Category Archives: cerpens

Sebuah Siang di Salemba

salemba

“Permisi. Numpang tanya.”

Kamu pun mengangguk. Di pinggir jalan Salemba, kamu berdiri sendiri. Nampak seperti mahasiswi dari kampus sebrang sana. Jadi sepertinya cocok untuk kutanya-tanya tentang daerah sekitar sini. Awalnya aku hanya menurunkan kaca jendela dan bertanya di mana letak sebuah mall yang lokasinya dekat dengan bundaran HI. Namun suaramu yang pelan membuatku harus turun dari mobil dan mengulangi pertanyaanku. Kamu bilang dari sini lurus saja, ketemu perempatan belok kanan, lalu ikuti saja jalurnya. Aku tak mungkin tersasar, begitu jawabmu.

“Makasih ya. Ngomong-ngomong, di sana itu ada…”

Lalu aku menyebutkan salah satu brand pakaian yang sedang happening. Lagi-lagi kamu mengangguk. Di sana ada semua, begitu katamu. Pakaian segala rupa, semua warna. Tapi semuanya dengan harga yang bukan jangkauan mahasiswa. Aku tertawa. Sepertinya itu lelucon andalanmu. Jadi sepertinya aku harus tertawa.

“Eh, kamu tuh temannya Icha ya?”

Echa, begitu ralatmu. Aku pun mengiyakan. Ternyata dunia memang sempit. Aku bilang sepertinya pernah melihat entah di mana. Mungkin di sekitar rumah, karena Echa itu tetanggaku. Kamu bilang memang pernah main ke rumahnya di Pondok Kopi. Aku bilang iya sambil mengeluarkan mimik pantas-saja-pernah-lihat. Kemudian aku membahas Echa dan kamu mengangguk-ngangguk sambil tertawa. Terima kasih untuk kebiasan-kebiasaan buruk Echa yang sudah membuat kita tertawa bersama.

“Kamu mau ke mana?”

Sarinah, jawabmu. Kamu ada pertemuan dengan dua orang teman dan beberapa cangkir kopi. Sudah janji, namun sedari tadi sulit mendapatkan taksi. Setauku itu dekat dengan bunderan HI. Aku tawarkan tumpangan dengan barter penunjuk jalan. Dan sekali lagi, kamu mengangguk.

“Kenal Echa udah lama?” Continue reading

Advertisements

#TwitterOD

Dear @karinaaa,

Hai. Maaf ya kalau aku lancang. Mungkin kamu ga tau aku. Tapi aku tau kamu. Aku ini salah satu followermu yang setia.

Sejak pertama kali aku lihat twit kamu di RT oleh akun jokes, aku jadi penasaran sama kamu. Twit-twit kamu jenaka, namun ga jarang juga serius. Aku suka deh waktu kamu membahas ulat bulu dan menganalogikannya ke kumis seorang pejabat di ibukota. Aku semakin penasaran ketika salah satu twitmu di-RT oleh seorang setan tanpa tangan. Waktu itu kamu bilang, kamu akan telanjang ke Circle K kalau twitmu di-RT olehnya.

Sungguh, aku penasaran sama kamu… dan Circle K di mana kamu akan telanjang.

Akhirnya, aku pun memberanikan diri untuk follow kamu. Di twit yang keberaparibumu, aku sah jadi pengagummu. Hari Senin, twitmu ku-RT, Selasa giliran twitmu yang ku-mark as favorite, hari Rabu harinya +1 semua twitmu, dan Jumat saatnya #FF kamu. Kamis? Kalau Kamis, aku ada pengajian. Maaf ya.

Sering aku bertanya, kapan ya kamu tau keberadaanku? Hmm, kapan ya kira-kira? Hampir saja aku bikin akun soal-soalan untuk menanyakan ini ke tuips sekalian. Tapi apa daya, followerku sedikit.

Eh, aku tau lho soal riwayat avatarmu! Awalnya kamu hanya memasang foto kucing kan? Ya kan? Ya kan? Terus ganti jadi anjing kan? Ya kan? Ya kan? Lalu kuda, marmut, bahkan bison. Aku bingung. Kamu ini Ben 10 ya? Kok bisa berubah wujud terus?

Namun akhirnya kamu pun menunjukkan wujud aslimu. Aku ingat tanggalnya. Hari Kamis, tanggal 20 September 2012. Hari itu, jam 4 sore, kamu akhirnya pasang fotomu sendiri sebagai avatar. Fotomu dengan gaya anak muda jaman sekarang. Bibir monyong-monyong, dan jari telunjuk menunjuk entah kemana. Kadang jari telunjuk itu menempel di pipi, bibir, jidat, kuping, atau bagian tubuh lainnya yang membutuhkan sedikit gerakan akrobatik. Tapi aku suka. Aku suka gayamu. Kalau kamu suka gayaku ga? Suka? Ga ya? Ga ya? Uh, mending aku menyendiri di dalam nanas di bawah laut deh. Hiks.

Eh, tapi gara-gara itu, aku kebayang wajahmu terus nih. Wajahmu begitu unyu. Kalau kata Bang Afgan, wajahmu mengalihkan duniaku. Mata bulat seperti anggur, hidung menggantung seperti jambu, pipi tebal seperti mangga. Kalau dari jauh, wajahmu persis seperti Pasar Minggu. Penuh buah-buahan.

Ingin rasanya aku twitpic wajahmu setiap hari. Tapi aku takut ada yang marah. Aku takut… kamu yang marah. Selain itu, signal di rumahku juga jelek sih, jadi susah kalau mau twitpic.

Tiap hujan turun, dan tiap Twitter over-capacity, aku jadi galau. Gambar ikan paus yang terjaring membuat aku berpikir, kapan kamu tertangkap umpanku. Kapan kita akan ketemu bukan hanya lewat timeline. Bertemu fisik, bertatap muka, bertegur sapa. Aku mau itu.

Tapi kadang aku labil. Benci mengingat kamu yang tak pernah acuhkan aku. Sebal ingat kamu yang tak pernah mention aku. Padahal aku sudah curhat panjang lebar tentangmu. Saking panjangnya, sampai perlu pakai twitlonger. Tapi satu reply pun tak kunjung datang. Hanya aku yang tak pernah patah arang, me-refresh timeline berulang-ulang.

Jika orang-orang membicarakan seksinya MD pembobol bank itu, aku selalu membicarakan betapa aku ingin di-DM oleh kamu. Tak peduli orang bicara silikon, aku hanya ingin bicara soal sikon. Situasi dan kondisi antara kamu dan aku. Aku ingin kita bicara lebih jauh, lebih dekat, meski tarifnya sama saja.

Tau ga sih, saking penasarannya, aku pun mencari tau dirimu lebih jauh di internet. Aku googling namamu dan menemukan bahwa kamu aktif sekali di berbagai jejaring sosial. Facebook, MySpace, bahkan Friendster. Aku ingat, di kolom “About Me” Friendster-mu, kamu tulis:

oRd1naRy guRlzzz. cek tesT1m0niaL aZaa y4cH…

Oh, sungguh indah masa-masa itu. Masa ketika menggunakan huruf dan angka pada sebuah kalimat selain password email, bukanlah sebuah dosa besar yang layak diarak massa.

Ngomong-ngomong, kamu suka cendol ya? Aku menemukan namamu di sebuah forum dan kamu minta cendol terus ke teman-temanmu. Nanti deh, kalau aku mudik ke Banjarnegara, kubawakan cendol segentong.

Dan siapa itu temanmu? Agan? Siapa dia? Kok kamu sering sebut-sebut? Minta cendol sama dia. Minta bata sama dia. Kamu sama dia ada apa sih? Lagi bangun toko buat jualan cendol ya? Belum lagi ketika kamu minta disundul olehnya. Memangnya dia siapa? Abanda Herman? Uh, kamu ga tau ya kalau aku… kalau aku itu… cembu… ah, sudah lah. Kamu bahkan tak tau siapa aku. 

Huh.

Kalau mengagumimu itu kesalahan berat dan harus dihukum mati, aku memilih untuk ditembak. Aku bosan digantung. Tuh aku kasih #kode.

Maaf ya, kalau suratku ini lebih dari 140 karakter. Sebetulnya, aku hanya ingin bilang bahwa kamu selalu jadi trending topic di hatiku.

Ah, kamu.

Sekarang, aku ingin menanyakan satu hal penting yang selama ini mengganjal di hatiku. Jawab yang jujur ya. Please.

Kamu mau ga…

…folbek aku?

Dari followermu yang #TwitterOD,

@Geriiiii

Sebuah postingan fiksi untuk kalian yang sudah #TwitterOD kayak @Geriiiii dan gua.

Gambar diambil dari sini. Terima kasih.

Mas-nya Pakai Apa?

Sebuah cerita singkat tentang cinta, harta, karya, dan rasa. Enjoy.

Tapi kudapat melangkah pergi
Bila kau tipu aku di sini

Pengamen di perempatan Menteng begitu bersemangat menyanyikan sepenggal lagu dari band yang entah apa namanya sekarang. Gue mengangkat tangan dari dalam mobil, tanda bahwa tak ada uang kecil untuknya sore itu. Permainan gitarnya berhenti. Ia berlalu dengan wajah yang ditekuk.

“Kok kamu gak kasih pengamen itu uang?” tanyanya dari kursi sebelah dengan nada manja.

“Kalau dia dikasih, nanti teman-temannya pada datang. Lagipula sebentar lagi hijau kok nih,” Sedetik kemudian, lampu berubah warna, “Tuh kan.”

“Eh, kita mau ke mana sih?”

“Lho? Tadi kan kamu bilang mau ke Epicentrum. Gak jadi?”

“Hmmm…,” Dia memilin-milin ujung rambutnya yang menjuntai di bahu, “Gak jadi deh.”

Gue menghela nafas, “Jadi kamu mau ke mana sekarang?”

“Aku kok tiba-tiba pengen makan soto ya?”

“Makan? Lagi? Kita kan baru makan kaya toast di Sabang. Kamu juga masih ada take away-nya tuh di kursi belakang.”

“Aku mau soto. Soto!” rengeknya sambil memajukan bibir.

Ck. Dasar cewek rese. Andai saja cicilan mobil gue sudah beres, andai saja ini beberapa bulan lagi, pasti gue sudah marah-marah. Kalau perlu, gue tinggalin dia di jalan. Jadi orang kok plintat-plintut. Disangkanya nyetir mobil itu gak cape kali. Mana mau makannya spesifik begini lagi. Soto? Soto mana ya?

“Aku mau soto. Soto yang enak!”

Gue melepas pedal gas sedikit dan menarik napas dalam-dalam. Mencoba mengingat di mana ada soto yang sesuai dengan permintaan cewek rese ini. Yang enak. Hmm, yang lebih mahal banyak. Tapi yang enak?

“Oh!” Continue reading

Setan Indonesia Royal Deathmatch: A Prequel

Ada yang masih inget postingan ini?

Nah, postingan kali ini adalah prequel, atau kisah sebelum, dari cerita yang itu. Tanpa banyak basa-basi, mari kita sambit saja cerita yang berikut ini. Mari.

Karena cintanya yang besar terhadap dunia film, seorang sutradara lulusan Geologi ingin membuat film terobosan agar bisa menjadi hiburan bagi para penonton Indonesia. Kini, ia sibuk merancang sebuah naskah film yang dia yakini akan meledak di pasaran. Ia mendapatkan ide ketika sedang duduk di pinggir pantai di saat hujan… lalu tersambar kilat.

Ribuan volt telah membuat otaknya menjadi encer, lunak, dan kreatif. Ia, yang sebelumnya tidak bisa menulis, tiba-tiba bisa menulis cerita untuk filmnya sendiri dan sangat yakin ini akan meledak. Para pemain papan atas yang ia telah kontrak, membuatnya semakin yakin film ini akan meledak. Dan jika semua rencana di atas gagal, sang Sutradara telah membuat rencana cadangan untuk meledakkan acara ini. Sebuah rencana yang bernama kardus petasan.

Setelah segelas kopi jahe dan sengatan volt membuat jidat Sutradara terbuka lebar, ia akhirnya berhasil menyelesaikan draft skenario filmnya. Sebuah skenario dengan tema yang lagi happening saat ini di Indonesia: Horor.

Meski di Indonesia sering menyisipkan adegan panas menjurus mesum pada film horor, Sutradara berprinsip tidak akan menggunakan siasat yang sama. Masih jelas dalam ingatannya ketika ia menyutradarai film Susuk Kuntilanak, dimana si Kuntilanak kalah bersaing dengan artis berbadan seksi. Kuntilanak stress dan hampir saja merobek kain kafan di bagian dada, sampai Sutradara segera melarang tindakan ini. Sutradara minta Kuntilanak untuk istighfar dan mengingatkan bahwa film ini berjudul Susuk Kuntilanak, bukan Susu Kuntilanak.

Skenario itu pun selesai. Tugas berat berikutnya telah menanti. Sutradara harus mencari produser yang cukup gila untuk mau membiayai film ini.

Produser 1

“Setan Indonesia Royal Deathmatch?! Apa pula ini?!” 

BRAK!

Produser membanting draft skenario film yang ditulis 8 hari 8 malam dengan dukungan kopi jahe itu. Sutradara memungut draft yang jatuh dan mengembalikannya ke hadapan produser.

“Mana ada yang mau nonton film ini?” tanya produser dengan intonasi naik.

BRAK!

Si Sutradara kembali memungut, “Tapi ini bagus, Pak! Bagus! Percaya deh!”

“Dengkulmu bagus?! Mana ada yang mau nonton setan-setan berantem?!”

BRAK!

Hampir saja si Sutradara memberi piring cantik kepada produser, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk menghapus keringat dari jidat, dan kembali, memungut. Ia masih belum menyerah.

“Tapi ini beda, Pak. Berantemnya… sampai… mati.” Sutradara sengaja memberi jeda untuk memberi kesan dramatis, namun gagal. Itu karena melihat setan berkelahi sampai mati bukanlah sesuatu yang cerdas sebab para setan tersebut… sudah mati dari sananya.

Dahi produser berdenyut kencang. Semakin kencang setelah melihat deretan artis yang akan dipakai sebagai pemeran film tersebut.

Pemain:

Pocong
Kuntilanak
Suster Ngesot
Setan Budeg
Hantu Jamu Gendong
Iblis Pempek

Produser geleng-geleng melihat nama yang terakhir, “Iblis Pempek? What the…

BRAK!

“Ini keren, Pak! Setan baru! Belum pernah ada sebelumnya. Dia mati tragis, Pak. Dia mati karena inflasi yang terlalu tinggi dan harga bahan baku terus meningkat. Lalu di dalam tekanan ekonomi yang hebat, ia mengambil keputusan untuk melakukan suatu tindakan yang…

“Singkatnya?”

“Gantung diri pake gesper, Pak.”

Produser menepuk jidat dengan keras. Setelah nyaris menggampar Sutradara dengan yellow pages, akhirnya ia mengusir si Sutradara keluar dari ruangannya tanpa banyak memberi penjelasan.

Tapi si Sutradara belum menyerah. Ia bertekad akan berkeliling dari pintu ke pintu, menjajakan skenario andalannya ini ke semua produser yang ia kenal.

Produser 2

BRAK!

Sutradara berinisiatif keluar dari ruangan produser setelah terjadi kegiatan banting-skenario-ke-lantai-dan-memungut-kembali lebih dari sepuluh kali. Awalnya, si Sutradara mengira ini adalah salah satu dari gerakan senam lantai yang sedang digemari para produser. Sutradara akhirnya sadar bahwa kegiatan itu tidak ada sangkut pautnya dengan senam lantai setelah si Produser mulai mengancam untuk melemparnya dengan gayung.

Produser 3

Sutradara masuk ke dalam ruangan produser, duduk, menjelaskan skenario, bangkit dari kursi, lari sambil menghindari sambitan pulpen, kertas 1 rim, dan alat tulis kantor lainnya dari produser.

Produser 4

“Bagaimana, Pak? Mau memproduseri?” Continue reading

Sebuah Malam di Thamrin

Hari itu hari Rabu. Pukulnya pukul tujuh. Gedung BI menjulang megah di sisi kiri. Departemen Agama berdiri di sebelah kanan. Para karyawan kedua instasi negara ini sudah pulang dari petang. Mobil lalu lalang di depan mata. Jalur busway bersih dari kontaminasi mobil pribadi.

Trotoar Thamrin ramai oleh calon penumpang yang sedang menunggu bus langganannya lewat. Berteduh di bawah pohon-pohon rindang yang ditanam di antara beton pelapis sisi jalan. Pedagang kopi bersepeda menjadi ornamen tersendiri bagi trotoar Thamrin. Lampu-lampu jalanan jadi penerang nomor satu. Memberi cahaya pada langit Jakarta yang sudah tak berbintang dari dulu.

Sebuah Kopaja seliweran tak beratturan. Sang kondektur yang berseragam menjajakan tujuan akhir dari rutenya. Tenabang, Tenabang. Begitu katanya. Seolah mengatakan Tanah Abang secara lengkap bisa membuatnya sesak napas. Kopaja itu lalu berkelok cepat di tikungan Departemen Agama. Si supir seperti lupa apa itu pedal rem.

Aku berdiri di situ. Di antara gedung BI dan Departemen Agama. Di bawah lampu jalanan dekat tikungan Kopaja tadi berbelok. Berkemeja dengan lengan dilipat, tas kugendong di belakang, dan sepasang earphone menggantung di telinga.

Mataku fokus melihat ke depan. Menatap plang biru Bangkok Bank yang ada di seberang jalan sana. Menanti mobil dari arah Sudirman dan sebaliknya berhenti melintas. Tepat di sebelahku, motor-motor juga sedang menunggu. Gas mereka tarik dalam posisi gigi netral. Seakan mereka pembalap yang sedang menanti aba-aba.

Yang aku dan mereka tunggu hanya satu. Detik lampu lalu lintas, berubah dari merah jadi hijau. Karena ketika itu, motor akan meliar, mobil pasti memadati jalan Kebun Sirih, dan aku bisa menyebrang jalan dan bertanya pada seseorang di sana. Seseorang yang kusebut mantan.

Ia sedang berdiri dengan blazer hitam dan celana panjang. Mendekap tas di depan, seperti terakhir kali dia mengucap pisah. Entah ia tau atau tidak keberadaanku yang sedang mengamatinya dari jauh. Perjumpaan tak sengaja ini tak akan kusiakan. Akan kutanya satu hal yang dari dulu menggangguku.

Kenapa kita putus?

Waktu ia mengucap pisah, itu hanya lewat pesan singkat. Kubalas dengan geram namun tak ada balasan. Ditelpon pun tak diangkat. Entah apa maunya. Setelah hari itu, tak ada kabar berita. Kutanya temannya, semua enggan menjawab. Kudatang ke rumahnya, tak ada yang membukakan pintu. Ia bagai hilang begitu saja. Namun, dua purnama kemudian, aku tak sengaja melihatnya.

Hari itu hari Rabu. Pukulnya pukul tujuh. Entah siap atau tidak, aku ingin mendengar darinya langsung tentang kenapa kita putus. Lebih baik hidup menderita karena kejujuran daripada mati menyesal penasaran. Malam ini, akan ku dapat jawab darinya.

Ah.

Yang ditunggu tiba juga. Lampu lalu lintas berubah jadi hijau.

Dan aku menyebrang jalan.

Sebuah post yang diperuntukkan untuk working-paper.com