Rumah

“Depan belok kiri ya, Bang. Masuk Kelapa Gading-nya lewat Mall Artha aja nanti.”

Si driver ojek online itu lalu menggeser tuas lampu sen pada gagang motornya. Mencoba mengikuti instruksi gua dengan taat demi rating yang baik.

macet

Sejak menikah, gua dan Sarah tinggal di Kelapa Gading. Sebuah daerah di utara Jakarta yang sepertinya akan mendeklarasikan kemerdekaannya sebentar lagi. Selain karena fasilitasnya yang lengkap, jaraknya yang jauh membuat orang sering bilang jangan lupa bawa passport saat berkunjung ke sana.

Nyatanya, Kelapa Gading memang jauh, setidaknya dari kantor gua di Senayan. Kurang lebih gua perlu waktu satu jam setengah setiap paginya untuk berangkat ngantor. Beda dua kali lipat jika gua berangkat dari rumah nyokap, sebelum menikah dulu.

“Di depan muter balik ya, Bang,” ujar gua sambil mengelap keringat di jidat yang mulai tercecer dari balik helm.

Naik motor satu setengah jam itu penuh tantangan. Selain mesti berpanas-panasan di antara kepulan asap knalpot, jalan yang bergelombang sering membuat pantat gua kesemutan. Gerakan naik turun dan getaran mesinnya kadang membuat gua merasa seperti sedang berzinah dengan motor.

Sebetulnya, berbagai rute dan moda transportasi umum udah gua coba waktu awal-awal pindah ke Kelapa Gading. Ada TransJakarta yang bisa langsung mengantarkan gua ke kantor dengan hanya sekali berpindah koridor. Namun belum sterilnya jalur dan ga jelasnya waktu kedatangan membuat gua membutuhkan waktu dua jam agar bisa sampe di kantor.

Alternatif jalan kaki sempat terpikir. Namun berangkat subuh pun, sepertinya gua akan sampai di kantor ketika udah jam lembur. Bawa mobil pribadi masih gua simpan di opsi terakhir. Selain biaya bensin dan parkir yang kayaknya lebih mahal, ga ingin membuat Jakarta lebih macet adalah alasan gua masih memilih naik angkot untuk berangkat ke kantor.

Meski gedung kantor gua ada helipad, naik helikopter jelas bukan pilihan yang bijak. Menyicil helikopter bisa membuat gua makan kerak nasi untuk 70 tahun ke depan. Enam puluh sembilan, jika tujuh puluh dirasa lebay.

Akhirnya, setelah trial and error beberapa kali, gua menemukan juga rute tercepat dari rumah ke kantor. Setiap paginya, gua naik gojek dulu sampai ke halte busway koridor satu, karena jalur koridor satu pasti steril dan waktu tunggunya lebih pendek.

Begitu pula saat pulang kantor. Gua hanya memutar rute pagi, yakni naik busway sampe ke halte tertentu dan nyambung naik gojek ke Kelapa Gading. Meski rutenya sama, tapi waktu tempuhnya kadang bisa jauh beda. Tingkat kemacetan jam pulang kantor lebih dasyat, membuat gua kadang membutuhkan waktu sampai dua jam.

“Ini ke mana nih, Pak?” tanya si driver saat dua cabang jalanan terlihat di depan. Bermodal kata kanan kiri dan jari telunjuk, gua mengarahkan si driver agar melewati rute yang ga terlalu padat.

Kadang, gua dan Sarah nginep di rumah bokap nyokap Sarah di daerah Blok A. Biasanya, kami nginep di sana kalo Sarah ada urusan sama kerjaan dia di daerah selatan. Kalo lagi nginep, gua pun kebagian enak, karena jarak dari kantor ke Blok A deket banget. Kalo naek gojek, cuma perlu 15-20 menit perjalanan untuk bisa sampe ke Senayan. Good bye, perzinahan dengan motor!

Menginap di Blok A juga berarti ga perlu bersusah-susah nyuci piring setelah makan atau beberes baju kotor sepulang ngantor. Ga perlu pusing mau sarapan atau makan malam apa, karena ada asisten rumah tangga yang siap membantu.

Semua ada, tinggal duduk manis aja. Tapi ada satu alasan mengapa gua rela membelah Jakarta dari selatan ke utara setiap harinya.

“Depan stop ya, Bang.” Gua mengangkat pantat dari jok motor. Gedung apartemen udah menjulang di sisi kanan, pertanda gua udah sampai di tujuan. Setelah berpamitan dengan abang ojek (so swit), gua melangkah masuk ke lobby dan menuju kamar.

Begitu pintu dibuka Sarah, gua langsung masuk seraya mencium keningnya. Melepas sepatu, membuka jaket dan menaruh pantat di atas sofa yang jauh lebih empuk dari jok motor.

Sambil duduk meluruskan kaki, gua mengambil remote tivi. Ganti saluran sana-sini, mencari acara yang ga dibintangi Uya atau Raffi. Meregangkan badan sesekali, untuk melepaskan penat seharian tadi. Lalu menguap lebar sekali, tanpa perlu peduli atau ada rasa ga enak hati.

“Makan yuk!” ajak Sarah.

Bunyi piring beradu dengan meja kayu terdengar bersamaan dengan kursi yang bergesekan dengan lantai. Senyum Sarah terkembang saat dia menyendok nasi ke atas piring yang udah terpampang manis di atas meja.

Gua beranjak pelan dari sofa menuju meja makan. Menarik kursi lalu duduk berdampingan. Lauk dan sayurnya sederhana. Tapi rasanya istimewa. Sambil mengunyah pelan, gua teringat kembali tentang mengapa perjalanan pulang dua jam ga terasa berat.

Opsi menginap di Blok A selalu terbuka. Pun menginap di rumah bokap nyokap gua di Senen, juga selalu tersedia. Namun gua dan Sarah selalu memilih untuk pulang ke Kelapa Gading.

Karena lebih baik di sini, rumah kita sendiri.

“If you go anywhere, even paradise, you will miss your home.” – Malala Yousafzai

Advertisements

Tagged: , , , ,

9 thoughts on “Rumah

  1. cupah July 27, 2016 at 20:39 Reply

    Uwuwuwuwuwuu…

  2. Ferry July 29, 2016 at 12:20 Reply

    Co cwettttt

  3. icaqenter15 August 3, 2016 at 15:50 Reply

    aku pengen ngeblog bahas rumah, tapi ga ada gambaran. dgn membaca posting ini, simpel, tapi menarik, jadi inspirasi nih setelah baca. pulang kantor mau nulis lagi ah…

  4. habib alrahman August 27, 2016 at 12:11 Reply

    loved it !

  5. ariesadhar August 29, 2016 at 09:47 Reply

    Lalu habis makan ngapain, Om?

  6. […] 10 kilometer dan 40-50 menit, sementara Om Efenerr memulai perjalanannya pukul 6 pagi, pun Om Roy Saputra butuh waktu 1-2 jam hanya untuk berimigrasi dari Kelapa Gading. Saya akan memasuki periode itu dalam beberapa bulan ke depan, dan yang saya butuhkan adalah upaya […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: