Ada Tarzan di Tottori

Bahasa menjadi satu-satunya momok yang membuat gua ragu untuk berangkat ke Jepang akhir tahun 2013 lalu bareng Tirta dan Siti. Aksara yang non-latin membuat membaca kalimat Jepang seperti bermain tebak gambar.

Namun gemerlap kota dan perbedaan budayanya membuat keraguan itu pelan-pelan memudar dengan sendirinya. Selain itu, gua juga mempersiapkan diri dengan buku Panduan Praktis Bahasa Jepang – Indonesia. Sebuah buku yang gua beli, untuk kemudian gua serahkan ke Tirta.

“Ini bagian lu nih, Ta. Pelajarin bahasa Jepang ya. Jadi selama di sana, lu yang bertugas nanya-nanya sama penduduk lokal.”

Sebuah kepercayaan yang disemena-semenakan oleh Tirta, karena satu-satunya bahasa Jepang yang akhirnya dia kuasai, hanya seputar erangan-erangan yang didapat dari film bokep Jepang.

Tapi ternyata, bahasa bukanlah rintangan selama kami berkelana di Jepang. Penunjuk jalan yang jelas serta tersebarnya tourism center di penjuru kota-kota besarnya membuat keraguan gua lenyap seluruhnya.

Hal inilah yang membuat gua percaya diri untuk mengulang kembali perjalanan ke Jepang. Kali ini bersama Sarah dalam rangka bulan madu kami.

Namun momok bernama bahasa itu kembali muncul saat gua dan Sarah tiba di kota yang belum gua kunjungi dua tahun silam. Sebuah kota kecil yang kami datangi demi bisa mampir ke museum Detektif Conan. Nama kota itu adalah Tottori.

Mungkin kalian akan bertanya-tanya kenapa kami memutuskan untuk mengunjungi kota yang ga familiar itu. Memang, setiap yang bertanya ke mana aja tujuan gua dan Sarah selama ber-Japaneymoon, selalu mengerutkan alis kebingungan ketika jawaban gua mengandung kata Tottori.

“Hah? Kota apaan tuh?”

“Emang ada apaan di sana?”

“Tottori? Yang cheese cracker?”

Semua bisa dimaklumi karena Tottori memang bukan kota yang populer untuk turis mancanegara. Tottori berbeda jauh dengan Tokyo atau Osaka yang rapat dengan gedung-gedung tinggi dan meriah pada malam hari. Ketika kawasan Dotonbori Osaka baru “bangun” saat langit menggelap, di waktu yang sama, warga Tottori mungkin sudah meringkuk di balik selimut sambil nonton On The Spot Trans 7.

tottori

Mungkin hal itulah yang membuat warga kota Tottori jarang ada yang bisa berbahasa Inggris. Mau ga mau, gua dan Sarah harus mengandalkan gerakan kaki dan tangan selama di sana. Sebuah gerakan yang dikenal luas dengan sebutan bahasa Tarzan.

“Saya bisa titip koper, Mas?” ujar gua dalam bahasa Inggris yang diiringi dengan gerakan menunjuk koper dan sebuah ruang kosong di pojokan meja resepsionis secara bergantian.

Si resepsionis hotel hanya melihat gua dengan tatapan kosong, coba menerka apa maksud ucapan gua tadi. Sebuah tatapan yang terlihat nyaris sama dengan korban hipnotis Uya Kuya.

“Nanti kami kembali sekitar pukul 3 sore,” tambah Sarah yang kali ini sambil menunjuk jam dinding dan membentuk angka 3 dengan jari.

Ada satu-dua menit hening. Gua menerka dia sedang berusaha mengolah kata-kata dalam bahasa Inggris yang dia kuasai untuk menjawab permintaan gua. Tebakan gua, sebagai resepsionis hotel, dia pasti bisa bahasa Inggris dasar. Minimal yes, no, yes, no mah bisa lah.

“Oh yes! Oh no! Kimochi! Kimochi!”

Namun tebakan itu runtuh. Karena beberapa detik berselang, dia menjawab masih dengan berbahasa Jepang. Tanpa jeda, tanpa spasi. Seakan-akan yang diajak bicara olehnya adalah Shizuka dan tukang Dorayaki. Sepatah kata pun ga ada yang gua mengerti.

“Arigamonirogazomayomitakolamitono…”

Gua coba menjelaskan bahwa kami berdua ga ada yang bisa bahasa Jepang. Satu-satunya kalimat berbahasa Jepang yang gua tau adalah aishiteru, yang artinya “aku sayang kamu”. Pengen bilang aishiteru ke resepsionisnya, tapi kita kan baru kenal.

Sebetulnya percakapan ini sangatlah absurd, karena kedua pihak sama sekali ga mengerti kalimat yang diucapkan lawan bicara. Gua ngomong jorok sekalipun, dia pasti ga paham juga.

“Mas, saya titip koper ya.”

“Arigamonirogazomayomitakolamitono…”

“Ah, titit.”

“Gamozayotakomaijo…”

Hal yang sama terulang kembali ketika gua membeli makan siang di salah satu restoran makanan cepat saji waralaba internasional. Awalnya, gua dan Sarah ingin makan ramen lokal yang berada ga jauh dari hotel. Tapi pengalaman nitip koper membuat gua memutuskan untuk berganti tujuan. Gua percaya pelayan waralaba internasional ini pasti bisa berbahasa Inggris, meski hanya sedikit.

Siang itu, gua dan Sarah ingin makan ayam goreng bertepung garing. Kebetulan kami berdua punya preferensi yang sama saat makan ayam. Kami suka paha.

“We want this one, but chicken leg, please,” ujar gua dalam bahasa Inggris sederhana, seraya menunjuk salah satu paket yang ada di menu.

Kedua pelayan berpandang-pandangan. Dalam satu tarikan nafas, mereka lalu menjawab, dalam bahasa Jepang. Tanpa jeda, tanpa spasi.

“Morenogamoniromayomitalamiyatomona…”

“Ah, titit.”

Kali ini, giliran gua dan Sarah berpandang-pandangan. Sepertinya kami berdua harus kembali mengandalkan bahasa Tarzan.

Sarah menunjuk gambar potongan paha ayam yang ada di paket lain pada menu. Namun gerakan menghapus pesanan di mesin kasir, membuat gua ragu mereka paham. Jangan-jangan mereka mengira kami berganti pilihan paket.

Cara lain coba kami tempuh. Kali ini menggambar di secarik tisu. Menggambar potongan paha, yang sayangnya lebih mirip potongan paha pada pecel ayam ketimbang ayam bertepung garing khas waralaba ini.

Di tengah perut yang semakin lapar, gua tiba-tiba tercetus sebuah ide. Sambil masih menunjuk pilihan paket yang gua mau, gua mengangkat kaki dan menunjuk-nunjuk paha gua. Sebuah tindakan yang semoga bisa diartikan, “saya ingin paha ayam”, bukan “saya mau makanan barter sama paha saya ya.”

Sarah langsung memasang wajah seolah ga kenal sama gua. Mungkin dalam pikirannya, dia sedang menyesali kenapa menikah sama gua sambil memikirkan pengacara mana yang dapat diandalkan untuk mengurus perceraian.

Tapi demi paha ayam, gua mengulang terus gerakan tadi. Tunjuk ayam, tunjuk paha, sambil meringis, kayaknya Tarzan aja kalo mau makan ga gini-gini amat.

“Morenogamoniromayomitalamiyato?”

“Auwo!”

“Morenogamoniromayomitalamiyato?”

“Iya, iya. Yato dah, yato.”

“Haik, haik, haik.”

Setelah paha gua hampir kram, kedua pelayan tadi akhirnya mengangguk. Padahal jika dibiarkan lebih lama lagi, gua ingin meneruskan ke gerakan lain yang tercatat resmi sebagai bagian pendinginan dari Senam Kesegaran Jasmani.

Si pelayan kemudian menunjuk meja yang kosong, sepertinya mempersilahkan kami berdua agar duduk terlebih dahulu, menunggu pesanan kami untuk diantarkan. Semoga ini tanda mereka paham apa yang kami mau.

Gua dan Sarah pun duduk. Mengambil napas panjang, coba meredakan segala kepusingan yang sempat melanda tadi. Yang bisa gua lakukan sekarang hanya menyilangkan jari, berharap kedua pelayan tadi menyiapkan pesanan gua dengan benar, bukannya menelpon polisi.

Beberapa menit kemudian, sang pelayan datang. Membawa baki serta beberapa piring berisi makanan. Saat piring diletakkan di atas meja, gua menghembuskan napas. Dua paket dengan paha ayam tersaji hangat di depan kami.

Akhirnya.

Kini, ijinkanlah Tarzan untuk makan paha ayam dengan tenang.

end blog post JP

Advertisements

Tagged: , , , , , , ,

13 thoughts on “Ada Tarzan di Tottori

  1. Al Azhar Sunarti March 8, 2016 at 13:28 Reply

    asli kak royyyy aku sampe nangis bacanya saking lucunyaaaa yang paha ayammmmm hahahahahaha

    #pukpukkaksarah

  2. Dita March 10, 2016 at 09:04 Reply

    hahaha ngikik bacanya, untung pesenannya bener yaaa….kalo gak kan sia2 gerakan senang SKJ-nya :P

  3. winnymarlina March 11, 2016 at 22:42 Reply

    kocak kak roy

  4. sijudes March 12, 2016 at 00:01 Reply

    Hahaha “paha”

    Gw sempet beli buku percakapan bahasa jepang, saking buru2 nya yg gw beli itu adalah “percakapan bahasa jepang romantis” dan hasilnya … Garuk2 tembok hahaa

    • Roy Saputra March 12, 2016 at 12:34 Reply

      eaaa. tanggung lah, aplikasikan ke warga setempat dong :))

      • sijudes March 13, 2016 at 12:33 Reply

        Hahaha siaap , sayap jadinya apa yaa? Suwiwi hahahah

  5. yoggaas March 16, 2016 at 02:57 Reply

    “Arigamonirogazomayomitakolamitono…” dan “Ah, titit!” ini sukses bikin gue ngakak dini hari. XD

  6. Intan Rasyid March 18, 2016 at 10:09 Reply

    saya pernah punya pengalaman serupa. saking frustasinya gak tau gimana cara ngomong sama orang korea. saya ngomong pake bahasa indonesia dia jawab pake bahasa korea. entahlah apa pembicaraan kami nyambung atau tidak hanya Tuhan yang tau.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: