Category Archives: serious

Kesempatan

“Nih, liat nih, cincin Papa.”

Hampir seminggu sekali gua mampir ke rumah bokap nyokap untuk sekedar makan malam atau ngobrol tentang apa aja. Sabtu itu, di antara obrolan santai kami, tiba-tiba bokap masuk ke kamarnya dan kembali dengan nunjukin cincin berbatu akik warna merah. Awalnya, gua kira ini cincin batu akik pada umumnya. Namun, bokap berikrar bahwa ini bukan sembarang cincin batu akik.

“Kalo kena aer, batunya bisa nyala lho,” kata bokap sambil berjalan ke arah wastafel, “Tuh, tuh, liat tuh. Nyala kan?”

Gua yang awalnya apatis, jadi penasaran juga. Lah kok iya batu akik bisa nyala? Darimana sumber listriknya? Pas kena air kok malah nyala, bukannya nyetrum? Kok bisa-bisanya Agus dicalonin Gubernur DKI sama SBY? Dan seterusnya, dan seterusnya.

Muka bokap makin sumringah ketika gua berjalan mendekat dan tampak kebingungan. Dengan suaranya yang menggelegar, bokap bertanya, “Ayo tebak, kira-kira berapa harganya?”

Perlu diketahui, bokap gua bukan orang yang sayang uang. Bukan orang kaya, tapi juga bukan orang yang mikir dua kali untuk beli barang yang dia suka. Ketika dia ketemu sesuatu yang dia kepengen, dia bakal bayar berapa pun harganya, yang penting murah.

Jadi, kalo gua ditanya berapa harga cincin batu akik yang bisa nyala itu, jawabannya mungkin sekitar 500 ribu. Sebuah harga yang sepertinya masih masuk akal untuk ukuran dompet bokap gua. Tapi daripada berspekulasi, gua memilih untuk melakukan yang orang pintar biasa lakukan ketika bingung mau menjawab apa: bertanya balik.

“Berapa, Pa? Mahal ya?”

Bukannya menjawab, bokap malah bercerita. Continue reading

Seperti Papa

Gua ingin tumbuh seperti Papa.

Yang jarang merintah, malah suka memberi teladan.

Yang selalu bertindak, dan ga pernah ngomong doang.

Yang jujur apa adanya, tanpa pernah peduli gengsi.

Yang ga pernah mukul, tapi kita bisa segan kepadanya.

Yang bisa menjadi guru, tanpa pernah menggurui.

Yang ga pernah mengeluh, malahan sering melucu.

Yang cita-citanya ga setinggi langit, tapi usahanya sekeras karang.

Yang ga mengukur apapun dengan uang, namun dengan pencapaian-pencapaian.

Yang ga peduli apa kata orang, yang penting dia bahagia.

Yang definisi bahagianya hanya tidur cukup dan makan enak.

Yang jadi contoh sempurna akan idiom “bahagia itu sederhana”.

Dan yang telah, sedang, dan akan selalu menjadi pahlawan bagi anak-anaknya.

bokap

I love you, Pa.

Ngeberak

Sejauh yang gua ingat, bokap nyokap gua itu jarang banget ngasih petuah dalam hidup. Bisa dibilang, bokap nyokap gua itu bukan orang yang suka ngasih wejangan berjam-jam sambil duduk berhadapan.

Bokap nyokap gua bukan orang yang cukup pede untuk bisa ngasih nasehat berupa kata-kata. Pun ada sesi seperti itu, biasanya terselip dari sebuah cerita yang mereka sampaikan. Entah nilainya tersampaikan atau tidak, itu sepenuhnya kembali ke gua. Sama sekali ga ada paksaan.

Mereka lebih banyak menjadi teladan lewat tindakan. Lebih sering memberi contoh, ketimbang duduk dan melontarkan nasehat. Mereka hanya melakukan apa yang mereka percaya baik, dan berharap anak-anaknya dapat mencontoh di kemudian hari. Seperti yang gua bilang sebelumnya, sama sekali ga ada paksaan. Semuanya kembali ke gua.

Namun, sejauh yang gua ingat, pernah ada satu sesi di mana nyokap meminta gua duduk dan mendengarkan nasihatnya. Satu nasehat yang sampai hari ini masih gua inget dengan jelas. Nasehatnya ga panjang, cuma terdiri dari dua kata aja. Dua kata yang singkat dan padat: jangan ngeberak.

Yes, my lovely mom said that once.

Ya begitulah nyokap gua. Jarang ngasih petuah. Sekalinya ngasih, ya yang model gitu. Berbau-bau jamban. Continue reading

Porsi

Salah satu mimpi terbesar gua adalah bisa dikenal lewat karya tulisan. Bermimpi kalo suatu hari gua bisa diwawancara infotainment di televisi dengan pertanyaan, “Memangnya Roy sejak kapan udah suka nulis?”

Jika ditanya demikian, maka jawaban gua adalah, “Sejak SD. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, saya memang suka mengarang, khususnya saat keadaan tertekan.”

Setiap ada tugas yang mengharuskan gua untuk mengarang cerita, gua bisa minta kertas lebih saat teman yang lain masih berkutat dengan kalimat ‘pada suatu hari’. Bercerita lewat tulisan seperti manifestasi bagi otak bawel gua yang terjebak dalam sikap pemalu.

Iya, gua memang pemalu. Gua lebih banyak terdiam kalo sedang dalam keramaian. Pun jika menjadi pusat perhatian, gua bisa menjadi sangat ga nyaman dengan diri gua sendiri. Menulis jadi seperti terapi buat otak gua yang penuh akan kata-kata yang ga sempat dilontarkan lewat percakapan.

So I thought at that time, writing would fit for me just well. I told to myself that writing was meant for me.

Kegemaran gua akan menulis berlanjut sampai ke jenjang SMA. Gua sempat menulis cerita bersambung tentang Josh, seorang anak band SMA yang ganteng dan istiqomah. Cerita ini digandrungi oleh teman sekelas gua yang selalu menagih seri berikutnya. Dukungan dan dorongan ini yang terus membuat gua melaju di jalan ini.

Begitupun saat kuliah. Gua masih rutin berbagi cerita lewat mailing list teman-teman seangkatan. Cerita keseharian gua yang dibalut komedi jadi santapan renyah yang banyak ditunggu. Dan di saat kuliah ini pula gua berkenalan dengan novel-novel Indonesia yang gua jadikan referensi serta acuan saat menulis.

Mimpi dikenal lewat karya terus gua pupuk. Disuburkan dengan latihan dan referensi yang semakin banyak di pasaran.

Hal ini juga dipicu oleh semakin banyak lahirnya penerbit baru. Gua pun melihat ini sebagai sebuah kesempatan untuk mewujudkan mimpi yang udah lama tertanam. Di tahun 2008, gua nekad mengajukan naskah berjudul “Kancut” ke sebuah penerbit. Long story short, naskah itu rilis dengan judul “The Maling of Kolor” di tahun yang sama.

Waktu buku itu rilis, gua seneng banget. Rasanya pengen gua ngabarin ke seluruh dunia kalo buku gua udah terbit. Gua semangat abis. Karena sepertinya gua berada dalam jalan yang tepat untuk menggapai mimpi gua dulu. Jawaban ‘saya-menulis-sejak-SD’ kini seperti makin dekat untuk diucapkan.

Continue reading

Rumah

“Depan belok kiri ya, Bang. Masuk Kelapa Gading-nya lewat Mall Artha aja nanti.”

Si driver ojek online itu lalu menggeser tuas lampu sen pada gagang motornya. Mencoba mengikuti instruksi gua dengan taat demi rating yang baik.

macet

Sejak menikah, gua dan Sarah tinggal di Kelapa Gading. Sebuah daerah di utara Jakarta yang sepertinya akan mendeklarasikan kemerdekaannya sebentar lagi. Selain karena fasilitasnya yang lengkap, jaraknya yang jauh membuat orang sering bilang jangan lupa bawa passport saat berkunjung ke sana.

Nyatanya, Kelapa Gading memang jauh, setidaknya dari kantor gua di Senayan. Kurang lebih gua perlu waktu satu jam setengah setiap paginya untuk berangkat ngantor. Beda dua kali lipat jika gua berangkat dari rumah nyokap, sebelum menikah dulu.

“Di depan muter balik ya, Bang,” ujar gua sambil mengelap keringat di jidat yang mulai tercecer dari balik helm.

Naik motor satu setengah jam itu penuh tantangan. Selain mesti berpanas-panasan di antara kepulan asap knalpot, jalan yang bergelombang sering membuat pantat gua kesemutan. Gerakan naik turun dan getaran mesinnya kadang membuat gua merasa seperti sedang berzinah dengan motor.

Sebetulnya, berbagai rute dan moda transportasi umum udah gua coba waktu awal-awal pindah ke Kelapa Gading. Ada TransJakarta yang bisa langsung mengantarkan gua ke kantor dengan hanya sekali berpindah koridor. Namun belum sterilnya jalur dan ga jelasnya waktu kedatangan membuat gua membutuhkan waktu dua jam agar bisa sampe di kantor.

Alternatif jalan kaki sempat terpikir. Namun berangkat subuh pun, sepertinya gua akan sampai di kantor ketika udah jam lembur. Bawa mobil pribadi masih gua simpan di opsi terakhir. Selain biaya bensin dan parkir yang kayaknya lebih mahal, ga ingin membuat Jakarta lebih macet adalah alasan gua masih memilih naik angkot untuk berangkat ke kantor.

Meski gedung kantor gua ada helipad, naik helikopter jelas bukan pilihan yang bijak. Menyicil helikopter bisa membuat gua makan kerak nasi untuk 70 tahun ke depan. Enam puluh sembilan, jika tujuh puluh dirasa lebay. Continue reading