Kita yang Pilih

Seperti yang pernah gua bilang di postingan ini, dulu gua ini anak yang bandel. Meski sekarang gua terlihat kalem, baik, serta rajin membantu ibu, gua ini dulunya bandel banget.

Kalo dirunut-runut, kebandelan gua itu dimulai sejak gua duduk di bangku Taman Kanak-Kanak (TK). Seberapa bandel kah gua kala itu? Biar gampangnya gini. Kalo nyokap anak lain khawatir apakah anaknya akan betah di sekolah atau tidak, nyokap gua khawatir apakah gua bikin anak lain betah di sekolah atau tidak.

Hal itu gua ketahui dari cerita bokap nyokap yang sering mereka lontarkan setelah makan malam bersama. Yang kabur dari sekolah minggu lah, yang ngeberantakin kursi satu kelas lah, yang berak di celana lah, atau apa lah.

Satu yang paling gua ingat adalah kejadian gua ngeberantakin kursi di kelas. Waktu itu, jam udah menunjukan waktunya pulang sekolah. Kursi-kursi diangkat ke atas meja. Guru meminta satu murid untuk memimpin doa pulang. Murid yang paling baik dan favorit guru diminta untuk maju ke depan kelas. Itu jelas bukan gua. Gua duduk di paling belakang, dekat jalan keluar menuju WC. Maklum, gua sering berak di celana kala itu.

Ketika murid-murid sedang memanjatkan doa, kala kelas lagi hening-heningnya, gua memutuskan untuk melakukan sesuatu sebagai ice breaker. Gua jatuhin bangku satu per satu dari atas meja.

Anak setan bukan?

“Kamu tuh pernah diancem guru TK kamu lho,” kata nyokap gua sekali waktu, “Mau dimasukin ke panti asuhan gara-gara bandel banget. Kamu diminta bilang ke Mama buat bawain kamu baju di dalem plastik, soalnya disuruh nginep di panti asuhan.”

“Terus Roy bilang apa, Ma?” tanya gua yang lupa-lupa inget kejadian itu.

“Pas sampe rumah, bukannya takut, eh kamu malah kegirangan. ‘Mama, Mama! Bawain Roy baju dong! Roy mau nginep nih!’. Gagal total deh tuh anceman guru.”

Saking bandelnya, guru TK itu sampe sekarang masih inget gua dan nyokap gua. Setiap guru itu ketemu nyokap gua di jalan, dia selalu nanya apa gua udah insaf atau malah dagang narkoba. Gua memang memorable banget deh.

Kalo nyokap khawatir dengan kebandelan gua, lain lagi dengan bokap. Bokap gua malah memanfaatkan kebandelan gua itu.

Tiap pagi, bokap bertugas untuk nganterin gua ke sekolah, atau lebih tepatnya, nemenin gua sampai ke depan kelas. Bukan, bukan karena takut gua kabur dan membuka kehidupan baru di suatu kabupaten. Tapi karena TK gua itu ada di dalam satu komplek beberapa gedung sekolah yang terdiri dari SMA sampai TK.

Gedung TK-nya sendiri ada di paling dalam. Perlu waktu sekitar lima menit untuk berjalan kaki dari pintu gerbang sampai ke kelas TK gua. Sebuah jarak yang cukup jauh bagi anak kecil. Makanya nyokap mewanti-wanti bokap untuk nemenin gua sampai ke depan kelas.

Hari pertama sekolah, bokap gua memarkir motornya dan menemani gua berjalan kaki menuju kelas. Hari kedua, motor bokap masih menyala di depan gerbang dan bokap melontarkan satu pertanyaan yang jadi inti postingan kali ini. Continue reading

Advertisements

Menulis Kembali

Seperti yang pernah gua ceritain di sini, sejak tahun 2014 gua memutuskan untuk berhenti berkarya lewat buku.

Hasil yang ga sepadan dengan usaha jadi alasan utama mengapa waktu itu gua enggan menulis buku kembali. Rasanya segala sumber daya yang gua punya lebih layak untuk difokuskan ke hal-hal lain. Hal-hal selain menulis buku.

Bekerja kantoran, mengurus usaha sampingan, membangun keluarga yang harmonis, serta hal-hal lain dalam hidup yang sepertinya lebih pantas untuk gua prioritaskan. Bagi gua, menulis jadi urutan ke sekian dalam beberapa tahun terakhir.

Buktinya terlihat dari blog yang makin jarang di-update. Dulu, sebulan bisa 10 postingan. Nge-blog udah kayak ngapel pacar, seminggu dua kali. Nulis kayak kesurupan. Apa aja bisa jadi bahan postingan. Ngeliat motor ngepot aja jadi ide cerita. Sekarang, sebulan sekali aja udah puji syukur ke hadirat yang Maha Kuasa.

What happened? Life happened.

Kesibukan, kemalasan, keenakan, begitu tumpang tindih. Entah mana alasan utama yang coba gua sodorkan pada hidup. Hanya tumpukan pembenaran kalo gua udah enggan menulis buku.

But life always surprise you when you least expect it.

Di saat gua sedang menikmati rutinitas, hidup membalas alasan gua dengan satu hal. Yang terus mengganggu sejak tahun lalu. Yang mengusik hati hampir setiap hari. Yang lalu kian matang seiring isu sosial yang terus berkembang.

Sebuah hal bernama keresahan.

Continue reading

Pindah

Empat bulan terakhir ini hidup gua gonjang-ganjing.

Sejak akhir tahun lalu, gua dan Sarah harus pandai-pandai mengatur keuangan dan menata kembali ritme hidup. Semua bermula ketika gua memutuskan untuk berpindah kerja. Kantor baru, artinya tantangan baru, lingkungan baru, lokasi gedung yang baru, dan hal-hal baru lainnya.

Semua kayak isi bensin. Dimulai dari nol lagi.

Ga ada lagi wajah-wajah lama yang udah tau kerja gua kayak apa. Ga ada kantin kantor yang gua tau kapan kosongnya. Ga ada lagi rute pulang yang gua tau gimana selanya. Kenapa macet bangetnya, jam berapa agak lenggang, dan kapan gua mesti mulai bangun tenda di lobby kantor.

But I have to start this new journey.

Belajar lagi untuk tau apa yang bos mau. Melatih diri ngadepin bos divisi sebelah yang kalo meeting mukanya asem banget. Mencoba memahami apa hukuman sosial bagi mereka yang suka pulang tenggo. Apakah dicambuk, diarak massa, atau diminta baca komen detik.com satu per satu?

Ketika gua mulai menemukan pace di kantor yang baru, semesta berkehendak lain. Di bulan Maret kemarin, gua memutuskan untuk berpindah kantor lagi. Yes, I changed job in 3 months time. Didorong oleh ketidaknyamanan dan diajak oleh atasan yang lama untuk bekerja sama kembali, membuat gua mengiyakan tawaran berpindah dengan lumayan cepat.

Penyesuaian yang satu belum selesai, mulai lagi penyesuaian baru.

Pekerjaan baru, bisa dipelajari. Teman baru, dapat dicari. Yang paling membuat gua pusing dengan perpindahan-perpindahan ini adalah rute transportasi yang harus gua tempuh setiap hari.

Masih dengan semangat #YukNgangkotYuk, gua tetap memutuskan untuk ga bawa mobil ke kantor. Rasanya jalanan Jakarta udah cukup penuh untuk ditambah satu mobil lagi. Demi kewarasan, gua memilih untuk naik kendaraan umum atau transportasi online. Menghindari macet yang sering terlihat bak parkir massal di jalan raya.

Apalagi lokasi kantor gua yang sekarang terletak di salah satu lubang neraka Jakarta. Jalan Doktor Satrio. Yes, that so called segitiga emas Doktor Satrio. Continue reading

Menelusuri Keindahan Sulawesi Dengan Trigana Air

Meski belum pernah ke sana, gua meyakini kalo Sulawesi memiliki banyak pesona alam yang sayang jika dilewatkan. Ga salah jika perlahan, wisata di Sulawesi semakin terkenal tak hanya di dalam negeri, tapi juga sampai ke mancanegara.

Meski begitu, destinasi wisatanya belum sebanyak Bali. Namun beberapa di antaranya udah jadi salah satu tujuan impain para traveler dunia, seperti Bunaken, Wakatobi dan Toraja.

Ada beberapa maskapai yang memiliki rute ke tempat ini, salah satunya adalah Trigana Air. Berbasis di bandara Soekarno Hatta, Trigana Air melayani ke 20 destinasi di nusantara. Bahkan, Trigana melayani rute ke Papua dengan harga terjangkau. Dengan Slogannya “We Serve You Here, There, and Everywhere”. Maskapai milik swasta ini menjanjikan pelayanan yang maksimal untuk penumpangnya di semua rute.

Trigana pun mempermudah kalian yang ingin berlibur ke Sulawesi dengan menyediakan rute penerbangan ke sana. Dan sebagai pertimbangan, berikut beberapa spot wisata Sulawesi berskala internasional yang bisa kalian kunjungi.

Menyelam dan Nikmati Surga Bawah Laut Taman Nasional Wakatobi

sulawesi1

Indonesia memiliki banyak Taman Nasional, salah satunya adalah Wakatobi. Banyak penyelam yang menyebutnya Surga bawah laut. Bahkan sebuah ekspedisi dari Inggris pun dilakukan untuk meneliti jumlah spesies terumbu karang di Wakatobi. Dan hasilnya adalah 750 dari 850 jenis spesies di dunia ada di Taman Nasional Wakatobi ini. Negeri ini kaya luar biasa bukan? Continue reading

Oh No Shanghai Metro

Kereta adalah moda transportasi favorit gua saat berkelana di negera orang. Jika ada, maka kereta lah yang pasti gua pilih untuk wara-wiri selama di kota destinasi. Kalo kereta ga ada, maka pilihan akan bergulir dari bus, taksi, dan pilihan terakhir, ojek gendong.

Begitupun saat gua dan Sarah jalan-jalan ke Shanghai, November tahun lalu. Kami berdua selalu naik kereta selama berada di kota terpadat dan tersibuk di Tiongkok itu. Jika di Singapura namanya MRT, Metro adalah nama yang disematkan untuk moda transportasi yang ga akan kena macet itu.

Shanghai Metro adalah rapid transit system dengan rute terpanjang di dunia, yakni sekitar 588 kilometer. Kalo naik go-jek, udah pasti ga dapet promo dan dijamin ga ada driver yang mau ambil. Selain itu, Shanghai Metro berada di peringkat kedua -setelah New York- untuk jumlah stasiun terbanyak dengan 364 stasiun. Shanghai Metro juga berada di peringkat kedua untuk jumlah penumpang dengan total 3 milyar penumpang setiap tahunnya.

Jadi, bisa dibayangin betapa besar dan pentingnya Shanghai Metro bagi warga lokal dan juga bagi turis yang suka berkereta macam gua ini.

Namun pengalaman berkereta gua di Shanghai jauh berbeda dengan kota-kota lain yang pernah gua kunjungin. Gua terkejut-kejut, terkaget-kaget, tercengang, tersentak, terperangah, terperanjat, dan terheran-heran.

Nah di postingan kali ini gua mau cerita beberapa kejadian yang bikin pengalaman berkereta gua di Shanghai jadi catatan tersendiri.

1. It’s time to rumble!

Berbeda 180 derajat dengan Tokyo yang rapih jali saat naik turun penumpang, berkereta di Shanghai bak perang kolosal. Ada beberapa faktor yang membuat perang saat berkereta ini bisa terjadi. Pertama, penumpang yang sedang menunggu kereta, ga mau ngantri. Mereka berjubel di depan pintu, tanpa memberi celah bagi penumpang yang nantinya akan turun dari kereta.

Hal ini berimbas ke faktor berikutnya: mereka ga membiarkan penumpang yang akan turun untuk keluar duluan. Kebayang kan betapa chaos-nya?

Begitu pintu kereta terbuka, genderang perang ditabuh. Penumpang yang akan masuk dan keluar jadi dua kubu yang saling berhadapan. Yang ingin naik, bergegas melangkahkan kaki sesaat pintu terbuka, entah karena didorong orang di belakangnya atau berharap dapat tempat duduk karena perjalanannya yang jauh. Yang ingin turun, menerobos kawanan orang-orang ga sabaran sebelum pintu tertutup dan kelewatan stasiun tujuannya.

Jika dalam gerakan slow motion, proses perpindahan penumpang ini terlihat seperti perang kolosal. Kebayang kan? Continue reading