Tentang Kuliah Teknik Tenaga Listrik Yang Absurd Itu

Sebagai mahasiswa fakultas Teknik, gua banyak dibekali dengan mata kuliah yang erat hubungannya dengan sains. Ada Fisika Panas, dan Fisika Gelombang Optik. Ada Mekanika Teknik, dan ada Teknik Tenaga Listrik. Ada tempe goreng, ada ayam goreng, semua yang digoreng… asik, asik, asik.

Sampai mana tadi? Oiya, mata kuliah sains. Dari banyak mata kuliah sains itu, ada satu kelas yang dosennya ga bakal gua lupa. Nama mata kuliah itu Teknik Tenaga Listrik.

Sebelum mulai kelas pertama, udah ada kabar yang beredar kalo dosen yang ngajar itu seorang ibu-ibu, galak, dan pernah kerja sebagai menteri. Kabarnya lagi, banyak senior-senior di kampus yang ngulang mata kuliah ini karena faktor dosennya. Entah kabar ini datang dari mana, yang jelas gua dan teman-teman kuliah lainnya setengah percaya.

“Namanya sih kayak nama menteri,” kata seorang teman.

“Ah, yakin? Menteri apa mantri beranak nih?”

“Huss! Huss! Dosennya dateng tuh.”

Dosen yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Gua tegang menanti. Seperti apa ya rupanya? Apa dia segalak yang digosipin? Kalo marah, apa dia mecahin genteng pake jidat? Atau malah makan beling? Sesadis apa sih dia?

Bayangan ibu itu mulai tampak jelas dari balik jendela. Tangannya membuka pintu, dan terlihatlah wajahnya. Ia ternyata bukan seorang menteri, atau mantan menteri. Ia seorang ibu paruh baya, mengenakan jilbab rabbani, berwajah lugu, dan bermata sayu. Ia lebih mirip ibu-ibu kebanyakan yang sering tampil di acara masak Rudi Choirudin.

“Ya, Ibu-ibu, sekarang masukkan ipar rese ke dalam air mendidih.”

Ibu itu terus berjalan melintas di depan kelas, menuju meja dosen. Setelah itu, ia langsung menulis beberapa bahan di papan tulis. Sepuluh menit pertama, gua masih konsen ngedengerin bahan yang Ibu itu jelasin. Setengah jam berikutnya, gua mulai ngantuk dan menguap dengan brutalnya. Satu jam berikutnya, gua hampir terjatuh dari kursi saking ngantuknya. Gawat. Semua itu karena si Ibu ngajarin kami bagai anak TK!

“Jadi begini ya, anak-anak…”

Nadanya datar, tanpa emosi. Satu jam pertama ia hanya menulis materi kuliah, tanpa interaksi sama sekali dengan mahasiswanya. Materinya pun sebetulnya bisa dibaca di modul atau buku. Dia juga ga galak sama sekali. Beda banget sama kabar yang beredar selama ini. Gua sampe heran, kok gosipnya banyak senior yang gagal mata kuliah ini? Hoax nih, jangan-jangan.

Anyway, kuliahnya sendiri tentang rangkaian alat-alat listrik. Ada bagian yang bernama stator dan rotor. Di jam yang kedua, si Ibu mulai melakukan interaksi dengan mahasiswanya. Ia sering menggantung penjelasannya di ujung supaya kami bisa menebak-nebak.

“Jadi, anak-anak, yang berada di sebelah pusat rangkaian ini adalah…,” si Ibu tiba-tiba diam, menggantung ucapannya sambil menahan tangannya di ujung tulisan.

Gua bingung. Disangkanya gua bisa baca pikiran dia apa ya tiba-tiba diem gitu? Terakhir kali gua ngecek, nama mata kuliah ini masih Teknik Tenaga Listrik deh perasaan, bukan Teknik Tenaga Dalam. Tapi biar ga membuang waktu, gua dan teman-teman sekelas rame-rame menjawab asal.

“Rotor, Bu!”

Sepi. Sunyi. Hening. Krik, krik, krik.

Si Ibu masih mematung. Mukanya datar. Kayaknya kami salah jawab, sehingga ia masih terdiam dan menunggu jawaban kami yang lainnya. Karena pilihannya kalo ga rotor, ya stator, akhirnya kami pun meralat jawaban dengan cepat.

“Stator, Bu! Stator!”

“Iya, betul. Ini stator, anak-anak,” jawabnya pelan, masih dengan raut muka yang datar.

Dan serunya, kejadian menggantung penjelasan ini ga cuma sekali. Terus berulang di sisa kelas, dan menjadikan kami seperti paduan suara yang menyanyikan sebuah lagu tentang rangkaian alat listrik.

“Anak-anak, ketika medan listrik bergerak maka yang ikut mengalami perubahan adalah…”

“Statooor…”

Krik, krik, krik.

“Rotooor…”

“Betul. Anak-anak, kalau yang bergerak di sebelah inti disebut…”

“Statooor…”

Krik, krik, krik.

“ROTOR! PUAS, BU? PUAS?”

Seperti halnya mata kuliah lain, Teknik Tenaga Listrik pun ada 2 kali ujian. Ujian Tengah Semester (UTS) dan Ujian Akhir Semester (UAS). Karena materinya yang banyak dan lumayan detail, gua dan temen-temen sekelas sempat minta si Ibu untuk memberikan sedikit bocoran. Bab mana yang akan keluar, atau topik apa yang akan jadi pertanyaan. Semacam kisi-kisi lah.

“Bu, bahan ujiannya dari mana aja ya?” tanya salah seorang teman.

“Pokoknya dari yang Ibu sudah ajarkan ya,” sahut si Ibu pelan.

“Yaaah, Bu. Kan banyak banget tuh. Minta kisi-kisinya dong.”

“Hah? Visi misi?” tanya si Ibu dengan muka datar.

“…” Kelas hening.

“Bukan, Bu,” beberapa dari kami masih semangat meralat ucapan si Ibu, “Kisi-kisi!”

“Hah? Visi misi?

“KISI-KISI, BU!”

“Hah? Visi misi?”

“BUKAN, BU!”

“Oh, bukan. Lalu apa?”

“KISI-KISI!”

“Ooo…,” Akhirnya si Ibu tersadar akan apa yang kami ucapkan selama ini, “Tinky Winky?”

Revolutionaries? Teletubbies (from left) Twinky Winky, Dipsy, Laa Laa and Po.

Setelah gagal meminta kisi-kisi dan hanya berbekal ilmu rotor-stator, gua cukup pede memasuki kelas ujian. Gua mengambil nafas panjang, mencoba serileks mungkin. Gua yakin. Gua udah hapal, yang mana stator, yang mana rotor. Bahkan gua udah menggarisbawahi bagian stator dan rotornya. Biar makin yakin, gua baca bahan yang gua bawa sekali lagi.

Untuk meningkatkan tenaga listrik, maka kita perlu menambahkan kekuatan putar rotor. Lalu, menguatkan stator agar semakin baik.

Gua makin pede. Yakin pasti berhasil. Pinsil-pinsil udah gua serut sampe lancip. Penghapus pun gua beli baru. Pulpen gua test drive dengan cetak-cetek terus biar ga macet. Pokoknya mantaplah. Kemudian, kertas-kertas soal ujian dibagikan. Gua langsung membaca instruksi yang tertera pada lembar soal.

Isilah titik-titik di bawah ini.

Ah, cuman isi titik-titik. Gampang nih. Paling isi stator, atau rotor doang. 50-50 kemungkinannya. Gampang. Gua merasa pasti bisa. Pasti. Sampai gua melihat soal nomor satu.

Untuk …………. ………….., maka kita perlu …………………. ………………………….
Lalu ……………. …………….., agar semakin baik.

Bah! Soal apa ini? Kok banyak banget titik-titik yang mesti diisi?! Ga sekalian dikasih kertas kosong aje terus kita ngarang bebas?!

Gua mulai pucet. Duduknya pun mulai ga nyaman. Gua merosot dari tempat duduk. Lemes. Gua liat sekeliling ruang ujian. Ada yang semangat ngisi. Ada yang juga duduk lemes kayak gua. Ada yang matanya menerawang ke langit-langit kelas, kayak lagi menunggu wangsit dari langit.

Saat itu gua baru tersadar alasan di balik gosip-gosip yang beredar. Kelas ini susah dan banyak yang ngulang bukan karena materinya yang ribet. Tapi karena dosennya yang antik dan soal ujiannya yang model begini. Hadeh…

Tapi gua ga mau nyerah gitu aja. Gua lihat lagi lembar soalnya. Kayaknya gua bisa nih ngerjain soal nomor tiga. Nomor empat juga bisa. Gua mulai semangat menggerakkan ujung pena. Titik-titik kosong itu mulai terisi satu per satu.

Otak gua panas. Gua coba mengingat jawaban nomor satu dan dua. Nomor satu gua tiba-tiba inget jawabannya. Dengan cepat gua mengisi titik-titik yang ada.

Nomor dua? Hmm. Apa ya? Gua garuk-garuk kepala, coba merapel ilmu. Tapi kayaknya yang ini gua bener-bener ga tau. Ah, gua cuma ga bisa satu nomor. Masih dapet baguslah. Bisalah ini dapet 70 atau 80. Jaminan lulus udah di tangan!

…sampai tiba-tiba si Ibu membuat sebuah pengumuman kecil.

“Oiya, anak-anak. Kalo yang nomor di atasnya salah, nomor ke bawahnya salah semua ya. Jadi kalau nomor satunya salah, meski kalian menjawab nomor duanya benar, tetap disalahkan. Mengerti, anak-anak?”

Gua bengong.

Gua melongo.

Mana Tinky Winky? Sini, gua mau berpelukan dan menangis.

Advertisements

Tagged: , , , , ,

30 thoughts on “Tentang Kuliah Teknik Tenaga Listrik Yang Absurd Itu

  1. Rifqy Faiza Rahman July 11, 2015 at 12:06 Reply

    Aih ngeri juga dosennya ya Mas :3

  2. Kresnoadi July 11, 2015 at 12:26 Reply

    ITU ATURAN DARI MANA KALO YANG ATAS SALAH BAWAHNYA JUGA SALAH ANJIRRRR!! *emosi mendadak tinggi* *heyitsrhyme*

  3. Puji July 11, 2015 at 17:03 Reply

    Wow ada ya dosen begitu haha

  4. Robby Haryanto July 11, 2015 at 17:10 Reply

    Ternyata dosennya juga budek, ya, Mas. Mungkin faktor usia yang gak bisa membohongi.

    • Roy Saputra July 14, 2015 at 13:04 Reply

      kalo tebakan gua sih dia sengaja menghindar :))

  5. erickparamata July 11, 2015 at 21:05 Reply

    Hahaah dosen kek gini di tiap kampus pasti ada ya. Kalo dosen gue beda lagi, ngajar matematika ekonomi pas UAS disuruh isi semampunya doang karena katanya nilainya pasti aman yg penting kan udah bayar SPP. Eh pas pengumuman nilai semuanya dikasih nilai C. Semuanya protes tapi si dosen cuma bilang C kan tetep lulus juga. 😑

  6. dita July 11, 2015 at 22:17 Reply

    Issss dosennya segitunya banget sih huhuhu turut sedih

  7. Bernard Simanjuntak July 12, 2015 at 00:58 Reply

    Dosen TTL gue satu semester cuma masuk 2x pas gue titip absen pulak. Pas ujian isinya mengarang bebas semua. Nilai akhirnya kocokan. Kebetulan pas nama gue keluar A. Hahahaha kaga ngarti gue sampe sekarang apa isi kuliahnya

  8. adhyasahib July 12, 2015 at 04:18 Reply

    wah ini namanya dosen yang menyulitkan siswanya untuk lulus,,ahahaha,,,ternyata ada juga ya dosen yg kayak gini

  9. Syidil July 12, 2015 at 09:38 Reply

    ya ampun om kelewat antik ini sih dosennya -,-

  10. dodo July 12, 2015 at 17:45 Reply

    dosen apa ini!?!?! wkwkwkwk

  11. Kaca Luthfi July 13, 2015 at 06:43 Reply

    Antik banget itu dosennya, mz. Kalo saya punya dosen Hukum Bisnis yang lumayan unik kalo ngasih ujian. Beliau biasanya kasih 15 soal essay, lalu diatas ada perintah “Kerjakan hanya 10 soal dengan benar” or something like that. Mahasiswa yg ga teliti pasti bakalan melewatkan perintah itu dan dengan semangat ’45 ngerjain 15 soal yg dikasih. Kita-kita yg biasa berpikir strategis (alias males xD) tinggal siul-siul pas udah kelar ngerjain 10 soal, hahaha. As it later turned out, yg ngerjain semua 15 soal biasanya nilainya malah lebih jelek daripada yg ngerjain 10 soal karna dianggap kurang cermat pas ngerjain. YES! :)))

  12. noviaindahk July 13, 2015 at 12:21 Reply

    Serius ada dosen yang gitu, Bang? Hahahahaha. Syukur gue belom pernah nemu dosen begitu deh. Itu peraturan jawabannya nyebelin banget, pantes susah lulus mk-nya ckck.

    Dosen yang rada nyeleneh cuma dosen statistik. Ngejelasinnya kayak stand up pake tampang datar (tapi kalau beliau ngga ketawa, mahasiswa jangan harap bisa ketawa), yang dikeluarin soalnya lain lagi… Hahaha

  13. ifan afiansa July 19, 2015 at 22:05 Reply

    hahahaha thanks, bikin ngakak selagi ngerjain tugas ospek yang bejubunn :)))

  14. didi July 25, 2015 at 00:03 Reply

    Hahahaha sukaaaaaa cerita ini xD…trs km dpt nilai apa?

  15. Ervin October 21, 2015 at 21:56 Reply

    haha,, dan final questionnya, akhirnya lulus atau gak nih?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: