Tag Archives: bokap

Seperti Papa

Gua ingin tumbuh seperti Papa.

Yang jarang merintah, malah suka memberi teladan.

Yang selalu bertindak, dan ga pernah ngomong doang.

Yang jujur apa adanya, tanpa pernah peduli gengsi.

Yang ga pernah mukul, tapi kita bisa segan kepadanya.

Yang bisa menjadi guru, tanpa pernah menggurui.

Yang ga pernah mengeluh, malahan sering melucu.

Yang cita-citanya ga setinggi langit, tapi usahanya sekeras karang.

Yang ga mengukur apapun dengan uang, namun dengan pencapaian-pencapaian.

Yang ga peduli apa kata orang, yang penting dia bahagia.

Yang definisi bahagianya hanya tidur cukup dan makan enak.

Yang jadi contoh sempurna akan idiom “bahagia itu sederhana”.

Dan yang telah, sedang, dan akan selalu menjadi pahlawan bagi anak-anaknya.

bokap

I love you, Pa.

Advertisements

Ngeberak

Sejauh yang gua ingat, bokap nyokap gua itu jarang banget ngasih petuah dalam hidup. Bisa dibilang, bokap nyokap gua itu bukan orang yang suka ngasih wejangan berjam-jam sambil duduk berhadapan.

Bokap nyokap gua bukan orang yang cukup pede untuk bisa ngasih nasehat berupa kata-kata. Pun ada sesi seperti itu, biasanya terselip dari sebuah cerita yang mereka sampaikan. Entah nilainya tersampaikan atau tidak, itu sepenuhnya kembali ke gua. Sama sekali ga ada paksaan.

Mereka lebih banyak menjadi teladan lewat tindakan. Lebih sering memberi contoh, ketimbang duduk dan melontarkan nasehat. Mereka hanya melakukan apa yang mereka percaya baik, dan berharap anak-anaknya dapat mencontoh di kemudian hari. Seperti yang gua bilang sebelumnya, sama sekali ga ada paksaan. Semuanya kembali ke gua.

Namun, sejauh yang gua ingat, pernah ada satu sesi di mana nyokap meminta gua duduk dan mendengarkan nasihatnya. Satu nasehat yang sampai hari ini masih gua inget dengan jelas. Nasehatnya ga panjang, cuma terdiri dari dua kata aja. Dua kata yang singkat dan padat: jangan ngeberak.

Yes, my lovely mom said that once.

Ya begitulah nyokap gua. Jarang ngasih petuah. Sekalinya ngasih, ya yang model gitu. Berbau-bau jamban. Continue reading

Jawaban Bokap Pagi Itu

Banyak yang ga tau, kalo gua adalah satu-satunya di keluarga yang memilih untuk menjadi seorang pegawai kantoran. Bukan, bukan, yang lain bukan meniti karier sebagai superhero. Tapi bokap, nyokap, dan kakak gua adalah seorang wirausahawan.

Nyokap punya usaha jahit kecil-kecilan yang mengkhususkan diri di pakaian pesta pernikahan. Mulai dari pesta pernikahan modern sampai yang tradisional, bisa nyokap kerjain semua. Yang ga bisa cuma pesta narkoba aja kayaknya.

Setali tiga uang dengan nyokap, kakak gua juga berwirausaha. Dia seorang pedagang pakaian yang dijajakan dari bazzar ke bazzar. Pakaian yang dijual bervariasi, mulai dari baju anak sampai baju remaja perempuan kayak cardigan atau oversized blouse.

Bokap gua apalagi. Udah 40 tahun lebih bokap mendedikasikan diri sebagai pedagang di salah satu pusat perbelanjaan tradisional di Jakarta Timur. Barang yang bokap jajakan ga jauh-jauh dari sarung, kain batik, seprai, dan kain-kain lainnya. Yang ga dijual kayaknya cuma kain help falling in love with you.

guys? Ini ceritanya baru mulai ini. Kok udah nyetopin bajaj gitu? Guys?

Anyway, kesimpulannya, gua adalah satu-satunya di keluarga yang bekerja di belakang meja, di dalam taman cubicle. Gua satu-satunya yang terima slip gaji di setiap akhir bulan. Gua satu-satunya yang masih bisa tiduran di hari Sabtu, saat bokap, nyokap, dan kakak gua harus bangun pagi untuk membuka usahanya.

Perbedaan ini juga yang selalu jadi pertanyaan kalo gua lagi diwawancara kerja. Setelah tau bahwa keluarga gua kebanyakan jadi pedagang, biasanya mereka akan bertanya, “Kenapa kamu ga mengikuti jejak orang tua dan kakak jadi pedagang?”

“Karena saya…”

“Ya?”

“…berjiwa rebelious.”

Jika wawancaranya dilakukan via Whatsapp, udah pasti gua akan menambahkan emot (‘-‘)9 di akhir kalimat… yang bisa saja dibalas oleh si pewawancara dengan emoticon eek.

Meski berbeda dari keluarga, setidaknya gua masih membawa darah bercanda dari bokap. Pernah suatu hari, bokap cerita bahwa di tokonya ada seorang pembeli yang menanyakan seprai mana yang bisa membuat kasurnya terasa adem dan dingin. Bokap ga langsung menjawab, hening sejenak, malah kemudian bertanya balik.

“Bu,” panggil bokap gua.

“Ya, Pak?”

“Ibu di kamarnya pake AC ga?”

“Belum, Pak.”

“Percuma, Bu. Mau seprai 4 juta juga, kalo ga ada AC mah tetep gerah.”

Jika ini telenovela, mungkin si ibu udah berlari pulang ke rumah, lalu menangis di bawah pancuran.

Continue reading