Tag Archives: bongkar lemari

Selagi Bisa

Gua pernah heran, dari mana asal muasal sifat nekad gua?

Karena bisa dibilang, gua ini orang yang suka bertualang. Suka pergi ke tempat-tempat yang belum pernah didatengin, nonton pertunjukan yang orang jarang pilih, atau nyobain makanan-makanan baru yang bisa aja bikin sakit perut. Dan itu semua beda banget sama Papa dan Mama gua.

Terutama Papa. Beliau kalo makan, menunya ya itu lagi-itu lagi. Kalo nonton, nunggu pendapat orang-orang yang udah nonton dulu, baru dia mau ikutan nonton. He’s playing safe.

Udah gitu, beliau lebih suka menghabiskan waktu di rumah, beristirahat jika sempat, atau mengurusi bagian-bagian rumah yang perlu diurusi. Nyapu halaman, ngerapihin genteng, atau ngereparasi pemutar audio yang ia koleksi. Papa benar-benar orang rumahan, sementara gua suka bertualang.

Salah satu petualangan terseru gua adalah waktu jalan kaki sejauh 5 kilometer. Hari itu lagi ada demo hari buruh sehingga jalanan Jakarta benar-benar macet total. Bus dan mobil-mobil bagai parkir di tengah jalan, hanya bisa menunggu pasrah jalanan untuk terurai. Daripada membuang waktu dengan naik angkot yang terjebak macet, akhirnya gua memutuskan untuk berjalan kaki dari kantor gua sampai ke jalanan yang sedikit lebih lapang untuk mencari ojek atau taksi. Begitu sampai rumah dan menceritakan hal ini, gua diomelin sama Papa.

Gua juga suka beli tiket traveling mendadak. Kayak waktu ke Filipina akhir tahun 2012, atau ketika gua secara impulsif melakukan perjalanan ke Kuala Lumpur untuk menonton Liverpool. Gua orangnya nekad, tapi Papa tidak.

Makanya gua sempat heran, dari mana sifat nekad ini berasal?

Continue reading

Advertisements

Have Fun di Jungleland!

Setiap orang pasti pernah menyimpan benda memorable di dalam lemarinya. Bagi gua, salah satu benda memorable itu adalah robekan tiket. Entah itu potongan tiket nonton konser, pertandingan sepakbola, atau pertunjukan teater. Sama seperti kaos, kadang sepotong tiket punya cerita seru nan menyenangkan yang terkandung di dalamnya. Salah satunya adalah ketika gua dan pacar main-main ke Jungleland, Sabtu kemarin.

Jungleland terletak di kawasan Sentul Nirwana, Bogor. Kalo bawa mobil pribadi, ambil tol Jagorawi, keluar di pintu tol Sentul City, lalu belok kiri, dan ikutin aja petunjuk yang ada. Dari pintu tol, kurang lebih butuh waktu 15 menit untuk mencapai Jungleland. Iya, saudara-saudara, 15 menit saja!

Gimana barusan? Gua udah kedengeran kayak Fenny Rose lagi jualan komplek rumah belom?

Anyway,

Gua, pacar, beserta rombongan lainnya tiba di sana sekitar jam 11 siang. Awalnya, gua mengira akan disambut oleh cuaca panas dan bermandi keringat seharian. Gua sampai bawa handuk kecil buat nyeka keringat selama bermain. Namun ternyata gua salah. Hawanya enak banget! Mungkin karena lokasinya yang dekat sama gunung membuat udaranya sama sekali ga panas dan anginnya pun sejuk. Wuenak tenan!

Begitu sampai Jungleland, kita langsung disambut oleh lahan parkir yang gede banget. Meski udah banyak mobil dan bus yang parkir, masih ada beberapa slot parkir yang kosong. Jadi kalo kalian mau bawa mobil pribadi ke sini, ga akan dibuat pusing masalah parkir.

Yang bikin rada jiper adalah, dari area parkir aja, udah kedengeran teriakan-teriakan dari para pengunjung yang lagi main entah wahana apa. Campuran antara teriakan takut dan kesenengan. Ini terdengar seperti teriakan seorang abege pecinta K-Pop yang lagi nonton Super Junior bareng ular sanca. Seneng sih, tapi takut-takut gimanaaa gitu.

Ditarik teriakan itu dan didorong rasa penasaran yang menjulang, gua pun melangkah masuk ke dalam Jungleland.

Setelah melewati Robot Zoo, kita tiba tepat di tengah area Jungleland. Di sana, ada 3 wahana utama yang sepertinya jadi sumber suara teriakan yang terdengar dari area parkir tadi. Kalo diliat dari pendeknya antrian, sepertinya ini wahana-wahana yang lumayan ekstrim. Sumpah antriannya pendek banget. Ibarat jatuh cinta, ini seperti belom jadian tapi udah move on.

Dengan adrenalin yang makin terpacu, gua langsung menuju wahana ekstrim pertama: Disk’O.

Disk’O berbentuk piringan dengan kursi-kursi yang menghadap keluar. Gerakannya mengayun dengan tingkat kemiringan 45 derajat dari titik awal. Jika itu masih dirasa kurang ekstrim, tambahkan gerakan memutar dengan kecepatan yang bisa bikin Luna Maya terlihat tidak High Definition setelahnya. Kenceng, Bro!

Setiap kali piringannya naik, kita seperti roket yang lepas landas dan bisa melihat langit dengan jelas dalam sepersekian detik. Namun setiap turun, kantung kemih kayak ditoyor-toyor, Bro. Bikin pengen pipis!

Disk'O

Disk’O. Ajeb-ajeb banget!

Setelah naik Disk’O, kita memutuskan untuk mengistirahatkan jantung dan naik wahana yang lebih kalem. Tujuan kita berikutnya adalah Mobil Jeger-Jeger atau yang biasa dikenal dengan nama Bom-Bom Car.

Karena mobilnya masih baru, mobil di wahana ini prima banget. Kendali dan tenaganya masih bekerja dengan sangat baik. Dengan tenaga yang masih oke, kita jadi bisa nabrak dengan kekuatan penuh. Dan dengan kendali yang optimal, kita bisa menghindar tabrakan dengan kekuatan penuh tadi. Seru!

mobil jeger-jeger

Mobil ini bukan pemberian Ahmad Fathanah Continue reading

Wawancaur: Relocation Mommy

Dalam suatu siklus kehidupan, setiap manusia pasti akan mengalami fase pindah. Entah itu pindah sekolah, pindah hati, ataupun pindah rumah. Di wawancaur kali ini, gua akan coba ngobrol-ngobrol dengan seorang istri dan ibu yang sedang mempersiapkan kepindahannya dari Jakarta ke Bali: Meira Anastasia.

Pertama kali follow-followan di Twitter sama Meira (@meiraa_) itu setelah gua nonton pertunjukkan suaminya, Ernest Prakasa and The Oriental Bandits (tenang, Nest, ga sampe DM-DM an dan minta nomor hape kok). Dari akun Twitternya, gua jadi tau bahwa ternyata Meira juga seorang blogger yang giat menulis di http://anastasiameira.wordpress.com. Kalo kalian lagi mencari bacaan tentang topik sehari-hari dengan penyajian yang berbeda, blog Meira tadi sangat gua anjurkan.

Kepindahan Meira sekeluarga ke Bali membuat gua usil, penasaran, dan ingin mencari tau lebih jauh. Kenapa Bali dan cerita di balik layar pindahan lainnya akan gua coba kulik di wawancaur kali ini bareng Meira.

Wawancaur adalah proses wawancara yang dilakukan secara awur-awuran. Pertanyaan disusun semena-mena dan boleh dijawab suka-suka. Proses wawancaur dengan Meira benar-benar dilakukan via email sebelum Meira dan keluarga pindah ke Bali. Wawancaur diedit sesuai kebutuhan. Gambar adalah milik pribadi narasumber. Terima kasih.

meira anastasia and fam

Hai, Mei! Apa kabar? Lagi sibuk apa nih sekarang?

Hai Roy! Gue lagi sibuk siapin pindahan dari Jakarta ke Bali. Dan pindahan dari umur 20an jadi umur 30… yah, ketauan deh, tuir. Maaf, belum move on.

Eaaa. Belum move on dari umur tapi udah mau move on dari Jakarta kan.

Iya nih!

Kenapa mau pindah dari Jakarta, Mei? Titik apa yang membuat akhirnya lu bilang, “Gue capek ama Jakarta!”?

Mungkin bukan “capek sama Jakarta” kalo buat gue. Karena gue ga kerja, jarang keluar rumah, jadi jarang kena macet-macetan. Cuma bisa “oooh” aja kalo banyak temen-temen yang lagi misuh-misuh di Twitter karena kena macet.

Bagi gue, turning point-nya adalah Sky (anak gue) udah mulai gede (3 tahun) dan dia ga bisa diem banget. Dia perlu banyak ruang untuk bergerak, lari, manjat, main-main di luar. Tapi, yang ada di Jakarta ya tempat-tempat yang artificial.

Iya sih. Palingan di mall ya kalo di Jakarta.

Kalo ga di mall, ya di tempat main. Tapi semuanya ga ada yang dekat dengan alam. Susah banget nyarinya.

Kenapa Bali? Continue reading

Wawancaur: Solemate

Sulit untuk memisahkan wanita dengan aksesorisnya. Ya pakaian lah, ya tas lah, ya sepatu lah. Seperti halnya dua sahabat bak soulmate yang sama-sama lahir di bulan Mei ini: Mia Haryono dan Grahita Primasari.

Penggemar sepatu jenis stiletto dan open-toe pump ini telah membawa kecintaan mereka akan sepatu ke jenjang berikutnya. Setelah sukses dengan Trave(love)ing, mereka akan merilis buku yang menganalogikan cinta dan sepatu! Bersama dengan 18 wanita penikmat sepatu lainnya, mereka siap merilis buku yang berjudul Solemate ini ga lama lagi.

Kayak gimana sih ide awal proses pembuatan buku Solemate? Dan apa pendapat mereka tentang sepatu-sepatu yang bikin sakit saat dipakai? Dua pertanyaan dan hal-hal krusial (cailah) lainnya bisa disimak di wawancaur from soulmate to Solemate kali ini.

Wawancaur adalah proses wawancara yang dilakukan secara awur-awuran. Pertanyaan disusun semena-mena dan boleh dijawab suka-suka. Proses wawancaur dengan Mia (MH) dan Grahita (GP) benar-benar dilakukan via Whatsapp. Wawancaur diedit sesuai kebutuhan. Gambar adalah milik pribadi narasumber. Terima kasih.

mia gelaph - solemate

Hai, Mia, Grahita. Kita langsung mulai ya wawancaurnya.

MH: Oke sip.

GP: Ho oh.

Menurut kalian, kenapa sih cewe itu bisa punya sepatu banyak banget? Kalo cowo kayak gua kan satu dua pasang rasanya udah cukup.

MH: Kalo gue, biar gak bosen aja sih. Bisa gonti-ganti sesuai baju, misalnya.

GP: Karena cewek itu suka dan pingin terlihat cantik. Dan sepatu itu emang salah satu hal yang bikin cantik. Apalagi stiletto. Bikin postur tubuh jadi tegak, keliatan bagus gitu.

Kalo kalian sendiri punya sepatu berapa pasang?

MH: How many shoes that I have? One more, please! :p

GP: Errr… gak ngitung sih. Tapi rak 5 susun penuh sama sepatu. Sebelahnya masih ada tumpukan kotak sepatu lagi.

Buset.

GP: Kira-kira aja deh tuh, Roy.

Kalo sepatu yang bagus itu yang kayak gimana menurut kalian berdua?

MH: Relatif sih. Gue akan bilang bagus itu pertama modelnya. Kemudian pas dan enak dipake atau nggak, bikin kaki bagus atau enggak. Ketiga, harga :|

GP: Tergantung bentuk kaki sih. Tapi kalo gue, sepatu bagus itu yang bikin kaki keliatan lebih ramping, betis lebih jenjang, kulit lebih cerah.

Itu sepatu apa cream anti aging?

GP: Hahahaha, ngehek.

Beauty is pain. Misalnya, sepatu heels yang ga nyaman biasanya bikin terlihat lebih cantik. Kalian setuju ga sama itu? Continue reading

His Closet: Kaos yang Memorable

Dibanding kemeja atau polo shirt (kaos berkerah), gua lebih suka pake kaos. Kalo pake polo shirt, rasanya kayak mau ke berdiri di pinggir jalan terus nanya, “Permisi, Kak. Ada waktunya 2 menit aja? Kita ga jualan kok”. Kalo pake kemeja rasanya lain lagi. Bawaannya pengen ke kondangan terus ngantri di stand siomay.

Kaos juga multifungsi. Jika dipadupadankan dengan celana pendek, cocok buat acara santai atau untuk nangkring di pantai. Kalo mau hang out ke mall, bisa pake kaos plus celana panjang dari bahan jeans. Ada kawinan? Tenang aja. Kaos polos yang lu pake tinggal dilapis sama jas semi formal dan pake bawahan celana panjang, maka pasti diperbolehkan masuk deh sama satpam tempat resepsi. 

Maka dari itu, gua koleksi kaos lumayan banyak dan beragam. Ada segala warna dan jenis. Boleh, Kak. Liat aja dulu, Kak.

Kebanyakan dari kaos-kaos itu gua beli saat lagi traveling. Setiap ada rejeki untuk jalan-jalan, gua selalu menyempatkan diri untuk beli kaos yang unik di destinasi itu. Tapi ga jarang juga, gua hanya nitip ke teman-teman yang kebetulan sedang berwisata atau menetap di sana.

Kalo beli kaos pas traveling, kenyamanan bukan faktor utama bagi gua. Seringnya, gua lebih mementingkan kata-kata atau gambar yang tercetak. Yang penting unik, lucu, atau khas daerah sana.

Nah, berikut ini gua mau share beberapa koleksi kaos yang pernah gua beli atau titip dari sebuah destinasi traveling. Mulai dari yang biasa banget, sampai yang rada geblek. Blog ini bukan fashion blog, jadi tenang aja, gua ga akan memeragakan kaos itu kok. Your eyes can read in peace.

Akan ada 5 kaos yang bakal gua share kali ini. Untuk menelusuri satu per satu, kalian tinggal klik tombol pages di bagian bawah dari postingan ini.

Contohnya, untuk ngeliat kaos pertama, kalian tinggal klik tombol 2 di bawah. Yuk!