TV yang Salah

Salah satu kegiatan yang paling sering gua lakukan ketika weekend adalah nonton TV. Dari gua kecil sampe segede ini, TV adalah teman yang paling setia. Dia ga pernah nuntut perhatian berlebih di saat gua sedang sibuk, atau minta dibawakan martabak ketika lagi ga enak badan.

Sejak menikah, gua sering nonton infotainment di Sabtu atau Minggu pagi. Di sela Sarah menyiapkan sarapan, biasanya gua mulai zapping channel TV, mencari acara gosip dengan konten yang paling menarik. Si artis itu abis beli ini lah, atau koleksi anu dari aktor FTV mana lah. Berita-berita kayak gitu sungguh informatif dan menambah daya saing masyarakat Indonesia dalam era MEA ini.

Biasanya, gua dan Sarah akan berperan sebagai voice over tambahan dari artikel gosip yang sedang ditayangkan. Membumbu-bumbui tayangan gosip yang sebetulnya udah asin banget. Ibarat siaran bola, kami ini komentatornya.

“Kasian ya si anu,” kata Sarah, “Perasaan baik banget orangnya, tapi ditinggalin istrinya.”

“Ah paling istrinya udah jadi simpenan om-om, terus sekarang tas hermes-nya lagi dijadiin kresek kerfor.”

“…”

Anyway,

DVD juga jadi alternatif lain di akhir pekan gua dan Sarah. Bermalas-malasan di apartemen sambil maraton nonton DVD jadi pilihan menarik ketika tanggal tua menyapa. Darah kepo pada gua dan Sarah membuat kami sama-sama menikmati film seri berbau polisi atau detektif. Mulai dari CSI Las Vegas, Criminal Minds, atau yang terbaru kayak Blindspot, semua kami lahap.

Namun waktu kecil, kartun yang disiarkan TV lokal jadi tontonan wajib biar ga dikucilkan dari pergaulan. Kalo sekali aja ketinggalan Doraemon atau Power Rangers, bisa-bisa gua ga diajak main wak-wak-gung selama seminggu. Karena film kartun adalah lambang pergaulan di masa gua kecil dulu.

Tapi makin ke sini, acara TV makin aneh.

Acara untuk anak-anak semakin sedikit. Tayangan kartun yang dulu rutin nongol di pagi dan sore hari, pelan-pelan menghilang. Ada yang raib karena tuntutan pasar, namun yang menurut gua aneh, ada yang punah karena dilarang oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Banyak kartun yang dianggap salah dan dipermasalahkan.

Contohnya, Tom & Jerry. KPI menilai kartun Tom and Jerry berbahaya bagi perkembangan fisik dan mental anak. Mereka khawatir kalo aktivitas kejar-kejaran Tom dengan Jerry yang kadang diselingi kegiatan pukul-pukulan dapat berdampak buruk bagi anak-anak yang menontonnya.

Ada juga tayangan anak-anak yang di-blur di area tertentu karena alasan pornografi. Mulai dari Shizuka saat pake baju renang, sampai ikan di kartun Spongebob. Yaelah, lagian siapa sih yang horny liat ikan pake bikini?

Dari kecil, gua udah nonton kartun yang ada adegan kejar-kejaran, pukul-pukulan, dan aktivitas lainnya yang dianggap berbahaya oleh KPI saat ini. Tapi gua tumbuh dengan wajar tuh. Gua ga reflek ngambil wajan kalo liat musuh gua lewat. Gua juga ga horny kalo liat ikan telanjang. Gua baik-baik aja.

Dan masa sih, pas kecil si KPI ga pernah nonton Tom and Jerry? Lalu sekarang apa mereka hobi lari ngejar-ngejar tikus di lapangan? Ga kan?

We are fine. We are doing just fine.

Mungkin karena dulu, saat menonton TV, gua selalu didampingi oleh orang yang lebih mengerti. Biasanya, gua ditemani nonton oleh nyokap. Yang kerap mengingatkan gua bahwa adegan dalam TV itu hanyalah sebuah tontonan. Yang sesekali menjelaskan mana yang boleh dicontoh dan mana yang jangan ditiru.

Memang idealnya, setiap tontonan harus juga menjadi tuntunan. Menjadi teladan. Menjadi panduan yang menyenangkan dalam menjalani hidup. Ibarat cerita, harus ada morale of the story. But hey, we live in this fucked up world. Di mana para pelaku industrinya bergantung pada rating. Di mana orang-orang di balik layarnya lebih suka teriak, “Yang penting laku!” daripada “Yang penting bagus!”

Apa itu salah mereka? Ya ga bisa disalahin juga. Para penggiat industri TV tersebut punya kebutuhan hidup yang tentunya harus dipenuhi. Kebutuhan hidup yang mesti diprioritaskan. Itu urusan mereka.

Terserah.

Yang bisa kita lakukan adalah menjadi teman menonton yang mau memberi tau. Meluangkan waktu agar si kecil ga menelan mentah-mentah semuanya. Memilah dengan bijak demi sang anak.

Tapi memang lebih enak berpangku tangan dan menuding televisi yang ga bisa membela diri. Karena seberapa pun malas dan lalainya kita, pokoknya TV yang salah.

“Your life is the fruit of your own doing. You have no one to blame but yourself.” – Joseph Campbell

Advertisements

Tagged: , , ,

14 thoughts on “TV yang Salah

  1. dani April 28, 2016 at 11:17 Reply

    Iyoih Roy. Yamasa lihat ikan pake bikini disensor. Ini menurut gw udah peran kpi yang kelewatan mau ikut campur ke urusan mikro keluarga.

  2. gegekrisopras April 28, 2016 at 13:20 Reply

    Justru semakin disensor/dilarang semakin bikin penasaran ga sik? Jadinya malah cari sumber lain buat nyari tau pdhl bisa jadi infonya ga relevan. Kejauhan amat gua mikirnya yak haha ;p

  3. sarah puspita April 28, 2016 at 14:58 Reply

    Setuju setuju setujuuuuuuu!! *kepalin tangan* *angkat ke udara*

  4. presyl April 28, 2016 at 16:52 Reply

    Iihh selalu gemes roy kalau ngeliat acara tv sekarang. Masih mending doraemon masih ada nilai moral dibanding sinetron yg bikin anak anak sd udah pacaran. Dan orang tua juga cuek karena daripada anaknya rewel, mending dikasih tv biar diem, belum lagi kalau nontonnya ikut pilihan baby ssitter sedih ngga sih anak kecil udah dijejelin acara musik ngga jelas campur komedi slapstick 😥

    Btw roy, itu mainan wak wak gung :))))

    • Roy Saputra April 28, 2016 at 16:57 Reply

      bener banget. karena kita yang lalai, tv yang disalahin. gemes kan.

  5. Wida Zee April 29, 2016 at 08:15 Reply

    Tiap pagi-pagi nonton kartun Spongebob sembari sarapan sebelum berangkat kerja terus terus tiap kali si sendi pake bikini eh malah di sensor kan nggak asik masa iya acara kartun di sensor duh -__-

  6. Robby Haryanto April 29, 2016 at 15:55 Reply

    Hahaha, kebiasaan nonton acara gosipnya Bang Roy kocak abis. Masa jadi komentator gitu. :D

    Nggak seru kalo semuanya disensor. Contoh aja, waktu nonton Comic 8. Di adegan semua comic megang senjata, di-blur semua. Ya, walaupun kita tau itu isinya senjata, tapi ganggu aja. Mending nggak usah ditayangin di TV sekalian. Untung sempet nonton di bioskop, jadi nggak kecewa banget.

    • Roy Saputra June 15, 2016 at 14:39 Reply

      paling males emang nyensor sesuatu yang udah ketauan juga itu apaan. emangnya pada megang apa coba? duku?

  7. dianeato April 29, 2016 at 21:17 Reply

    iya nih KPI pada gaje semua.. mana ada org horny liat ikan telanjang. Bahaha… kalaupun ada palingan kelainan. Kikiki…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: