Ngasong Anak di People’s Park

Kata orang, jodoh ada di tangan Tuhan. Tapi di Shanghai, jodoh ada di tangan Tuhan dan orang-orang tua yang nongkrong di People’s Park.

Shanghai, salah satu kota terbesar dan termodern di Asia, memiliki tradisi yang sangat unik dalam mencari pasangan hidup. Ketika gua dan Sarah traveling ke sana November lalu, kami menjadi saksi dari tradisi unik ini.

Semua bermula ketika seorang teman, yang pernah lama tinggal di Shanghai, menyarankan agar kami memasukkan People’s Park ke dalam itinerary. Awalnya, gua mengira ini hanya taman biasa. Cuma hamparan rumput luas dengan pohon rimbun di kanan kiri. Sebuah pemandangan yang ada dalam taraf “ya oke lah”.

Namun, katanya, ada tradisi menarik yang bisa membuat kita geleng-geleng kepala. Sebuah tradisi yang cukup jomplang jika dibandingkan dengan kemajuan infrastruktur kotanya. Tradisinya adalah… menjodohkan anak.

Eits, keunikannya ga hanya berhenti sampai di situ. Karena proses perjodohannya bukan hanya dengan hi-apa-kabar lalu nanya anak-situ-udah-ngebet-kawin-juga-apa-kagak. Tapi si ibu atau bapak kudu ngasong anak mereka, di taman pula. Itu anak apa cangcimen?

Setiap hari Minggu sore, sang ibu atau bapak akan duduk di satu spot dalam taman, lalu majang biodata lengkap si anak. Nama, umur, tinggi badan, kata mutiara, dan mungkin, sampai makes dan mikes. Makanan kesukaan dan minuman kesukaan.

Kertas data diri tadi akan ditempel pada payung yang dijemur di pinggir jalan. Lalu orang-orang tua tersebut akan berjalan berkeliling taman, melihat data diri dari anak-anak lain yang sedang diasong. Mana kala cocok, maka orang tua tersebut akan bertukar nomor handphone untuk membicarakan lebih lanjut tentang hubungan anak mereka..

Epic bukan?

Kalo Ted Mosby orang Shanghai, maka niscaya, serial How I Met Your Mother ga akan sepanjang itu.

Demi mengecek kebenaran cerita itu, berangkatlah kami ke People’s Park pada hari Minggu, hari kedua kami di Shanghai. Untuk mencapai taman ini, kita bisa naik Metro (semacam MRT-nya Shanghai) jalur satu atau delapan, turun di stasiun People’s Square, lalu keluar dari Exit 16. Untungnya, gua dan Sarah menginap di Nandjing Road, sebuah area belanja yang berada ga jauh dari People’s Park. Karena lagi ga terburu-buru, maka kami pun memutuskan untuk berjalan kaki.

Di sepanjang perjalanan menuju ke sana, gua masih mengira-ngira seperti apa suasana marriage market di People’s Park ini. Prakiraan gua, yang ikut aktivitas ini mungkin sekitar 10-20 orang. Ya maksimal satu kelurahan lah. Karena di kota dan jaman yang udah semodern ini, rasanya katro massal akan sulit ditemui.

Namun ketika gua sampai di sana, reality hits me.

people-park

Ada puluhan bahkan sepertinya ratusan orang tua yang berkeliaran di People’s Park sore itu. Ketimbang hamparan rumput, sejauh mata memandang hanya tampak kerumunan opa oma yang sibuk ngobrol atau bertukar nomor handphone.

Tamannya penuh. Ini kayak antrian kasir pas midnite sale. Atau kayak barisan penonton D’Academy. Atau bubaran DWP. Atau demo bela… ah sudah lah. You get the point.

Ternyata yang ngasong anak di marriage market ini rame betul. Ini seperti aktivitas wajib dalam sebuah siklus kehidupan di Shanghai. Lahir, belajar jalan, sekolah, masturbasi, kuliah, kencan buta dengan yang dikenalin Mama, lulus, kerja, punya anak, ngegedein anak, ngasong anak di People’s Park, mati.

Semua yang diceritain temen gua itu benar adanya. Orang-orang tua yang nongkrong di sana, nempelin biodata anak mereka di payung, kursi plastik, atau yang paling canggih, diketik di tablet. Nama, umur, tinggi, dan berat badan jadi informasi mandatory yang terpampang. Beberapa ada yang nambahin foto, pekerjaan, bahkan gaji anak mereka.

Padahal gaji kan kayak titit. Seberapa besar pun yang lu punya, rasanya ga etis kalo diumbar-umbar.

Setelah menempel biodata pada payung, si oma akan berkeliling, melihat-lihat biodata dari anak yang berlawanan jenis kelamin. Ini ibarat orang muterin ITC saat lagi nyari handphone second. Berjalan pelan, ngeliatin etalase, sambil berharap ketemu yang cocok.

Kalo ketemu yang sesuai selera, maka bertukar informasilah mereka. Oma si laki dan oma perempuan akan saling ngasih nomor handphone mereka dan anaknya, untuk kemudian diberikan ke anaknya masing-masing.

For sum up, it’s like Tinder, but instead of you swipe it right or left, it’s your mom.

Di sepanjang petualangan di People’s Park, kami berdua setengah mati nahan ketawa ngeliat fenomena ini. Agak ditahan, karena takut disambit payung. Pun kami ga banyak foto karena kabarnya, opa oma ini akan marah kalo ada turis yang sembarangan foto-foto. Sesial-sialnya, kita bisa diusir keluar taman, atau malah dimintain duit. Mengingat tabiat warganya yang kurang ramah, memang ada baiknya berhati-hati saat mengambil foto.

Sekitar setengah jam kemudian, setelah ratusan nyengir tertahan kami berdua, gua memutuskan untuk keluar dari taman dengan perasaan yang campur aduk. Kaget, melihat kontrasnya budaya perjodohan dengan kemajuan kotanya. Sedih, membayangkan betapa bosennya anak muda di Shanghai, hanya nunggu kiriman nomor gebetan dari orang tuanya.

payung

Dan bersyukur, karena jodoh gua bukan datang dari payung yang terpajang di sebuah taman.

Advertisements

Tagged: , , , ,

9 thoughts on “Ngasong Anak di People’s Park

  1. cewephlegmatis January 8, 2017 at 11:23 Reply

    Ngakak pas baca makes dan mikes. Langsung keinget buku diary jaman SD yang Mafa dan Mifa. Makanan Favorit dan Minuman Favorit 😂😂. Btw, beli orgy dimana itu kok lucu amat? *eh

  2. catatansiayu January 9, 2017 at 13:52 Reply

    Karena jodoh kamu di timelinya si Pervie ya Roy? XD btw, aku ngakak bagian makes dan mikes, dulu aku nyebeutnya minfa dan manfa :p

  3. Ikrom January 13, 2017 at 14:16 Reply

    gaji kayak titit haha bener mas,

  4. ketikyoga January 13, 2017 at 21:29 Reply

    Bangkai gue awalnya bingung makes dan mikes. Taunya singkatan. Zaman SD banget ini pas ngisi buku diary temen. XD

    Eh, gila sampai seramai itu. Wqwqwq.

    Bersyukurlah gue bisa menemukan pacar cuma lewat kenalan biasa di sebuah kafe tanpa harus dijodohin orangtua yang biodatanya ditempel di bangku taman. :))

  5. cultureshockpanda January 17, 2017 at 06:28 Reply

    Seandainya gw masih single, kayaknya ini bakal jadi tempat tongkrongan nyokap :D Yang bikin penasaran, respon anak2nya itu gimana ya? Apakah mereka malu atau senang atau gimana ya? Btw Roy nonton Meet the Patels deh. Temanya mirip2 soal usaha perjodohan dari ortu.

    • Roy Saputra January 21, 2017 at 16:35 Reply

      itu dia, gua juga penasaran respon anak-anak di sana gmn. tapi karena udah mengakar, jadi biasa aja kali ya :/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: