Category Archives: chaos

51 Hal yang Jangan Dilakukan oleh Pria Saat Ngapel ke Rumah Pacar

1. Datang terlambat.

2. Atau datang tepat waktu. Padahal ga diundang.

3. Atau diundang. Namun nyasar.

4. Atau ga nyasar. Tapi telanjang.

5. Belum mandi dan tidak rapih. Nanti kalo pas ngetuk pintu disangka gembel dan dikasih receh, malah seneng.

6. Berdandan dengan gaya rambut yang kurang pas untuk ngapel ke rumah pacar. Rambut dengan poni ke depan semua sampai menutupi muka, misalnya. Ingat, kamu bukan Sadako.

7. Ataupun Andika Kangen Band.

8. Datang dengan naik delman istimewa. Kecuali sambil turut Ayah ke Kota.

9. Datang naik motor. Ketika calon mertua keluar untuk menghampiri, berkata, “Bapak, Bapak Joni bukan? Yang ke Monas? Mau pakai masker, Pak?”

10. Maskernya masker bengkoang.

11. Mengetuk pintu dengan birama tertentu.

12. Saat ada seorang ibu tua keluar dari rumah, berkata, “Mbak, majikannya ada?”, eh ternyata itu Mama-nya.

13. Waktu ditanya dari dalam, “Siapa ya?”, malah menjawab, “Kasih tau ga ya?”

14. Atau, “Mau tau aja apa mau tau banget?”

15. Saat pintu dibuka, dengan antusiasnya berkata, “Halo, selamat malam. Bapak punya waktu 2 menit? Saya ga jualan kok.”

16. Saat pintu dibuka, menutupnya kembali.

17. Memakai kostum berbau alien, dan saat pintu dibuka, berkata, “We come in peace.”

18. Mengenakan piyama dan membawa guling. Dikata mau pajamas party?

19. Datang beramai-ramai. Bareng ayah, ibu, tanjidor, dan kawanan saudara beserta roti buaya. Itu mah lamaran, woy!

20. Ga melepas alas kaki. Malah melepas celana. Continue reading

Advertisements

Fenomena Ojek Online

Orang Indonesia itu latahan. Latah akan fenomena.

Dulu, waktu fenomena donat meledak, semua orang rame-rame makan donat. Brand donat pun beranak pinak hampir di semua mall di Indonesia. Kalo bisa makan nasi pake donat, mungkin rame-rame bakal makan nasi pake donat.

Pas kamera DSLR mewabah, fotografer dadakan jadi profesi kebanyakan orang. Saat sepeda fixie lagi happening, jalanan tumpah ruah sama begituan. Ga ngerti pun ga apa-apa, yang penting jangan sampai ketinggalan.

Lalu, fenomena apa yang melatahi orang Indonesia di tahun 2015?

Menurut gua, jawabannya adalah aplikasi transportasi online. Semua aplikasi, baik yang buatan lokal maupun ekspansi dari luar negeri, rame-rame memenuhi layar smartphone warga Indonesia, khususnya kota Jakarta.

Nyegat taksi ga perlu lagi berdiri pinggir jalan sambil goyangin telunjuk, tapi cukup geser-geser jempol di aplikasi juga udah bisa. Sekarang nyetopin taksi udah kayak maen Candy Crush.

Namun menurut gua, primadona dari trend aplikasi transportasi online adalah ojek. Di tengah kemacetan Jakarta, kendaraan roda doa terlalu seksi untuk dilewatkan. Makanya, begitu ada satu-dua aplikasi ojek online yang sukses, banyak aplikasi tandingan yang muncul di Google Play dan Apps Store. Mulai dari ojek yang pake argo kayak taksi, ojek yang bisa pilih driver, sampai ojek khusus wanita. Kalo dibiarkan semakin lama, mungkin akan muncul ojek yang bisa jadi joki ujian masuk pegawai negeri.

gojek

Sekarang, hampir semua pekerja kelas menengah minimal pernah pake ojek online. Demand yang surplus, berimbas pada supply yang harus ditambah. Cerita driver ojek yang bisa membawa pulang uang 10 juta setiap bulannya bak lampu terang bagi laron-laron pencari uang. Karyawan swasta, polisi, manajer, bahkan dokter rela meninggalkan pekerjaan lamanya demi bisa mengenakan jaket hijau di jalanan.

Salah satu cerita yang pernah gua dapat, ada satu pilot maskapai kenamaan memutuskan untuk resign biar bisa jadi driver ojek. Gua langsung kebayang, di salah satu perjalanan bersama si penumpang, si mantan pilot itu tetap melakukan kebiasaan lamanya di penerbangan.

“Mbak,” panggil si abang ojek.

“Ya, Bang?”

“Sebentar lagi kita akan sampai di tujuan.”

“Lalu?” tanya si mbak penumpang.

“Mohon dapat menegakkan sandaran, melipat meja ke posisi semula, dan membuka jendela.”

“…” Continue reading

Permainan Legendaris

Mari bersantai sejenak dari masalah pernikahan dan dengarkan gua yang ingin bercerita tentang satu permainan. Bukan, ini bukan tentang permainan unik sekali, orang naik kuda tapi kuda bohong, namanya kuda lumping.

Tapi ini sebuah cerita tentang permainan di masa sekolah. Gua yakin, setiap masa di sekolah pasti ada permainan yang nge-trend dan dimainkan secara komunal oleh hampir semua siswa-siswinya.

Contohnya waktu SD. Yang cewe hobi main lompat karet, sementara yang cowo doyan jongkok di dekat cewe yang main lompat karet untuk memanfaatkan situasi.

Lain SD, lain lagi dengan SMA. Masa SMA juga dikenal sebagai masa pencarian jati diri. Biasanya, di masa SMA inilah, kita memutuskan untuk jatuh hati dan menggilai seorang penyanyi atau aktor tertentu. Dan biasanya juga, di masa inilah kita memainkan role play menjadi sang idola.

Misalnya, kalo pas SMA yang nge-boom itu film AADC, akan ada satu geng cewe-cewe yang membagi peran. Siapa yang jadi Cinta, Alya, Carmen, Maura, dan Milly. Kalo satu geng jumlahnya 6 orang, maka yang satu lagi bakal jadi Mang Diman.

Begitu juga dengan cowo-cowo. Pas gua SMA, yang lagi nge-boom itu film serial Taiwan: Meteor Garden. Makanya ga heran, banyak cowo di sekolah gua yang berlomba-lomba untuk jadi F4. Kami tiba-tiba memutuskan untuk bikin geng yang terdiri dari 4 orang. Ada yang pake bandana di jidat dan jadi Tao Ming Tse. Ada yang pake sweater rajut biar disangka mirip Hua Ce Lei. Ada juga yang bergaya bak Xi Men dan Mei Cuo. Tapi kalo dalam 1 geng ada 5 orang, maka yang satu lagi bakal jadi Mang Diman.

Jika SD dan SMA permainannya bisa beda dan beragam, namun gua yakin, saat SMP, kalian semua main permainan legendaris ini. Sebuah permainan yang menyebalkan tapi terus dimainkan. Sebuah permainan yang turun temurun. Sebuah permainan yang nge-trend abis. Yaitu… manggil nama orang tua!

“Woy, Bambang! Bambang!”

“Cieee, Eni…”

Pernah dong main gini pas SMP?
Continue reading

Tentang Kuliah Teknik Tenaga Listrik Yang Absurd Itu

Sebagai mahasiswa fakultas Teknik, gua banyak dibekali dengan mata kuliah yang erat hubungannya dengan sains. Ada Fisika Panas, dan Fisika Gelombang Optik. Ada Mekanika Teknik, dan ada Teknik Tenaga Listrik. Ada tempe goreng, ada ayam goreng, semua yang digoreng… asik, asik, asik.

Sampai mana tadi? Oiya, mata kuliah sains. Dari banyak mata kuliah sains itu, ada satu kelas yang dosennya ga bakal gua lupa. Nama mata kuliah itu Teknik Tenaga Listrik.

Sebelum mulai kelas pertama, udah ada kabar yang beredar kalo dosen yang ngajar itu seorang ibu-ibu, galak, dan pernah kerja sebagai menteri. Kabarnya lagi, banyak senior-senior di kampus yang ngulang mata kuliah ini karena faktor dosennya. Entah kabar ini datang dari mana, yang jelas gua dan teman-teman kuliah lainnya setengah percaya.

“Namanya sih kayak nama menteri,” kata seorang teman.

“Ah, yakin? Menteri apa mantri beranak nih?”

“Huss! Huss! Dosennya dateng tuh.”

Dosen yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Gua tegang menanti. Seperti apa ya rupanya? Apa dia segalak yang digosipin? Kalo marah, apa dia mecahin genteng pake jidat? Atau malah makan beling? Sesadis apa sih dia?

Bayangan ibu itu mulai tampak jelas dari balik jendela. Tangannya membuka pintu, dan terlihatlah wajahnya. Ia ternyata bukan seorang menteri, atau mantan menteri. Ia seorang ibu paruh baya, mengenakan jilbab rabbani, berwajah lugu, dan bermata sayu. Ia lebih mirip ibu-ibu kebanyakan yang sering tampil di acara masak Rudi Choirudin.

“Ya, Ibu-ibu, sekarang masukkan ipar rese ke dalam air mendidih.”

Ibu itu terus berjalan melintas di depan kelas, menuju meja dosen. Setelah itu, ia langsung menulis beberapa bahan di papan tulis. Sepuluh menit pertama, gua masih konsen ngedengerin bahan yang Ibu itu jelasin. Setengah jam berikutnya, gua mulai ngantuk dan menguap dengan brutalnya. Satu jam berikutnya, gua hampir terjatuh dari kursi saking ngantuknya. Gawat. Semua itu karena si Ibu ngajarin kami bagai anak TK!

“Jadi begini ya, anak-anak…”

Nadanya datar, tanpa emosi. Satu jam pertama ia hanya menulis materi kuliah, tanpa interaksi sama sekali dengan mahasiswanya. Materinya pun sebetulnya bisa dibaca di modul atau buku. Dia juga ga galak sama sekali. Beda banget sama kabar yang beredar selama ini. Gua sampe heran, kok gosipnya banyak senior yang gagal mata kuliah ini? Hoax nih, jangan-jangan.

Continue reading

Simfoni

Foto ini diambil saat gua dan teman-teman kuliah sedang melangsungkan semacam malam perpisahan, sekitar pertengahan tahun 2007, saat kami masih kurus dan cicilan rumah belum menjadi masalah.

kuliah

Ga bisa dipungkiri, kuliah dan tugas adalah dua hal yang ga bisa dipisahkan. Ngejar deadline tugas jadi aktivitas mayoritas bagi mahasiswa macam gua waktu itu. Bergadang sampai pagi lalu langsung berangkat kuliah tanpa tidur, jadi sebuah kegiatan yang terlihat lumrah dilakukan secara biologis.

Tapi tugaslah yang ternyata mampu mengakselerasi keakraban gua dan teman-teman kuliah. Rasa senasib dan sepenanggungan menjadi katalis bagi kedekatan kami. Kebutuhan untuk bercerita dan berkeluh kesah, menjadikan teman satu-satunya telinga yang mampu mengerti. Pengen sih cerita ke orang tua, tapi rasanya sulit untuk menceritakan betapa beratnya tugas kuliah Total Quality Management itu tanpa diberondong oleh ekspersi “Hah?”

Meski tugas bertumpuk, kami bukanlah segerombolan mahasiswa kutu buku yang kupu-kupu. Kuliah pulang, kuliah pulang. Kami lebih cocok disebut kumbang-kumbang. Kuliah ngambang, kuliah ngambang. Ngambang entah ke mana sepulang kuliah.

Ada banyak cerita menarik ketika kami memutuskan untuk ngambang setelah suatu kelas dinyatakan selesai atau saat ga ada kuliah sama sekali. Namun salah satu cerita favorit gua adalah ketika kami nonton di mall baru yang berada lumayan jauh dari kost-an. Sebuah cerita yang berawal dari ajakan iseng untuk nonton Shrek.

“Eh, makan terus nonton yuk? Ke mall Margonda aja,” ajak gua ke teman-teman kuliah yang kebetulan lagi berkumpul di kost-an Akbar.

Akbar, sambil masih mengenakan sarung dan kaos oblong, menanggapi, “Yuk. Boleh, boleh. Mau nonton apa?”

“Hmm,” gua mengingat-ingat film apa yang sedang tayang minggu itu, “Gimana kalo nonton Shrek?”

“Hah?” Akbar terlihat kaget, “Nonton SEKS? Di mana? DI MANA?”

“…”

Akhirnya, tanpa membahas lebih lanjut kenapa Akbar bisa salah mendengar sejauh itu, gua, Akbar dan beberapa teman lainnya berangkat ke sebuah town square di kawasan jalan Margonda. Mall itu terbilang baru sehingga kami penasaran dan pengen nyobain ke sana. Berbekal uang beberapa puluh ribu, kamu pun berangkat dengan naik angkutan umum.

Sebelum nonton, kami mau makan di food court di mall yang sama. Karena masih terhitung baru, mall itu masih sepi, begitupun dengan food court-nya. Yang kamu ga tau, makan di food court kala sepi adalah sebuah adegan yang mirip cerita horor. Kalo sepi, pegawai setiap counter makanan di food court jadi… SANGAT BERINGAS.
Continue reading