Kesempatan

“Nih, liat nih, cincin Papa.”

Hampir seminggu sekali gua mampir ke rumah bokap nyokap untuk sekedar makan malam atau ngobrol tentang apa aja. Sabtu itu, di antara obrolan santai kami, tiba-tiba bokap masuk ke kamarnya dan kembali dengan nunjukin cincin berbatu akik warna merah. Awalnya, gua kira ini cincin batu akik pada umumnya. Namun, bokap berikrar bahwa ini bukan sembarang cincin batu akik.

“Kalo kena aer, batunya bisa nyala lho,” kata bokap sambil berjalan ke arah wastafel, “Tuh, tuh, liat tuh. Nyala kan?”

Gua yang awalnya apatis, jadi penasaran juga. Lah kok iya batu akik bisa nyala? Darimana sumber listriknya? Pas kena air kok malah nyala, bukannya nyetrum? Kok bisa-bisanya Agus dicalonin Gubernur DKI sama SBY? Dan seterusnya, dan seterusnya.

Muka bokap makin sumringah ketika gua berjalan mendekat dan tampak kebingungan. Dengan suaranya yang menggelegar, bokap bertanya, “Ayo tebak, kira-kira berapa harganya?”

Perlu diketahui, bokap gua bukan orang yang sayang uang. Bukan orang kaya, tapi juga bukan orang yang mikir dua kali untuk beli barang yang dia suka. Ketika dia ketemu sesuatu yang dia kepengen, dia bakal bayar berapa pun harganya, yang penting murah.

Jadi, kalo gua ditanya berapa harga cincin batu akik yang bisa nyala itu, jawabannya mungkin sekitar 500 ribu. Sebuah harga yang sepertinya masih masuk akal untuk ukuran dompet bokap gua. Tapi daripada berspekulasi, gua memilih untuk melakukan yang orang pintar biasa lakukan ketika bingung mau menjawab apa: bertanya balik.

“Berapa, Pa? Mahal ya?”

Bukannya menjawab, bokap malah bercerita.

“Jadi, tadi tuh ada yang nawarin batu akik di pasar. Orang-orang dari semua toko pada ngumpul, penasaran sama batu akiknya, kok bisa nyala? Rame dah. Semua ngeliatin satu cincin ini.”

Hukum ekonomi. Supply rendah, demand tinggi, itu artinya harga tinggi. Oke, gua naikin prediksi harga batu akiknya jadi 700 ribu.

“Yang jualan sih cerita macem-macem. Batunya kalo dipencet bisa nyala, nah nih, nih,” kata bokap sambil memperagakan, “Terus, kalo kena aer bisa nyala juga. Keren kan?”

Banyak features. Oke, oke, jadi 800 ribu.

“Semua orang pada ngeliatin. Pada ngumpul dari toko sana-sini. Semua penasaran, tapi pas ditawarin, ga ada yang berani beli. Nanya harganya aja pada ga berani.”

Hmm, kayaknya beneran mahal nih. Tebakan gua jadi satu juta deh.

“Nah,” lanjut bokap, “Pas yang jual mampir ke toko Papa, ya Papa penasaran juga lah. Pengen beli juga sih. Apalagi kan unik ya, batu akik bisa nyala. Kapan lagi coba bisa ketemu yang kayak gitu? Seumur-umur baru kali ini Papa ngeliat batu akik bisa nyala.”

Kalo gua masih jomblo, mungkin gua juga akan terpikir untuk membeli cincin itu. Batu akik yang bisa menyala jika kena air akan jadi ice breaker yang cukup reliable. Setiap kali mati gaya saat kencan pertama, gua bisa gosok-gosok cincin dan bilang, “Nih liat nih, cincin gua bisa nyala.”

Yang semoga ga dibalas dengan, “Iya, Mbah.”

Anyway,

Tebakan harga gua akan cincin ini terus naik seiring cerita bokap. Jomplangnya supply-demand, features lebih dari satu dan tingkat keunikan, menjadikan prediksi gua akan harga cincin kini di atas satu juta rupiah.

Bokap melanjutkan, “Karena kepengen, ya Papa tanya aja deh berapa harganya. Kan ga ada salahnya ya nanya harga,”

“Jadi berapa, Pa, harganya?” kejar gua penasaran.

“Lima…”

Ratus ribu?

“…puluh…”

J-j-juta?

“…ribu.”

“Hah?” gua kaget, “Cuma goban?”

“Iya, cuma goban! Papa langsung bayarin! Begitu tau harganya murah, itu yang tadi cuma ngeliatin jadi pada nyesel. Terus mereka nanya, ada lagi ga cincin kayak gitu. Yang jual bilang, ga ada lagi! Cuma sebiji ini! Hahaha.”

Obrolan santai Sabtu itu diakhiri dengan tawa kencang kami berdua. Gua tertular rasa senang bokap yang seperti baru menang lotere. Sebelum benar-benar disudahi, bokap melontarkan satu pernyataan yang sampai hari ini masih menggantung di kepala.

“Padahal kan tinggal nanya aja harganya berapa. Kok tadi ga ada yang berani ya?”

batu-akik

Mungkin, takut adalah jawabannya. Takut udah kepengen, tapi ga bisa kebeli. Takut udah ada hati, tapi ga mampu diraih. Takut udah usaha, tapi ternyata sia-sia.

Ketakutanlah yang membutakan kita saat pintu kemungkinan itu terbuka di depan mata. Ketakutan juga lah yang membuat peluang emas bisa terlewatkan begitu aja.

Padahal seringnya, kesempatan cuma datang satu kali. Kadang datang diam-diam lalu pergi lagi ketika kita termenung sambil berasumsi karena rentetan what-if yang kadang bikin pusing kepala.

Sesungguhnya, yang kita perlukan hanya keberanian. Berani untuk bertanya, berani untuk bertindak, dan berani untuk mengambil keputusan.

Yang sepanjang tahun ini ragu mau resign atau ga, mungkin tawaran kerja yang datang sekarang adalah jawabannya. Yang beberapa minggu terakhir ga bisa tidur nebak gimana perasaan gebetannya, mungkin ini momen yang tepat untuk bergerak cepat.

Because sometimes, all you have to do is follow what your gut feeling says.

Menyambut tahun yang baru ini, semoga kita senantiasa diberikan keberanian untuk mengambil keputusan-keputusan penting dalam hidup kita. Semoga kita tidak pernah membiarkan keadaan atau orang lain yang menentukan setiap arah dan langkah kaki kita.

Semoga di tahun 2017 nanti, ga ada lagi kesempatan yang terbuang percuma.

Karena penyesalan selalu datang belakangan.

“He who is not courageous enough to take risks will accomplish nothing in life.” – Muhammad Ali

Advertisements

Tagged: , , , ,

16 thoughts on “Kesempatan

  1. cewephlegmatis December 30, 2016 at 11:39 Reply

    Tadinya ragu mau nawarin jalan gebetan hari ini. Terus habis baca postingan lu skrg gw jd berani. Apa salahnya nyoba? Kalau dia nggak bisa ya nggak apa-apa kan, bang 😊 as simple as that. Thanks bang roy!

  2. Sarah Puspita December 30, 2016 at 16:02 Reply

  3. Ikrom December 30, 2016 at 16:19 Reply

    iay, kesempatan gak datang dua kali, tapi keputusan harus diambil dengan bijak mas, hehe

    • Roy Saputra December 30, 2016 at 16:29 Reply

      berani kan bukan berarti tidak bijak :D

  4. ghozaliq December 30, 2016 at 17:08 Reply

    Wkwkwwkw jadi ngebayangin kejadian pas pada kaget kalo harganya cuman 50ribu…weheheehe

    • Roy Saputra January 8, 2017 at 09:06 Reply

      yoi banget kan harganya ternyata :))

  5. cupah December 30, 2016 at 18:00 Reply

    Aku juga suka maju mundur, taun ini alhamdulillah lebih berani atau bisa dibilang nekat. 😆
    Takut sama apa yang bakal terjadi padahal belom tentu kejadian :))
    Happy new year Kak Roy & Sarah, semoga taun depan kehidupannya makin seru 😊😊

  6. Khairunnisa Siregar January 1, 2017 at 02:43 Reply

    Bener banget nih Kak Roy. Mending gagal pas udah nyoba daripada nyesel karena gak pernah nyoba sama sekali. Anyway, Happy New Year Kak Roy-Sarah!

    • Roy Saputra January 8, 2017 at 09:06 Reply

      prinsip yang sama yang gua pegang sampe hari ini. happy new year juga, Icha :D

  7. Lsudan.com January 2, 2017 at 13:17 Reply

    Ragu dan takut plus malu sudah jadi kelebihan orang Indonesia deh :)

    Salam kenal ya gan

  8. Aryfitra January 8, 2017 at 12:12 Reply

    Iya ya,what if sering kali bikin pusing,dan setelah what if pasti ada ketakutan.Kayanya di seluruh kesempatan what if dan takut itu pas nempel deh

  9. leniaini January 13, 2017 at 16:56 Reply

    ikutan deg-degan pas tebak-tebakan hargaaa, huhu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: