Duri dalam Daging

“Ini namanya UI. Unexplained infertility.

Dokter itu lalu memasukkan beberapa lembar hasil tes lab kami berdua kembali ke amplopnya masing-masing. Gua dan Sarah saling berpandangan, tanpa tau harus bereaksi seperti apa.

“Kenapa?” lanjut Bu Dokter, “Kok kayak bingung?”

Gua cuma bisa nyengir, “Eh iya, Dok. Itu kabar baik atau buruk ya?”

“Intinya sih, ga ada salah dengan kalian berdua. Sel telurnya bagus, salurannya normal, sel spermanya juga bagus, masih banyak yang bisa berenang dengan baik ke arah yang benar. Makanya, ini namanya unexplained.

Dalam hati, gua dan Sarah mengelus dada. Setidaknya ga ada yang salah dengan fisik, organ, atau hormon kami berdua yang menyebabkan sampai hari ini kami belum mempunyai anak.

Pertanyaan kapan-punya-anak memang udah jadi makanan kami sehari-hari. Berondongan pertanyaan, mulai dari yang basa-basi sampai kepo menggurui, mulai dari keluarga dekat sampai driver ojek online, rutin mengisi bulan-bulan awal kami menikah sampai usia pernikahan kami tepat menginjak satu tahun.

Awalnya biasa aja, tapi lama-lama kuping ya gerah juga.

Didorong rasa ingin mengenyahkan pertanyaan-pertanyaan orang dan menuntaskan rasa penasaran dari dalam diri sendiri, gua dan Sarah memutuskan untuk ngecek ke dokter, apa yang membuat kami belum memiliki anak. Apa yang salah dengan kami berdua.

Dalam memilih tempat ngecek, gua dan Sarah punya beberapa ketentuan. Pertama, kami menghindari rumah sakit bersalin umum. Itu karena kami ga ingin ditatap dengan penuh tanda tanya dari pasangan yang sedang berkunjung untuk mengecek kondisi kehamilan. Atau yang terlalu ramai, sampai harus datang jam 5 pagi untuk bisa diperiksa jam 3 sore. Kami hanya ga ingin proses pengecekan yang panjang dan melelahkan ini, terasa tambah panjang dan melelahkan karena antriannya.

Bermodal browsing kanan-kiri, gua menemukan satu klinik di barat Jakarta yang sepertinya cukup friendly bagi pasangan yang panasaran namun pemalu macam kami. Dokternya pun ramah dan mau ngejawab semua pertanyaan kami berdua. Dirujuk untuk tes ini itu, dan begitu hasilnya keluar, berangkat lagilah kami ke sana untuk pembacaan hasil.

“Jadi, Bapak Ibu tetap bisa usaha secara normal,” jelas Bu Dokter seraya menyerahkan kembali amplop hasil tes, “Namun karena UI, probabilitasnya memang cenderung lebih kecil. Atau kalau mau, bisa IVF. Dari data historis kami, pasangan UI yang melakukan IVF punya probabilitas untuk hamil sampai 99%.”

Gua dan Sarah hanya tersenyum, lalu berpamitan dengan Bu Dokter. Ada rasa bingung dalam diri kami saat kembali duduk dalam mobil. Berpandang-pandangan, tanpa ekspresi. Dalam hati, bersyukur karena ga ada yang salah-salah banget pada diri kami. Namun juga khawatir, karena kata unexplained bisa berarti apa aja.

“Kenapa ya kita susah banget punya anak?” tanya Sarah, memecah keheningan yang sempat menggantung lama.

Gua terdiam, ga bisa langsung menjawab. Kondisi di kepala lagi sama kacaunya dengan situasi jalanan Jakarta di Sabtu siang itu. Ruwet, mumet, dan bertanya-tanya apa yang salah di depan sana. Truk terguling kah, demonstrasi kah, atau ada apa kah. Kenapa semua ga selancar yang kita inginkan?

Semua tumpang tindih dalam kepala. Pertanyaan yang kadang menggerus logika. Permainan apabila yang menimbun tanda tanya. Coba mencari “karena” terbaik pada “kenapa”-nya. Memilah-milah kata yang ingin gua lontarkan agar semuanya terdengar ga seberat seharusnya.

“Ya, mungkin,” gua menelan ludah sebelum bisa meneruskan, “Ya, mungkin ini duri dalam daging-nya kita, Ay.”

“Duri dalam daging? Maksudnya?”

Gua menarik napas panjang, “Belum punya anak itu yang bikin kita ngerasa belum lengkap kan ya? Yang membuat kita terus berharap dan berjuang? Yang membuat kita giat berdoa siang malam?”

Sarah masih terdiam. Mungkin menunggu kelanjutan analogi gua tadi. Mungkin juga sedang mencerna tanpa ingin jauh bertanya. Atau mungkin lagi lapar. Entahlah.

Memang urusan pengen-punya-anak ini mendorong gua untuk ingin doa puasa meski sakit maag, atau berusaha doa subuh walau sulit bangun pagi. Hasrat ini yang memacu gua untuk tetap berjalan tegak namun tanpa mendongakkan kepala.

Duri dalam daging menyeimbangkan kesombongan kita. Yang membuat kita tersadar bahwa sehebat apapun kita, ada kuasa Tuhan yang menentukan.

“Dan tiap orang punya duri dalam daging-nya masing-masing, Ay,” lanjut gua, “Kita, ya ini. Pengen punya anak. Ada yang duri dalam dagingnya kondisi ekonomi, ada yang kesehatan, ada yang hubungan suami istri. Ya macem-macem lah. Bahkan punya anak bisa juga jadi duri dalam daging-nya sebagian orang.”

Dalam diam, gua memegang tangan Sarah yang ga jauh dari tuas kopling. Coba menelaah gimana reaksinya. Mencuri pandang antara jeda jalanan dan ekspresi wajahnya.

“Ada yang gara-gara punya anak kecepetan, keuangannya jadi agak mepet. We know a few, right?” tanya gua, coba membangun komunikasi dua arah, “Ada juga gara-gara anak jadi ngerasa ga punya waktu yang cukup untuk dirinya sendiri atau pasangan. Waktu buat jalan-jalan, misalnya.”

Sarah masih duduk dalam diamnya. Memandang ke depan, sambil mengerutkan dahi. Beberapa selang kemudian, gua menyimpulkan bahwa kami siang itu ternyata ga sekacau jalanan Jakarta. Dalam diamnya, Sarah tersenyum.

Mobil masuk ke parkiran apartemen kala sebetulnya pemikiran gua belum tuntas untuk dilemparkan. Masih ada sekelumit lagi yang sebetulnya ingin gua sampaikan. Namun sementara, biarlah secuplik duri dalam daging tadi dikunyah oleh Sarah dalam diamnya.

Karena setajam-tajamnya duri, ia hanyalah sebagian kecil dari empuknya daging. Karena sepahit-pahitnya duri, ia tetap ga akan bisa menghilangkan gurihnya daging.

Duri memang ada di sana. Dia exist. Membuat ga nyaman, sedikit menganggu. Tapi kalo kita terlalu fokus pada durinya, maka dagingnya ga akan pernah keliatan. Kalo kita selalu takut kegigit durinya, kapan makan dagingnya?

Mungkin dengan belum dikaruniai anak, Tuhan sedang meminta kami untuk terus rajin menabung, supaya kelak nanti, kami lebih siap secara ekonomi. Mungkin Tuhan sedang mendidik kami untuk jadi pribadi yang lebih dewasa, agar ketika status orang tua itu akhirnya tiba, kami lebih matang dalam menyandangnya. Atau mungkin Tuhan masih ingin kami untuk menikmati waktu berdua dan menaklukkan dunia.

Maka sekarang, ijinkanlah gua dan Sarah untuk mengunyah daging kami. Tanpa peduli duri, meski tajamnya menusuk-nusuk gigi. Ijinkanlah kami menikmati sisi baik dari belum dikaruniai momongan. Menjalani mimpi yang mungkin bisa tercapai kala kami hanya berdua.

Melihat dunia.

Advertisements

Tagged: , , ,

12 thoughts on “Duri dalam Daging

  1. momentstoremembercitrandfauzi September 24, 2017 at 11:24 Reply

    Dear kak roy dan kak sarah

    Tulisan yg kali ini menyentak diriku Yg tiap bln hrs terima dtg bulan selalu pdhl tinggi hrpn punya anak. Yg menjelang PMS selalu deg2an dgn ciri2 hamil tau nya nggak

    Aku setuju ama tulisan kk

    1 tahun 8 bln pernikahan kami menanti anak hingga saat ne alhamdulillah dlm segala usaha sudah dilakukan. Kita sama kak. Hasil tes kami pun bagus tanpa kendala. Dr sekian tes hingga suntik dan obat. Kayaknya memang kita akan diberikan momongan yg luar biasa kak. Jd memang prosesnya lama buat hasil terbaik Sekarang mah positif thingking selalu Betul bgt istilah itu. Duri dlm daging. Mungkin slama ne trlalu fokus sm durinya pdhl dagingnya mah enak bgt Biarkanlah mulut2 nyinyir itu bergerilya hingga kuping berdarah dan hati mjd lemah… tp Allah selalu menguatkan kita.

    Keep strong buat kak sarah n kak roy Aku dan suami pun rasakan apa yg kalian rasa 😉

    Ditunggu ya kak tulisan selanjutnya

    • Roy Saputra October 7, 2017 at 23:10 Reply

      kita harus selalu saling menguatkan. terima kasih udah berbagi :)

  2. Teppy September 24, 2017 at 22:11 Reply

    *hugs*

  3. dodo September 25, 2017 at 19:42 Reply

    Gw juga punya bbrp teman yg terus menantikan anak dalam
    pernikahan mereka… belum dapet2 walopun bertahun2 coba… sampai bayi tabung juga, tapi tetap lom dikasih… well, terus berharap yak roy… Tuhan pasti kasih yg terbaik kok…

    seperti yg lo tulis, punya anak kecepetan kek gw juga ada aja masalahnya… wkwk… tp gw yakin Tuhan kasih yang terbaik lah..

    • Roy Saputra October 7, 2017 at 23:11 Reply

      amin! betul Do selalu percaya dengan waktu yang dikasih :D

  4. NengBiker September 26, 2017 at 11:15 Reply

    *hugs Roy sama Sarah

    liburan lagi yuk. pas HHN mulai lagi nih.

  5. Brenda September 26, 2017 at 12:12 Reply

    Roy, Sarah… Tetap semangat yaaa! Jangan dibawa stress, jalanin hidup aja.. Nanti ada waktunya kok.. God bless both of you!

  6. ganganjanuar September 27, 2017 at 09:33 Reply

    Sangat cocok dengerin podcast “NuchArio” -nya @sheggario.

    Saya pernah merasakan apa kalian berdua alami, dan pertanyaan “kok belum isi” itu memang nyakitin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: