan makin runyam ketika Mbak penjual es doger, kwetiau, dan bakso terinspirasi dan melakukan hal yang serupa.

“Kwetiau, Mas?”

“Duh, Mbak, saya lagi ga mood makan kwetiau nih,” jawab gua asal-asalan.

“Mood-nya makan apa, Mas?”

“Yang ga ada apa, Mbak?”

“Mas-nya juga sih! Bikin keputusan dong. Kami kan ga suka digantungin gini!” teriak Mbak Nasi Goreng.

“Iya nih. Salah si Mas nih!”

“IYA! IYA! SALAH SI MAS!”

Baguuuuus. Sekarang gua yang disalahin. Ga sekalian gua disuruh jalan jongkok Depok – Jonggol?

“Mas maunya apa sih?!” bentak Mbak Nasi Goreng, yang ingin segera gua add akun LinkedIn-nya dan +1 pada kemampuan provokasinya.

“Saya mau… to…”

“YES!” Mbak penjaga counter toge goreng udah nge-yes duluan.

“To… ilet. Saya mau pipis.”

“Saya juga! SAYA JUGA!” Akbar ngekor gua ke toilet.

Melihat keganasan mbak penjaga counter, ga makan sepertinya ide yang cukup sehat sore itu. Gua, Akbar dan beberap teman lain memutuskan untuk langsung masuk ke bioskop aja dan menonton Shrek dengan tenang.

Singkat cerita, jam 10 malam, kami keluar dari bioskop dengan perut keroncongan. Malam itu, karena ga ada lagi angkutan umum, kami harus jalan kaki dari mall agar bisa pulang ke kost-an. Jarak dari mall ke kost-an? Lumayan jauh. Membutuhkan satu jam lebih waktu tempuh dengan berjalan kaki.

Ada sepuluh laki-laki naas yang diharuskan berjalan kaki untuk pulang malam itu. Berjalan menyusuri Margonda, melintasi rel kereta, lalu melewati hutan dengan pohon-pohon besar yang terkesan horor. Di satu perempatan, kami dikejar anjing gila yang disambit batu oleh salah seorang teman. Sempet motong jalan demi menghindari anjing, tapi malah nyasar ke dalam semak-semak yang bau entah apa.

Perjalanan malam itu bukan perjalanan pulang yang biasa.

Tapi ini bukan pertama kali kami pulang seperti ini. Ini bukan pertama kali kami berjalan kaki lebih dari satu jam untuk pulang ke kost-an. Bukan pertama kali melewati hutan yang cocok untuk lokasi Uka-uka, lari berkeringat, atau menyusuri semak sambil berharap ga ada ular yang mengintai. Ini bukan pertama kalinya kami begini. Ini pengalaman kami entah yang ke berapa kalinya.

Dan seperti malam-malam sebelumnya, angin sejuk bertiup kencang. Menyembur di sela dahan dan menggoyang-goyangkan ranting. Menggesek-gesek dahan yang kering terpanggang siang. Di sela suara gesekan ranting itu, tawa pecah satu-satu. Meletup liar di antara topik yang ga penting untuk dibahas, tapi tetap dibicarakan. Derap langkah sepuluh pasang kaki berdentum keras di atas aspal yang masih baru. Bertepuk ria seiring kerasnya suara tawa. Menggaung riung di tengah bunyi-bunyian yang tercipta tanpa sengaja.

Ranting bak perkusi, tawa bagai melodi, dan ritma ada di derap kaki. Semua itu menghasilkan suara yang syahdu. Menjadi satu, membentuk harmoni.

Jelas kami ga akan kapok pulang seperti ini. Meski berkeringat, lama, dan melelahkan, tapi kami ga akan pernah kapok.

Karena seperti malam-malam sebelumnya, hutan kembali jadi saksi. Para sahabat ini membuat simfoni.

Advertisements

Tagged: , , , , ,

16 thoughts on “Simfoni

  1. Anglicious June 23, 2015 at 12:17 Reply

    Akkkkk.. tanggung jawab, gw jadi kangen temen kuliah nih :'(

  2. Tirta June 23, 2015 at 19:31 Reply

    rambut lo nyet! hahahahaha

  3. Chichi June 23, 2015 at 21:04 Reply

    Gw ga yakin berangkatnya naik angkutan umum. Seingat gw, kalo udah ga ada bikun, kita pasti jalan kaki sampe halte FKM 😁

    • Roy Saputra June 24, 2015 at 06:19 Reply

      Naik bikun chi, sampe FKM. Untuk mempermudah cerita tanpa perlu menjelaskan apa itu bis kuning :))

  4. adhyasahib June 24, 2015 at 03:15 Reply

    kenangan jaman kuliah dulu ya memang membekas di hati :-)

  5. tomi azami June 24, 2015 at 04:31 Reply

    Aku yang semester tua aja udah kangen momen2 gila kaya itu, apalagi Bang Roy yang udah legenda..yang udah lama lulus.

  6. -n- June 24, 2015 at 05:48 Reply

    Kenangan tak terlupakan bgt ya, sama teman2 jaman muda. Eh jaman LEBIH muda, maksudnya. Skarang jg kan masih muda, hehehe

  7. presyl June 25, 2015 at 09:10 Reply

    Uuhh jaman kuliah rasanya kalau ga ke mol deket kampus belum sah jadi anak ui ya. Itu mol yg diomongin detos bukan sih? Untung jaman gue adanya margo city ya, cakepan dikit.

    Btw itu istilah kumbang-nya :)))))

    • Roy Saputra June 25, 2015 at 13:40 Reply

      bener, Detos :))

      dulu Margo baru buka di tahun ketiga gua kalo ga salah

  8. Khairunnisa Siregar June 27, 2015 at 13:51 Reply

    Jadi kangen kampus dan isi-isinya. Btw, Kak Roy masih kurus banget itu

    • Roy Saputra June 29, 2015 at 11:12 Reply

      sekarang juga masih kurus… kalo dibandingin sama yang lebih gemuk (‘-‘)9

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: