Category Archives: projects

Membantu Sesama

Dear teman-teman pembaca saputraroy.com,

Siapa di sini yang udah atau baru mulai berwirausaha?

Siapa di sini yang usaha sendiri terus sering bingung karena duit omset kecampur sama duit pribadi? Atau siapa di sini yang usahanya barengan sama temen, terus sempet bersitegang karena ga transparan dan bagi untungnya membingungkan?

Atau ada yang udah menjalankan usaha sekian lama namun kesulitan bikin usahanya lebih besar lagi? Atau usaha kalian sedang tercekik ongkos produksi yang semakin tinggi dan butuh solusi gimana menurunkannya?

Sekarang kalian ga perlu khawatir lagi. Jawaban atas kegelisahan kalian kini udah hadir dan siap mengatasi pertanyaan-pertanyaan di atas. Ijinkan gua untuk menjawabnya lewat cerita seperti ini.

Semua bermula di tahun 2010, saat gua masih bekerja sebagai internal consultant dari sebuah bank swasta, unit kerja yang merupakan jelmaan mini dari kantor konsultan multinasional yang dipekerjakan oleh bank tersebut sebelumnya. Biar gampang ngebayangin, kerjaan unit kerja gua itu kayak dokter. Unit kerja yang “sakit” akan datang dan menceritakan “keluhannya”. Tugas unit kerja gua adalah “menyembuhkan” keluhan tadi.

Di sebuah malam, seorang rekan dari unit kerja yang sama, tiba-tiba mengajukan sebuah ide usaha. Dia membeberkan pemikirannya saat gua dibonceng naik motor olehnya sepulang kerja, nyaris tengah malam. Memang, waktu itu jam pulang ngantor gua udah kayak siaran Liga Champion. Dini hari.

“Gimana ide bisnis gue?”

Waktu itu gua bilang aja idenya menarik namun harus diuji terlebih dahulu ke pasar. Tadinya ingin langsung bilang kurang oke, tapi gua ngeri diturunin di tengah jalan. Mana udah malem, dingin pula. Jadi ada baiknya gua iyain aja dulu idenya. Biar cepet.

Tiap hari temen gua selalu meyakinkan gua tentang idenya. Pelan-pelan, gua pun melihat titik cerah dan mulai yakin juga. Lalu dia mengajak gua dan satu orang teman lagi untuk ngopi bareng dan membahas ide usaha ini lebih lanjut. We talked about how we’ll manage the business, how we’ll work, and the most important thing: how we’ll sell.

Di sebuah sore yang baik, akhirnya kami mengetuk palu.

Continue reading

Advertisements

Surreal

Pernah ngerasain momen surreal?

Momen surreal adalah saat di mana lu meragukan apa yang lu rasain ini beneran apa cuma halusinasi. Momen ketika lu bertanya-tanya apa yang lu liat di depan mata ini kenyataan atau hanya sebuah bayang-bayang. Yang membuat kadang lu harus mencubit lengan sendiri sekadar memastikan apa yang terjadi, memang benar-benar terjadi.

Belakangan ini gua sedang mengalami momen itu. Mencubit pipi berkali-kali dan bergumam dalam hati, “This is real. This is happening.”

Tepatnya, momen itu terjadi saat gua mengunjungi situs Youtube dan untuk pertama kalinya, menonton ini.

#FilmLuntangLantung. Di bioskop kesayangan kalian. 8 Mei 2014.

Mimpi yang Tertunda

Dear teman-teman pembaca saputraroy.com,

Kalian punya mimpi?

Tenang, tenang. Ini bukan postingan tentang Multi Level Marketing (MLM). Gua bukan seorang teman lama yang tiba-tiba menghubungi untuk menanyakan kabar, lalu dengan timpangnya menawarkan bisnis yang melibatkan kata downline dan passive income.

Bukan, bukan itu. Tapi kalian udah punya asuransi?

Ga deng. Gua juga bukan mau nawarin asuransi. Jadi tenang aja. Bisa gua pastikan, di postingan kali ini ga akan ada foto gua dengan latar mobil sport mahal atau kapal yacht yang gua aku-aku sebagai milik pribadi. Gua cuma mau cerita tentang salah satu mimpi gua yang selalu ketunda. Mimpi yang bergeser atau terabaikan hampir di setiap tahunnya. That dream was to make my own clothing line.

Iya, itu mimpi gua. Punya brand kaos sendiri.

Itu semua karena gua suka banget pake kaos. Kaos dengan tulisan dan design yang unik selalu berhasil mencuri perhatian gua. Joger dan Dagadu adalah 2 brand yang pertama kali membuat gua jatuh cinta pada dunia perkaosan dengan kata-kata yang unik. Kaos yang saking bagusnya pengen gua pake terus. Kaos yang saking bagusnya bikin gua sampai berikrar dalam hati, “Suatu hari gua harus bisa punya usaha seperti ini.”

Mimpi ini terus gua buru. Masa SMA tahun terakhir, saat gua merasa udah cukup besar untuk mengambil keputusan dan punya uang tabungan yang lumayan, gua mengajak seorang teman untuk memulai usaha ini. Pergilah kami suatu sore ke daerah Mangga Dua untuk mencari tukang sablon. Waktu itu, harga ga masalah buat kami. Yang penting murah.

Setelah berkeliling ke sana kemari, kami gagal menemukan tukang sablon dengan kriteria kami: mampu diecer. Kebanyakan tukang sablon hanya mau menerima order dalam partai besar. Gua mengatakan ke tukang sablon itu bahwa gua bukanlah konstituen Golkar atau PDI Perjuangan. Hal terdekat antara gua dengan partai-partai besar adalah suka ngata-ngatain politikus waktu nonton mereka di Metro Tipi. Tukang sablon itu menjawab kalo yang dia maksud adalah dalam jumlah yang banyak, setelah sebelumnya menoyor gua dengan mesin sablon.

Sore itu, gua pulang dari Mangga Dua tanpa kesepakatan dengan tukang sablon mana pun. Karena waktu itu, seindie-indienya tukang sablon, ga ada yang nerima eceran. Resiko dan kebutuhan dana yang besar membuat gua pulang dengan tangan hampa. Hanya 1 VCD asusila yang berhasil kami beli. Itu pun patungan. Teman gua dapet side A, gua dapet side B. Alhasil, gua nontonnya mundur. Kek moonwalk. Continue reading

Akhir #PawaiLontangLantung

Terima kasih, terima kasih, terima kasih.

Tidak ada kata yang lebih pas gua ucapkan untuk menutup rangkaian #PawaiLontangLantung selain terima kasih. Dengan segala kerendahan hati, gua mengucapkan banyak terima kasih buat teman-teman blogger dan penggiat Twitter yang telah yang mau diribetin untuk ikut meramaikan edisi pawai tiap minggunya. Terima kasih untuk penerbit yang telah membagikan buku ke para pengisi pawai. Tapi yang utama, terima kasih untuk kalian yang rutin membaca dan mendukung selama #PawaiLontangLantung berlangsung.

Terima kasih, terima kasih, terima kasih.

#PawaiLontangLantung sendiri udah meramaikan blog serta linimasa dari akun favorit kalian selama kurang lebih 2 bulan. Sesekali… well, seringkali, gua sampe spamming membanjiri timeline di jam sibuk dengan twit-twit berbau Lontang-lantung. Untuk segala ketidaknyamanan yang pernah gua timbulkan selama berjalannya pawai, gua ingin mengucapkan mohon maaf. Semoga bisa dimaklumi.

Ide #PawaiLontangLantung muncul dari #VirtualBookTour Lontang-lantung yang tak kunjung lahir. Ibarat bayi, maka #PawaiLontangLantung adalah #VirtualBookTour yang dioperasi cesar. Agak terburu-buru, terbirit-birit, menyusul momentum rilis novel yang udah berlari beberapa langkah di depan. But hey, akhirnya gua bisa mendapat kesempatan promosi selama 2 bulan, ketimbang #VirtualBookTour yang habis hanya dalam 2 minggu. It’s blessing in disguise.

Perjalanan masih panjang. Saat postingan ini publish, umur novel Lontang-lantung baru 3 bulan 3 hari. Masih ada minggu dan bulan untuk gua perjuangkan lewat jerih payah dari tangan sendiri dan bantuan dari teman-teman yang sangat dapat diandalkan. Seperti teman-teman yang udah terlibat di #PawaiLontangLantung.

Terima kasih untuk Dyaz Afryanto,

“Gaya bahasa yang digunakan sangat sederhana dan ringan. Disuguhkan dengan alur cerita yang sangat luar biasa dan unik.

Yang sangat aku suka dalam novel ini adalah novel ini juga memberikan sebuah pembelajaran tentang kehidupan, persahabatan dan juga cinta. Novel Lontang-lantung tak hanya membuat kita tertawa, namun juga membuat kita merenung tentang arti kehidupan. Asal kalian tahu, aku merinding (bukan karena takut) waktu baca bagian yang sangat menyentuh.”

http://dyazafryan.wordpress.com/2013/11/01/review-novel-lontang-lantung-roy-saputra/

Untuk Syafial Rustama, Continue reading

#FilmLuntangLantung

“Bang, novel Luntang-lantung-nya lucu parah! Difilmin dong, Bang! Pasti seru deh!”

Kurang lebih begitulah bunyi satu mention yang masuk di sebuah siang pada tahun 2011. Gua tersenyum karena senang ada satu pembaca yang memberikan apresiasi positif. Namun senyum yang sama juga berarti mengabaikan harapannya untuk melihat Luntang-lantung dalam wujud film. Novel Luntang-lantung baru rilis beberapa minggu, sangat jauh untuk bisa dikategorikan layak diangkat ke layar lebar.

Memang, waktu itu udah ada beberapa novel yang diadaptasi menjadi film. Namun semuanya pastilah national best seller. Semua novel yang udah pernah diangkat ke layar lebar berlabel laris manis dari Sabang sampai Merauke. Jangankan nasional, waktu itu Luntang-lantung belum best seller di satu kelurahan pun.

Gua ga ada niatan untuk mengajukan novel ini ke mana-mana. Novel ini belum ada prestasinya. Banyak yang baca aja gua udah seneng. Gua ga berani masukin Luntang-lantung ke rumah produksi. Jangankan ke rumah produksi, rumah bordil aja gua ga berani.

Siang itu juga, gua membalas mention yang masuk tadi. Mengucap terima kasih atas komentarnya, tanpa sedikitpun membahas tentang kemungkinan novel gua menjadi film. Karena dalam hati gua tau, kemungkinan itu kecil sekali. Lebih kecil dari alat kelamin oknum YZ di video mesum bareng Maria Eva. Sangat-sangat kecil sekali.

Namun lucunya, mention bernada serupa masuk berulang kali dari beberapa pembaca yang berbeda. Apresiasi positif yang dibarengi dengan pertanyaan sejenis, “Bang, kok ga difilmin?” atau seruan seperti, “Jadiin film dong, Bang!” ga jarang muncul di tab mention.

Tapi jangankan difilmin, saat itu gua sedang berjuang sendirian menghidupkan Luntang-lantung di rak-rak toko buku. Gua sedang giat mendongkrak Luntang-lantung lewat kuis atau promo selintas di berbagai social media. Yang ada di pikiran gua saat itu hanya gimana biar buku ini bisa survive dan semangat yang gua usung dapat tersalurkan dengan luas.

Perjuangan itu menghasilkan. Luntang-lantung sempat naik ke rak best seller Gramedia-Gramedia besar di Jakarta. Gramedia Pejaten Village, Kelapa Gading, Matraman, Artha Gading, dan beberapa lainnya. Yang paling lama, Luntang-lantung menghiasi rak best seller Gramedia Pondok Indah Mall. Respon positif semakin mengalir ke kolom comment di blog, inbox email, ataupun tab mention. Gua bahagia karena akhirnya perjuangan ini menghasilkan.

Namun kenyataan berkata lain. Meski ludes dalam waktu 4 bulan di pasaran Jakarta, nasib Luntang-lantung berhenti ga lama setelahnya. Ga ada cetakan berikutnya, ga ada restock, dan ga ada kabar dari penerbit. Perjuangan gua selesai bersamaan dengan hilangnya Luntang-lantung di rak toko buku.

Gua sedih banget. Tapi di satu sisi, gua gregetan.

Novel ini banyak dapet apresiasi positif tapi kok udahan? Novel ini ludes di pasaran Jakarta tapi kok udahan? Novel ini sempet mendapat label best seller di Gramedia besar tapi kok udahan?

Tapi meski stock novelnya udahan, perjuangan gua ga akan udahan.

Tangan gua kepal kuat-kuat saat tekad tadi bermain dalam kepala. Jika buku ini ga muncul lagi di rak toko buku, gua akan memperjuangkan agar dia bisa lahir kembali lewat media lain.

“Bang, novel Luntang-lantung-nya lucu parah! Difilmin dong, Bang! Pasti seru deh!”

Iya. Lewat film.

Continue reading