Category Archives: traveling

Melawat Para Pangeran

Bagi gua, malam Minggu terasa beda tanpa pertandingan sepakbola.

Tanpa kekasih, ga masalah. Sabtu malam di rumah doang, biasa aja. Asal ada pertandingan sepakbola liga Eropa di layar kaca, gua udah merasa cukup bahagia.

Gua udah jadi penonton setia sepakbola liga Eropa sejak tahun 1996. Berawal dari English Premier League, berlanjut ke Serie A Italia, lalu Bundesliga Jerman, sampai ke liga-liga yang kurang populer juga. Seperti Eredivisie Belanda atau Ligue 1 Prancis.

Bertahun-tahun hanya bisa menyaksikan pertandingan di layar kaca. Mengagumi megahnya stadion Eropa jauh dari benua Asia. Berharap suatu hari bisa nonton langsung di sana, tanpa bantuan satelit di luar angkasa.

Kesempatan itu akhirnya datang September lalu, kala gua dan Sarah memutuskan untuk melawat ke Paris sebagai liburan tahun ini. Saat menyusun itinerary, rasanya kurang pas kalo ga masukin nonton pertandingan sebagai salah satu agenda euroneymoon.

Ada dua klub yang gua incar untuk ditonton langsung: Ajax Amsterdam dan Paris Saint Germain (PSG). Setelah nyocokin tanggal kepergian dan jadwal pertandingan, gua harus menelan pil pahit. Ajax sedang melakukan pertandingan tandang saat gua di Amsterdam, sementara kompetisi lagi international break ketika gua sampai di Paris.

Tapi ya ga apa-apa. Masih ada stadionnya yang bisa gua kunjungin.

Berbekal gugling sana-sini, akhirnya kedua stadion itu bisa gua masukin ke itinerary. Namun di postingan kali ini, gua hanya akan membahas salah satunya: Parc de Princes.

Bukan berarti Amsterdam ArenA kurang berkesan. Tapi image tua dan kurang berwarna menjadikan kunjungan gua ke sana terasa biasa aja. Apalagi waktu itu, ternyata Amsterdam ArenA lagi dipake untuk konser Rolling Stone. Gerombolan bapak-bapak berkaos lidah menjulur membuat gua ga menghabiskan waktu banyak di sana.

Namun rasanya lain ketika gua melawat ke Parc de Princes, rumah bagi PSG. Mungkin karena wajah-wajah pemainnya yang lebih familiar dan mendunia. Memang, PSG adalah tempat bernaungnya pemain-pemain papan atas kayak Neymar Jr., Edison Cavani, Kylian Mbappe, dan masih banyak lagi.

Sejak dibeli oleh pengusaha Qatar pada tahun 2011, PSG jadi salah satu raksasa Eropa yang rutin bermain di Champions League. Kucuran dana tanpa batas dari timur tengah telah merestorasi PSG dari klub bersejarah yang semenjana, jadi salah satu klub yang kembali disegani.

Jika diterjemahkan secara harafiah, Parc de Princes berarti taman para pangeran. Stadion berkapasitas 47,929 penonton ini didirikan sejak tahun 1897. Namun kemudian direnovasi dan diremajakan sehingga versi yang sekarang ini dibuka kembali pada tahun 1972.

Lawatan gua ke PSG bertepatan dengan tahun di mana Neymar Jr. baru aja memecahkan rekor pemain termahal dunia. PSG harus merogoh kocek sebanyak GBP 198 juta, atau setara dengan IDR 3.5 triliun! Iya, bener, 3.5 triliun! Gua sampe ngitung di kalkulator dua kali karena takut salah liat jumlah 0-nya.

Kepindahan Neymar Jr. memang bikin kepala geleng-geleng. Makanya ga heran, sekarang Neymar Jr. jadi wajah yang dijual oleh klub. Banyak warga yang pakai baju dengan nomor punggung 10 di jalan-jalan. Poster-poster yang berkaitan dengan PSG selalu ada wajah Neymar Jr. Kalo di Indonesia, mungkin Neymar Jr. udah nongol di iklan sosis. Continue reading

Advertisements

Jet Lag

Dulu, gua selalu berpikir kalo jet lag adalah efek badan pegal setelah turun dari pesawat. Gua mengira, perjalanan pesawat satu jam pun bisa menyebabkan jet lag, apalagi kalo duduknya sambil nungging. Namun ternyata selama ini gua salah. Karena sebetulnya, jet lag adalah perasaan kelelahan setelah perjalanan udara yang panjang karena tubuh masih dalam tahap penyesuian dengan zona waktu yang baru.

Ya iya lah ya, mesti perjalanan panjang. Kalo perjalanan pendek dan terasa pegal itu jet lag, naik bajaj ke Pasar Baru juga bisa jet lag.

Setelah sekian lama hanya tau jet lag dari novel-novel berlatar luar negeri, akhirnya gua dan Sarah merasakannya juga saat kami ber-euroneymoon bulan September lalu. Kami berangkat ke Paris menggunakan Thai Airways, jadi ada waktu transit sekitar satu jam di Bangkok. Perjalanan Bangkok – Paris sendiri memakan waktu 12 jam. Karena kami berangkat jam 12 malam, seharusnya secara matermatika, kami akan sampai di Paris jam 12 siang, saat matahari lagi tinggi-tingginya.

Tapi karena perbedaan waktu lima jam, begitu pesawat mendarat, jangankan di posisi tertinggi, terbit aja belom!

Kami tiba di Paris sekitar jam tujuh pagi, yang entah kenapa, masih gelap subuh-ish gitu. Matahari belum nongol kala ban pesawat menumbuk halus runway bandara Charles de Gaulle. Pendar cahayanya baru keliatan sekitar jam delapan, saat gua dan Sarah udah keluar dari imigrasi dan sedang mencari jalan ke stasiun Metro.

Jet lag belum terasa ketika kami baru mendarat. Badan pegal-pegal masih terasa normal karena efeknya hampir sama kayak pulang ngantor naik ojek selama seminggu. Pinggang pegel, pantat panas, batu ginjal, dan gejala orang kebanyakan duduk lainnya.

Gua dan Sarah masih beraktivitas kayak biasa. Angkat koper masih kuat, jalan kaki nyari peron kereta pun masih oke. Ga ada yang salah. Semua biasa-biasa aja. Jet lag? Apa itu jet lag? Gua dan Sarah malah riang ke sana kemari kayak anak kecil kebanyakan makan gula.

…sampai tibalah kami di jam enam sore.

Ngantuknya ugal-ugalan. Mata berat banget dan badan juga lemes.

Jadi begini kronologisnya. Saat kami mendarat jam tujuh pagi, jam biologis badan kami udah jam 12 siang. Sarapan yang kami makan di pesawat itu rasanya seperti makan siang buat kami. Makanya, begitu jam menunjukkan pukul enam sore, kami berdua ngantuk banget karena jam biologis kami udah jam 11 malam.

Perbedaan waktu lima jam ini bikin badan kami bingung. Mau ngantuk, kok ya langitnya masih terang? Harusnya makan malam, tapi kok ga laper? Continue reading

8 Tips Traveling ke Amsterdam

Akhir September kemarin, gua dan Sarah melakukan perjalanan jauh dalam rangka mencentang salah satu item di daftar resolusi 2017 kami: traveling ke negara di luar benua Asia.

Setelah mencoret Australia dan beberapa negara dunia ketiga di Afrika, kami membulatkan tekad untuk melancong ke Eropa. Sempat maju mundur karena tumpukan pekerjaan, akhirnya kami berangkat juga akhir bulan lalu.

Tiket Jakarta – Paris (pulang pergi) pun segera kami beli. Meski begitu, tujuan kunjungan kami bukan hanya kota yang katanya romantis itu. Ada empat kota di tiga negara yang udah gua incar semenjak menyiapkan itinerary di Jakarta. Paris, Brussels, Ghent, dan kota terakhir yang membuat kami jatuh cinta: Amsterdam.

Di postingan kali ini, gua akan berbagi 8 tips bagi kalian yang sedang merencanakan traveling ke Amsterdam. Apa-apa aja yang mesti disiapin untuk menghadapi musim gugur atau apa-apa aja yang akan menyambut kalian setibanya di sana.

Semoga postingan ini bermanfaat. Seperti yang biasa gua bilang kalo bikin postingan model begini, semoga kiat-kiat di bawah berguna bagi nusa dan bangsa.

Here we go.

1. Belanjalah selagi bisa

Entah karena sedang musim gugur atau gimana, tapi toko kelontong di Amsterdam tutup saat matahari masih tinggi. Sekitar jam 5-6 sore, hanya beberapa toko kelontong yang masih buka. Hal ini berbeda dengan Jakarta yang menyediakan minimarket 24 jam di beberapa tempat.

Bagi yang makan malamnya ngandelin minimarket kayak gua dan Sarah, hal ini sungguh merepotkan. Kami jadi harus beli makanan beberapa jam sebelum lapar. Selain jadi repot bawa-bawa makanan padahal masih mau jalan-jalan, makanan yang kami bawa pun jadi dingin.

Minimarket andalan kami selama di Amsterdam adalah Albert Heijn yang menggurita di sepanjang kota. Barang yang dijual pun segala ada. Mulai dari jajanan ringan sampai yang berat kayak nasi sate ayam atau nasi babi panggang!

2. Bawalah wadah portable

Seperti halnya berbelanja di minimarket atau supermarket di luar negeri, kita ga akan dikasih kantong plastik sehabis belanja. Jadi, siapkanlah kantong plastik atau wadah lainnya untuk bawa hasil belanjaan. Karena sesungguhnya, bawa banyak belanjaan dengan tangan kosong termasuk dalam skill anggota sirkus.

3. Main amanlah di Red Light District

Seperti yang udah kita ketahui bersama, Red Light District adalah salah satu destinasi di Amsterdam yang membuat penasaran para turis, khususnya turis Asia yang masih polos dan suci. Macam gua ini.

Gimana sih penampakan dari daerah yang mempertontonkan pekerja seks secara bebas ini? Seberapa vulgar para wanitanya dalam menjajakan “barang dagangannya”? Atau jangan-jangan ada mbak-mbak yang memberikan tester gratis kayak toko donat?

Kalo hanya ingin lewat tanpa bertransaksi, ada baiknya melewati jalan yang sepertinya memang dikhususkan untuk turis. Lebar jalanannya lebih manusiawi dan ga terlalu berkelok-kelok. Cari aja jalan yang ada rambu ayah dan anak bergandengan, atau ikuti aja keramaian rombongan turis lainnya. Selain itu, jangan mengambil foto para pekerja seks komersialnya. Katanya, kalo kita ambil gambar, akan ada bodyguard yang memaksa kita untuk menghapus semua foto yang kita ambil.

Jadi, mending main aman deh!

Continue reading

Menikmati Wisata Alam yang Hijau di Tengah Sesaknya Kota Jakarta

Dikenal sebagai kota metropolitan, Jakarta dipenuhi gedung pencakar langit di berbagai penjuru. Suasana panas, penuh asap, dan macet menjadi pemandangan sehari-hari. Ga heran kalo warga Jakarta kerap memilih liburan ke luar kota untuk merasakan suasana yang alami.

Lalu, apa ga ada tempat wisata yang alami di Kota Jakarta? Tentu aja ada. Apalagi, Jakarta memiliki garis pantai yang cukup panjang. Nah, ingin tahu destinasi wisata alam mana saja yang ada di kota metropolitan ini? Berikut ini adalah beberapa di antaranya:

Wisata Hutan Mangrove PIK

Sumber: thetripcorner.com

Wisata Hutan Mangrove Pantai Indah Kapuk (PIK) menjadi wisata alam yang kini populer di Jakarta. Apalagi, pihak pengelola menyediakan fasilitas yang komplit di dalamnya. Mulai dari area berkemah, menara pandang, hingga perahu untuk berkeliling perairan sekitar hutan bakau.

Berjalan kaki mengelilingi area hutan bakau menjadi aktivitas utama para wisatawan di Wisata Hutan Mangrove PIK. Di tengah jalan, kita bisa menjumpai beragam hewan liar yang tinggal di area tersebut. Di antaranya, berbagai jenis burung, biawak, dan lain-lain. Wisatawan juga bisa turut serta dalam aksi penanaman pohon bakau. Dijamin, seru! Continue reading

Oh No Shanghai Metro

Kereta adalah moda transportasi favorit gua saat berkelana di negera orang. Jika ada, maka kereta lah yang pasti gua pilih untuk wara-wiri selama di kota destinasi. Kalo kereta ga ada, maka pilihan akan bergulir dari bus, taksi, dan pilihan terakhir, ojek gendong.

Begitupun saat gua dan Sarah jalan-jalan ke Shanghai, November tahun lalu. Kami berdua selalu naik kereta selama berada di kota terpadat dan tersibuk di Tiongkok itu. Jika di Singapura namanya MRT, Metro adalah nama yang disematkan untuk moda transportasi yang ga akan kena macet itu.

Shanghai Metro adalah rapid transit system dengan rute terpanjang di dunia, yakni sekitar 588 kilometer. Kalo naik go-jek, udah pasti ga dapet promo dan dijamin ga ada driver yang mau ambil. Selain itu, Shanghai Metro berada di peringkat kedua -setelah New York- untuk jumlah stasiun terbanyak dengan 364 stasiun. Shanghai Metro juga berada di peringkat kedua untuk jumlah penumpang dengan total 3 milyar penumpang setiap tahunnya.

Jadi, bisa dibayangin betapa besar dan pentingnya Shanghai Metro bagi warga lokal dan juga bagi turis yang suka berkereta macam gua ini.

Namun pengalaman berkereta gua di Shanghai jauh berbeda dengan kota-kota lain yang pernah gua kunjungin. Gua terkejut-kejut, terkaget-kaget, tercengang, tersentak, terperangah, terperanjat, dan terheran-heran.

Nah di postingan kali ini gua mau cerita beberapa kejadian yang bikin pengalaman berkereta gua di Shanghai jadi catatan tersendiri.

1. It’s time to rumble!

Berbeda 180 derajat dengan Tokyo yang rapih jali saat naik turun penumpang, berkereta di Shanghai bak perang kolosal. Ada beberapa faktor yang membuat perang saat berkereta ini bisa terjadi. Pertama, penumpang yang sedang menunggu kereta, ga mau ngantri. Mereka berjubel di depan pintu, tanpa memberi celah bagi penumpang yang nantinya akan turun dari kereta.

Hal ini berimbas ke faktor berikutnya: mereka ga membiarkan penumpang yang akan turun untuk keluar duluan. Kebayang kan betapa chaos-nya?

Begitu pintu kereta terbuka, genderang perang ditabuh. Penumpang yang akan masuk dan keluar jadi dua kubu yang saling berhadapan. Yang ingin naik, bergegas melangkahkan kaki sesaat pintu terbuka, entah karena didorong orang di belakangnya atau berharap dapat tempat duduk karena perjalanannya yang jauh. Yang ingin turun, menerobos kawanan orang-orang ga sabaran sebelum pintu tertutup dan kelewatan stasiun tujuannya.

Jika dalam gerakan slow motion, proses perpindahan penumpang ini terlihat seperti perang kolosal. Kebayang kan? Continue reading