Jet Lag

Dulu, gua selalu berpikir kalo jet lag adalah efek badan pegal setelah turun dari pesawat. Gua mengira, perjalanan pesawat satu jam pun bisa menyebabkan jet lag, apalagi kalo duduknya sambil nungging. Namun ternyata selama ini gua salah. Karena sebetulnya, jet lag adalah perasaan kelelahan setelah perjalanan udara yang panjang karena tubuh masih dalam tahap penyesuian dengan zona waktu yang baru.

Ya iya lah ya, mesti perjalanan panjang. Kalo perjalanan pendek dan terasa pegal itu jet lag, naik bajaj ke Pasar Baru juga bisa jet lag.

Setelah sekian lama hanya tau jet lag dari novel-novel berlatar luar negeri, akhirnya gua dan Sarah merasakannya juga saat kami ber-euroneymoon bulan September lalu. Kami berangkat ke Paris menggunakan Thai Airways, jadi ada waktu transit sekitar satu jam di Bangkok. Perjalanan Bangkok – Paris sendiri memakan waktu 12 jam. Karena kami berangkat jam 12 malam, seharusnya secara matermatika, kami akan sampai di Paris jam 12 siang, saat matahari lagi tinggi-tingginya.

Tapi karena perbedaan waktu lima jam, begitu pesawat mendarat, jangankan di posisi tertinggi, terbit aja belom!

Kami tiba di Paris sekitar jam tujuh pagi, yang entah kenapa, masih gelap subuh-ish gitu. Matahari belum nongol kala ban pesawat menumbuk halus runway bandara Charles de Gaulle. Pendar cahayanya baru keliatan sekitar jam delapan, saat gua dan Sarah udah keluar dari imigrasi dan sedang mencari jalan ke stasiun Metro.

Jet lag belum terasa ketika kami baru mendarat. Badan pegal-pegal masih terasa normal karena efeknya hampir sama kayak pulang ngantor naik ojek selama seminggu. Pinggang pegel, pantat panas, batu ginjal, dan gejala orang kebanyakan duduk lainnya.

Gua dan Sarah masih beraktivitas kayak biasa. Angkat koper masih kuat, jalan kaki nyari peron kereta pun masih oke. Ga ada yang salah. Semua biasa-biasa aja. Jet lag? Apa itu jet lag? Gua dan Sarah malah riang ke sana kemari kayak anak kecil kebanyakan makan gula.

…sampai tibalah kami di jam enam sore.

Ngantuknya ugal-ugalan. Mata berat banget dan badan juga lemes.

Jadi begini kronologisnya. Saat kami mendarat jam tujuh pagi, jam biologis badan kami udah jam 12 siang. Sarapan yang kami makan di pesawat itu rasanya seperti makan siang buat kami. Makanya, begitu jam menunjukkan pukul enam sore, kami berdua ngantuk banget karena jam biologis kami udah jam 11 malam.

Perbedaan waktu lima jam ini bikin badan kami bingung. Mau ngantuk, kok ya langitnya masih terang? Harusnya makan malam, tapi kok ga laper?

“Hun,” panggil Sarah, “Kamu ngantuk ga? Aku ngantuk banget lho ini. Padahal masih sore.”

Didorong perasaaan ogah rugi karena langit masih terang, gua menjawab, “Belom terla… HOAMHUOADHUOAGOAM!”

Dan gua pun nguap dengan brutalnya.

Alhasil, kami buru-buru kembali ke hotel meski matahari belum balik ke sarangnya. Kombinasi badan pegal dan jet lag memaksa kami tergelepak ga berdaya meski itu baru jam tujuh malam.

Dan sialnya lagi, jet lag ga bisa tuntas hanya dengan tidur cepat. Karena tidur cepat di malam hari ga serta merta membuat kita terbangun dengan segar bugar sesuai waktu normal esok harinya. Yang ada malah menggeser waktu bangun. Inilah yang gua dan Sarah rasakan. Kami bangun jam empat dini hari!

Mau tidur lagi, udah ga bisa. Tubuh, jiwa, dan roh udah sadar sepenuhnya. Mata dimerem-meremin, tapi udah ga mampu tidur juga. Udah kenyang tidur sembilan jam. Gua hanya memaksakan diri agar tetep telentang. Setidaknya bisa lempengin badan dari kebanyakan duduk di pesawat hari sebelumnya.

“Kamu udah bangun, hun?”

Ternyata, Sarah juga udah bangun. Kayaknya dia sedang melakukan taktik yang sama dengan gua. Taktik udah-bangun-sih-tapi-mayan-deh-masih-bisa-lempengin-badan.

“Udah, udah. Ga bisa tidur lagi nih,” jawab gua.

Ini adalah kali pertama bagi gua dan Sarah terbangun jam empat pagi secara bersamaan tanpa desakan jadwal perjalanan. Biasanya, kami bangun sepagi ini kalo mau berangkat traveling. Antara ngejar pesawat atau menghindari macet ke Bandung kala hari raya seperti kelas menengah ngehe lainnya.

Namun karena ga ada desakan waktu, kami pun bingung. Ini masih jam empat pagi. Destinasi kami hari itu baru buka enam jam lagi. Jadi mualaf dulu demi bisa sholat subuh juga masih keburu nih.

Tapi ya namanya tidur, lama-lama bosen juga. Telentang doang ga ada kerjaan. Cuma bisa bolak balikin badan. Karena jenuh, akhirnya gua mengangkat pantat dari ranjang dan memutuskan untuk mandi. Biar seger sekalian lah. Nanggung.

Lalu gua pun mandi. Jam empat pagi. Di bawah pancuran.

Aslilah, rasanya gua kayak pelacur abis dipake trus ga dibayar. Mandi di bawah pancuran sambil merenungi nasib karena kegagalan hidup yang terus menghantam.

“Udeeeh, mandi aja kagak usah drama,” sahut Sarah dari luar.

Kelar mandi, gua nonton TV.

Bosen, lalu megang hape kembali.

Abis itu duduk menatap jendela.

Ke kamar mandi liatin jerawat yang baru muncul dekat telinga.

Duduk di pinggir ranjang, buka itinerary.

Terus nyalain TV lagi.

Gonta-ganti channel sambil nungguin Sarah mandi.

Lalu baca berita bola tentang Liverpool yang main tandang.

Ga lama berselang, bosen menerjang,

Dan akhirnya merebahkan badan lagi di atas ranjang.

Hadeh.

Gua udah hampir melakukan semua kegiatan yang bisa dilakukan di kamar hotel kala bangun kepagian. Yang belum tinggal sholat subuh kayaknya.

Setelah penantian panjang, akhirnya yang dinanti tiba jua. Mentari pagi pelan-pelan timbul ke cakrawala meski pendarnya masih malu-malu. Lambat merambat di pinggir langit. Seolah mengejek kami yang telah menunggunya sedari tadi.

Suara mesin mobil kian kencang terdengar. Jeda bunyi kereta makin rapat seiring tingginya matahari. Pintu kafe depan hotel mulai dibuka. Arus pekerja pun mengalir deras, merangsek masuk ke pintu-pintu stasiun.

Resmi sudah. Subuh telah usai. Hari ini telah dimulai.

Didorong rasa bosan (dan juga lapar), gua memakai sepatu terburu-buru. Turun ke bawah untuk nyari sarapan yang sepertinya ada di kafe sebelah. Di langkah yang kesekian, gua berpikir pagi ini adalah imbas terburuk dari jet lag. Tidur kecepetan dan besoknya bangun kepagian lalu bosen karenanya.

“Merci!” ujar gua seraya mengambil kembalian dari tangan sang kasir.

Dua jambon baguette udah menggantung di dalam kantong plastik, menanti untuk kami makan dengan lahap. Saat menunggu lift terbuka, gua kembali mengira dampak jet lag akan berakhir hari ini. Bangun kepagian seperti ini gua targetkan hanya akan terjadi maksimal sekali lagi. Gua ga ingin penyesuaian zona waktu terus menggerus nikmatnya perjalanan kami berdua.

Yang gua belum tau, ternyata jet lag ga hanya terjadi ketika gua mendarat di negara tujuan. Karena 12 hari kemudian, saat pulang ke tanah air, efek yang sama gua alami kembali, dengan waktu yang berputar arah.

Udah terang, kok ya belum bangun? Tengah malam, tapi kok laper? Hadeh.

Cetek!

Dan panci Indomie pun mendarat di atas kompor.

Advertisements

Tagged: , , , , ,

2 thoughts on “Jet Lag

  1. Dita November 11, 2017 at 23:29 Reply

    indomie to the rescue! :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: