Tag Archives: buku

Perihal Ikan-Ikan Mati

Saat kalian baca tulisan ini, Ikan-Ikan Mati udah mengapung di toko-toko buku terdekat. Perasaan gua? Masih sama kayak waktu ngerilis The Maling of Kolor, sembilan tahun yang lalu. Deg-degan.

Khawatir, panik, dan cemas jadi satu. Meski begitu, ada satu rasa yang paling dominan saat buku ini akhirnya rilis ke pasaran.

Lega.

Keresahan yang selama ini menumpuk di kepala, akhirnya bisa tertuang pada halaman demi halaman. Pertanyaan-pertanyaan yang tumbuh rimbun dalam dada, akhirnya bisa tersusun rapih dari prolog sampai epilog. Keresahan dan pertanyaan itu sekarang udah diterjemahkan sepanjang 22 bab dan 315 halaman.

Gua berharap tulisan ini bisa diterima dengan baik oleh teman-teman semua. Bisa dinikmati di sore hari dengan secangkir teh hangat dan sepotong biskuit kelapa. Bisa juga jadi hadiah untuk gebetan yang baru kenalan seminggu lalu. Atau bisa menemani perjalanan jauh keluar kota atau jadi pembunuh waktu kala berkomuter dari rumah ke kantor setiap harinya.

Namun di atas itu semua, semoga buku ini bisa melahirkan tanda tanya atas keresahan yang coba gua sampaikan. Semoga bisa membuat kita untuk diam sejenak dan berpikir ulang.

Akhir kata, selamat membaca Ikan-Ikan Mati. Sampai bertemu di penghujung cerita. Dan semoga kita tetap berenang di peradaban.

Advertisements

Menulis Kembali

Seperti yang pernah gua ceritain di sini, sejak tahun 2014 gua memutuskan untuk berhenti berkarya lewat buku.

Hasil yang ga sepadan dengan usaha jadi alasan utama mengapa waktu itu gua enggan menulis buku kembali. Rasanya segala sumber daya yang gua punya lebih layak untuk difokuskan ke hal-hal lain. Hal-hal selain menulis buku.

Bekerja kantoran, mengurus usaha sampingan, membangun keluarga yang harmonis, serta hal-hal lain dalam hidup yang sepertinya lebih pantas untuk gua prioritaskan. Bagi gua, menulis jadi urutan ke sekian dalam beberapa tahun terakhir.

Buktinya terlihat dari blog yang makin jarang di-update. Dulu, sebulan bisa 10 postingan. Nge-blog udah kayak ngapel pacar, seminggu dua kali. Nulis kayak kesurupan. Apa aja bisa jadi bahan postingan. Ngeliat motor ngepot aja jadi ide cerita. Sekarang, sebulan sekali aja udah puji syukur ke hadirat yang Maha Kuasa.

What happened? Life happened.

Kesibukan, kemalasan, keenakan, begitu tumpang tindih. Entah mana alasan utama yang coba gua sodorkan pada hidup. Hanya tumpukan pembenaran kalo gua udah enggan menulis buku.

But life always surprise you when you least expect it.

Di saat gua sedang menikmati rutinitas, hidup membalas alasan gua dengan satu hal. Yang terus mengganggu sejak tahun lalu. Yang mengusik hati hampir setiap hari. Yang lalu kian matang seiring isu sosial yang terus berkembang.

Sebuah hal bernama keresahan.

Continue reading

Porsi

Salah satu mimpi terbesar gua adalah bisa dikenal lewat karya tulisan. Bermimpi kalo suatu hari gua bisa diwawancara infotainment di televisi dengan pertanyaan, “Memangnya Roy sejak kapan udah suka nulis?”

Jika ditanya demikian, maka jawaban gua adalah, “Sejak SD. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, saya memang suka mengarang, khususnya saat keadaan tertekan.”

Setiap ada tugas yang mengharuskan gua untuk mengarang cerita, gua bisa minta kertas lebih saat teman yang lain masih berkutat dengan kalimat ‘pada suatu hari’. Bercerita lewat tulisan seperti manifestasi bagi otak bawel gua yang terjebak dalam sikap pemalu.

Iya, gua memang pemalu. Gua lebih banyak terdiam kalo sedang dalam keramaian. Pun jika menjadi pusat perhatian, gua bisa menjadi sangat ga nyaman dengan diri gua sendiri. Menulis jadi seperti terapi buat otak gua yang penuh akan kata-kata yang ga sempat dilontarkan lewat percakapan.

So I thought at that time, writing would fit for me just well. I told to myself that writing was meant for me.

Kegemaran gua akan menulis berlanjut sampai ke jenjang SMA. Gua sempat menulis cerita bersambung tentang Josh, seorang anak band SMA yang ganteng dan istiqomah. Cerita ini digandrungi oleh teman sekelas gua yang selalu menagih seri berikutnya. Dukungan dan dorongan ini yang terus membuat gua melaju di jalan ini.

Begitupun saat kuliah. Gua masih rutin berbagi cerita lewat mailing list teman-teman seangkatan. Cerita keseharian gua yang dibalut komedi jadi santapan renyah yang banyak ditunggu. Dan di saat kuliah ini pula gua berkenalan dengan novel-novel Indonesia yang gua jadikan referensi serta acuan saat menulis.

Mimpi dikenal lewat karya terus gua pupuk. Disuburkan dengan latihan dan referensi yang semakin banyak di pasaran.

Hal ini juga dipicu oleh semakin banyak lahirnya penerbit baru. Gua pun melihat ini sebagai sebuah kesempatan untuk mewujudkan mimpi yang udah lama tertanam. Di tahun 2008, gua nekad mengajukan naskah berjudul “Kancut” ke sebuah penerbit. Long story short, naskah itu rilis dengan judul “The Maling of Kolor” di tahun yang sama.

Waktu buku itu rilis, gua seneng banget. Rasanya pengen gua ngabarin ke seluruh dunia kalo buku gua udah terbit. Gua semangat abis. Karena sepertinya gua berada dalam jalan yang tepat untuk menggapai mimpi gua dulu. Jawaban ‘saya-menulis-sejak-SD’ kini seperti makin dekat untuk diucapkan.

Continue reading

Kancut: Sebuah Prolog

Sedikit nostalgia ke tahun 2008. Saat itu, saat sedang menganggur dan penuh ketidakjelasan selepas lulus kuliah, gua mengajukan ke penerbit sebuah naskah berjudul “Kancut”.

Ya, ya, lu ga salah baca kok. Judulnya emang “Kancut”.

Tulisan di bawah ini merupakan prolog yang menjadi awal mula dari segala kegaduhan yang terjadi di dalam naskah tersebut. Sebuah naskah yang akhirnya terbit menjadi novel dengan judul “The Maling of Kolor”.

Tulisan ini pula yang menjadi awal mula dari kegiatan gua menulis dan merilis buku. Sebuah kegiatan yang gua tinggalkan di sepanjang tahun 2014 kemarin.

Enjoy.

club

“DASAR ASU!”

Teriakan dari seorang ibu bersanggul menggema di antara bunyi dentuman musik disko yang sedang diputar di sebuah club ternama ibukota.

“Aku sudah tau semua kelakuan busukmu dengan wanita murahan ini!” tuding si ibu ke arah seorang lelaki dan wanita penggoda yang ada di sebelahnya. Sayangnya, si lelaki terlalu mabuk, sehingga menjawab, “Maafkan akuuu, menduakan cintamuuu…”

“Kamu juga! Dasar perempuan murahan! Sing edan! Jangan ngerebut suami orang dong!” Kali ini si ibu bersanggul memfokuskan tudingannya kepada si wanita penggoda.

“Cih! Siapa yang ngerebut suami orang? Suami lo sendiri yang ngebet sama gue tuh. Makanya kalo punya suami dijagain dong,” elak si wanita penggoda, santai.

“Ngebet-ngebet. Wong aku tau kamu tuh pakai pelet!” teriak si ibu bersanggul penuh nafsu, “Makanya suamiku lari sama kamu. Ya toh? Dasar perempuan sundal!”

“Begh, salah. Gue asli Padang. Bukan Sunda.”

“Sundal, bloon.”

“Oo, kirain Sunda.” Si wanita penggoda mesem-mesem.

“Kamu ngaku saja kalau kamu bener pake pelet! Ya toh? Aku ini sudah selidiki kamu! Jadi, sudah jangan menghindar lagi! Bisanya main pelet!”

Kesal dituduh main pelet, si wanita penggoda mengambil ancang-ancang dan,

PLAK!

“Nduk iki berani-beraninya nampar aku?! Tidak tau apa kalo aku ini masih keturunan darah biru dari kerajaan Semarang yang merupakan ibukota Jawa Tengah?!”

“So?”

“Ya… gak apa-apa sih. Nambah wawasan saja.” Continue reading

Pertanyaan Sederhana

Cerita kali ini bermula ketika gua teringat sebuah pertanyaan sederhana yang diajukan oleh seorang pengunjung di talkshow “Bankers Writers” beberapa bulan lalu.

“Apa peran orang tua dalam karier menulis Mas dan Mbak sekalian?”

Beberapa kali hadir pada talkshow atau sejenisnya, baru kali ini gua ditanya seperti ini. Biasanya hanya pertanyaan serupa yang ga jauh-jauh dari dapet-inspirasi-dari-mana dan gimana-bagi-waktu-antara-kerja-dan-nulis. Dua pertanyaan yang hampir aja membuat gua untuk membeli tape recorder, merekam jawaban, menari poco-poco, lalu memutarnya setiap kali ada yang bertanya hal yang itu-itu lagi.

Namun hari itu, sebuah pertanyaan segar berhasil mengusik otak gua. Dilempar oleh seorang ibu yang anaknya ingin menjadi penulis dan sedang mencari masukan sebanyak-banyaknya.

Untungnya, bukan gua yang mendapat giliran pertama untuk menjawab. Mungkin, jika diharuskan menjawab saat itu juga, gua akan berteriak, “ISTANA MAIMUN! ISTANA MAIMUN!”. Nina Ardianti, penulis novel Restart, dipersilahkan untuk menjawab duluan. Sambil mendengarkan jawaban Nina, otak gua berputar mencari jawaban apa yang pas bagi pertanyaan tadi.

Karena kalo diinget-inget, sebenernya orang tua gua ga pernah setuju-setuju banget sama kegemaran gua akan dunia tulis-menulis. Gua yang notabene lulusan fakultas teknik, dianggap hanya akan menghabiskan waktu percuma menggeluti dunia yang jauh berbeda dari gelar akademis tadi.

“Kamu fokus aja sama kerjaan kamu yang sekarang.”

Begitu alasan yang bolak-balik dilempar oleh bokap dan nyokap. Mereka ingin gua memanjat pohon karier setinggi-tingginya dan ga terdistraksi hal lain.

Namun saking tertariknya gua dengan dunia tulis menulis, gua pernah sempat resign dan memutuskan untuk menulis novel penuh waktu. Berhari-hari menulis di depan komputer, dengan celana pendek dan kaos butut. Sesekali malah tanpa baju. Mengangkat kaki ke atas meja sambil mencari inspirasi. Asisten rumah tangga yang kebetulan ke kamar untuk mengantarkan makanan, kaget, lalu berteriak, “Bu, Mas Roy akhirnya gila beneran, Bu! Mas Roy akhirnya gila beneran!”

Dua bulan kemudian, naskah itu rampung dan terbit dengan judul “The Maling of Kolor”. Iya, itu judul novel, dan iya, ternyata, gua udah gila beneran.

Namun karena tekanan lingkungan, gua memutuskan untuk mencari kerja lagi. Salah satu pekerjaan yang gua coba lamar adalah sebagai editor di penerbit yang tergolong baru. Tapi lagi-lagi, keinginan ini bentrok dengan harapan bokap dan nyokap waktu itu.

Maka kalo ditanya apa peran orang tua gua dalam dunia tulis menulis gua, dukungan bukanlah jawabannya.

Bakat? Bukan juga. Bokap dan nyokap jauh dari dunia kesenian. Momen terdekat bokap dan nyokap dengan hal-hal yang berbau seni adalah saat sesi karaoke rutin mereka setiap Minggu sore. Namun jangan bayangkan suara mereka seperti duet suami istri Muchsin Alatas dan Titiek Sandora. Mereka lebih mirip Tom dan Jeff Hardy. Suaranya Smackdown, argh!

Jadi sebenarnya, apa peran orang tua dalam karier penulisan gua ya?

Saat Nina sampai di penghujung jawabannya, tiba-tiba gua terbesit sebuah jawaban yang sepertinya bisa menjawab pertanyaan ibu tadi.
Continue reading