The Baron 1898 Experience

Akhir September kemarin, gua dan Sarah berkesempatan untuk traveling ke benua Eropa. Salah satu tujuan utama kami selama berkelana di sana adalah sebuah theme park tua asli Belanda, yang disebut-sebut menjadi inspirasi Walt Disney mendirikan Disneyland: Efteling.

Sepertinya Efteling bukan destinasi wisata yang umum bagi turis mancanegara. Itu terbukti dari betapa terkejutnya resepsionis dan petugas stasiun saat kami menyebutkan nama Efteling sebagai tujuan kami hari itu.

“Where are you going to?” tanya seorang petugas stasiun setelah menunjukkan loket tempat membeli tiket kereta.

“We want to go to Efteling.”

“Efteling?”

“Y-yes.” Gua dan sarah saling berpandangan. Bingung harus merespon seperti apa.

Wajahnya tiba-tiba berubah dan berkata, “NICE~”

Bahkan dia menyanyikan jingle wahana yang paling tua, dan mungkin, paling berkesan buatnya. Gua dan Sarah hanya bisa tertawa dan merasa kami turis mancanegara paling hispter di Amsterdam pagi itu.

Karena nyatanya, Efteling memang ga setenar Disneyland. Sesampainya kami di sana, sejauh mata memandang hanya ada 4-6 pengunjung berwajah Asia. Berbeda dengan Paris Disneyland yang kebanjiran wajah-wajah Timur Tengah ataupun Asia Timur.

Efteling adalah sebuah fantasy-themed amusement park di Kaatsheuvel, kurang lebih satu sampai satu setengah jam perjalanan dari pusat kota Amsterdam. Kalo wahana Disneyland berdasarkan film-film Disney, maka atraksi di Efteling kebanyakan dibuat dengan latar mitos lokal, legenda, dongeng, atau cerita rakyat setempat.

Awalnya, Efteling merupakan taman (atau lebih tepatnya hutan) dengan playground dan Fairytale Forest sebagai atraksi utama. Tapi sekarang telah berubah jadi full-sized theme park yang cocok buat anak-anak, atau juga orang dewasa. Itu karena banyak juga atraksi yang memompa adrenalin.

Salah satunya akan gua ceritakan khusus di postingan kali ini. Namanya Baron 1989.

Baron 1898 adalah steel dive coaster, atau dalam bahasa Indonesia, roller coaster yang menukik nyaris 90 derajat dan bisa bikin kencing di celana. Roller coaster ini sukses membuat penumpangnya seolah terjun bebas. Membiarkan gravitasi melakukan tugasnya. Memaksa pantat melayang ga menyentuh alas kursi dan hanya bergantung pada penahan dada. Selesai dengan trek vertikal setinggi 37.5 meter, kita akan diajak untuk melewati sebuah loop 180 derajat dan beberapa tekukan spiral dengan kecepatan tinggi.

Gimana? Rasanya begitu mengguncang kantung kemih bukan?

Dan seperti halnya atraksi sebuah theme park, Baron 1898 ini pun memilki cerita sebagai pengantar pengunjung sebelum naik ke roller coaster dan kencing di celana. At least, you pee in your pants for a reason.

Diceritakan seorang baron bernama Gustave Hooghmoed menemukan sebuah goa yang penuh akan emas. Sialnya, goa emas itu ternyata punya penunggu, White Ladies, yang ga senang ada yang menambangi tempat tinggal mereka. Gustave udah diwanti-wanti oleh White Ladies agar mengurungkan niatnya menambah goa tersebut.

Tapi Gustave tetap memaksa untuk menambang emas di sana. White Ladies pun mengutuk para pekerja sehingga banyak terjadi kecelakaan. Karena kehabisan pekerja, Gustave merekrut penduduk sekitar, yaitu kita, untuk meneruskan penambangan.

Dan kecelakaan itu pun terulang kembali. Kali ini, dalam bentuk sebuah roller coaster ride.

“Kamu bener ga mau ikut?” tanya gua ke Sarah, sekali lagi.

“Ga ah,” jawabnya cepat sambil menggeleng, “Daripada nanti aku pingsan, mending aku nunggu di sini aja deh.”

“Ga bosen? Kayaknya lumayan panjang juga lho antriannya.”

“Kan ada Passpod, Aku bisa nunggu sambil browsing-browsing kok. Nanti aku Insta Story-in kamu dari bawah sini.”

Gua pun berlalu dan meninggalkan Sarah sendiri, sambil bertanya-tanya apa Insta Story udah masuk sebagai kata kerja di kamus Bahasa Indonesia atau belum.

Setelah mengantri 20 menit di jalur single rider, gua dipersilahkan masuk juga. Awalnya, gua semangat banget, mau nyobain one of a kind deep dive coaster ini. Namun setelah terus menerus mendengar teriakan berbagai rupa dari penumpang sebelumnya, gua mulai memikirkan kembali apa arti hidup ini, dan apa sebaiknya gua keluar aja dari barisan untuk berkontemplasi.

Saat niat kabur itu mulai memuncak, petugas meminta untuk segera naik ke kereta. Bubar sudah rencana gua untuk melarikan diri. Mari hadapi dan kencing di celana sajalah.

By the way, have I told you that this is a floorless roller coaster? Yup, roller coaster ini ga beralas, membuat kaki kita akan menjuntai dengan bebas saat melaju dengan kilat nanti. Kantung kemih makin terguncang bukan?

Petugas mengecek lagi semua pengaman sebelum berangkat. Saat semua aman terkendali, perjalanan pun dimulai. Kereta menanjak dengan pelan. Tangan gua dingin. Jantung deg-degan. Perjalanan naik setinggi 37.5 meter jadi momen yang sangat menegangkan.

Lima meter.
Ah tapi kayaknya gua masih berani.

Sepuluh meter.
Bisa lah bisa.

Dua puluh meter.
Eh, ini tinggi juga ya?

Tiga puluh meter.
GET ME OUT OF THIS!

Tiga puluh tujuh setengah meter.
It’s official. This is the longest 10 seconds in my life.

Ketika kereta sampai di titik tertinggi, sialnya dia ga langsung meluncur. Dari pengamatan gua sebelumnya, saat masih sadar betapa menyeramkannya wahana ini dan hanya menyaksikannya dari bawah, akan ada dua kali suara lonceng. Yang pertama, tanda kereta berhenti di titik tertinggi. Sehingga ada momen diam menggantung untuk beberapa saat. Membuat kita yang udah nungging menjorok mau jatuh, bisa melihat betapa tingginya jarak dari sini ke tanah di bawah sana. Yang kalo jatuh, bisa dipastikan akan membuat kita tidak enak badan.

Ketika lonceng berbunyi untuk yang kedua kalinya, kereta pun meluncur kembali.

Terjun bebas.

Melaju cepat.

Sembilan puluh derajat.

Matilu.

“AAAAAAAK!”

Gua berteriak sekencang-kencangnya. Campuran antara senang dan takut. Pantat yang ga menempel jadi alasan kenapa perasaan nyaris merosot itu selalu ada. Angin dingin menampar-nampar pipi dengan keras. Tangan membeku di pegangan. Rambut berantakan. Jantung cekot-cekot.

Sejauh yang gua ingat, ini adalah teriakan gua paling kencang saat naik sebuah roller coaster.

Yang paling menyebalkan dari track 90 derajat ini, ketika lu kira akan selesai dan mulai menukik naik, kereta masuk ke dalam lorong bawah tanah, membuat semuanya seperti ga berdasar. Memaksa gua untuk berteriak lebih kencang lagi.

“EMAAAAAAAAAAAAAAKKK!”

Keluar dari lorong hitam, kita dibawa berputar 180 derajat lalu menukik di track spiral. Masih dengan kecepatan tinggi, meski rasa takut mulai berkurang dan digantikan perannya oleh keseruan yang mendorong dalam dada.

Ga kerasa, gua udah kembali ke titik keberangkatan. Rasa-rasanya, total perjalanan Baron 1898 ini ga sampai satu menit. Mungkin ini satu-satunya kekurangan wahana ini. Durasi track-nya terhitung singkat.

Gua turun dari kereta dan segera melangkah keluar. Buru-buru ingin menceritakan Sarah bagaimana rasanya mengingat semua dosa sambil menahan pipis di celana di saat yang bersamaan. Karena ini memang roller coaster yang one of a kind. Unik. Seru banget. Truly one of a kind.

“Hebat kamu berani naik Baron!” seru Sarah, sambil menangkap ekspresi gua via Insta Story.

“Iya dong. Aku gitu lho,” ujar gua, jumawa.

“Masih ada waktu nih,” lanjut Sarah seraya melihat jam pada smartphone-nya, “Kamu mau naik sekali lagi ga?”

Dengan tersenyum lebar, gua menjawab, “Thanks, but no thanks!”

PS: Untuk merasakan pengalaman main wahana Baron 1898 senyaris aslinya, tonton aja video di bawah ini (bisa di-fast forward ke menit 3:49 untuk langsung lompat ke sensasi naik ride-nya).

Advertisements

Tagged: , , , , ,

7 thoughts on “The Baron 1898 Experience

  1. cupah October 23, 2017 at 11:02 Reply

    Bacanya aja bikin keringet dingin.
    Nonton videonya bikin dagdigdug 😂😂
    Seru banget kayaknya yaa?
    Kacamata harus dilepas ya? Tapi nanti burem 😂😂

    • Roy Saputra October 23, 2017 at 11:10 Reply

      ga kok, kacamata masih boleh dipake. jadi tetep HD pengalamannya X))

  2. ketikyoga October 23, 2017 at 12:12 Reply

    Maaak, baca sambil bayanginnya aja udah deg-degan gini, Mak!

  3. Sarah Puspita October 23, 2017 at 13:20 Reply

    Kalo aku jadi naek, kayaknya fix traumanya seumur idup deh :))))

  4. dian hendrianto October 25, 2017 at 02:30 Reply

    untung gue udh kencing duluan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: