Tag Archives: book

Versus: Ter-Anak Gunung!

Selamat datang di segmen Versus! Teng teng teng! Segmen paling baru di saputraroy.com yang hadir satu kali setiap bulannya!

Setelah sukses dengan Versus: Ter-Orang Kantoran bulan lalu, di bulan ini gua kembali menggelar segmen versus lagi. Kali ini, dua kontestan terpilih akan memperebutkan gelar paling anyar: Ter-Anak Gunung!

Masih sama dengan edisi sebelumnya, gua akan melemparkan 10 set pertanyaan random yang sama ke dua kontestan. Masing-masing akan menjawab secara terpisah, sehingga lawannya ga akan tau jawaban apa yang ia berikan.

Nah, sebentar lagi gua akan memperkenalkan dua kontestan terpilih bulan ini. Dua orang cowok pendaki yang tangguh dan ulet kayak buruh minta kenaikan upah. Mari kita sambut keduanya!

Kontestan pertama! Pemuda tampon (tidak typo) ini adalah seorang pendaki newbie. Lulusan Universitas Indonesia ini baru naik gunung sejak tahun 2013 dan merupakan Ketua Dewan Pembina dari blog jalanpendaki.com. Mari kita sambut, dari sudut biru, Acen Trisusanto!

Kontestan kedua! Cowok ganteng kata ibunya ini telah malang melintang di dunia pendakian sejak ia masih duduk di bangku SMA. Bersama-sama dengan Acen, lulusan Politeknik Jakarta ini baru aja menelurkan buku kumpulan cerita pendakian berbau horor yang berjudul Penunggu Puncak Ancala. Dengan jangkauan lengan 100 centimeter, dari sudut merah, Indra Maulana!

Siapakah yang layak diganjar gelar ter-anak gunung? Siapa yang lebih trengginas dalam mendaki gunung, lewati lembah? Temukan jawabannya di versus edisi bulan ini.

Versus adalah proses tarung tanya jawab asal-asalan. Penilaian dan pemberian poin dilakukan secara sepihak dan semena-mena oleh Roy. Hasil versus tidak boleh diganggu, apalagi digugat cerai. Tanya jawab dengan Acen dan Indra benar-benar dilakukan via email. Versus diedit sesuai kebutuhan. Picture is courtesy of http://oivindhovland.blogspot.comThank you.

versus

=======

ACEN: 0
INDRA: 0

=======

1. Gunung paling pendek yang pernah didaki?

A: Gunung Papandayan. 2,665 mdpl (meter di atas permukaan laut). Itu pun gak pernah sampe puncak. Syalalalala~

I: Gunung di Serang. Tingginya 1,364 mdpl. Mulai nanjak pagi, siang sampe puncak, sore ketemu babi, malam sudah sampe bawah.

Indra ketemu babi. Babi dipanggang enak. Indra wins!

=======

ACEN: 0
INDRA: 1

=======

2. Paling lama, berapa hari ga mandi selama pendakian?

A: Hm, sehari paling lama. Motto gue: kalau bisa mandi di gunung, kenapa gak? Jadi gue selalu mandi di gunung mana pun yang ada sumber airnya. Meskipun biasanya abis itu gue meriang. Airnya dingin bener, bok!

I: Satu setengah minggu.

Indra Maulana, duta hemat air PDAM! Indra wins! Continue reading

Advertisements

Wawancaur: Friendship Specialist

Dewasa ini (sedaaap), ada begitu banyak buku yang menceritakan cinta sepasang kekasih, namun hanya segelintir yang berani mengangkat tema persahabatan. Salah satu dari mereka yang ga gentar itu bernama Ryandi Rachman.

Penulis jebolan kaskuser ini biasa dipanggil Kundil oleh ibunya, dan kini, semua temannya pun memanggilnya begitu. Selain itu, ia juga bisa dipanggil dengan “hei!”, “woy!”, atau “maling!”. Si tampan dari pinggiran Depok ini bisa di-follow di @kundilisme atau dibaca lebih lanjut di http://ryandirachman.blogspot.com/

Setelah sukses dengan buku pertamanya yang berjudul Boys Will be Boys, pemuda ganteng harapan bangsa Namec ini kembali menelurkan buku bertema persahabatan lainnya: Satu per Tiga. Kalo Boys Will be Boys bermain di area non-fiksi, maka di Satu per Tiga Kundil mengejawantahkan kegilaannya di ranah fiksi.

Kayak gimana sih buku Satu per Tiga? Terus kenapa Kundil hobi banget bercerita tentang sahabat-sahabatnya yang abnormal? Temukan jawabannya di wawancaur bersama friendship specialist kali ini.

Wawancaur adalah proses wawancara yang dilakukan secara awur-awuran. Pertanyaan disusun semena-mena dan boleh dijawab suka-suka. Proses wawancaur dengan Kundil benar-benar dilakukan via Whatsapp. Wawancaur diedit sesuai kebutuhan. Gambar adalah milik pribadi narasumber. Terima kasih.

Kundilisme

Halo, Ndil. Udah siap nih ya di-wawancaur?

Ahzek diwawancara! Berasa tersangka kasus korupsi.

Sekarang lagi sibuk apa nih, Ndil?

Sekarang gue lagi sibuk banget. Biasa, sibuk mengubah oksigen jadi karbondioksida.

Ga sibuk promo buku, Ndil? Kan lu baru ngerilis buku baru tuh.

Kalo itu sih pasti, tapi yang lebih aktif ngepromoin buku gue itu, nyokap. Salahnya dia ngepromoin buku gue itu ke ibu-ibu pengajian.

Astaghfirullah!

:'(

Cerita dikit dong tentang buku terbaru lu: Satu per Tiga. Continue reading

Cuplikan Lontang-Lantung

Wawancara akhir adalah tahap di mana yang memisahkan gue dengan pekerjaan adalah seorang petinggi di perusahaan tersebut. Seperti hari ini, gue akan diwawancarai oleh salah satu petinggi dari sebuah perusahaan minyak yang bernama Glory Oil.

Ruangan Bapak petinggi ini sangat sederhana. Merujuk pada gaji besar yang biasanya sebuah perusahaan minyak tawarkan, ruangan itu jauh dari bayangan gue yang keren dan mewah. Awalnya gue sempet curiga, jangan-jangan ini perusahaan butut. Tapi, lagi-lagi, atas nama positive thinking, gue menebak bahwa mereka adalah perusahaan yang rendah hati, tidak sombong, dan pandai menabung.

”Dari hasil tes sebelumnya, kamu mendapat nilai yang cukup baik,” Bapak petinggi itu memulai sesi wawancara, ”Jadi saya kira kita cepat saja, ya, hari ini. Apa yang ingin kamu tanyakan mengenai kami?”

Wah, sepertinya hari ini akan jadi hari baik buat gue. Namun demi tetap terlihat pintar dan keren, gue sok bertanya apa saja.

”Pusat pengeboran minyaknya di lepas pantai mana, Pak?” tanya gue mantap.

”Pengeboran minyak? Lepas pantai?”

”Iya, sebuah perusahaan minyak multinasional seperti Glory Oil tentu perlu pengeboran sebagai pusat produksinya, kan?” tanya gue mengofirmasi.

”Begini,” Si Bapak merebahkan badannya ke senderan kursi, ”Ada 3 hal yang perlu saya koreksi dari pernyataan tadi. Satu, kami bukan perusahaan multinasional. Dua, kami tidak bergerak di bidang minyak yang seperti itu. Tiga, kami tidak memproduksi minyak.”

Gue merapatkan alis dan mengerutkan dahi, ”Jadi ini perusahaan apa, Pak?”

”Distributor oli lokal.”

”Lho? Kok namanya Glory Oil? Seperti nama perusahaan multinasional?”

”Iya, dulu namanya Toko Oli Jaya….”

Shock. ”Tok… toko… toko Oli Jaya?”

”Iya. Demi menghadapi yang namanya era globalisasi, kami terjemahkan saja namanya setahun yang lalu. Dari toko Oli Jaya menjadi Glory Oil. Pas, kan?”

”Pak,” muka gue setengah bengong, ”Oli itu bahasa Inggrisnya bukan oil, Pak.”

”Ya, kan, minyak-minyak juga,” jawab si Bapak santai.

Gue lemes, nggak tau mesti ngomong apa lagi. Masih shock setelah tau bahwa gue bukan akan bekerja di perusahaan minyak seperti yang gue harapkan sebelumnya. Gue hanya akan bekerja di sebuah toko dan menjajakan barang dagangan!

Giordano-nya, Kakaaak.

Si Bapak membetulkan posisi duduknya dan melanjutkan, ”Tapi sekarang, kami bukan toko lagi. Sudah naik tingkat. Sekarang kami distributor tunggal sebuah merk oli lokal yang bagus. Namanya Oli Greng.”

Oli Greng-nya, Kakaaak.

Oh, God, bahkan nama olinya saja nggak keren. Ini oli apa obat penunjang vitalitas?
Continue reading

Apa-apa yang Tidak Diceritakan di antara Halaman 251 dan 252 pada Novel Trave(love)ing

DISCLAIMER: Postingan ini akan lebih nikmat untuk dipahami bila kamu sudah membaca novelnya. Jika belum, bisa juga sih. So, let’s move on, shall we?

 —

Beberapa saat sepulang dari nonton Liverpool, gua jadian dengan seorang wanita yang gua kenal di bandara LCCT, Kuala Lumpur. Waktu itu, ia lagi transit di KL untuk melanjutkan perjalanan ke Ho Ci Minh, Vietnam. One thing led to another, sampai akhirnya gua memutuskan untuk menyatakan perasaan ke dia dan kita pacaran. Kejadian ini membawa gua ke sebuah kesimpulan.

Things happen for a reason.

Kalo gua ga memutuskan untuk nonton Liverpool, mungkin gua ga akan ketemu dia di bandara. Kalo gua ga ketemu dia di bandara, gua ga akan berani kenalan, and so on, and so on, and so on. Pesan ini lah yang tadinya ingin gua bagi melalui sebuah buku berkedok catatan perjalanan.

Semangatnya sudah baik, pesannya sudah pas, plot sudah jadi, ending sudah tau, tapi sepertinya ga menarik kalo hanya menceritakan perjalanan satu orang. Apalagi traveling gua kemarin hanya makan waktu yang sangat singkat sehingga sepertinya ga akan mampu memenuhi kuota halaman. Sempat terpikir untuk memeti-eskan cerita ini dan nantinya akan dikumpulkan bersama catatan perjalanan ke negara lain yang memang gua cita-citakan dari dulu. Tapi kok rasanya terlalu lama ya. Momentum dan mood menulisnya bisa keburu hilang. Gua cukup bingung waktu itu.

Sampai sebuah notifikasi Facebook muncul di smartphone gua. Continue reading