Category Archives: thoughts

Pindah

Empat bulan terakhir ini hidup gua gonjang-ganjing.

Sejak akhir tahun lalu, gua dan Sarah harus pandai-pandai mengatur keuangan dan menata kembali ritme hidup. Semua bermula ketika gua memutuskan untuk berpindah kerja. Kantor baru, artinya tantangan baru, lingkungan baru, lokasi gedung yang baru, dan hal-hal baru lainnya.

Semua kayak isi bensin. Dimulai dari nol lagi.

Ga ada lagi wajah-wajah lama yang udah tau kerja gua kayak apa. Ga ada kantin kantor yang gua tau kapan kosongnya. Ga ada lagi rute pulang yang gua tau gimana selanya. Kenapa macet bangetnya, jam berapa agak lenggang, dan kapan gua mesti mulai bangun tenda di lobby kantor.

But I have to start this new journey.

Belajar lagi untuk tau apa yang bos mau. Melatih diri ngadepin bos divisi sebelah yang kalo meeting mukanya asem banget. Mencoba memahami apa hukuman sosial bagi mereka yang suka pulang tenggo. Apakah dicambuk, diarak massa, atau diminta baca komen detik.com satu per satu?

Ketika gua mulai menemukan pace di kantor yang baru, semesta berkehendak lain. Di bulan Maret kemarin, gua memutuskan untuk berpindah kantor lagi. Yes, I changed job in 3 months time. Didorong oleh ketidaknyamanan dan diajak oleh atasan yang lama untuk bekerja sama kembali, membuat gua mengiyakan tawaran berpindah dengan lumayan cepat.

Penyesuaian yang satu belum selesai, mulai lagi penyesuaian baru.

Pekerjaan baru, bisa dipelajari. Teman baru, dapat dicari. Yang paling membuat gua pusing dengan perpindahan-perpindahan ini adalah rute transportasi yang harus gua tempuh setiap hari.

Masih dengan semangat #YukNgangkotYuk, gua tetap memutuskan untuk ga bawa mobil ke kantor. Rasanya jalanan Jakarta udah cukup penuh untuk ditambah satu mobil lagi. Demi kewarasan, gua memilih untuk naik kendaraan umum atau transportasi online. Menghindari macet yang sering terlihat bak parkir massal di jalan raya.

Apalagi lokasi kantor gua yang sekarang terletak di salah satu lubang neraka Jakarta. Jalan Doktor Satrio. Yes, that so called segitiga emas Doktor Satrio. Continue reading

Menelusuri Keindahan Sulawesi Dengan Trigana Air

Meski belum pernah ke sana, gua meyakini kalo Sulawesi memiliki banyak pesona alam yang sayang jika dilewatkan. Ga salah jika perlahan, wisata di Sulawesi semakin terkenal tak hanya di dalam negeri, tapi juga sampai ke mancanegara.

Meski begitu, destinasi wisatanya belum sebanyak Bali. Namun beberapa di antaranya udah jadi salah satu tujuan impain para traveler dunia, seperti Bunaken, Wakatobi dan Toraja.

Ada beberapa maskapai yang memiliki rute ke tempat ini, salah satunya adalah Trigana Air. Berbasis di bandara Soekarno Hatta, Trigana Air melayani ke 20 destinasi di nusantara. Bahkan, Trigana melayani rute ke Papua dengan harga terjangkau. Dengan Slogannya “We Serve You Here, There, and Everywhere”. Maskapai milik swasta ini menjanjikan pelayanan yang maksimal untuk penumpangnya di semua rute.

Trigana pun mempermudah kalian yang ingin berlibur ke Sulawesi dengan menyediakan rute penerbangan ke sana. Dan sebagai pertimbangan, berikut beberapa spot wisata Sulawesi berskala internasional yang bisa kalian kunjungi.

Menyelam dan Nikmati Surga Bawah Laut Taman Nasional Wakatobi

sulawesi1

Indonesia memiliki banyak Taman Nasional, salah satunya adalah Wakatobi. Banyak penyelam yang menyebutnya Surga bawah laut. Bahkan sebuah ekspedisi dari Inggris pun dilakukan untuk meneliti jumlah spesies terumbu karang di Wakatobi. Dan hasilnya adalah 750 dari 850 jenis spesies di dunia ada di Taman Nasional Wakatobi ini. Negeri ini kaya luar biasa bukan? Continue reading

Kesempatan

“Nih, liat nih, cincin Papa.”

Hampir seminggu sekali gua mampir ke rumah bokap nyokap untuk sekedar makan malam atau ngobrol tentang apa aja. Sabtu itu, di antara obrolan santai kami, tiba-tiba bokap masuk ke kamarnya dan kembali dengan nunjukin cincin berbatu akik warna merah. Awalnya, gua kira ini cincin batu akik pada umumnya. Namun, bokap berikrar bahwa ini bukan sembarang cincin batu akik.

“Kalo kena aer, batunya bisa nyala lho,” kata bokap sambil berjalan ke arah wastafel, “Tuh, tuh, liat tuh. Nyala kan?”

Gua yang awalnya apatis, jadi penasaran juga. Lah kok iya batu akik bisa nyala? Darimana sumber listriknya? Pas kena air kok malah nyala, bukannya nyetrum? Kok bisa-bisanya Agus dicalonin Gubernur DKI sama SBY? Dan seterusnya, dan seterusnya.

Muka bokap makin sumringah ketika gua berjalan mendekat dan tampak kebingungan. Dengan suaranya yang menggelegar, bokap bertanya, “Ayo tebak, kira-kira berapa harganya?”

Perlu diketahui, bokap gua bukan orang yang sayang uang. Bukan orang kaya, tapi juga bukan orang yang mikir dua kali untuk beli barang yang dia suka. Ketika dia ketemu sesuatu yang dia kepengen, dia bakal bayar berapa pun harganya, yang penting murah.

Jadi, kalo gua ditanya berapa harga cincin batu akik yang bisa nyala itu, jawabannya mungkin sekitar 500 ribu. Sebuah harga yang sepertinya masih masuk akal untuk ukuran dompet bokap gua. Tapi daripada berspekulasi, gua memilih untuk melakukan yang orang pintar biasa lakukan ketika bingung mau menjawab apa: bertanya balik.

“Berapa, Pa? Mahal ya?”

Bukannya menjawab, bokap malah bercerita. Continue reading

Seperti Papa

Gua ingin tumbuh seperti Papa.

Yang jarang merintah, malah suka memberi teladan.

Yang selalu bertindak, dan ga pernah ngomong doang.

Yang jujur apa adanya, tanpa pernah peduli gengsi.

Yang ga pernah mukul, tapi kita bisa segan kepadanya.

Yang bisa menjadi guru, tanpa pernah menggurui.

Yang ga pernah mengeluh, malahan sering melucu.

Yang cita-citanya ga setinggi langit, tapi usahanya sekeras karang.

Yang ga mengukur apapun dengan uang, namun dengan pencapaian-pencapaian.

Yang ga peduli apa kata orang, yang penting dia bahagia.

Yang definisi bahagianya hanya tidur cukup dan makan enak.

Yang jadi contoh sempurna akan idiom “bahagia itu sederhana”.

Dan yang telah, sedang, dan akan selalu menjadi pahlawan bagi anak-anaknya.

bokap

Hal-hal yang Membuat Gua Rileks Sepulang Kantor

Punya tempat tinggal yang jaraknya lumayan jauh dari kantor, membuat perjalanan pulang selalu jadi keseruan tersendiri. Well, iya, keseruan. Karena mengeluh ga akan membuat jaraknya makin pendek, jadi ya, gua nikmati aja. Menggunakan kata “seru” adalah salah satu hal yang bisa gua lakukan.

Hal lain yang bisa gua lakukan untuk mengurangi kesan negatif perjalanan gua yang jauh adalah dengan melakukan hal-hal menyenangkan sepulang gua ngantor.

Setelah menikah dan tinggal berdua istri, selain senggama, setidaknya ada empat hal menyenangkan lainnya yang gua lakukan agar rileks dan melupakan segala kepenatan di kantor. Nah, di postingan kali ini, gua mau berbagi hal-hal apa aja yang bisa membuat gua rileks sesampainya di rumah.

Seperti yang biasa gua bilang setiap bikin postingan model begini, semoga apa yang gua bagikan kali ini berguna buat nusa dan bangsa.

Here we go.

1. Mandi

Gua suka banget sama kegiatan mandi. Karena gua orangnya ga tahan gerah, maka mandi jadi jawaban dari ketidaksukaan gua itu. Tapi mandinya harus pake shower. Kalo mandi pake gayung, yang ada tangan gua suka pegel sebelah.

Mandi pake shower memberikan gua sensasi seperti artis-artis yang sedang meraung sedih di bawah pancuran. Seperti anak muda yang menyesali perbuatannya di kala mabuk, atau seperti suami yang baru pulang dari selingkuhannya.

Berbeda dengan kebanyakan orang yang suka mandi air hangat agar rileks, gua lebih suka mandi pake air dingin. Mandi dengan air panas membuat gua seperti bacang yang lagi dikukus. Keringat seperti ga tuntas dibilas, dan setelah mandi, malah seperti masih kegerahan.

Sementara mandi pake air dingin bisa memberi efek segar. Mata yang kuyu jadi melek lagi, melunturkan semua penat dan pegal yang lahir dari kerjaan kantor. Kulit jadi adem dan rasa gerah langsung lenyap. Semua berkat mandi pake shower air dingin.

Cobain deh! Continue reading