Tag Archives: Boracay

Perjalanan yang Mengubah Hidup

“Ke Filipina? Ngapain?”

Itu adalah pertanyaan yang selalu saya dapat dari mereka yang bertanya ke mana saya saat liburan Natal akhir tahun 2012 lalu. Pertanyaan ini akan selalu saya jawab dengan, “Mencari cinta.”

Setelah mendengar jawaban saya, yang bertanya biasanya memasang muka datar, berhasrat ingin bersandar ke tembok, atau bahkan terkekeh geli karena mengira saya sedang bercanda. Tanpa bermaksud menjadi Arjuna, namun nyatanya, sepulang dari sana, saya memang menemukan cinta saya.

Semua bermula ketika saya sedang pusing dengan urusan kantor beberapa bulan sebelumnya. Tiba-tiba saja, saya iseng mengajak Tirta untuk jalan-jalan. Rencana awalnya, saya ingin mengajak Tirta traveling naik kereta membelah pulau Jawa. Dari stasiun ke stasiun, dari kabupaten ke kabupaten. Perjalanan akhir tahun yang tidak terburu-buru. Liburan dengan tujuan bermalas-malasan. Santai.

Namun manusia boleh berencana, akhirnya Tirta juga yang menentukan.

Tirta bilang AirAsia sedang ada promo ke beberapa destinasi wisata. Mendengar hal itu, rencana saya untuk membelah pulau Jawa dengan naik kereta pun goyah. Karena promo AirAsia terlalu menarik untuk dilewatkan begitu saja.

Siang itu, Tirta mengajukan Boracay sebagai tujuan liburan akhir tahun kami. Awalnya saya mengira Boracay ada di kelurahan Arjasari, kecamatan Cicalengka, kabupaten Bandung, sebelum akhirnya Tirta menambahkan, “Lu coba cari tiket ke Clark deh.”

“Clark?” tanya saya, “Kent?”

“Bukan. Clark, Filipina!”

Maka perjalanan naik kereta membelah Jawa pun berubah menjadi penerbangan ke Filipina. Bermodal tiket promo dengan harga yang sangat terjangkau dari AirAsia, kami pun berangkat di tanggal 24 Desember, tepat 1 hari sebelum Natal.

Harga tiket yang ramah di kantong ternyata tidak menghalangi AirAsia memberikan pelayanan terbaik. Tepat tengah malam, saat pesawat sedang terbang menuju Clark, pilot dan para awak kabin mengucapkan selamat Natal kepada seluruh penumpang. Dengan mengenakan topi Santa Claus, pramugari dan pramugara membagi-bagikan sekotak kue kering yang dipita merah-hijau. Menjadikan penerbangan kali ini sungguh berbeda di mata saya.

Beberapa jam kemudian, kami sampai di bandara internasional Diosdado Macapagal, Clark. Untuk menuju Boracay, kami masih harus naik pesawat ke Kalibo, kota dengan bandar udara terdekat dari destinasi utama kami itu. Asiknya, AirAsia memiliki jaringan penerbangan yang cukup banyak di Filipina. Jadi lagi-lagi, saya menggunakan AirAsia untuk penerbangan dari Clark ke Kalibo, yang tiketnya sudah saya beli secara online di Jakarta.

AirAsia

Sorenya, saya dan Tirta akhirnya sampai di Boracay, sebuah pulau yang bisa dibilang seperti Bali-nya Filipina. Pasir putih membentang di sepanjang mata memandang. Laut biru nan jernih mengisi penuh sampai ke ujung cakrawala. Riuh rendah suara dengan berbagai bahasa menjadi soundtrack saat kaki saya dan belasan turis lainnya menginjakkan kaki di pasir basah Boracay.

Semilir aroma laut menjadi adrenalin tersendiri bagi badan saya yang sudah merasa lelah. Daun pohon kelapa yang melambai tertiup angin seperti memanggil saya untuk segera bersenang-senang. Namun matahari turun cukup cepat hari itu. Saya dan Tirta memutuskan untuk istirahat agar tenaga kembali terisi penuh untuk aktivitas esok hari.

Namun, cuaca berkehendak lain.
Continue reading

Advertisements

Sendal Jepit Hitam

Setiap kali traveling, gua pasti pake sendal jepit yang sama. Sendal jepit warna hitam yang gua beli sekitar tahun 2009. Ga cuma waktu traveling, sendal ini udah gua pake mirip lagu “Tak Gendong”-nya Alm. Mbah Surip. Ke mana-mana. Waktu main ke mall, saat kebanjiran, bahkan untuk pacaran. Ke mana-mana.

Sendalnya sendal jepit biasa. Bukan sendal ergonomi yang mahal-mahal gitu. Harganya cuma 40ribu rupiah. Sendal karet biasa namun rasanya nyaman banget di kaki. Mungkin karena udah butut, jadi alasnya udah ngikutin bentuk kaki gua. Ergonomi dengan sendirinya.

Bagi yang udah baca Trave(love)ing, mungkin masih inget dengan sendal jepit ini. Ada satu bagian di mana sendal jepit hitam butut jalan-jalan sama sepatu teplek warna merah muda di taman. Adegan ini bahkan pernah dibuatkan film pendek-nya sama Oldeboi (terima kasih!). Buat yang belum pernah baca novelnya, ini dia petikannya:

Dulu, kaki ini sering berjalan berdampingan dengan dia. Nonton, makan, atau sekedar jalan tanpa tujuan.

“Kita mau ke mana?” tanya gue waktu itu.
“Terserah. Yang penting sama kamu,” jawabnya sambil tersenyum manis.

Di hari itu, akhirnya kita hanya berjalan kaki. Hanya itu. Terdiam dan berjalan. Namun rasanya seperti sudah berbincang lama dan terpuaskan. Gue masih ingat dengan jelas. Hari itu, gua memakai sendal jepit butut warna hitam, sementara ia mengenakan sepatu teplek merah muda. Di bangku taman, kita beristirahat.

Sambil melekatkan kaki kanannya ke kaki kiri gue, ia bilang, “Sepatu sayang sendal.”

Sambil tersenyum, gue pun membalas, “Sendal sayang sepatu.”

Sekarang, kaki yang sama sedang berada ratusan kilometer jauhnya. Saat ini, kita terpisah, dan berbeda. Gue sibuk memperbaiki hati, sementara dia sedang menikmati cinta yang baru. Karena itu, kita harus terpisah.

Separasi, untuk reparasi pada hati.

Selain ke Singapura dan Kuala Lumpur dalam rangka move on itu, sendal jepit ini juga gua pake saat #JalanJalanKemiskinan edisi Belitung, #1DayInBangkok, serta outing kantor ke Kuala Lumpur (lagi). Yang terakhir, sendal itu gua pake waktu #PinoyTrip Desember kemarin. Di sebuah malam saat #PinoyTrip lah, ada sebuah cerita tentang si sendal jepit hitam.

Di malam kedua, saat gua lagi duduk santai di cafe, sendal jepit itu… Continue reading

#PinoyTrip: 5 Hal yang Harus Diperhatikan Jika Traveling ke Filipina

Gimana judul di atas? Udah kayak On The Spot Trans 7 belom?

Anyway,

Di bulan Desember kemarin, gua dan Tirta melakukan #PinoyTrip; jalan-jalan ke Filipina dengan minim persiapan. Gua bahkan baru tau apa itu Boracay 2 minggu sebelum keberangkatan. Kilat banget deh nyiapin ini itunya. Bukan cuma kilat nyiapinnya, tapi kilat juga jalan-jalannya. Total kita di sana selama 5 hari dan berhasil menginjakkan kaki di 4 kota: Angeles City, Boracay, Kalibo, dan Manila.

Sepanjang perjalanan, gua menyimpulkan sepertinya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan jika ingin traveling ke Filipina, terutama bagi pelancong yang datang dari Indonesia. Semoga postingan ini berguna bagi nusa dan bangsa. Ini adalah bentuk sumbangsih gua buat negara.

Auwo.

1. Hati-hati nyebrang jalan!

Hampir setiap gua nyebrang jalan di Filipina, baik itu di Angeles City, Boracay, Kalibo, atau Manila, gua pasti nyaris ketabrak mobil. Bukan karena kendaraan di sana cepet-cepet atau bersupir orang Medan, tapi karena arah kedatangan mobil di Filipina terbalik dari di Indonesia.

Itu karena posisi kendali (supir) mobil di Filipina ada di sebelah kiri!

setir kiri cuy!

Para pengendara mobil di Filipina akan berjalan di lajur sebelah kanan. Jadi kalo nyebrang jalan di Indonesia kita akan nengok kanan dulu baru nengok kiri, maka pas di Filipina kita harus nengok kiri dulu baru ke kanan. Terbalik.

Menjadi unik karena sebetulnya Spanyol –sebagai bangsa yang dulu menjajah Filipina– nyetirnya di kiri, kayak Indonesia. Mungkin sebagai bentuk pemberontakan seutuhnya karena Belanda pun nyertirnya terbalik dari Indonesia.

Jadi pastikan nengok ke kiri dulu kalo mau nyebrang jalan di Filipina. Sejomblo-jomblonya lu, tetep ga mau kan dicium sama bemper mobil?

2. Jangan bawa handphone terlalu canggih

Selain karena sepertinya agak rawan (terbukti dengan adanya tanda larangan membawa shotgun di dalam mall), di sana micro SIM ga ready stock! Apalagi gratis ongkir. Payah, Sist. Kalah deh sama online shop di Jakarta.

Gua berniat beli nomor lokal saat lagi di Angeles City. Tujuannya ya biar bisa tetap terhubung dengan orang di Jakarta dan dengan Tirta sebagai teman seperjalanan. Jadi kalo kita terpisah, lebih mudah untuk saling berhubungan (bukan berhubungan badan, tentunya).

Namun apa dinyana (cailah), gua ga menemukan satu pun toko seluler yang menyediakan micro SIM. Bahkan gerai resmi kartu SIM-nya pun ga ready stock micro SIM. Mereka bilang, untuk micro SIM biasanya harus pre-order dulu. Udah kayak buku anak Twitter aja pake pre-order segala.

Padahal, hampir semua dari smartphone yang beredar sekarang pake micro SIM. Ada baiknya, kalo kita berniat beli nomor sana, pakailah handphone yang ga menggunakan micro SIM.

Biar aman dan pasti-pasti aja deh.

3. Bertanyalah sebelum makan

Bukan dengan pertanyaan, “ada promo pake kartu kredit apa ga, Mbak?”, tapi dengan pertanyaan,
Continue reading

#PinoyTrip: Capturing Boracay

DISCLAIMER:

Postingan ini sebaiknya dibaca dengan intonasi yang sangat serius. Sangat, sangat, sangat serius. Bayangkan lu membacanya dengan suara Bung Zulham yang biasa nyebutin hadiah di kuis ‘Kata Berkait’ ataupun ‘Tak Tik Boom’.

Apa? Kalian belom lahir jaman itu?

Baiklah.

Kalo gitu coba bayangkan Bebi Romeo yang menarasikan postingan di bawah ini. Sudah kebayang? Sudah? Kalo sudah, selamat membaca.

Boracay!

Boracay adalah pulau kecil yang berada di sebelah selatan kota Manila. Pulau tropis yang memiliki panjang kurang lebih 10 kilometer ini dikelilingi oleh pantai berpasir putih yang sangat cantik.

Yang menyenangkan adalah cuaca di sana ga begitu terik, meski posisi mereka lebih dekat dengan garis khatulistiwa ketimbang Jakarta atau Bali. Ditambah lagi, gua ke sana pada akhir tahun. Curah hujan yang lumayan tinggi membuat angin yang berhembus cenderung sejuk.

the beach

Selain angin sejuk, air lautnya pun ga hangat, dan malah, dingin. Lucunya lagi, kelandaian pantainya cukup jauh. Setelah jalan 4-5 meter dari bibir pantai pun, ketinggian air laut masih sebatas mata kaki orang dewasa.

tuh

Pantai yang terkenal di Boracay adalah White beach, pantai dengan pasir yang –jelasnya– putih. Lokasi White beach ada di sisi barat pulau. Posisi yang sangat cocok untuk menyaksikan prosesi matahari terbenam.

Di sepanjang White beach berjejer belasan bahkan puluhan bar, resto, atau pub. Saking panjangnya, White beach sampai dibagi menjadi 5 area (area 1 – 5) untuk memudahkan turis mencari suatu restoran atau titik hiburan lainnya. Misalnya, jika kita mencari McDonald’s, maka itu adanya di White beach area 2.

Saat siang, sebagian besar area bibir pantai dijadikan lapak kaki lima. Ada yang jualan cinderamata, jasa mengepang rambut, tato temporari, jasa pijat, atau berjualan cemilan. Dari yang gua baca, ada satu buah yang harus dicoba ketika traveling di Filipina. Continue reading

#PinoyTrip: Dari Jakarta Ke Boracay!

Akhir tahun lalu, gua berkesempatan untuk traveling ke Filipina bareng Tirta (@romeogadungan). Semua berawal di suatu siang ketika gua lagi asik browsing tiket kereta dengan menggunakan internet fasilitas kantor. Oh sungguh teladannya diriku.

Rencana awalnya adalah gua ingin menghabiskan akhir tahun membelah pulau Jawa dengan naik kereta. Dari stasiun ke stasiun, dari kabupaten ke kabupaten. Perjalanan akhir tahun yang ga terburu-buru. Liburan dengan tujuan bermalas-malasan. Santai.

Namun manusia boleh berencana, akhirnya Tirta juga yang menentukan.

Siang itu, tiba-tiba aja Tirta ngajakin gua buat ke Boracay, Filipina. Kata Tirta dan dari hasil browsing, Boracay itu semacam Bali-nya Filipina. Pulau dengan pantai cantik membujur di salah satu sisinya. Dan entah kesambet setan mana, gua pun menyanggupinya.

Tiket pun dibeli, kamar dipesan, dan berangkatlah kami tanggal 24 Desember 2012, tepat sehari sebelum Natal. Nah, di postingan kali ini gua akan bercerita jam demi jam perjalanan dari Jakarta ke Boracay.

Here we go!

13:07

Sampai di Gambir. Celingak-celinguk cari bus Damri yang siap berangkat. Duduk macho di kursi agak belakang. Ga lama berselang, seorang bule berbulu dada pirang kecoklatan (yes, dia buka kancing kemejanya sampe 3 biji) duduk di sebelah. Keteknya bau keju basi. Kampret.

14:02

Sampai di bandara internasional Soekarno Hatta terminal 3 dengan penuh rasa haru dan sujud sukur karena akhirnya terbebas dari bule bau terkutuk itu. Dengan segera nelpon Tirta untuk nanya posisi. Dia bilang dia udah di dalem untuk check in dan gua pun langsung masuk.

Gua dan Tirta sama-sama bawa dua gembolan besar di punggung. Sengaja ga bawa koper yang ditaruh di bagasi untuk mempersingkat waktu di bandara setiap kali mendarat. Menunggu koper di baggage claim bisa memperlambat kami; para pelancong yang tergesa.

14:30

Boarding time. Gua ngelewatin metal detector sambil bertanya-tanya, apa anak pop dan jazz bisa lewat sini? Kan metal.

Petugas yang kebetulan wanita meminta gua untuk mencopotkan ban pinggang. Gua bilang jangan memaksa gua untuk berbuat asusila dan bertobatlah karena kerajaan Allah sudah dekat. Tapi dia tetep kekeuh menyuruh gua mencopotkan ban pinggang. Padahal gua udah pake ban pinggang tanpa kepala yang biasa gua gunakan setiap traveling untuk menghindari pencopotan semacam ini.

Si Mbak tetep meminta gua untuk mencopot. Melihat betapa besarnya jempol si Mbak dan proyeksi betapa perih jika ditabok olehnya, gua pun akhirnya mengiyakan.

Ban pinggang pun gua copot di depan si Mbak. Gua merasa kotor dan nista.

14:59

Tirta sedang asik curhat mengenai kehidupan percintaannya. Gua bertanya balik, “Lah, Ta. Gua kira udah beres pas lu ceritain di Trave(love)ing 2?”

Berbarengan dengan gelengan kepala Tirta, speaker menghalo-halo untuk naik ke pesawat karena bentar lagi mau take off. Gua kembali melihat tiket untuk mencocokkan nomor penerbangan dengan yang dihalo-halo. Cocok.

Gua melihat jam. Ini jam 3 sore. Mari kita liat sampe Boracay jam berapa.

18:20

Setelah 2 jam penerbangan ditambah 1 jam selisih waktu, akhirnya gua sampai di Kuala Lumpur buat transit. Ini adalah pengalaman pertama gua transit. Setelah sampai di bandara, gua ga ke arah imigrasi, tapi ngikutin plang petunjuk –jelasnya– transit. Di sana, petugas hanya mengecek boarding pass (yang udah tercetak dari Jakarta) dan memberitaukan posisi gate untuk penerbangan berikutnya.

Begitu beres dengan urusan transit ini, gua memutuskan untuk makan malam. Masih ada 1.5 jam sebelum penerbangan Kuala Lumpur – Clark. Leha-leha dulu masih sempet kayaknya.

19:23

Akhirnya gua berhasil nyeting wifi bandara LCCT. Sebagai catatan, wifi LCCT hanya bisa diakses selama 3 jam per sekali log in. Begitu berhasil masuk, langsung deh gua ngetwit “touchdown, Kuala Lumpur!”. Biar tingkat gaul naik 1439%!

20:45

Ada pengumunan. Continue reading