Tag Archives: cerita dan karya lainnya

Cup of Tea

Gua bukan penikmat kopi namun sering ke kedai kopi.

Biasanya, di sana gua akan memesan secangkir teh atau coklat hangat. Kopi masih menjadi musuh bagi perut gua. Minum secangkir akan menyebabkan lambung gua menjadi super ga nyaman. Sakit maag jadi penghalang gua menjadi penikmat kopi. Saat ini, biar kafein pada teh yang membantu gua terjaga jika sedang mengejar deadline kerjaan.

Gua bukan penikmat kopi walau pernah minum kopi di kedai kopi.

Salah satu kelemahan terbesar gua adalah gua ga enakan. Jarang bisa bilang ga. Pernah sekali ditawarin mau minum kopi baru racikan suatu kedai, akhirnya gua iyakan karena ga enak menolaknya. Pun gua minum dengan konsekuensi pusing setelahnya.

Gua bukan penikmat kopi tapi sering berbelanja di kedai kopi.

Apalagi kalo ada promo buy 1 get 1. Begh. Ga mau rugi. Terkadang sekadar mengutilisasi kartu kredit yang biaya tagihannya ga pernah lebih dari 6 digit. Mengaktulisasikan diri dengan memegang cangkir berlogo hijau atau duduk manis di kedai kopi paling baru. Menyesap hangat minuman apa aja yang mereka sajikan, selain kopi.

Gua bukan penikmat kopi meski sering nangkring ke kedai kopi.

Seringnya, gua hanya mencari tempat ngumpul bersama teman-teman yang kebanyakan dari mereka adalah penikmat kopi. Sekadar berbagi tawa dan bertukar cerita sambil sesekali menguatkan cita-cita. Bercangkir-cangkir kopi mereka memagari cangkir teh gua. Biasanya seperti itu. Ya apa mau dikata. Gua bukan penikmat kopi. Jadi jangan paksa gua untuk minum kopi.

Dan seperti halnya kopi, Continue reading

Advertisements

Project Baru!

“Sebelum naga menjadi ular, temui aku di waduk lama
Tempat pancuran mengucurkan air yang riaknya terlafalkan tak sempurna
Aku kan menanti dengan teduh, meski itu siang pukul dua lebih sepuluh
Kuharap kau tak terlambat, aku tunggu kau di situ
Sampai bertemu!”

Sekali lagi gue baca tulisan yang ada di kertas lusuh itu. Sebuah tulisan yang Sarah titipkan ke penjaga kantin kemarin siang. Mungkin memang begini risiko menyatakan cinta dengan perempuan yang gemar sejarah dan trivia. Ada-ada saja.

Gue balik kertas itu untuk memastikan nggak ada kode yang tertinggal. Ternyata, keputusan gue tepat. Ada tulisan kecil di pojok kanan bawah yang sepertinya terlewat saat gue baca pertama kali.

PS: Jangan lupakan sed(j)arah!

Sedjarah? Dalam ejaan lama? Oh, jadi kamu mau bermain, Sar? Let’s!

***

“Berapa, Bang?” tanya gue ke tukang ojek setelah menyebutkan destinasi yang gue inginkan.

“Lima puluh ribu,” balasnya dengan muka cuek. Biasa, jual mahal.

“Dua puluh lima, deh, Bang?”

Sebagai Cina sejati, rasanya gue akan murtad jika nggak menawar lebih dari setengah harga yang dibuka. Jangankan ojek, kalo argo taksi bisa ditawar, pasti akan gue tawar. Lagipula, jarak dari rumah gue di Kwitang sampai ke sana sepertinya nggak terlalu jauh.

Gelengan kepala dari tukang ojek membuat gue menaikkan tawaran lima ribu sebanyak dua kali. Setelah sepakat, gue segera naik dan berpegangan pada besi jok belakang. Gue melihat jarum jam di pergelangan. Dua puluh menit dari waktu yang ditulis pada petunjuk Sarah. Gue masih punya waktu cukup.

Yang bikin gue penasaran adalah, kenapa ponsel Sarah nggak bisa dihubungi dari semalam? Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Begitu kata operator sialan itu. Untung saja, petunjuk dari Sarah mudah untuk dipecahkan. Sebagai warga Jakarta yang taat bayar pajak dan ikut nyoblos saat Pilkada, gue tau banget tempat yang dimaksud Sarah dalam suratnya.

Dari yang pernah gue baca di internet, dulu ada sebuah waduk penampungan air Sungai Ciliwung di daerah Jakarta Barat. Di waduk itu, ada pancuran air yang diletakkan setinggi 10 kaki, dan jika debit air sedang tinggi, maka tumpahan air dari pancuran akan terdengar seperti ini: grojok grojok grojok.

Sounds familiar?

Apa jadinya jika beberapa penulis Rasa Cinta, Perkara Mengirim Senja, dan Cerita Sahabat berkarya di dalam 1 buku yang sama? Continue reading

Wawancaur: The Singer

Di Oktober 2012 lalu, gua pernah memosting review sebuah album musik. Judul album itu Tale of a Name (TOAN). Selesai gua mempublish itu, rasanya ada yang kurang. Masih ada pertanyaan-pertanyaan yang menggantung di kepala. Yang hanya bisa gua selesaikan dengan satu cara. Bukan dengan cara adat, melainkan me-wawancaur biang keroknya. Dwika Putra.

Gua tau Dwika Putra dari Twitter sebagai akun yang pandai memainkan diksi dalam #rhyme bersama Fatima Alkaff. Berawal dari follow, lalu akhirnya tau bahwa dia juga seorang penyanyi dan stand up comedian. Perjalanan mengenal Dwika berlanjut ketika ia diminta menjadi endorser Trave(love)ing dan semakin intens saat kami menulis keroyokan buku Rasa Cinta. Karya terakhirnya yang gua nikmati adalah stand up special Ernest Prakasa & The Oriental Bandits di mana Dwika tampil sebagai salah satu pembuka.

Pemusik, penulis, komika, dosen IT, fotografer… you name it, I bet he’s done it. Pribadi yang menarik untuk di-wawancaur bukan?

Proses wawancaur ini benar-benar dilakukan via Whatsapp. Wawancaur diedit sesuai kebutuhan. Gambar diambil dari sini. Terima kasih.

Dwika Putra

Hi, Dwik. Kita langsung mulai ya wawancaurnya.

Siap!

Lu nyanyi, iya. Nulis, iya. Stand up, iya juga. Fotografi, iya. Sebenernya seorang Dwika Putra itu lebih suka jika dikenal sebagai apa?

Freelancer serba bisa. Atau lebih asiknya “orang yang serba bisa”. Gue ga mau membatasi diri dengan “profesi” atau “jabatan” untuk saat ini.

Tapi kalo diharuskan untuk milih 1 profesi aja untuk ditekuni, lu pilih apa?

Hmm. I dunno. Pekerja finansial kayaknya. Gue akan mengerjakan apapun yg memperbaikin finansial gue. *dikepruk*

Hahaha! *kepruk* Nah, tahun lalu kan lu ngerilis mini album Tale Of A Name (TOAN). Ceritain dong, apa sih yg mendasari lu bikin TOAN?

Gue itu demen nyanyi. Dari TK, hidup gue ga pernah lepas dari nyanyi. Koor TK, koor gereja dari SD sampe SMA, ngeband dari SMA sampe sekarang, dll.

Nah, salah satu dari “dll” itu adalah nyanyi solo terus rekam-rekam di Facebook. Pertama kali tahun 2007. Waktu itu gue pertama kali rekam 2 lagu bikinan sendiri sama 4 lagu cover. Salah satunya, lagu ST12 yang ternyata lumayan banyak viewernya di Youtube. 6000 lebih. Sampai akhirnya hobi itu berhenti karena ketutup hobi yang lain.

Sampai 2009, gue ke Australia untuk kuliah. Continue reading

El.Ow.Vi.Iy.

el.ow.vi.iy

Ouch.

Ilustrator: Satya Andika
Ide cerita: Satya Andika, Naya Pandya, Dimas Kunto, Roy Saputra

Apa yang Gua Bawa Sepulang dari #GKJ9Feb

Ada banyak cara yang berbeda untuk menghabiskan malam pergantian tahun baru Imlek. Stalking timeline mantan, garuk-garuk tembok, minum racun serangga, atau combo ketiganya yang dilakukan secara sequential.

Meski berbeda juga, tapi gua menghabiskan malam Imlek kemarin tidak dengan keempat hal di atas. Tepat sehari sebelum Imlek, gua nonton sebuah stand up special:

Ernest Prakasa & The Oriental Bandits.

#GKJ9Feb

gambar diambil dari ernestprakasa.com. terima kasih.

Gua mulai berkenalan dengan stand up Indonesia sejak akhir 2011. Mulai dari nonton open mic ke open mic, sampai special show ke special show. Koper, From Tiny to Funny, Merem Melek, Tanpa Batas adalah beberapa acara stand up yang sempat gua tonton selama periode 2011-2012.

Pertama kali gua liat Ernest tampil adalah saat nonton Koper, pertunjukkan komedi dengan benang merah sebuah koper yang bikin penasaran para penampilnya. Malam itu ada Sammy, Ryan, Miund, Soleh, dan lain-lain. Ernest terlihat menonjol berkat isu-isu seputar masyarakat beretnis Cina yang ia coba angkat. Ia membuka penampilannya dengan 1 bit yang sampai hari ini masih gua inget dengan jelas.

“Ada pepatah yang bilang ‘tuntutlah ilmu ke negeri Cina’. Jangan percaya. Lah wong orang Cina-nya aja kuliah di Binus!”

Mulai saat itu, Ernest jadi salah satu komika yang gua tandain. Sebisa mungkin gua menyempatkan diri untuk nonton dia perform. Salah satunya di Ernest Prakasa & The Oriental Bandits, atau yang biasa disebut juga dengan #GKJ9Feb.

Selalu menyenangkan menonton secara live special seperti ini. Selain karena alasan-alasan yang pernah Ernest bilang di sini, menonton pembuka dari sebuah special menjadi kenikmatan tersendiri buat gua. Pembuka biasanya seorang komika yang belum terlalu ter-highlight namun mempunyai potensi untuk menjadi hebat. Ambil contoh David Nurbiyanto yang menjadi pembuka show-nya Dwika Putra di Jakfringe. Gayanya yang belum pernah gua tonton dan materi-materi yang baru menjadi kesegaran tersendiri dari sebuah special show.

Orgasme yang sama kembali gua temukan ketika menonton Barry Williem. Ia berhasil mencuri perhatian dengan materinya yang spesifik, beda, dan yang jelas, Cina banget!

Materi Barry berkisar seputar kehidupannya sebagai Cina susah yang kuliah di salah satu kampus swasta, dan sedikit banyak membuka mata mereka yang selama ini menganggap orang beretnis Cina itu selalu hidup mewah dan enak. Barry membuka #GKJ9Feb dengan kocak parah.

Setelah berhasil dipanaskan oleh 4 pembuka, lampu GKJ dipadamkan. Multimedia memainkan video yang mengilustrasikan betapa banditnya penampil utama siang itu. Video selesai, tirai turun, lalu muncullah the Oriental Bandits yang disusul oleh sang bos.

Ernest Prakasa. Continue reading