Tag Archives: disney

The Good Vow

roy-sarah-the-vow

I promise to continue loving you wholeheartly like Carl loves Ellie.

I promise you always have got a friend in me.

I promise to never let us forget that adventure is out there.

I promise when life gets tough, we will just keep swimming together.

I promise to stick with you through ups and downs, inside out.

And I vow to love you from once upon a time to infinity and beyond.

PS: Happy anniversary, Mrs. Saputra. May the force be with us.

Advertisements

Ingin Tokyo DisneySea Sekali Lagi

Berjalan-jalan di sebuah theme park selalu terasa menyenangkan, setidaknya buat gua dan Sarah. Lagu yang mengiringi langkah, senyum yang merekah di wajah pengunjung, serta warna-warni bangunan membuat zat endorphine terproduksi masal di dalam tubuh. Kita seperti dibawa ke galaksi yang berbeda, jauh dari rutinitas dan keruwetan yang biasa mengikat kepala.

Hal itulah yang membuat gua dan Sarah memutuskan untuk menjadikan Tokyo Disney Resort sebagai tujuan utama saat Japaneymoon kami Oktober kemarin. Sebagai penggemar Disney, rasanya akan sangat bersalah jika kami berdua ga mampir ke daerah yang terletak di timur Tokyo ini.

Tokyo Disney Resort pertama kali dibuka pada tahun 1983, dengan Tokyo Disneyland sebagai satu-satunya theme park yang berada pada resort tersebut. Tokyo Disneyland juga menjadi Disney theme park pertama yang dibuka di luar wilayah Amerika Serikat. Saat ini, telah berdiri dua theme park, tiga hotel Disney, enam hotel non-Disney dan area perbelanjaan di Tokyo Disney Resort.

Bila ada dana dan waktu lebih, maka kedua Disney theme park tersebut wajib disinggahi. Ada beberapa pilihan tiket, di mana kita bisa memilih untuk datang lebih dari satu hari dengan harga yang lebih ekonomis. Gua dan Sarah sendiri membeli tiket terusan selama dua hari, di mana kami bisa pergi ke dua theme park tersebut dalam dua hari yang berbeda. Di akhir hari kedua, ada pilihan untuk upgrade jadi tiket terusan tiga hari hanya dengan membayar selisih harga tiket terusan. Detail soal tiket, bisa dibaca lebih lanjut di link ini.

Tapi jika kita pergi dengan budget dan waktu yang terbatas, maka pertanyaan inilah yang sering muncul, “Kalo harus milih salah satu, Disney theme park mana yang harus didatangin?”

Jawaban gua atas pertanyaan itu adalah, “Tergantung.” Continue reading

Mei 2016!

Bulan Mei akan jadi bulan yang menyenangkan buat movie goers. Karena biasanya, bulan ini adalah awal masuknya film blockbuster Hollywood ke Indonesia. Ga cuma itu, sineas Indonesia juga memanfaatkan liburan sekolah sebagai momentum untuk merilis film-film terbarunya.

Yang teranyar, tentu aja film Captain America: Civil War (CACW) dan Ada Apa Dengan Cinta 2? (AADC2). Di tengah terjangan rilisan terbaru film Marvel ini, AADC2 bukan hanya bertahan, namun bisa membelah animo penonton Indonesia.

Gua nonton CACW hari Kamis lalu, atau sehari setelah filmnya resmi dirilis di Indonesia. Yang mengejutkan, ternyata tanpa antrian dan teaternya pun ga full house. Mungkin suami-suami fans Marvel tengah diajak istrinya untuk bernostalgia dulu dengan film AADC2, sebelum bisa menyaksikan aksi Captain America yang berseteru dengan Iron Man.

Seperti yang gua bilang di atas, bulan Mei ini akan jadi bulan yang menarik buat mereka yang sering menghabiskan weekend-nya di bioskop kesayangan Anda. Bukan, bukan jualan akua dan mijon di bioskop, tapi untuk nonton film terbaru.

Sebagai penggemar Disney, gua dan istri akan sangat menikmati bulan ini. Karena seperti tahun-tahun sebelumnya, Disney akan kembali memberondong publik dengan rilisan film yang seru-seru di sepanjang tahunnya. Setelah The Jungle Book bulan lalu dan CACW, masih ada Finding Dory, The Big Friendly Giant (BFG), Pete’s Dragon, atau Disney’s princess yang terbaru: Moana. Continue reading

Destinasi

“Duh, aku bingung nih baca petanya.”

Sarah membolak-balik peta JR East untuk yang kesekian kalinya, coba mencari di mana stasiun Shinjuku berada. Biasanya, gua yang kebagian tugas untuk membaca peta dan memandu ke mana tujuan kami berikutnya. Siang itu, Sarah sedang ingin bertukar peran, yang sayangnya berujung pada kebingungan.

Memang, peta kereta Jepang terlihat menyeramkan. Ada puluhan line yang saling silang serta titik-titik stasiun menjamur bak jerawat di wajah remaja yang baru masuk puber. Jalur dan stasiun terpampang menggeliat di atas peta. Melintang padat memenuhi setiap sudut wilayah. Merambah jauh sampai ke ujung kota dan sekitarnya.

Ditambah lagi, masih ada jalur subway yang sering bersinggungan dengan belasan jalur kereta JR East. Menambah ruwet peta kereta yang warna jalurnya sampai bergradasi demi bisa mewakili semua jalur yang ada. Ga heran, Sarah kewalahan.

“Mana banyak banget gini jalur dan stasiunnya. Warnanya mirip-mirip lagi,” keluh Sarah, “Gimana sih ini bacanya?”

Selesai menghabiskan minuman, gua menoleh ke arahnya, “Kamu cari dulu Yamanote line yang warna ijo. Nah, stasiun Shinjuku ada di sisi kiri.”

Dengan informasi itu pun, Sarah masih terlihat kebingungan. Mungkin benar kata buku piskologi populer itu, kalo cowo ga pernah nyimak dan cewe ga bisa baca peta. Men don’t listen and women can’t read maps.

Selama ber-Japaneymoon, tugas kami memang terbagi dengan jelas. Gua mengatur tiket penerbangan, mem-booking hotel, menentukan objek wisata dan mencari tau tentang akomodasi selama di sana, sementara tugas Sarah adalah menikmati hasil kerja gua yang disebutkan tadi.

Namun karena durasi bulan madu kami 12 hari dengan banyak destinasi, gua harus membagi tugas ke Sarah kalo gua ga mau berangkat dengan ginjal tinggal sebelah. Berhubung Sarah penggemar Disney, rasanya ga akan memberatkan jika dia diminta untuk mempelajari Tokyo Disney Resort, yang jadi inti dari itinerary kami.

Jadi, Sarah yang bertanggung jawab selama kami di dalam area Tokyo Disney Resort. Wahana mana yang favorit, jajanan apa yang harus dicoba, atau souvenir apa yang paling pas untuk kantong backpacker macam kami.

“Yamanote line? Itu ada di mana?” tanya Sarah sekali lagi, “Aku ga bisa baca petanya nih.”

“Bisa kok. Kemarin kamu bisa baca peta Disneyland sama DisneySea.”

Continue reading

Perkara Resepsi yang Niatnya Ga Gitu-Gitu Aja

Dari dulu, gua selalu beranggapan resepsi nikahan ya gitu-gitu aja. Undangan bunga-bunga, dekor warna-warni, antrian siomay yang menggila, dan pakaian keluarga yang senada. Datang ke puluhan bahkan ratusan nikahan dengan penampakan yang serupa membentuk persepsi gua. Bahwa resepsi yang baik, ya yang seperti itu.

Yang gitu-gitu aja.

Namun untungnya, gua ketemu dengan pasangan yang mampu menggelitik kotak imajinasi dalam otak gua. Semua ide nakal nan binal melompat-lompat kegirangan saat tau bahwa si pacar sangat terbuka untuk segala jenis kemungkinan dalam menyiapkan sebuah resepsi pernikahan.

Setelah melakukan photo prewedding dengan tidak menunjuk langit, gua dan si pacar nekad untuk menggunakan konsep yang berbeda pada resepsi pernikahan kami.

Well, konsepnya ga se-ekstrim nikah sambil jalan di atas bara api atau menyediakan makanan berupa daging babi rusa buruan cromagnon. Tapi kami mencoba sedikit berbeda agar bisa memuaskan hasrat imajinasi kami berdua.

Konsep yang kami pilih sederhana. Sama seperti konsep prewedding photoshot, kami memilih film Up. Saking cintanya sama film ini, gua berhasil membujuk si pacar untuk menggunakan film Up sebagai tema besar resepsi kami nanti.

Sampai sini, mungkin banyak yang bertanya-tanya, “orang tua marah ga tuh?”, atau “mahal ga sih?”. Jawaban untuk kedua pertanyaan itu adalah “ga kok”. Itu karena ornamen resepsi yang disesuaikan ga macem-macem banget. Sepertinya masih dalam koridor pemakluman orang tua, dan masih dalam budget yang telah gua tetapkan. Yang gua dan si pacar sesuaikan hanya aspek-aspek kecil. Aspek-aspek yang mungkin aja ga disadari oleh orang-orang yang bukan penikmat film atau pecinta Disney.

Nah, di postingan kali ini gua mau cerita beberapa ornamen resepsi yang sedikit kami bedakan dari resepsi kebanyakan agar bisa sesuai dengan konsep film Up. Semoga postingan ini bisa mengasah ide binal kalian. Selain itu, lewat postingan ini gua juga ingin berbagi semangat bahwa kita bisa kok bikin resepsi yang sesuai dengan imajinasi kita.

So, here we go.

1. Undangan

Let’s start with the invitation. Undangan jadi salah satu ornamen resepsi yang paling gampang untuk disesuaikan dengan konsep gua dan si pacar. Dari awal, kami memang ga mau design undangan dengan bunga-bunga atau ukiran-ukiran yang banyak ditemukan di resepsi orang lain.

Kami mau beda.

Maka, kami men-design undangan berbentuk tiket nonton pertunjukan teater. Iya, kayak tiket nonton bioskop. Lengkap dengan waktu, lokasi (teater), dan judul acara (film). Lalu di mana unsur film Up-nya?

Di bagian paling atas tiket, ada tulisan “adventure is out there”, sebuah jargon yang menjadi pembuka dari film Up. Seperti halnya pada film, kami ingin jargon itu menjadi pembuka atau sambutan bagi mereka yang menerima undangan kami. Selain itu, di bagian kiri bawah, ada icon film Up: dua sofa milik Carl & Ellie.

Undangan ini di-design dengan ciamik oleh temen designer yang memang udah sering men-design undangan nikah. Namanya Jennifer Widjaja. Kalo berminat bikin undangan yang unik, kalian bisa contact dia di jenny.widjaja@yahoo.com.

Continue reading