Museum Fujiko F. Fujio: Part Deux

Setelah melewati kerumitan membeli tiket dan jalur kereta, akhirnya gua dan Sarah sampai juga di museum Fujiko F. Fujio.

Bagi yang ga familiar, Fujiko F. Fujio adalah manga artist yang menciptakan serial kartun Doraemon. Selain tokoh robot kucing dari masa depan itu, Fujiko F. Fujio juga bapak dari beberapa serial kartun kenamaan yang sempat tayang di Indonesia, kayak P-Man, Mojacko, dan Ninja Hattori.

Setelah menukarkan tiket reservasi dengan tiket sungguhan, kami menuju counter untuk mendapatkan audio device. Audio device ini berbentuk seperti walkman yang berfungsi untuk memberikan penjelasan di beberapa objek pada museum. Enaknya lagi, audio device ini tersedia dalam bahasa Inggris. Jadi, kita ga perlu makan Konyaku Penerjemah selama jalan-jalan di museum ini. Kita cukup menekan tombol angka sesuai dengan yang terpampang di objek, dan sebuah cerita singkat pun mengalun di telinga kita.

Secara garis besar, Museum Fujiko F. Fujio terbagi menjadi 2 area: area non-foto-foto dan area bisa-foto-foto. Dan yang pertama menyambut kita adalah area non-foto-foto. Simpan baik-baik kamera kalian di sini, karena mangambil gambar dilarang dengan keras.

Di area awal ini, mereka menggelar karya asli goresan tangan milik Fujiko F. Fujio. Yang bikin gua kaget, mereka memperlakukan komik-komik ini dengan super serius. Dibingkai kaca dengan temperatur dan pencahayaan ruangan yang diatur secara khusus.

Salah satu bukti keseriusan mereka adalah dengan menyiapkan ratusan kabinet untuk menyimpan hasil karya Fujiko F. Fujio beserta alat-alatnya. Agar ga cepet rusak karena dipajang terus-menerus, mereka bahkan membuat duplikat agar dapat dipajang bergantian dengan yang asli. Bener-bener di-handle with care!

Spot favorit gua di area ini adalah ketika mereka menjelaskan secara sederhana langkah-langkah membuat 1 halaman komik. Dari mulai membuat balon-balon dialog, sketsa dengan pinsil, sampai penebalan garis. Uniknya, semua itu dijelaskan oleh Doraemon dan Nobita dengan teknologi hologram yang dipadupadankan dengan benda nyata. Penjelasan yang biasa aja, menjadi super-menarik dengan cara begini. Ga heran, antrian di spot ini lumayan panjang, jadi mesti ekstra sabar.

Selesai dengan area ini, kita dibawa naik ke lantai 2 untuk masuk ke area seri komik Doraemon petualangan. Dengan bantuan audio device, kita dipandu untuk menyimak 1-2 cerita dari seri Doraemon petualangan yang sepertinya paling hits. Bagi yang terburu-buru, area ini bisa di-skip karena makan waktu yang lumayan panjang. Gua dan Sarah pun ga terlalu lama menghabiskan waktu di sini dan memilih untuk menuju ke sebuah spot yang foto-able. The Charming Giant.

charming giant

Buat yang familiar sama folklore, kalian pasti pernah denger cerita tentang penebang pohon yang baik hati. Diceritakan, si penebang pohon tanpa sengaja menjatuhkan kapaknya yang butut ke dalam danau. Di tengah remuk redamnya hati si penebang pohon, muncullah seorang dewi dari dalam danau.

“Hai, penebang pohon. Yang manakah kapakmu?”

“Ya, dewi yang muncul dari dalam danau, apa saja kah opsinya?”

“Kamu bisa memilih… A. Kapak emas, atau B. Kapak butut?”

“Dewi yang muncul dari dalam danau…”

“Ya?”

“Saya pilih C. A dan B benar.”

“…”

Nah, begitu pula yang terjadi dengan Giant. Ada satu alat Doraemon yang bisa merekonstruksi folklore tersebut. Giant diceburkan ke dalam sebuah alat seperti sumur agar muncul dewi yang menawarkan 2 pilihan Giant; Giant nakal atau Charming Giant.

Gua ngakak banget ngeliat muka Giant yang versi charming di sini. Sok cool, najis gimana gitu. Tapi justru muka najisnya itu yang bikin kami ingin foto bareng.

Untuk bisa befoto dengan Charming Giant, selain mesti ngantri, kita harus mompa dulu biar dia mau keluar dari sumur. Begitu keluar, harus buruan foto. Karena kalo kelamaan, dia bakal nyemplung lagi. Interaktif banget deh spot fotonya.

Dan masih di lantai 2, ada area tentang kehidupan pribadi Fujiko F. Fujio. Mulai dari hobinya di luar pekerjaan, foto-foto keluarganya, sampai meja kerjanya. Yang paling menarik di area ini adalah surat dari sang istri, Masako, kepada Fujiko F. Fujio yang ditulis setelah sang manga artist tersebut meninggal dunia.

Sang istri seperti ingin memberi kabar kepada almarhum di alam sana bahwa karya-karyanya masih dan akan selalu ada di hati anak-anak. Dari pemilihan kata-katanya, keliatan banget mereka bedua punya hubungan yang manis dan super harmonis.

Kelar dengan area ini, segera siapkan kamera karena kita akan masuk ke bagian kedua dari museum ini: area bisa-foto-foto. Ada spot-spot menarik yang bisa jadi latar foto yang instagram-able. Foto-foto di area ini pas banget buat di-upload ke social media untuk menanggulangi rasa haus akan eksistensi dalam meng-update status. Contohnya, berfoto dengan latar alat ajaib Telepon Pemesan yang memang jadi primadona di area ini.

telepon pesan

Area favorit gua dari bagian bisa-foto-foto adalah area outdoor. Di sini kita bisa bebas ambil foto sana-sini dengan latar yang lumayan variatif.

Spot favorit Sarah adalah Pintu Ke Mana Saja. Sebuah alat ajaib yang paling diharapkan dapat segera diaplikasikan di Jakarta untuk mengatasi macet yang mulai kebangetan. Spot foto favorit gua sendiri adalah lapangan tempat Nobita dan kawan-kawan biasa bermain kasti. Sebuah lapangan dengan 3 pipa beton yang bertumpuk. Sebuah pemandangan yang pasti familiar banget buat penikmat kartun Doraemon.

lapangan kasti

Masih di area outdoor, ada stand jajanan yang menjual 2 makanan khas kartun Doraemon: Dorayaki dan Roti Pengingat. Ga jauh dari sana, juga ada cafe yang menjual makanan-makanan lucu yang juga instagram-able. Ada nasi dengan muka Jaiko, cake dengan wajah Suneo, dan Roti Pengingat dalam ukuran jumbo. Tapi siapkan hati dan dompet ya. Karena selain antriannya yang panjang, harganya pun di atas rata-rata.

Gua dan Sarah awalnya ingin cemal-cemil di cafe ini. Tapi antrian panjang memaksa Sarah mengurungkan niat dan membuat gua menebak-nebak jenis ganja apa yang digunakan. Kok ya rame betul?

Perjalanan kami di museum Fujiko F. Fujio ditutup dengan belanja oleh-oleh di souvenir store yang ga jauh dari pintu keluar museum. Souvenir store-nya ga gitu gede, dan pilihan barangnya ga terlalu beragam, jika dibandingkan dengan Disney Store misalnya.

Namun, ada beberapa item menarik yang bisa jadi kenang-kenangan. Mulai dari bando Baling-Baling Bambu, CD album Giant (tapi isinya kue kok), sampai oleh-oleh yang akhirnya gua beli setelah menimbang dengan masak-masak: kaos yang selalu dipakai Giant!

Tapi nyatanya, bukan itu oleh-oleh paling berharga yang akan gua bawa sepulang dari museum Fujiko F. Fujio. Melainkan sebuah perjalanan mengenal lebih dalam seorang manga artist yang karyanya telah menemani masa kecil gua.

Sebuah masa di mana setiap Minggu pagi gua duduk manis di depan televisi saat speaker mulai mengalunkan sepotong lagu ini.

“Aku ingin begini, aku ingin begitu. Ingin ini, ingin itu, banyak sekali…”

end blog post JP

Advertisements

Tagged: , , , , , , ,

10 thoughts on “Museum Fujiko F. Fujio: Part Deux

  1. ganganjanuar November 16, 2015 at 11:23 Reply

    Nostalgila ;)

  2. Suci Su November 16, 2015 at 17:50 Reply

    wah.. keren yaa..

  3. Dita November 18, 2015 at 10:00 Reply

    pengen ke sana kaaaak, gimana sih biar disponsori jugaaa? :D

    • Roy Saputra November 19, 2015 at 09:17 Reply

      nanti dibahas di postingan tersendiri ya :D

  4. presyl November 20, 2015 at 14:41 Reply

    nah itu royyy, surat istrinya buat si fujiko, waktu dengerin itu terharu aja dong :(

  5. kresnoadi DH November 21, 2015 at 07:49 Reply

    Gue… ngebayangin dijelasin sama hologramnya Doraemon dan Nobita kok kayaknya keren bener ya. Sayang gak bisa foto ya. Huhuhuh.

    • Roy Saputra November 23, 2015 at 11:45 Reply

      ho oh, sayang banget ga bisa poto-poto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: