Category Archives: kata sarah

Tanggal Baik

kata sarah

Lahir dari keluarga Chinese, bikin gue dan Roy nggak bisa tutup mata terhadap rentang umur pasangan. Dalam kepercayaan Cina kuno, perbedaan umur sering jadi pertimbangan dalam menentukan pasangan hidup.

Konon katanya, pasangan dengan jarak umur 4 tahun adalah yang paling ideal. Empat tahun diibaratkan sebagai empat kaki meja yang akan berdiri kuat dan kokoh. Harapannya, pernikahan pasangan dengan jarak umur 4 bisa sekuat dan sekokoh meja.

Sedangkan pasangan yang berbeda umur 3 tahun dan 6 tahun harus dihindari. Karena jarak ini mengundang ketidakcocokan (atau disebut ciong). Tiga tahun artinya ciong kecil, sedangkan 6 tahun artinya ciong besar. Dan selisih umur gua dan Roy… tepat 6 tahun.

Actually, gue dan Roy nggak percaya sih sama takhayul macem itu. Lha wong yang bedanya empat tahun banyak yang cerai juga kan?

Tapi kan, kalo bisa main aman, kenapa enggak? Toh kami nggak nyari tanggal baik. Menurut himbauan orang tua, kami cuma musti menghindari bulan buruk, yang mana udah berakhir beberapa hari sebelum ulang tahun gue di tahun depan. Dengan kata lain, nikahnya mah kapan aja bebas, asal nggak di dalem area bulan buruk itu.

Jadilah gue mengusulkan sebuah tanggal di antara ulang tahun gue dan Roy. Tujuannya tentu saja ngakalin perbedaan umur tadi. Karena kalo gue udah ulang tahun dan Roy belum, otomatis selisih umur kami jadi… LIMA TAHUN!

Pinter kan?

Enggak.

Iiih!

Anyway, palu akhirnya diketuk. Ultah gue 24 Agustus, sedangkan ultah Roy 14 September. Kami berdua dan keluarga udah sepakat resepsi akan digelar di tanggal 5 September. Letaknya bener-bener persis di tengah. Tanpa ragu, kami booking gedung tanggal segitu, lalu bayar DP sebagai tanda jadi.

calendar1

Namun, beberapa hari kemudian, tiba-tiba kami berdua dapet kabar kalo tanggal 5 September 2015 itu masih termasuk bulan Cit Gwee.

Cit Gwee itu apa sih?

Continue reading

Advertisements

Be Your Own Kind of Beautiful

kata sarah

Sejak suka nonton America’s Next Top Model, gue jadi punya ketertarikan khusus sama dunia fashion dan make up. Dari reality show itu, gue tau kenapa kedua hal terebut disebut sahabat wanita. Karena mereka ajaib dan instan!

Misalnya gue cebol. Tapi berkat heels, tadaaa, nambah deh 10 cm. Gak usah pake capek-capek renang atau main basket. Contoh lain, hidung gue pesek. Tapi berkat teknik shading, selamat datang hidung mancung! Dagh, operasi plastik!

Berbekal alasan kepingin tambah cakep, gue mulai ngoleksi alat make up. Kebetulan, pas kuliah, gue nyambi jadi agen Oriflame. Akhirnya gue jadi jualan sambil sesekali beli sendiri. Video tutorial di youtube dan website yang isinya pengetahuan tentang make up pun gue lahap tuntas.

Di saat yang sama, high heels juga jadi jantung hati gue. Gue yang pendek, lagi terpesona banget sama teknologi peninggi badan yang cantik ini. Maka mulailah gue berburu macam-macam heels, mulai dari stiletto sampe wedges, item polos sampe pink gonjreng, bahkan yang heels-nya 5 cm sampe 14 cm. Yes, 14 cm! I had one, dan pernah kecengklak pas make!

Tapi berhubung yang terjangkau oleh gaji dan kantong cuman yang biasa, gue gak punya barang-barang bermerek. Sepatu, ya yang biasa aja. Yang penting sreg di hati kaki. Hal yang sama berlaku untuk make up, baju, dan tas. Bisa aja sih beli yang branded. Tapi kudu puasa dua bulan. Terus matik.

Makanya, gue mengerutkan kening waktu Roy ngusulin untuk bikin fashion & beauty blog. Yang gue pikir adalah, fashion blog gimana? Wong baju di lemari isinya produk factory outlet smua. Boro-boro Burberry, Zara aja jarang! Alat make up pun sama. Isi make up case gue didominasi sama produk drug store. Boro-boro Chanel, merek-merek Sephora aja udah susah nyarinya.

“Nah, justru itu!” kata Roy, mengagetkan gue.

Justru itu gimana? Emang jadi fashionista murah? Baju-baju bermerk itu emang harganya lima puluh ribuan? Belom tas, sepatu, aksesoris. Dan yang paling penting, apa gue punya selera fashion yang bisa pas buat semua? Suka kan bukan berarti jago. Mana badan kerempeng bener. Ukuran sepatu juga masih golongan KIDS. Sedih.

Jadilah ide Roy saat itu gue anggep gila. Tanpa memberi kesempatan yang bersangkutan untuk menjelaskan lebih lanjut, gue putuskan fashion and beauty blog gak mungkin dan gak akan pernah dieksekusi sampe kapanpun.

Untungnya, lakiku itu pantang menyerah.

Waktu gue lagi jualan brush, aksesoris, dan tas di Sarah’s Shop, dia tiba-tiba ngusulin untuk nge-review dan modelin semua produk itu di sebuah blog khusus. Fashion & beauty blog. Langsunglah gue tolak mentah-mentah. Ngana gila ya? Kalo gue yang modelin dan nge-review mah alamat tambah kagak laku! Yang ada senep liat muka yang jualan.

Tapi Roy menyakinkan gue untuk nyoba. Kalo gagal yaudah, toh bikin blognya khrates. Nothing to lose, kok. Tugasnya tinggal foto-foto aja, dan kami punya banyak waktu luang pas weekend. Saat gue masih terlihat gamang, dia nyentil lagi, “Kamu tuh cantik dan punya potensii. We never know if we never try.”

BEKLAH! Berhubung dibilang cantik sama Roy, let’s give it a try! Continue reading

Perihal Pilpres

kata sarah

Akhir-akhir ini, timeline twitter gue didominasi oleh dua hal. Yang pertama, ekstrak kulit manggis, dan yang kedua, pilpres dan quick / real count. Untuk yang kedua, ada tiga jenis manusia, yaitu, yang peduli, yang apatis, dan yang nyinyir.

Yang peduli, biasanya paling getol nge-tweet dengan hashtag #KawalKPU, nyebarin berita seputar penghitungan surat suara, sampe informasi mengenai aplikasi atau website yang memungkinkan untuk berpartisipasi dan ambil bagian. Yang apatis, sibuk nge-tweet quotes, humble brag, atau memberitakan kabar gembira tentang ekstrak kulit manggis. Yang nyinyir… tentu aja nyinyirin yang peduli, yang apatis, bahkan yang bahas esktrak kulit manggis. Orang lain berpartisipasi dalam demokrasi salah, cuek bebek juga salah. Udah gitu, bikin pusing, mau di-block nanti drama, nggak di-block juga ganggu. Serba salah.

Anyway, kembali lagi ke Pilpres.

Gue sendiri ikut menghitung hari menuju turunnya THR pengumuman resmi dari KPU. Karena sejumlah lembaga yang mengadakan quick count nggak berakhir dengan satu kesimpulan, lepas dari kredibilitas dan keberpihakannya. Yang biasanya percaya kalo quick count udah pasti bener, akhirnya terpaksa menunda kesimpulan karena kedua calon presiden kita sama-sama mendeklarasikan kemenangan. Pusing.

Tadinya gue pikir, keriaan pilpres di Twitter akan berakhir di tanggal 9 Juli 2014. Tapi sepertinya gue salah. It wasn’t over yet.

Tapi yang bikin gue seneng adalah, gue menyaksikan banyaknya masyarakat yang bersemangat untuk ikut ambil bagian dalam pemilihan umum ini. Lintas lapisan, suku, bahkan agama.

Partisipasi itu udah sangat nampak dari saat kampanye, hari H nyoblos, sampe inisiatif melakukan pengawalan terhadap surat suara untuk mendeteksi kecurangan yang mungkin timbul. Nggak sekedar cuap-cuap, they also give what they can give. Entah itu berupa uang, tenaga, edukasi, waktu, ide, dan sebagainya, lepas dari siapa capres pilihan mereka.

Antusiasme ini, tentu saja membuat sebuncah rasa bangga terbersit. Siapa bilang anak muda Indonesia nggak peduli nasib negri? Siapa bilang anak muda Indonesia nggak berpartisipasi dalam demokrasi? Di pilpres ini, banyak yang telah membuktikan kalo tuduhan tersebut nggak bener. Kami peduli, dan hal itu diwujudkan dalam banyak tindakan nyata dan konkrit. Gimana nggak bangga, coba?

Tapi sepertinya sisi mata uang, begitu pula dengan pemilu. Di tengah hingar binger pilpres tahun ini, banyak juga hal-hal yang bikin gue sedih. Continue reading

Belajar dari Lumba-lumba

kata sarah

Good morning, Singapore! Rise and shine!

Kelar sarapan, gue keluar dari kawasan Festive Hotel dan langsung di sambut dengan hangatnya sinar mentari. Buseeet, ini mah Adam Levine aja kalah hot! Setengah merem (karena terik), gue mengendong tas ransel dan menyeret kaki menuju Dolphin Island.

Di tengah perjalanan, ponsel gue geter. Didiemin, geternya gak udah-udah. Sebenernya, gue adalah tipe orang yang paling males diganggu waktu lagi liburan. Apalagi kalo masalahnya bisa menunggu dan kalo kemungkinan besar masalah kerjaan. Tapi berhubung geternya gak berenti-berenti, akhirnya terpaksa gue keluarin dari tas dan gue cek.

And yes, it’s my boss. And it isn’t his first time, ngejar-ngejar gue ke mana pun gue pergi kayak begini. Pernah, gue di-BBM panjang lebar di hari Sabtu pagi, waktu gue lagi duduk dalam kereta wahana rumah hantu Jungleland. Haloh, Pak? Gak punya kalender ya di rumah?

Belum lagi doi hobinya nyuruh gue ngelakuin sesuatu yang mustahil. Ngejelasin itungan via BBM, misalnya. Kayak sekarang ini. Alhasil sempet miskom, dan berbuah percakapan panjang kali lebar sama dengan luas yang mana hasilnya enol besar. Bentzi aku, bentziii!

Abis kan gue mau seneng-seneng, kok ya ada aja ujian kesabarannya. Tambah gondok lagi kalo inget susahnya gue dapet cuti kayak hari ini. Sekalinya dapet cuti kok ya masih digangguin masalah kantor?

Roy, ngeliat pacarnya manyun dan lagi bad mood, milih melipir dan gak nanya-nanya penyebab muka gue seasem ketek. Dese juga gak banyak komentar waktu tau gue mau resign. Yastralah, mari dipikirkan sekembalinya ke tanah air. Sekarang bersenang-senang sama bule-bule lumba-lumba dulu!

Waktu gue dan rombongan (Adis, Roy, dan Fahmy) sampe di Dolphin Island, kami ber-waw-wow-waw norak begitu ngeliat lumba-lumba dari jarak dekat. Setelah dipersilakan masuk kolam dan elus-elus, gue langsung memikirkan sederet trik untuk menyelundupkan satu aja mamalia ini ke rumah gue. Ih, aku kepingin pelihara!

sarah & dolphins

Udah gitu, bukan cuma lucu aja, mereka juga pinter! Bayangin, they can memorize hundreds of hand instructions. Ya amplop, siapa yang ngafalin puluhan rumus fisika aja keok? Sayaaa! Hihihi.

Waktu menyaksikan dengan mata kepala sendiri gimana kepiawaian lumba-lumba dalam melaksanakan instruksi sang trainer, gue sampet bertanya dalam hati, ini ngelatihnya gimana ya? Kan lumba-lumba gak ngerti bahasa manusia. Begitupun sebaliknya, si trainer gak bisa bahasa lumba-lumba. Trus mengkomunikasikannya gimana?

Pertanyaan gue terjawab waktu gue diminta menjadi ‘lumba-lumba’. Sebelum makan siang, kami di-brief singkat tentang pentingnya kesabaran seorang trainer dalam melatih lumba-lumba. Supaya lebih jelas, akhirnya kami praktek. Continue reading