Perjalanan Bertemu Conan

Selain menerka warna langit, salah satu kebiasaan gua yang belum hilang sejak SMP adalah membaca komik Detektif Conan. Menebak pelaku dan bagaimana trik pada setiap kasusnya selalu jadi kegiatan yang super menarik sejak gua SMP, sampai hari ini.

Gua masih inget cerita jilid pertama dari komik Detektif Conan. Ada satu adegan di mana Shinichi bisa tau seorang perempuan itu atlit senam hanya karena tangannya yang kapalan. Hal itu sungguh memukau buat gua yang baru tumbuh jakun.

Caranya berhipotesa itulah yang bikin gua makin rutin baca detektif Conan. Ga ada satupun jilid yang gua lewatin. Awalnya cuma minjem kanan-kiri, lalu belakangan beli sendiri. Sejak rutin baca detektif Conan, gua semakin terinspirasi dan mulai suka berhipotesa berdasarkan pengamatan mata.

“Bob,” panggil gua ke Bobi, temen SMP gua, “Lu liat deh si Tina.”

“Kenapa si Tina?” tanya Bobi penasaran.

“Tiap hari pulang jalan kaki… pasti ibunya pelacur!”

“Astaghfirullah…”

Setelah kejadian itu, gua tau kalo Conan itu pinter, kalo gua mah sotoy.

By the way, bagi yang belum familiar dengan detektif Conan, ijinkan gua bercerita sedikit demi mencerdaskan kehidupan bangsa. Detektif Conan adalah komik Jepang yang menceritakan tentang kehidupan seorang detektif cilik bernama Conan. Ia sebenarnya adalah Shinichi Kudo yang diracun oleh Organisasi Jubah Hitam. Tapi bukannya mati, ia malah menciut menjadi anak-anak. Komik ini ditulis dan digambar oleh seorang jenius bernama Aoyama Gosho.

Seperti halnya Doraemon untuk Fujiko F. Fujio, maka begitulah detektif Conan bagi Aoyama Gosho. Meski juga membuat Yaiba dan 3rd base, Conan adalah karya yang membuat nama Aoyama disegani di dunia permangaan Jepang, bahkan internasional.

Gua suka banget sama Conan. Gua juga kagum banget sama Aoyama Gosho. Dua hal itulah yang membawa gua ke Tottori, sebuah kota yang 7 jam perjalanan jauhnya dari Tokyo.

Saat lagi menyiapkan #Japaneymoon pertengahan tahun 2015 lalu, Fitri, salah seorang teman pembaca blog, menyarankan agar gua dan Sarah mengunjungi Tottori. Awalnya kota ini ga masuk sama sekali di itinerary gua. Kota-kota besar kayak Tokyo dan Kyoto udah padat mengisi jadwal kami berdua selama di Jepang. Namun sebuah kalimat dari Fitri membuat semuanya berubah.

“Di sana ada museum detektif Conan lho.”

Berbekal gugling sana-sini, akhirnya gua dan Sarah nekad memutuskan untuk mampir ke kota yang jarang dikunjungi turis asing ini. Terbukti selama di sana, gua dan Sarah lebih banyak pakai kaki dan tangan dalam berkomunikasi.

Setelah menitipkan tas di resepsionis hotel, kami segera beranjak ke stasiun Kurayoshi. Karena pake JR Pass dari Japan Experience, gua ga perlu bayar lagi untuk naik kereta ini. Dan hanya perlu waktu sekitar 10 menit untuk bisa tiba di stasiun terdekat dari museum detektif Conan atau yang bernama resmi Gosho Aoyama Manga Factory (GAMF). Nama stasiunnya adalah stasiun Yura.

Sepertinya GAMF ini jadi satu-satunya destinasi wisata di daerah sini. Makanya ga heran, dari stasiun aja semuanya udah berbau-bau Conan. Mulai dari tangga, papan nama, bahkan sampai ke keretanya!

Dari stasiun Yura, sebetulnya ada shuttle yang bisa mengantar kita tepat ke depan GAMF. Tapi berjalan kaki sepertinya ide yang lebih menarik. Karena di sepanjang perjalanan, kita bakal ketemu dengan objek-objek foto-able yang bertemakan detektif Conan.

Mulai dari patung seukuran manusia, patung mini, sampai dengan penutup selokan, semua bertemakan Conan dan teman-temannya. Yang paling menarik adalah countdown jarak menggunakan jilid komik detektif Conan. Makin dekat ke museumnya, makin kecil pula nomor jilidnya. Unik abis!

Setelah 15-20 menit berjalan kaki, akhirnya gua dan Sarah sampai juga di GAMF. Dari kejauhan, bangunannya sama sekali ga keliatan kayak museum. Dengan dua cerobong asap dan ketinggian bangunan hanya 2 lantai, GAMF lebih menyerupai padepokan, cafe di pinggiran kota, atau rumah Profesor Agasa.

Untuk masuk, kita harus membeli tiket seharga JPY 700 per orangnya. Ga terlalu mahal untuk ukuran museum dari komik kenamaan. Mungkin karena letaknya yang agak terpencil membuat harga tiketnya ga bisa dinaikkan lebih mahal lagi.

Kehidupan pribadi Aoyama menjadi bagian pertama yang disajikan saat kita baru menjejakkan kaki di area dalam museum. Corat-coret manga pertamanya, mainan yang biasa ada di meja kerjanya, dan diakhiri dengan video perjalanan hidup sang maestro.

Di bagian berikutnya, ada jejeran sketsa awal dari beberapa adegan di komik detektif Conan. Sebagai pembaca setia, tentu gua apal banget gambar-gambar yang terpajang itu dari kasus yang mana, cara bunuhnya gimana, dan siapa pelakunya.

“Wah ini dari buku enam nih, yang pembunuhnya yang gendut.”

“Kalo yang ini dari nomor pertamanya. Yang itu lho, yang bunuh diri tapi biar disangka Yoko Okino yang bunuh.”

Gua. Hapal. Mati.

Kadang gua suka kagum sama otak gua sendiri. Yang kayak ginian suka disimpen baik-baik, yang penting malah langsung raib kayak tisu hipnotis Uya Kuya.

Bagian favorit gua dan Sarah, ada di ruangan setelahnya. Yakni kumpulan maket trik kasus pembunuhan yang pernah terjadi di komik detektif Conan. Yang biasanya cuma baca penjelasan Conan sambil ngebayangin secara kasar, di ruangan ini kita bisa ngetes sendiri triknya secara langsung.

Maket paling menarik, tentu aja, maket trik pembunuhan ruang tertutup. Trik yang bisa nutup pintu dari luar ruangan cuma pake selotip. Selama ini, gua kira trik itu cuma karangan aja, hanya hipotesa tanpa pernah ada pembuktiannya. Di GAMF, kita bisa liat sendiri bahwa trik di komik karangan Aoyama itu berdasarkan fakta dan kenyataan. Karena ketika gua nyobain, ternyata memang beneran bisa!

Berkat kesuksesan itu, gua langsung ingin mendaftarkan diri ke kawanan jubah hitam. Kalo pimpinannya bernama Gin dan Vodka, maka gua ingin menamai diri gua sendiri dengan sesuatu yang memabukkan juga. Maka, nama gua di kawanan jubah hitam adalah… Cinta. Eaaa.

Kunjungan ke GAMF ternyata hanya membutuhkan waktu yang singkat. Seperti yang Sarah bilang di postingannyathe tour has ended before we knew it. Ukuran museum yang kecil serta objek yang ga terlalu banyak, menjadikan GAMF sepertinya hanya akan menarik untuk pembaca setianya aja.

Ya, pembaca setia macam gua ini.

Pembaca setia yang udah ngumpulin komiknya komplit mulai dari jilid 40. Pembaca setia yang gemar bolak-balik toko buku hanya untuk memastikan jilid terbarunya udah keluar apa belum. Pembaca setia nun jauh di Indonesia yang cuma bisa bertemu Conan hanya dalam mimpi.

And now here I am. Seven hours away from Tokyo. At Gosho Aoyama Manga Factory.

Dreams do come true, don’t they?

“All our dreams can come true, if we have the courage to pursue them.” – Walt Disney

end blog post JP

Advertisements

Tagged: , , , , , , , , , , ,

24 thoughts on “Perjalanan Bertemu Conan

  1. dodo January 25, 2016 at 11:45 Reply

    gw juga suka nih manga…

  2. dani January 25, 2016 at 12:30 Reply

    Merinding bacanya. Ini kayak kalo misalkan gw nyampe ke museumnya er… Sailormoon. Mendebarkan sekalih!

    • Roy Saputra January 27, 2016 at 11:43 Reply

      …ini keajaiban alam. aku mempercayainya!

  3. Tomi Azami January 25, 2016 at 13:35 Reply

    Anjay.. envy berat ane, bang. Semoga suatu saat bisa kesana juga.

  4. azamuddint January 25, 2016 at 13:39 Reply

    Gokil!

  5. pupit January 25, 2016 at 16:54 Reply

    aduh kok sy yg terharu bacanya #ambil anduk eh
    Ikut hepi ngebayangin rasanya berada di “dunia tokoh” yg serasa hy angan2 :)

    Dr GAMF kira2 10 mnt dg mobil ada SD negeri, bekas SDnya Aoyama sensei, di situ ada patung perungguna Conan & Ran, sempet ke situ? lokasinya agak ribet sik dijangkau.

    Ada Conan airport juga, buat yg landing di tokyo mau lsg ke tottori bisa pake ANA (hy ANA yg ke sana :( ) . Interiornya sdh pasti serba Conan.

    • Roy Saputra January 27, 2016 at 11:45 Reply

      sempet nyari SD nya Pit. tapi ga ketemu euy :(

  6. pupit January 25, 2016 at 16:56 Reply

    Lupa, rajin2 cek bentar lagi ada aplikasi Conan di smartphone, tp emg hy tersedia dlm bhs Jepang :D

  7. Dita January 25, 2016 at 21:32 Reply

    Gile, apal ya kak ceritanya. Aku saking banyaknya yg dibaca sampe udah gatau ini cerita mana, no. Berapa

  8. Lynn January 26, 2016 at 10:37 Reply

    Gue juga ngga pernah kelewatan satu seri pun Conan, meski ngga ampe hafal banget juga… Baru tau banget kalau di sana ada museum Conan begini, jadi nambah lagi deh satu tempat yang kudu dikunjungi kalau ke Jepang.

    Btw, keretanya mirip banget commuterline yah.
    *sayup-sayup terdengar: “yaiyalaaaah!!!”*
    *melipir*

  9. Calluna January 26, 2016 at 14:59 Reply

    aaaaa mauuuu… #sambilngeces

  10. Megan Fox January 27, 2016 at 00:04 Reply

    Quotesnyaaaaaa! <3

    (LAH malah itu yang dikomentarin…)

  11. presyl February 10, 2016 at 14:50 Reply

    Iiihh roy gue paling envy saat kalian kesini, berhubung gue juga penggemar conan, pengen banget kesini, tapi apa daya ya, diantara temen2 yang lain, gue doang yang suka, haha *makanya ke doraemon bukan ke conan*
    lo naik apa roy dari tokyo kesini? bus-kah yg sampe 7 jam? perjalanan malem enak kali ya. mesti dicatet nih buat balik lagi kapan kapan

    • Roy Saputra February 12, 2016 at 09:32 Reply

      naik kereta, Pres. namanya super hakuto. 7 jam itu total. karena bisa mampir osaka / kyoto sebetulnya :D

  12. Kaca Luthfi February 12, 2016 at 06:04 Reply

    Btw, itu di depan ada VW Beetle warna kuning, punyanya Prof Agasa bukan ya? :)))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: