Selalu Punya Pilihan

Waktu kecil, rasanya pengen cepet gede biar tau apa itu jatuh cinta. Saat mulai ngerasain cinta monyet, penasaran gimana rasanya pacaran yang serius. Waktu udah ketemu pacar yang mau diajak serius, ngebet banget pengen kawin.

Setiap langkah di fase tadi bak kotak misterius buat gua. Kotak yang baru belum tentu lebih baik dari yang lama, meski yang dulu pasti akan lewat masanya dan seperti memaksa kita untuk membuka kotak yang baru. Kotak yang ada di depan mata, yang begitu menggoda untuk dibuka.

Khususnya, kotak menikah.

kotak

Rasa gembira, gelisah, khawatir, semua campur aduk jadi satu saat gua dihadapkan dengan kotak menikah. Gembira karena gua akan membuka lembaran baru dari buku kehidupan ini. Gelisah karena lembaran-lembaran baru yang gua buka tadi belum tentu sebaik lembaran sebelumnya. Dan tentunya, ada rasa khawatir yang datang hanya karena satu kata. Biaya.

Nikah itu ga murah, bro.

Sebagai suami, gua diberikan tanggung jawab untuk menghidupi satu manusia. Menurut gua, itu sebuah tugas mulia dan berat di saat yang bersamaan.

Pendapatan bulanan yang biasanya ada sisa buat beli pulau (cailah, Roy), kini harus dialokasikan untuk kebutuhan bersama. Yang dulu ada jatah untuk makan-makan ganteng di malam minggu, berubah jadi dana untuk beli beras dan minyak. Yang sebelumnya uang untuk beli pengharum badan, jadi budget untuk pengharum ruangan dan kamper kamar mandi.

Bahkan nikah udah bikin pusing sejak kita ingin masuk ke dalam jenjang tersebut. Karena resepsi nikah itu juga ga murah, bro.

Contohnya, resepsi nikah gua kemarin yang menguras tabungan gua dan Sarah. Ibaratnya, kalo kami ga menerima angpao yang cukup, bisa dipastikan besoknya kami makan nasi aking dan anak kami nantinya jadi pelacur.

Vendor-vendor resepsi mematok harga yang ga murah untuk produk dan jasanya. Misalnya, kue pengantin yang terbuat dari stereoform aja harganya lumayan mahal. Padahal abis resepsi, stereoform-nya dibalikin ke vendor. Bukan untuk kita bawa pulang buat main gebug-gebugan kayak OVJ.

Begitu pun dengan undangan. Salah satu alasan kenapa gua dan Sarah ga mau bikin undangan terlalu wah karena umur undangan biasanya ga lama. Abis seorang tamu dapet undangan, biasanya hanya akan disimpan sampai acara berlangsung. Ga bakal dipigurain juga sama yang nerima.

“Papa, papa inget ga undangan yang ini?”

“Hmmm, ini yang mana ya, Ma?”

“Itu lho, Pa, kawinan anaknya Tante Merry, yang 25 tahun lalu. Yang siomaynya enak banget itu. Yang pas Papa ngantri soto, ada nenek-nenek yang nyelak terus Mama sorakin dari belakang. Inget?”

Saat nyiapin nikah, gua dan Sarah harus pinter-pinter banget ngatur keuangan bulanan kami berdua. Meleset sedikit bisa gawat.

Beberapa pengeluaran yang dianggap ga perlu, kami coret dari daftar. Beberapa kemungkinan pemasukan tambahan, kami tulis di catatan halaman berikutnya.

Dan benar kata orang, kalo lagi nyiapin nikahan, rejekinya kadang ada aja. Kayak yang gua alamin beberapa minggu jelang hari H. Sebuah pengalaman yang jadi inti cerita dari postingan kali ini.

Di suatu sore, di tengah pemikiran gua yang mumet karena masih banyak tagihan vendor resepsi yang harus gua bayar, ada satu email masuk. Saat baca paragraf pertamanya, gua sumringah karena itu adalah penawaran kerjasama untuk nge-buzz.

Sebagai blogger, gua memang membuka pintu apabila ada brand yang ingin menggunakan blog gua sebagai salah satu media komunikasi mereka. Beberapa kali, gua mengiyakan tawaran untuk menulis ulasan brand tertentu, kayak resort ataupun smartphone. Yang belum pernah gua coba adalah mengulas Kozui pembesar payudara.

Awalnya, gua mengira email ini adalah tawaran kerjasama yang sama. Sebuah barter beberapa paragraf dengan beberapa lembar uang warna merah. Sebuah bonus yang memang sedang gua perlukan saat ini. Sebuah tarikan nafas tambahan bagi gua yang mulai tersengal-sengal setiap bulannya.

Penawaran yang diajukan ternyata lumayan. Gua diminta untuk menjadi kontributor dengan durasi kerjasama yang cukup panjang untuk sebuah situs adventure. Saat itu, gua langsung berasa seperti Dora The Explorer.

Hanya ada satu hal yang mengganjal. Situs ini adalah situs sebuah produk rokok.

Here’s the thing. Gua bukan seorang perokok. Gua juga ga mendukung kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan rokok.

Buat gua, merokok itu sebuah kegiatan yang ga bermanfaat. Hanya menambah penyakit, baik bagi yang mengisap langsung, maupun bagi orang sekitar yang mengisap asapnya.

Uang untuk beli rokok pun bisa dipakai untuk hal-hal lain yang lebih berguna. Ditabung buat makan enak sekeluarga, misalnya. Daripada ngejejelin orang rumah dengan asap, kan lebih enak ngasih makan keluarga dengan nasi dan sapi lada hitam, bukan?

Tapi bukan berarti gua benci perokok. Gua malah punya banyak teman yang perokok berat. Itu adalah pilihan mereka. Dan setiap pilihan dari orang yang telah menimbangnya dengan matang, wajib dihormati.

Begitupun dengan gua sore itu. Dihadapkan dengan tawaran untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Penghasilan yang bisa mengangkat gua dari timbunan tagihan vendor resepsi nikah. Penghasilan yang sepertinya membuat gua berada dalam posisi ga punya pilihan.

Gua sedang butuh uang dan ada orang yang menawarkan. Apa iya gua punya pilihan lain selain menerima tawaran tersebut?

Namun sore itu, gua teringat ucapan seorang teman, bahwa kita selalu punya pilihan. Hanya kadang kita memalingkan muka dari pilihan yang satunya. Memutuskan untuk meniadakan sebuah pilihan yang biasanya lebih pahit untuk diterima.

Gua terdiam. Menggantungkan jari di atas keyboard laptop, bingung akan membalas email ini bagaimana. Menimbang berbagai kemungkinkan kalimat, sambil memikirkan pilihan apa aja yang gua punya sebenarnya.

Setelah menghembuskan nafas panjang, gua mulai menjatuhkan jari di atas tuts-tuts huruf. Mengetik jawaban dari email penawaran kerjasama tadi.

Hi,

Sebelumnya terima kasih atas ketertarikannya menggunakan jasa / tulisan saya sebagai kontributor. Namun mohon maaf, saya sepertinya tidak bisa menyanggupi karena website tersebut berkaitan dengan produk rokok. Semoga dapat dimaklumi.

Sekali lagi terima kasih atas penawarannya. Semoga kita bisa bekerja sama di lain kesempatan.

Ya mungkin belum rejeki. Tapi toh gua masih bisa menyiapkan resepsi nikah, meski opsi upgrade beberapa vendor mesti gua lepaskan. Toh gua masih bisa bernafas, meski harus tersengal-sengal.

Namun setidaknya hari itu gua belajar. Belajar bahwa sejelek-jeleknya suatu jalan, itu juga sebuah pilihan. Bahwa sepahit-pahitnya sebuah opsi, itu masih sebuah pilihan. Bahwa seburuk-buruknya konsekuensi, itu tetaplah sebuah pilihan.

Karena hanya yang berani yang sepenuhnya sadar, bahwa dalam hidup, kita selalu punya pilihan.

“May your choices reflect your hopes, not your fears.” – Nelson Mandela.

Advertisements

Tagged: , , , , , , , , ,

31 thoughts on “Selalu Punya Pilihan

  1. me_gaa February 26, 2016 at 11:45 Reply

    Tulisan tentang pilihan dikaitkan dengan cerita persiapan nikah. :’)

    Bagus banget kak Roy!

  2. dodo February 26, 2016 at 12:13 Reply

    Pilihan yang sulit… tapi keputusan yg baik bung…

    keren!!!

  3. Lynn February 26, 2016 at 17:02 Reply

    quote terakhirnya!!!
    sedikit jadi menyadarkan diri sendiri hihi, thanks Roy!

  4. Safitri Sudarno February 26, 2016 at 21:38 Reply

    karena prinsip yang harus selalu dipegang erat :)
    Nice story, Roy!

  5. fanny fristhika nila February 26, 2016 at 22:20 Reply

    Bener mas.. Akupun ga bisa kalo hrs menulis ttg sesuatu yg aku ga srg. Blogku ttg kuliner dan traveling, tapi prnh diminta utk nulis review yg di luar itu samasekali. Mw ttp diterimapun, ga bakal enak baca reviewnya ntr, krn bukan dr hati nulisnya :D

    • Roy Saputra February 27, 2016 at 16:52 Reply

      kayaknya Fanny kalo nulis baper nih. bawa perasaan~

  6. Yoggaas Akbar February 26, 2016 at 22:58 Reply

    Wah, Bang Roy gak ngerokok. Sama kita. :D
    Pilihan yang cukup sulit, tapi bisa dipilih dengan bijak. Keceh.

    Dapet pelajaran nih saya, nanti kalo dapet job review kudu pilih-pilih. Jadi gak cuma terima karena bayaran yang gede aja. Tapi berpikir hal lain juga. Apalagi kalo ditawarin nge-buzz Kozui. Wakaka XD

  7. ica February 26, 2016 at 23:15 Reply

    Aku sukak tulisan ini kak muahmuah, pilihan oh pilihan, jgn pernah menyesal seburuk apapun pilihanmu

  8. kresnoadi DH February 26, 2016 at 23:40 Reply

    Walaupun berat ya Roy. Gue juga sempet ngalamin hal kayak gitu. Abis ngirim email, pasti lo kayak… fiuhh. Gitu.

    • Roy Saputra February 27, 2016 at 16:54 Reply

      bener banget, kayak abis ngeflush di wc.

  9. Dewi Sutjiati Lestari February 27, 2016 at 21:59 Reply

    terimakasih sudah mengingatkan bahwa life is a choice! Nice :)

  10. Khairunnisa Siregar February 28, 2016 at 01:19 Reply

    Setuju banget Kak Roy! Kalo gak sesuai prinsip kita ya mending gak usah diambil lagian rejeki kan gak ke mana. Anyway, undangan kalian gue simpen loh abis bagus banget sih!

  11. cupah February 29, 2016 at 08:36 Reply

    Serius itu kue isinya sterofom? :|
    Ngomong-ngomong somay, btw somay di resepsi kalian enak loh. Hahaha..
    Apapun pilihannya, jangan menyesal aja sih sama yang udah diambil..~

  12. Kurniawan Sampurna February 29, 2016 at 13:08 Reply

    “May your choices reflect your hopes, not your fears.” kena sama quotenya. Kadang kita hanya terlalu takut.

  13. ariesadhar March 1, 2016 at 06:36 Reply

    Soal undangan murah itu lagi dilema gue nih, Om. Kitanya pengen yang selembar ewer-ewer murah, eh suprasistem ingin yang lux–yang nggak akan dipigura juga. Hehe.

    • Roy Saputra March 1, 2016 at 10:05 Reply

      bikin balance di tengah aja, Ri. setengah cocok di kantong, setengah lux.

  14. amardrudin March 21, 2016 at 10:23 Reply

    cakep bang tulisan’a … polow saya juga bang

  15. ontakeriput March 22, 2016 at 23:17 Reply

    “Karena hanya yang berani yang sepenuhnya sadar, bahwa dalam hidup, kita selalu punya pilihan.”

    Suka banget ama kalimat ini!

  16. Tomi Azami April 5, 2016 at 09:27 Reply

    Kalau aku di posisi Bang Roy, mungkin udah tak ambil aja. Meskipun bukan perokok tapi ya Secara buat nikah, buat masa depan. Kalo buat jajan mah tolak aja.

    Tp kalau dipikir lagi, mersiapin masa depan tapi ngegeser prinsip juga gak nyaman. Setuju sama paragraf penutup.

    Good choice, bang.

    • Roy Saputra April 5, 2016 at 10:43 Reply

      thank you, Tom. semoga kita selalu dikuatkan untuk membuat pilihan yang tepat. amin :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: