Category Archives: traveling

Oh No Shanghai Metro

Kereta adalah moda transportasi favorit gua saat berkelana di negera orang. Jika ada, maka kereta lah yang pasti gua pilih untuk wara-wiri selama di kota destinasi. Kalo kereta ga ada, maka pilihan akan bergulir dari bus, taksi, dan pilihan terakhir, ojek gendong.

Begitupun saat gua dan Sarah jalan-jalan ke Shanghai, November tahun lalu. Kami berdua selalu naik kereta selama berada di kota terpadat dan tersibuk di Tiongkok itu. Jika di Singapura namanya MRT, Metro adalah nama yang disematkan untuk moda transportasi yang ga akan kena macet itu.

Shanghai Metro adalah rapid transit system dengan rute terpanjang di dunia, yakni sekitar 588 kilometer. Kalo naik go-jek, udah pasti ga dapet promo dan dijamin ga ada driver yang mau ambil. Selain itu, Shanghai Metro berada di peringkat kedua -setelah New York- untuk jumlah stasiun terbanyak dengan 364 stasiun. Shanghai Metro juga berada di peringkat kedua untuk jumlah penumpang dengan total 3 milyar penumpang setiap tahunnya.

Jadi, bisa dibayangin betapa besar dan pentingnya Shanghai Metro bagi warga lokal dan juga bagi turis yang suka berkereta macam gua ini.

Namun pengalaman berkereta gua di Shanghai jauh berbeda dengan kota-kota lain yang pernah gua kunjungin. Gua terkejut-kejut, terkaget-kaget, tercengang, tersentak, terperangah, terperanjat, dan terheran-heran.

Nah di postingan kali ini gua mau cerita beberapa kejadian yang bikin pengalaman berkereta gua di Shanghai jadi catatan tersendiri.

1. It’s time to rumble!

Berbeda 180 derajat dengan Tokyo yang rapih jali saat naik turun penumpang, berkereta di Shanghai bak perang kolosal. Ada beberapa faktor yang membuat perang saat berkereta ini bisa terjadi. Pertama, penumpang yang sedang menunggu kereta, ga mau ngantri. Mereka berjubel di depan pintu, tanpa memberi celah bagi penumpang yang nantinya akan turun dari kereta.

Hal ini berimbas ke faktor berikutnya: mereka ga membiarkan penumpang yang akan turun untuk keluar duluan. Kebayang kan betapa chaos-nya?

Begitu pintu kereta terbuka, genderang perang ditabuh. Penumpang yang akan masuk dan keluar jadi dua kubu yang saling berhadapan. Yang ingin naik, bergegas melangkahkan kaki sesaat pintu terbuka, entah karena didorong orang di belakangnya atau berharap dapat tempat duduk karena perjalanannya yang jauh. Yang ingin turun, menerobos kawanan orang-orang ga sabaran sebelum pintu tertutup dan kelewatan stasiun tujuannya.

Jika dalam gerakan slow motion, proses perpindahan penumpang ini terlihat seperti perang kolosal. Kebayang kan? Continue reading

Cari Makan di Jepang

Bagi penikmat wisata kuliner, Jepang menawarkan ratusan kedai dan jajanan yang mampu menggoyang lidah. Mayoritas makanan di Jepang mengandung soy sauce, sejenis kecap encer yang terbuat dari fermentasi kedelai. Rasa makanan di Jepang ga sehambar Singapura, namun belum segurih Indonesia yang kaya akan rempah dan santan.

Gua dan Sarah juga sempat icip kanan-kiri selama di Jepang, meski variasi makanan yang kami coba ga ekstrim-ekstrim banget. Kebanyakan masih ada karbohidratnya karena namanya warga Indonesia yang sejati, apalah arti makan tanpa nasi atau mie.

Pilihan makan-di-mana seringnya kami temukan dari internet, saat sedang menggugling restoran mana aja yang menyediakan menu dengan harga yang cocok untuk turis kelas menengah macam gua. Untungnya, gua dan Sarah punya pocket wifi yang kami dapatkan via japan-rail-pass.com.

Koneksinya kenceng, bikin kami ga keburu mati saat ngegugling nama restoran ketika kelaparan. Gua dan Sarah juga bisa ter-connect berdua sekaligus, sebuah keunggulan menggunakan pocket wifi ketimbang sim card. Batre yang awet juga jadi nilai tambah tersendiri waktu sedang mencari tempat untuk makan malam, padahal kami ga menemukan sumber listrik sedari pagi.

Nah, di postingan kali ini, gua mau bercerita sambil berbagi makanan apa aja yang mendapat acungan jempol setelah kami makan selama di Jepang. Semoga postingan ini bisa bermanfaat buat kalian yang sedang merencanakan traveling ke Jepang.

Here we go.

1. Ramen di Osaka

Ramen jadi menu wajib yang ingin kami coba selama ber-Japaneymoon. Setelah beberapa kali makan, kami menyimpulkan bahwa ramen terenak yang kami makan adalah Shi-Ten-Noh yang ada Dotonbori, Osaka.

Rasa enak ramennya udah terbayang sejak kami sampai di depan kedai. Rame banget. Untuk mesen aja kami harus ngantri dengan panjang yang lumayan.

Seperti halnya kebanyakan kedai ramen di Jepang, mereka punya cara memesan yang unik. Melalui semacam vending maching, kita tinggal masukin uang, menekan menu yang kita mau, lalu secarik kertas beserta kembalian (jika ada) akan keluar dari mesin. Kertas itu yang nantinya kita berikan ke pelayan untuk kemudian diproses lebih lanjut.

Karena bahasa pada vending machine-nya adalah bahasa Jepang, jadi ya gua setengah menebak menu apa yang akan gua pesan. Akhirnya, setelah mendapat wangsit dari dewa langit, gua menekan tombol menu nomor satu, dengan asumsi menu nomor satu adalah ramen yang paling standar dan paling sering dipesan.

Ternyata, tebakan gua… tepat!

shi-ten-noh

Kuahnya gurih, pedas, dan nikmat. Jika endang adalah bahasa gaul untuk mengekspresikan kata enak, maka ramen ini adalah endang bambang suhartini, alias enak banget. Irisan daging babinya pas, ga terlalu tebal, ataupun terlalu tipis yang bisa membuat kita merasa ga rugi membayar JPY 700. Continue reading

Aplikasi Penting Saat Traveling di Jepang

Sebagai anak kekinian yang haus akan eksistensi, smartphone udah seperti tangan ketiga buat gua. Rasanya ada yang kurang kalo smartphone ga ada di kantong atau ga melekat di tangan.

Begitupun saat traveling.

Bagi gua, smartphone itu alat traveling yang ga boleh ketinggalan. Feature yang berjibun bisa melonggarkan barang bawaan kita. Kamera, console games dan music player melekat di satu alat, membuat spasi untuk pakaian atau alat-alat lainnya.

Aplikasi atau apps smartphone yang berlimpah ruah menambah fungsi dari feature dasar yang udah bermanfaat banget. Kini smartphone bisa jadi loket tiket, dispacther taksi, kompas, bahkan senter. Semua jadi satu, ga bikin ribet.

Selama ber-Japaneymoon kemarin, gua dan Sarah juga mengandalkan banyak apps. Untungnya, kami memperlengkapi diri dengan pocket wifi (portable wifi) dari Japan Experience. Signal kenceng dan unlimited internet access membuat kami sangat leluasa saat menggunakan beberapa apps secara bersamaan. Ga repot mesti nyari colokan terus-menerus, karena batrenya super awet. Sekali nge-charge, kuat dipakai selama 2 hari untuk smartphone kami berdua.

Buat yang pergi rame-rame, sewa pocket / portable wifi jadi pilihan yang lebih ekonomis ketimbang sim card. Dengan harga sewa USD 53 untuk 5 hari, satu pocket wifi bisa untuk 10 gadgets dan support segala jenis perangkat, mulai dari smartphone, tablet, bahkan laptop. Kalo kalian masih ada pertanyaan tentang pocket wifi, langsung aja deh klik FAQ ini nih.

pocket wifi

Nah, di postingan kali ini gua mau ngebahas apps apa aja yang mesti kalian install saat mau jalan-jalan, khususnya ketika traveling ke Jepang. Harap dicatat, semua aplikasi yang diceritakan di bawah ini gua gunakan melalui smartphone berbasis Android.

Dan seperti yang biasa gua bilang ketika bikin postingan model begini, semoga postingan kali ini berguna untuk bangsa dan negara.

Here we go.

1. The navigator apps

Biar ga nyasar dan menghemat waktu, ada baiknya kita membekali diri dengan pengamalan P4. Selain itu, install-lah beberapa aplikasi navigasi yang bisa menunjukkan kita ke jalan yang benar. Bukan, bukan aplikasi Alkitab atau sejenisnya. Tapi unduhlah Google Maps, sebagai aplikasi navigasi yang sangat mendasar.

Seperti yang pernah gua ceritakan di postingan sebelumnya, kereta adalah moda transportasi utama di Jepang. Jadi, ada baiknya unduh juga aplikasi Japan Trains, yang bisa ngasih tau kita jalur kereta mana dan keberangkatan jam berapa yang harus kita tumpangi agar sampai ke destinasi yang kita inginkan.

Keren betul bukan?
Continue reading

Ada Tarzan di Tottori

Bahasa menjadi satu-satunya momok yang membuat gua ragu untuk berangkat ke Jepang akhir tahun 2013 lalu bareng Tirta dan Siti. Aksara yang non-latin membuat membaca kalimat Jepang seperti bermain tebak gambar.

Namun gemerlap kota dan perbedaan budayanya membuat keraguan itu pelan-pelan memudar dengan sendirinya. Selain itu, gua juga mempersiapkan diri dengan buku Panduan Praktis Bahasa Jepang – Indonesia. Sebuah buku yang gua beli, untuk kemudian gua serahkan ke Tirta.

“Ini bagian lu nih, Ta. Pelajarin bahasa Jepang ya. Jadi selama di sana, lu yang bertugas nanya-nanya sama penduduk lokal.”

Sebuah kepercayaan yang disemena-semenakan oleh Tirta, karena satu-satunya bahasa Jepang yang akhirnya dia kuasai, hanya seputar erangan-erangan yang didapat dari film bokep Jepang.

Tapi ternyata, bahasa bukanlah rintangan selama kami berkelana di Jepang. Penunjuk jalan yang jelas serta tersebarnya tourism center di penjuru kota-kota besarnya membuat keraguan gua lenyap seluruhnya.

Hal inilah yang membuat gua percaya diri untuk mengulang kembali perjalanan ke Jepang. Kali ini bersama Sarah dalam rangka bulan madu kami.

Namun momok bernama bahasa itu kembali muncul saat gua dan Sarah tiba di kota yang belum gua kunjungi dua tahun silam. Sebuah kota kecil yang kami datangi demi bisa mampir ke museum Detektif Conan. Nama kota itu adalah Tottori.

Mungkin kalian akan bertanya-tanya kenapa kami memutuskan untuk mengunjungi kota yang ga familiar itu. Memang, setiap yang bertanya ke mana aja tujuan gua dan Sarah selama ber-Japaneymoon, selalu mengerutkan alis kebingungan ketika jawaban gua mengandung kata Tottori.

“Hah? Kota apaan tuh?”

“Emang ada apaan di sana?”

“Tottori? Yang cheese cracker?”

Semua bisa dimaklumi karena Tottori memang bukan kota yang populer untuk turis mancanegara. Tottori berbeda jauh dengan Tokyo atau Osaka yang rapat dengan gedung-gedung tinggi dan meriah pada malam hari. Ketika kawasan Dotonbori Osaka baru “bangun” saat langit menggelap, di waktu yang sama, warga Tottori mungkin sudah meringkuk di balik selimut sambil nonton On The Spot Trans 7.

tottori

Mungkin hal itulah yang membuat warga kota Tottori jarang ada yang bisa berbahasa Inggris. Mau ga mau, gua dan Sarah harus mengandalkan gerakan kaki dan tangan selama di sana. Sebuah gerakan yang dikenal luas dengan sebutan bahasa Tarzan.

Continue reading

Tokyo 101: Yamanote Line

Ga afdol rasanya kalo berkelana ke sebuah negara, tanpa mampir ke ibukotanya. Ada banyak alasan kenapa suatu kota ditampuk untuk menjadi ibukota. Salah dua atau tiga dari banyak alasan tersebut pastinya layak menjadi latar belakang mengapa kita wajib mengunjungi kota tersebut.

Begitupun dengan Tokyo.

Secara harafiah, Tokyo berarti “ibu kota timur”. Nama To-kyo merupakan kebalikan dari nama kota Kyo-to, ibu kota Jepang sebelumnya yang berada di barat. Sebelumnya Tokyo dikenal dengan nama Edo, namun ketika pemerintahan kaisar berpindah ke kota ini, namanya pun diganti menjadi Tokyo.

Sekitar 12 juta orang tinggal di Tokyo dan ratusan ribu lainnya pulang pergi setiap hari dari sub-urban untuk beraktivitas di kota ini. Mayoritas dari keduabelasjuta orang tadi bermobilisasi menggunakan kereta, moda transportasi utama yang menopang kota Tokyo.

JR East adalah penyedia kereta nomor satu yang menghubungkan banyak titik-titik penting di Tokyo. Ada belasan jalur (line) JR East yang diberi warna berbeda biar gampang ngenalinnya, terutama saat berada di stasiun yang melayani lebih dari satu line JR East. Biar lebih jelas, kalian bisa liat dan save as peta JR East di sini.

Biar bisa bermobilisasi dengan efisien, sebisa mungkin belilah JR Pass sebelum sampai di Jepang. JR Pass atau Japan Rail Pass adalah semacam tiket khusus untuk turis mancanegara yang memungkinkan kita untuk naik segala macam moda transportasi di bawah bendera JR tanpa ada biaya tambahan.

Waktu #Japaneymoon kemarin, gua menemukan situs pembelian JR Pass yang nyaman dan mudah. Namanya japan-rail-pass.com. Ga hanya JR Pass, situs yang dikelola oleh Japan Experience ini juga menyediakan beberapa keperluan traveling lainnya. Step by step pembeliannya jelas dan pembayarannya bisa menggunakan kartu kredit. Kalo udah selesai, JR Pass akan dikirimkan via FedEx langsung ke alamat kita.

Yang membedakan dengan membeli JR Pass di travel lokal, Japan Experience memberikan tambahan guide book dan peta yang dibuat khusus untuk pembelinya. Dua item tadi bermanfaat banget buat gua selama wara-wiri di Tokyo dan kota lainnya di Jepang. Continue reading