Porsi

Salah satu mimpi terbesar gua adalah bisa dikenal lewat karya tulisan. Bermimpi kalo suatu hari gua bisa diwawancara infotainment di televisi dengan pertanyaan, “Memangnya Roy sejak kapan udah suka nulis?”

Jika ditanya demikian, maka jawaban gua adalah, “Sejak SD. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, saya memang suka mengarang, khususnya saat keadaan tertekan.”

Setiap ada tugas yang mengharuskan gua untuk mengarang cerita, gua bisa minta kertas lebih saat teman yang lain masih berkutat dengan kalimat ‘pada suatu hari’. Bercerita lewat tulisan seperti manifestasi bagi otak bawel gua yang terjebak dalam sikap pemalu.

Iya, gua memang pemalu. Gua lebih banyak terdiam kalo sedang dalam keramaian. Pun jika menjadi pusat perhatian, gua bisa menjadi sangat ga nyaman dengan diri gua sendiri. Menulis jadi seperti terapi buat otak gua yang penuh akan kata-kata yang ga sempat dilontarkan lewat percakapan.

So I thought at that time, writing would fit for me just well. I told to myself that writing was meant for me.

Kegemaran gua akan menulis berlanjut sampai ke jenjang SMA. Gua sempat menulis cerita bersambung tentang Josh, seorang anak band SMA yang ganteng dan istiqomah. Cerita ini digandrungi oleh teman sekelas gua yang selalu menagih seri berikutnya. Dukungan dan dorongan ini yang terus membuat gua melaju di jalan ini.

Begitupun saat kuliah. Gua masih rutin berbagi cerita lewat mailing list teman-teman seangkatan. Cerita keseharian gua yang dibalut komedi jadi santapan renyah yang banyak ditunggu. Dan di saat kuliah ini pula gua berkenalan dengan novel-novel Indonesia yang gua jadikan referensi serta acuan saat menulis.

Mimpi dikenal lewat karya terus gua pupuk. Disuburkan dengan latihan dan referensi yang semakin banyak di pasaran.

Hal ini juga dipicu oleh semakin banyak lahirnya penerbit baru. Gua pun melihat ini sebagai sebuah kesempatan untuk mewujudkan mimpi yang udah lama tertanam. Di tahun 2008, gua nekad mengajukan naskah berjudul “Kancut” ke sebuah penerbit. Long story short, naskah itu rilis dengan judul “The Maling of Kolor” di tahun yang sama.

Waktu buku itu rilis, gua seneng banget. Rasanya pengen gua ngabarin ke seluruh dunia kalo buku gua udah terbit. Gua semangat abis. Karena sepertinya gua berada dalam jalan yang tepat untuk menggapai mimpi gua dulu. Jawaban ‘saya-menulis-sejak-SD’ kini seperti makin dekat untuk diucapkan.

Sejak itu, gua terus menulis. Entah untuk menuangkan keresahan, menguji konsep, atau sekedar iseng-iseng mencari uang tambahan. Gua mengusahakan agar setidaknya dalam satu tahun, gua bisa rilis satu buku. Semua demi konsistensi dan eksistensi.

Setelah The Maling of Kolor, lahirlah Doroymon, Luntang-Lantung, Oh Lala Ting Ting, Trave(love)ing, Kasih Tau Gak Yaa?, Rasa Cinta, Setahun Berkisah, DestinAsean, Lontang-lantung, Trave(love)ing 2, serta Digitalove. Deras meluncur dalam enam tahun karier gua di industri tulis menulis. Kadang gua heran kok ya bisa ketemu waktu menulis sebanyak itu di tengah kesibukan gua sebagai pegawai kantoran.

Tapi ya mungkin namanya belum rejeki, semua karya gua begitu aja. Buku-buku yang rilis bertahan paling lama hanya satu tahun di rak toko-toko buku. Menyentuh segelintir, tanpa pernah meledak di pasaran.

Cape. Kecewa. Dua hal itu yang gua rasakan setiap melihat pencapaian gua di dunia tulis menulis ini.

Akhirnya, di tahun 2014, gua memutuskan, ya, berhenti aja lah. Rasanya, setelah semua usaha dan pengorbahan yang gua buat, kok ya, masih gini-gini aja?

Setelah berbulan-bulan waktu yang gua luangkan untuk menulis, setelah banyak uang gua rogoh untuk promosi, setelah pemikiran dan tenaga gua tuangkan untuk sebuah buku, kok rasanya, ya, mentok begini?

Apa yang salah dengan usaha gua? Apa yang keliru dari langkah-langkah yang udah gua tempuh sejauh ini? Apa yang berbeda dari mereka yang pencapaiannya bisa lebih baik dari gua?

Berminggu-minggu gua berusaha menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas. Menyalahkan orang lain dan mengeluhkan keadaan sempat terselip di sepanjang proses gua menemukan jawaban tadi.

Sampai di satu titik, gua tersadar satu hal. Tersadar bahwa sesungguhnya bisa aja, dikenal lewat karya memang bukan porsi gua.

Sama kayak jodoh. Seberapa pun besar usaha seseorang, kalo memang bukan jodohnya, ya ga akan jadian. Pedekate siang malam, kalo memang bukan bagiannya, ya bakal mentok sendiri. Suka sih boleh aja, tapi kalo bukan jodohnya, ya jangan dipaksa. Nanti yang ada malah stres sendiri.

Begitupun dengan gua. Besar karena menulis sepertinya bukanlah bagian gua. Itu bukan porsi gua.

I learnt that if it’s not meant to be, it’s not meant to be.

Ada orang-orang yang seperti udah digariskan untuk menjadi hebat karena karyanya. Ada orang-orang yang nge-twit “eaaa” aja, retweet-nya bisa ribuan. Ada orang-orang yang bisa mencukupi hidupnya lewat karya dan tulisan.

Dan harus diakui, gua bukanlah orang-orang itu.

Maka, sejak tahun 2014, gua memutuskan untuk berhenti berkarya lewat buku.

Menyerah mungkin kata yang terngiang pertama di kepala. Tapi bagi gua, ini hanya sebuah momen yang menyadarkan kalo besar karena menulis bukanlah jalan gua. Bahwa dikenal luas lewat karya, bukanlah porsi gua.

Tersadar bahwa seberapa besar apa pun usaha gua, kalo memang bukan porsinya, ya ga bisa dipaksa. Sekeras apa pun dorongan gua agar ini berhasil, kalo memang bukan jalannya, ya bukan jalannya.

If it’s not meant to be, it’s not meant to be.

Jadi, gua rasa ini adalah langkah yang tepat. Gua rasa tahun 2014 adalah waktu yang tepat bagi gua untuk berhenti menulis buku.

Kini, waktu yang dulu gua luangkan untuk menulis, bisa gua alihkan untuk hal lain. Membentuk perusahaan kecil-kecilan yang bisa membukakan kesempatan untuk orang-orang di sekitar gua. Mencoba berjualan kaos, sebuah usaha sampingan yang sempat gua cita-citakan juga saat sekolah dulu. Atau memfokuskan diri di kantor, yang memang udah bisa mencukupi kebutuhan hidup gua selama ini.

Mungkin hal-hal tadi adalah jalan yang digariskan untuk gua. Mungkin gua bisa lebih bermanfaat di sana. Mungkin berhenti berkarya lewat tulisan memang sebuah keputusan yang tepat.

Jika suatu hari, setelah semua daya dan upaya, ternyata masih mentok juga, gua hanya perlu disadarkan kembali, bahwa setiap manusia memang punya porsinya masing-masing.

Namun sampai hari itu datang, ijinkanlah gua untuk tetap berusaha.

“There’s nowhere you can be that isn’t where you’re meant to be.”  ― John Lennon

Advertisements

Tagged: , , ,

34 thoughts on “Porsi

  1. Anni September 21, 2016 at 12:06 Reply

    just keep writing, Roy !

  2. Chara perdana September 21, 2016 at 13:35 Reply

    Hmm…sori kalo terkesan menggurui. Cuman kalo lo suka nulis &cinta nulis, just do it man..mungkin lo bias karena, lo ngarepin hasil yg gak sesuai ekspektasi lo…but, if u really love writing, just do it, man.

    • Roy Saputra September 21, 2016 at 14:50 Reply

      menulis sih tetep dong. tapi sekarang di blog aja. udah cape nulis buku :))

  3. Seorang teman September 21, 2016 at 14:46 Reply

    Mungkin mindset mengenai hobi bisa mendapatkan sesuatu seperti materi atau nama besar harus diubah? Biarkan hobi itu mengalir hanya untuk pelampiasan kesenangan diri yg kalau menjadi besar mantinya adalah karena hebatnya karya tersebut dan bukam karena sebuah keberuntungan =)

    • Roy Saputra September 21, 2016 at 14:54 Reply

      yang ingin ditekankan di postingan ini lebih ke let it go sebetulnya. kalo bukan porsinya, dipaksa gimana pun akhirnya cape sendiri. kadang kita harus cermat mengamati apakah ini porsi kita atau bukan. dalam kasus ini, sepertinya besar karena karya bukan porsi gua.

  4. presyl September 21, 2016 at 20:24 Reply

    Roy, gue selalu suka tulisan lo kok, dan sebagian besar dari buku lo gue beli, huehehe. Setidaknya lo udah sukses sebagai blogger yg bercita cita buat nerbitin buku dan kesampaian, walaupun mungkin tidak sesuai ekspektasi lo.
    Setidaknya ada karya nyata, yang bisa lo pamerin nanti ke anak cucu lo 😁

  5. Lia September 22, 2016 at 10:57 Reply

    Menulis intuk mengeluarkan resah bang :)) semangat terus yeayy

  6. Mathar September 22, 2016 at 18:47 Reply

    Reblogged this on Catatan Mathar and commented:
    :):):):)

  7. Rizki Darmawan Listiono September 22, 2016 at 19:44 Reply

    Keep Writing, bang Roy… Lo inspirasi gue buat terus menulis…

  8. ketikyoga September 23, 2016 at 09:24 Reply

    Entah kenapa, pas baca ini rasanya patah hati. Sedih yang gue nggak ngerti apa sebabnya. Kadang sempet mikir juga, kalo porsi gue dalam menulis gak bisa seberuntung orang-orang. Setiap kali ngirim naskah, ada aja halangannya. Penerbit itu gak terima naskah PeLit, lah; penerbit itu mewajibkan followers minimal dua ribu; dll. Kadang pengin nyerah, tapi gak tau kenapa selalu berusaha untuk tetap menulis. Karena kalo nggak nulis, hidup rasanya ada yang kurang.

    Dan akhirnya bulan April kemarin cerpen saya kepilih di proyek buku antologi. Rasanya gak keruan bisa nerbitin, ya walaupun hanya antologi. :’)

    Jangan pernah berhenti nulis, ya, Bang! Walaupun gak menelurkan karya novel lagi, paling nggak blog ini bisa selalu rutin update. Ehehe. Saya selalu nunggu tulisan Bang Roy. Semangka! :D

    • Roy Saputra September 24, 2016 at 23:15 Reply

      amin! thank you, Yog. doakan supaya gua tetap rutin ngeblog ya!

  9. Haris Firmansyah September 23, 2016 at 09:33 Reply

    Saya juga ngerasain sama kayak Mas Roy di atas. Nulis beberapa buku, tapi belum ada yang meledak. Padahal sejak awal menulis, pengennya buku pertama langsung booming kayak buku JK Rowling. Tapi saya belum ngerasa capek. Entah ini porsi saya atau bukan. Saya bakal terus berusaha. Hahaha.

    • Roy Saputra September 24, 2016 at 23:15 Reply

      selama masih ada “bensin”-nya, terus berusaha dong!

  10. Tukang Minggat September 23, 2016 at 09:33 Reply

    Surprisingly sama banget kayak gua dulu yang demen banget nulis dan ngasih hasil tulisan ke temen temen dari jaman sd sampe sma hehe. Dan alhamdulilahnya jg doa gua terjawab sekarang dengan bisa menelurkan dua buku dan lagi nungguin another proyek antologi kelar.

    Baca postingan lo ini ngebuat gua jadi jiper sndiri ngebayangin what would my books gonna be.Emang sayang bgt apresiasi orang orang terhadap bacaan di Indonesia masih kurang. Cuma bener kata temen temen yang komentar diatas sih, you have made something, toh you reach your dream you await for. Sama kayak gua yang sekarang masih sinking into euphoria karena akhirnya buku gua bisa gua liat terpajang di toko buku, gua percaya elo kangen sama perasaan ketika lo ngeliat buku baru elo terbit :) so why bothering berapa banyak buku yang terjual, toh intinya lo udah susah payah berkarya. Gua sendiri sih mikirnya, gua pengen terus berkarya karena gua suka melakukannya :) dont give a fish berapa banyaj orang yang bisa mengapresiasinya–toh tetep ada juga pembaca-pembaca setia yang bakalan terus menanti karya kita, dont let them disappointed karena nggak bisa ngeliat karya lo lagi hehe. Dan well…Lo nggak akan pernah tau kalo ternyata buku berikutnya adalah buku yang meledak di pasaran kan. Just my two cents sih :D

    And btw i’m one of your fans, gua suka tulisan tulisan lo hehe. So you better keep writing another book dude :D

    • Roy Saputra September 24, 2016 at 23:17 Reply

      thanks, bro. semoga bensin itu bisa terisi lagi ke tangki gua. sekali lagi, makasi ya. sukses juga buat lu :)

  11. dianeato September 23, 2016 at 10:38 Reply

    lah kenaapa berhenti mas roy??
    lu enak bisa kecapaian jadi penulis apalagi udah bisa menghasilkan beberapa buku. nah gue ? mau jjdi penulis tpi ujuang2nya hnya disalurkan lewat blog.

    • Roy Saputra September 24, 2016 at 23:17 Reply

      ngeblog aja juga asik kok. ga mesti buku :D

  12. Son Agia September 25, 2016 at 13:45 Reply

    Berhubung saya mengenal dan mengidolakan seorang Roy Saputra lewat blog (2014, silent reader), dan bukan dari buku, saya gak terlalu mempermasalahkan keputusan bang Roy ini. Yang penting, semangat terus bang! Kudu lebih rajin update postingannya! Hehe.

    • Roy Saputra October 1, 2016 at 15:46 Reply

      amin. kalo ngeblog sih akan terus meski intensitasnya mungkin akan berkurang :))

  13. Ikrom September 25, 2016 at 16:24 Reply

    tetep suka sama tulisannya mas Roy, tulisan2 Mas Roy saya tautkan pada blog pribadi saya biar orang2 yg ke blog saya bisa baca tulisan Mas Roy yg asyik :)

  14. ariesadhar September 26, 2016 at 07:52 Reply

    Haha, sama Om. Gue malah satu aja nggak laku, terus ya sudahlah. Menulisnya tetap, tapi menjadi terkenal karena tulisan mungkin memang bukan porsinya. :D

  15. habib September 26, 2016 at 09:53 Reply

    gue termasuk yang beli buku lo yang meledak paling setahunan di Gramed :))

  16. Yoga September 26, 2016 at 20:53 Reply

    Jadi inget dulu pernah bicarain masalah ini di grup WA dan jadi tau kalo dunia penerbitan tak seindah dan segampang keliatannya :’)

    Tetep ngeblog aja bang Roy. Menginspirasi gak musti lewat buku, lewat blog juga bisa. Uhuy.

  17. cewephlegmatis September 27, 2016 at 14:44 Reply

    Makjleb banget postingan ini. Tiap detail kata dan maknanya langsung bikin gw bilang, “iya, bener banget!”. Because I feel it too. Dan gw pernah dengar ungkapan, “semua orang itu berguna dengan caranya masing-masing”. Tetaplah menjadi manusia yang berguna ya, Bang!

  18. ovirhm October 17, 2016 at 20:52 Reply

    Sebelum ditanyain sama wartawan mending aku deluan yang nanya, kapan bang roy suka nulis? hehehe. Bantu view dan likenya ya teman teman, makasihh https://youtu.be/kIRmXleH_FU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: