Category Archives: reviews

4th Disneyland

Hi wifey,

Yeay! We made it! We happily (and safely) arrived at Paris Disneyland!

I still remembered how your eyes glittering every time you tell me a story about Disney. Or how excited you are every time a new Disney movie released. And how about the time when you were in tears watching Disney parade in Tokyo Disneyland?

And you do remember don’t you when I stood in front of the altar, promised that I will do whatever it takes to make you happy?

Well, this is it. Our 4th Disneyland in 2 years.

‘Cause I crossed my heart when I made that promise.

Love you.

 

To infinity and beyond,

Your (dying so hard to be) sexy hubby.

 

PS: Happy 2nd anniversary. Let’s conquer the world.

Advertisements

Menikmati Wisata Alam yang Hijau di Tengah Sesaknya Kota Jakarta

Dikenal sebagai kota metropolitan, Jakarta dipenuhi gedung pencakar langit di berbagai penjuru. Suasana panas, penuh asap, dan macet menjadi pemandangan sehari-hari. Ga heran kalo warga Jakarta kerap memilih liburan ke luar kota untuk merasakan suasana yang alami.

Lalu, apa ga ada tempat wisata yang alami di Kota Jakarta? Tentu aja ada. Apalagi, Jakarta memiliki garis pantai yang cukup panjang. Nah, ingin tahu destinasi wisata alam mana saja yang ada di kota metropolitan ini? Berikut ini adalah beberapa di antaranya:

Wisata Hutan Mangrove PIK

Sumber: thetripcorner.com

Wisata Hutan Mangrove Pantai Indah Kapuk (PIK) menjadi wisata alam yang kini populer di Jakarta. Apalagi, pihak pengelola menyediakan fasilitas yang komplit di dalamnya. Mulai dari area berkemah, menara pandang, hingga perahu untuk berkeliling perairan sekitar hutan bakau.

Berjalan kaki mengelilingi area hutan bakau menjadi aktivitas utama para wisatawan di Wisata Hutan Mangrove PIK. Di tengah jalan, kita bisa menjumpai beragam hewan liar yang tinggal di area tersebut. Di antaranya, berbagai jenis burung, biawak, dan lain-lain. Wisatawan juga bisa turut serta dalam aksi penanaman pohon bakau. Dijamin, seru! Continue reading

Oh No Shanghai Metro

Kereta adalah moda transportasi favorit gua saat berkelana di negera orang. Jika ada, maka kereta lah yang pasti gua pilih untuk wara-wiri selama di kota destinasi. Kalo kereta ga ada, maka pilihan akan bergulir dari bus, taksi, dan pilihan terakhir, ojek gendong.

Begitupun saat gua dan Sarah jalan-jalan ke Shanghai, November tahun lalu. Kami berdua selalu naik kereta selama berada di kota terpadat dan tersibuk di Tiongkok itu. Jika di Singapura namanya MRT, Metro adalah nama yang disematkan untuk moda transportasi yang ga akan kena macet itu.

Shanghai Metro adalah rapid transit system dengan rute terpanjang di dunia, yakni sekitar 588 kilometer. Kalo naik go-jek, udah pasti ga dapet promo dan dijamin ga ada driver yang mau ambil. Selain itu, Shanghai Metro berada di peringkat kedua -setelah New York- untuk jumlah stasiun terbanyak dengan 364 stasiun. Shanghai Metro juga berada di peringkat kedua untuk jumlah penumpang dengan total 3 milyar penumpang setiap tahunnya.

Jadi, bisa dibayangin betapa besar dan pentingnya Shanghai Metro bagi warga lokal dan juga bagi turis yang suka berkereta macam gua ini.

Namun pengalaman berkereta gua di Shanghai jauh berbeda dengan kota-kota lain yang pernah gua kunjungin. Gua terkejut-kejut, terkaget-kaget, tercengang, tersentak, terperangah, terperanjat, dan terheran-heran.

Nah di postingan kali ini gua mau cerita beberapa kejadian yang bikin pengalaman berkereta gua di Shanghai jadi catatan tersendiri.

1. It’s time to rumble!

Berbeda 180 derajat dengan Tokyo yang rapih jali saat naik turun penumpang, berkereta di Shanghai bak perang kolosal. Ada beberapa faktor yang membuat perang saat berkereta ini bisa terjadi. Pertama, penumpang yang sedang menunggu kereta, ga mau ngantri. Mereka berjubel di depan pintu, tanpa memberi celah bagi penumpang yang nantinya akan turun dari kereta.

Hal ini berimbas ke faktor berikutnya: mereka ga membiarkan penumpang yang akan turun untuk keluar duluan. Kebayang kan betapa chaos-nya?

Begitu pintu kereta terbuka, genderang perang ditabuh. Penumpang yang akan masuk dan keluar jadi dua kubu yang saling berhadapan. Yang ingin naik, bergegas melangkahkan kaki sesaat pintu terbuka, entah karena didorong orang di belakangnya atau berharap dapat tempat duduk karena perjalanannya yang jauh. Yang ingin turun, menerobos kawanan orang-orang ga sabaran sebelum pintu tertutup dan kelewatan stasiun tujuannya.

Jika dalam gerakan slow motion, proses perpindahan penumpang ini terlihat seperti perang kolosal. Kebayang kan? Continue reading

#TravelioMore: Berakomodasi Masa Kini

Di jaman yang dinamis ini, kata “akomodasi” ga melulu harus berpadanan dengan kata “hotel”. Menginap saat jalan-jalan bukan hanya di kamar-kamar dalam gedung tinggi yang kadang punya batasan ruang gerak.

Kini, akomodasi bisa berarti apa saja. Dalam kasus ekstrim, akomodasi bisa berupa sebuah sofa di rumah asing untuk melewati satu malam. Begitu pun dengan apartemen. Sewa apartemen untuk liburan bukan lagi hal yang dapat membuat dahi mengernyit. Menyewa satu ruang utuh, bukan hanya kamar, udah jadi hal lumrah belakangan ini. Seperti yang gua bilang di paragraf awal tadi: jaman udah dinamis.

Hal ini pernah gua lakukan saat berbulan madu tahun lalu. Gua dan Sarah perlu tempat menginap selama 4 malam di Tokyo. Karena durasinya cukup panjang, rasanya akan lebih menyenangkan jika kita bisa menginap di sebuah apartemen yang memiliki dapur, sehingga kami bisa masak sarapan atau makan malam. Lumayan, ngirit.

Berbeda dengan kamar hotel, apartemen biasanya juga punya ruang kumpul selain ranjang. Ruang nonton dengan sofa dan televisi jadi salah satu alasan kenapa kami memutuskan untuk sewa apartemen waktu bulan madu lalu.

Selain ruangan ekstra, lokasi sebuah apartemen biasanya strategis. Terletak di tengah pemukiman yang seringnya ga jauh dari pusat keramaian atau daerah padat penduduk. Gua pribadi memang selalu ingin menjadi bagian dari penduduk lokal setiap kali traveling. Biasanya gua akan melakukannya dengan makan di kedai-kedai lokal atau naik transportasi umum.

Namun, dengan adanya sewa apartemen, gua juga bisa tinggal di tengah-tengah masyarakat. Menjadi bagian dari hiruk pikuk penduduk yang mau berangkat kerja pagi-pagi. Atau berada di antara ibu-ibu yang baru pulang belanja harian untuk keluarga. Menyenangkan!

Dan enaknya lagi, biaya sewa apartemen masih terbilang reasonable. Jika di lokasi yang sama, mungkin harga menginap di hotel ga akan cocok di kantong gua. Sewa apartemen jadi alternatif bagi pelancong dengan dana terbatas, macam gua ini. Sebuah terobosan yang mungkin belum terpikirkan 10-20 tahun yang lalu.

Jaman benar-benar udah berbeda dan sangat dinamis. Continue reading

Halloween Horror Nights 6: Berani?

Tahun lalu, sekitar 2 minggu sebelum hari resepsi pernikahan, gua dan Sarah dapet rejeki diundang ke Halloween Horror Night 5 (HHN) di Resort World Sentosa, Singapura.

Di tengah pusingnya nyiapin resepsi, gua dan Sarah memutuskan untuk ikut dalam rombongan media Indonesia. Kami bertugas untuk meliput dan menceritakan pengalaman bermain-main di acara Halloween yang udah menangin banyak penghargaan di Asia Tenggara ini.

Kalo kalian pernah mampir ke HHN, pasti ga akan heran kenapa HHN terus ada sampai edisi ke-enamnya di tahun 2016 ini. Itu karena penggarapannya yang super serius dengan tema yang selalu berbeda setiap tahunnya.

Di tahun 2016 ini, tim Resort World Sentosa masih mengangkat urban legend biar dekat dengan penduduk lokal. Di lain sisi, juga menyodorkan cerita horor yang mendunia agar menarik minat turis internasional. Sebagai bukti, di beberapa tahun sebelumnya, sempat ada cerita tentang Kuntilanak. Setan tipe ini tentu familiar buat kita, warga Indonesia yang taat lapor pajak dan yang suka bilang permisi kalo lewat kuburan.

HHN 5 kemarin adalah pengalaman pertama gua ikut event ini. Waktu mendapat undangannya, gua awalnya khawatir. Gua khawatir bakal mencret di tengah wahana yang bisa menganggu kenyamanan pengunjung lain. Biarlah objek lembek yang mengusik perasaan pengunjung hanyalah yang tertempel dalam komestik para karakternya, bukan yang keluar dari celana tanpa aba-aba.

Karena sesungguhnya, horor dan gua bukanlah dua kata yang biasa berdampingan dengan tentram. Sebagai orang yang gampang kaget, masuk ke wahana rumah hantu baru akan gua pilih kalo opsi lainnya adalah jogging santai bareng hyena.

Namun didorong rasa penasaran yang kuat, gua akhirnya mengiyakan undangan itu.

Melewati 3 haunted house dan 2 scare zone, gua kembali ke hotel dengan frekuensi mengeluarkan keringat yang lebih banyak daripada kegigit rawit dalem lontong. Jantung yang berdetak kencang, rahang yang lelah berteriak, namun senyum yang terus mengembang. Di balik kengeriannya, gua mendapat kesempatan untuk menguji nyali dalam wahana yang digarap dengan serius dan kedetailan yang bikin kagum. Continue reading