Category Archives: stand up comedy

Review Happinest Jakarta

Foto ini diambil di Balai Sarbini hari Sabtu lalu, ketika stand up special #HAPPINEST_JKT dari Ernest Prakasa dinyatakan selesai, sekitar pukul setengah sebelas malam.

Sebagai pemerhati karya Ernest, ketika selesai menonton stand up special-nya tahun ini, gua langsung membandingkannya dengan stand up special Ernest tahun-tahun sebelumnya. Biasanya, begitu keluar dari ruangan, gua akan bertanya pada diri sendiri, apa acara kali ini lebih bagus dari tahun lalu?

Tapi setidaknya, stand up special Ernest selalu memberikan sensasi yang sama buat gua: penasaran sama performa opener-nya. Di Merem Melek ada Ge Pamungkas yang kemudian ditampuk sebagai juara 1 Stand Up Comedy Indonesia Kompas TV season 2. Waktu Oriental Bandit, ada Barry Lim yang bikin gua ngakak sampe mukul-mukul bangku. Lalu saat Illucinati, ada Arie Keriting, yang meski ga selucu harapan gua, tetap bisa membuka acara dengan apik. Terus gimana dengan opener kali ini?

Namun jauh sebelum penampilan opener, Ernest udah mengejutkan penonton dengan sang pembawa doa: Soleh Solihun. Dengan rentetan kata semoga, Soleh berhasil mengocok perut penonton mulai di menit pertama. Semoga acaranya lancar, semoga manajemen Ernest kebanjiran job, semoga yang dateng sama gebetannya bisa jadian, dan yang paling epic, semoga yang suka pake sendal Crocs segera sadar bahwa sendal itu udah mahal, jelek lagi.

Selesai dengan doa yang diamini sambil tertawa, opener acara belum masuk juga. Karena kali ini, duo Ge Pamungkas dan Arie Keriting mendapat tongkat estafet dari Soleh untuk membuat rahang penonton pegal. Hanya melalui suara, keduanya membacakan peraturan selama acara berlangsung dengan setengah informatif, setengahnya lagi antara ngaco dan absurd.

“Selama acara berlangsung, dilarang merekam pertunjukan. Apalagi merekam penonton. Apalagi merekam penonton yang sedang merekam pertunjukan.”

“Bagi yang datang terlambat, hanya boleh masuk saat jeda acara. Ini aturan aneh ya, gimana caranya coba yang telat bisa tau aturan ini? Kan mereka telat?”

Geblek.

Akhirnya, di menit kesekian, empat opener masuk bergantian. Tiga opener pertama: Sakdiyah Ma’ruf, Chevrina Anayang, dan Sacha Stevenson, berhasil membuat empuk penonton. Dari tiga perempuan tersebut, menurut gua, Chevrina yang tampil paling menawan. Dengan bit-bit harsh but truth, Chevrina bagai petasan banting yang mengagetkan. Pepatah kecil-kecil cabe rawit pas banget disematkan untuknya malam itu. Sebuah penampilan yang membuat gua kepikiran, “Kalo Chevrina bikin stand up special bareng pacarnya, Kamga, kayaknya sih bakal super seru nih.”

Lalu muncullah Ardit Erwandha, si opener tetap Happinest tour. Dengan wajah bak pemain sinetron, Ardit tampil sangat tenang untuk ukuran komika dengan jam terbang yang belum terlalu lama. Bit Duo Serigala dilempar dengan santai tanpa terkesan vulgar. Penampilan Ardit malam itu mengingatkan gua akan Ernest di awal kariernya sebagai komika. Santai dan seperti effortless saat melemparkan punchline.

Rentetan pembuka ini membuat penonton sangat empuk. Soleh, Ge, Arie, dan empat opener tadi udah berhasil membuat rahang gua pegel, padahal sang pengisi acara utamanya sendiri belum muncul ke atas panggung. Lalu gimana dengan penampilan Ernest malam itu?

Continue reading

Advertisements

#GakSmartBanget Comedy Night

Hari Rabu malam kemarin, setelah berhasil menerjang kemacetan dan hujan deras di selatan Jakarta, gua dan pacar berkesempatan untuk nonton sebuah stand up show, #GakSmartBanget Comedy Night, yang dipersembahkan oleh Holiday Inn Express, bekerja sama dengan komunitas Stand Up Comedy Jakarta Pusat.

Stand up show ini merupakan bagian dari kampanye #GakSmartBanget yang beberapa minggu terakhir wara-wiri di lini masa. Dari 6 komika yang diplot untuk tampil malam itu, 3 di antaranya bener-bener baru buat gua. Berbekal rasa penasaran dan perut yang sedikit lapar, datanglah gua ke restoran Eatology, tempat berlangsungnya acara.

Setelah kenyang dengan makanan yang disajikan (pastanya enak banget lho, by the way), gua dan pacar langsung bergegas ke area acara. Sekitar pukul setengah 8, acara dimulai dengan bincang santai bareng narasumber Ibu Noeke Dewi Kusuma, Area DOSM dari Holiday Inn Express.

Holiday Inn Express sendiri adalah hotel masa kini yang sesuai bagi wisatawan yang berorientasi pada value. Hotel menengah (bukan hotel budget) dengan harga terjangkau namun memberikan kualitas layanan yang jauh di atas rata-rata. Salah dua layanan yang beda banget sama hotel sekelas lainnya adalah sarapan yang bisa di-grab and go sama fleksibilitas dalam memilih jenis bantal dalam kamar.

Buat pelancong dengan itinerary padat macam gua, sarapan model grab and go ini jelas membantu banget. Kalo lagi traveling, gua jarang berlama-lama di dalam hotel. Dengan sarapan yang diperbolehkan untuk dibawa pergi ini jelas sangat pas buat gua yang sangat memperhatikan waktu. Bener-bener cara yang smart.

Gara-gara acara semalam, gua jadi tau kalo ternyata jaringan Holiday Inn Express ini udah menggurita. Total udah ada 2,300 hotel di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri, Holiday Inn Express udah hadir di beberapa kota besar dengan lokasi yang strategis. Intinya, Holiday Inn Express adalah pilihan yang ‘wow smart banget’ deh saat berpergian .

Selesai dengan bincang santai bersama perwakilan Holiday Inn Express, acara berlanjut ke #GakSmartBanget Comedy Night yang dibuka oleh Panca Atis.

Continue reading

Gerakan Senyum Massal

Udah lama juga gua ga nonton stand up comedy special secara langsung. Acara terakhir yang gua tonton adalah Stand Up Fest sekitar bulan Juni lalu. Makanya begitu Aethra Learning Center mengadakan stand up special Gerakan Senyum Massal, gua dan pacar ga ingin melewatkannya.

Setelah sukses dengan Mentertawakan Indonesia tahun lalu, Aethra Learning Center kembali menggelar acara serupa di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki. Namun berbeda dengan pergelaran sebelumnya, kali ini banyak kursi yang masih kosong. Entah karena harga tiketnya yang semakin mahal atau karena animo akan stand up comedy itu sendiri yang semakin berkurang.

Acara ini sendiri diliput oleh Kompas TV dan rencananya akan disiarkan. Jadi, bagi kalian yang kelewatan, bisa nonton siaran taping-nya di Kompas TV nanti.

Sekitar pukul setengah delapan malam, acara yang ditunggu-tunggu pun dimulai dan dibuka oleh juara 2 Stand Up Comedy Indonesia season 2 yang digadang-gadang sebagai seorang komika yang pintar, Gilang Bhaskara.

Ini adalah kali pertama gua menonton Gilang secara penuh, dari awal sampai selesai. Terakhir kali gua nonton Gilang adalah ketika Stand Up Fest, tapi itupun hanya setengah karena gua udah jenuh dengan performa line up sebelumnya dan memutuskan untuk pulang aja.

Dari penampilannya di Gerakan Senyum Massal, gua mengamini yang selama ini dikatakan orang-orang tentang Gilang. Gilang memang seorang komika yang pintar. Premis-premisnya beda dan banyak banget lubang yang bisa dihajar dengan punchline. Topik yang diangkatnya ga umum tapi tetap dekat dengan keseharian kita.

Namun sayang, dengan set up yang sekaya itu, kadang delivery-nya nanggung dan kurang ekspresif. Gua yang mau ketawa lepas jadi agak tertahan karena punchline-nya ga semenonjok yang gua harapkan.

Tapi overall, malam itu Gilang udah jadi pembuka yang cukup berhasil. Bit favorit gua adalah ketika Gilang bercerita tentang penerbangan tersingkat di dunia, antara pulau Inggris dengan sebuah pulau yang berada di utaranya. Dari take off sampai landing hanya perlu 2 menit dan lama di udaranya hanya 47 detik!

“Penerbangan kayak gini cuma ada di luar negeri. Kalo di Indonesia, bisa-bisa lamaan delay-nya daripada terbangnya.”

Bayangan akan seberapa cepatnya pramugari menyapa penumpang dan aktivitas buka tutup kabin yang seolah sia-sia, menjadikan bit itu sepertinya favorit semua orang.

Selesai dengan Gilang, dengan dijembatani Pandji Pragiwaksono sebagai MC, masuklah komika kedua: Ernest Prakasa.

Continue reading

Transformasi Seorang Komedian yang Menggugat

Ada 2 hal yang mengawali kecintaan gua terhadap stand up comedy di Indonesia. Pertama, bit Soleh Solihun di episode perdana Stand Up Comedy Metro TV yang “Dulu mau jadi macan mesti belajar ngilmu ke Banten. Sekarang mah ga usah susah-susah, kalo mau jadi macan, tinggal makan biskuit!”

Bit itulah yang akhirnya membuat gua memutuskan untuk berkelana mencari tau lebih banyak tentang aksi komedi tunggal di Indonesia. Dan pencarian itulah yang mempertemukan gua dengan hal kedua yang membuat gua semakin suka dengan stand up comedy di Indonesia.

Namanya Sam D. Putra. Atau lebih dikenal dengan penyebutan namanya yang dibarengi akun Twitternya: Sammy @notaslimboy. Gua pertama kali nonton dia berkomedi saat open mic di Es Teler 77 di daerah Jakarta Selatan, tahun 2011 lalu. Saat yang mencoba open mic kebanyakan anak muda, perawakan Sammy udah membuat dia stand out hari itu. Materinya sendiri ringan, keseharian, dan santai.

Namun jangan pernah bandingkan materinya 3 tahun yang lalu dengan materinya saat dia mengadakan stand up special Tanpa Batas Vol. 2: Komedian Menggugat kemarin. Pertunjukan tanggal 26 April yang lalu itu jadi ajang transformasi seorang Sammy.

Acara itu sendiri dibuka oleh komika yang… hm, yang apa ya? Oh, ini aja. Pertunjukan Komedian Menggugat kemarin dibuka oleh komika dengan bit-bit yang paling ngangengin: Rindradana. Iya, ngangenin. Gua belum menemukan komika lain yang punya bit seberani dia, namun dengan cara penyampaian yang sesantai dia. Sayangnya, Rindra jarang tampil, makanya ngangenin banget.

Rasanya sulit untuk membahas bit demi bit milik Rindra secara tertulis di sini tanpa menyebabkan pihak-pihak tertentu merasa tersinggung. Sebenarnya dia ngebahas Manchester United sih… tapi ya sudah lah ya.

Sayangnya, setelah dibuka dengan kampret banget oleh Rindra, momentum menurun karena 2 pembuka berikutnya ga seliar Rindra. Materi pembuka kedua yang ke-YKS-YKS-an bikin mood gua turun dan makin ga sabar menunggu kemunculan si empunya acara. Setelah opener ketiga turun panggung, akhirnya yang ditunggu pun nongol dari balik tirai.

tanpa batas

Dengan jas dan celana abu, Sammy membuka acara dengan ngegas penuh. Seperti yang gua bilang di atas, jangan bandingkan materi ini dengan materinya saat open mic beberapa tahun lalu. Isu-isu sensitif dengan cara penyampaian yang pokoknya-gue-mau-ngomong, bikin judul acara malam itu bukan hanya sekadar judul, tapi lebih seperti legitimasi.

Hari itu, penampilan Sammy memang tanpa batas. Continue reading

Review: Mesakke Bangsaku Jakarta

Malam itu, gua datang ke Mesakke Bangsaku bukan sebagai fans Pandji.

Kebetulan, si pacar adalah penggemar berat Pandji, dan sebagai pacar yang baik gua pun menemaninya untuk nonton stand up special bertajuk Mesakke Bangsaku itu. Gua bukan ga suka sama Pandji, tapi jika ditanya apa gua rela mengeluarkan uang 400 ribu untuk menonton Pandji, dengan cepat gua akan menjawab tidak. Karena dari penampilannya di konser Glenn Fredly, Stand Up Fest, atau Mentertawakan Indonesia, bagi gua, Pandji hanya di tahap menghibur. Belom ada penampilannya yang bisa meyakinkan gua untuk bergadang dan menyisihkan uang ratusan ribu demi tiket show-nya.

Satu-satunya special Pandji yang pernah gua tonton sebelumnya adalah Bhineka Tunggal Tawa lewat DVD. Stand up special show pertama di Indonesia itu gua tonton sekitar satu tahun setengah dari acara sesungguhnya berlangsung. Lagi-lagi pendapat gua sama. Pandji hanya sampai di tahap menghibur. Satu-satunya alasan gua ga menyesal meminjam DVD itu adalah penampilan para opener-nya yang lebih cocok untuk masuk ke dalam kategori lucu.

Singkatnya, Pandji is not my cup of tea.

Jadi, datanglah gua malam itu ke Teater Jakarta, TIM, dengan tanpa ekspektasi dan tiket kelas Silver seharga seratus ribu di tangan. Hadir ke sebuah stand up special show yang menjadi final dari tur dengan nama yang sama. Dan seperti yang Pandji janjikan di postingan H-1 Mesakke Bangsaku Jakarta, acaranya mulai tepat pukul 8 malam.

Mesakke berarti “kasihan” dalam bahasa Jawa. Dan malam itu, Mesakke Bangsaku dibuka oleh komika dengan muka yang paling messake se-Indonesia; Arief Didu. Musik lenong Betawi dan riuh tepuk tangan penonton mengiringi langkah Arief Didu masuk ke panggung Teater Jakarta yang megah. Sumpah, dia kocak banget. Bit-bitnya terdengar tulus dan jujur. Meski intonasinya terdengar seperti orang marah-marah, tapi sebetulnya ia sedang mengundang penonton untuk mentertawakan dirinya. Self depreciation.

Bit Arief Didu favorit gua adalah cerita ketika ia jadi figuran di film Make Money. Betapa sedikit kemunculannya di layar lebar dan tanggapan istrinya tentang proses syuting membuat gua ketawa ngakak. Bener kata Carol Burnett, comedy is tragedy plus time. Dan Arief Didu berhasil menceritakan ulang tragedinya untuk menjadi komedi yang sangat lucu. Sangat-sangat lucu.

Selesai dibuat empuk oleh Arief Didu selama kurang lebih 20 menit, masuklah tuan rumah Mesakke Bangsaku; Pandji Pragiwaksono.
Continue reading