Tag Archives: feature

Apa yang Akan Gua Katakan pada Rangga Jika Gua Menjadi Cinta

Sebagian besar orang di Indonesia pasti punya kenangan tersendiri sama film “Ada Apa dengan Cinta?” (AADC).

Mungkin film ini jadi alasan adanya kencan pertama kalian ketika masih SMP, atau ada yang first kiss-nya terjadi di bioskop waktu SMA, atau ada yang udah kuliah dan merasa rindu sama dinamika cinta masa muda gara-gara nonton film ini.

Dan minggu lalu, sebagian besar orang di atas tadi diajak bernostalgia oleh sebuah aplikasi messenger yang dengan briliannya membuat iklan pendek dengan tema AADC. Mereka merilis sebuah mini drama yang viralnya masih terasa sampai minggu ini. “Ada Apa dengan Cinta 2014”

Buat yang belom sempet nonton, ini dia mini drama “Ada Apa dengan Cinta 2014”.

Setelah menonton mini drama AADC, sontak pikiran gua menerawang ke masa SMA. Memori-memori gita cinta dan liarnya masa SMA terbang sekelibat di dalam pikiran, terutama saat petikan gitar lagu Bimbang melatari adegan Rangga dan Cinta.

That’s the thing about memories. Sometime, all they need is one tiny note to release themselves in your head and screw your day.

Dan sepertinya hal itu juga yang coba diangkat sama mini drama ini. Cukup jatuhnya buku puisi “Aku” untuk membuat Rangga kocar-kacir diacak kenangan. Cukup satu kata “Cinta?” untuk membuat Cinta susah tidur, ga enak makan, dan bimbang luar biasa.

Kenangan memang brengsek.

Tapi kali ini, gua ga akan bahas kenangan lebih jauh lagi. Biarkan si brengsek itu mengambil panggung di blog orang lain, karena kali ini gua ingin menulis tentang hal lain.

Gua hanya ingin menerka-nerka, apa jadinya jika gua yang jadi Cinta? Apa jadinya jika gebetan maut yang 12 tahun ga ada kabar, tiba-tiba ngehubungin gua lagi? Apa jadinya jika seseorang yang udah mati-matian gua lupain, kembali menyapa?

Mungkin, jika gua jadi Cinta, ini yang akan gua katakan pada Rangga.

4:00 AM Rangga: Cinta?

4:05 AM Cinta: Ya?

4:07 AM Rangga: Saya akan ke Jakarta besok, selama 2 hari. Bisa ketemu?

4:18 AM Cinta: Maaf, ini siapa ya?

4:22 AM Rangga: Ini saya. Rangga. Yang kriwil-kriwil. Yang pernah kamu kejar-kejar di bandara gara-gara saya mau ke New York. Yang pernah ke Kwitang bareng buat nyari buku puisi. Kamu ingat?

4:25 AM Cinta: Mas kayaknya salah orang deh.

4:27 AM Rangga: Lho, kamu bukan Cinta yang mirip Dian Sastro itu?

4:30 AM Cinta: Bukan, Mas.

4:32 AM Rangga: Lalu kamu siapa?

4:33 AM Cinta: Saya Cinta. Cintami Atmanegara.

4:50 AM Rangga just left the chat room.

5:00 AM Rangga: Cinta?

Continue reading

Advertisements

Hal-hal yang Bisa Ditertawakan Selama Nonton The Raid 2

Bukan, bukan, ini bukan kritik, apalagi hinaan terhadap film The Raid 2: Berandal. Gua pribadi suka banget sama film aksi ini, meski kadar sukanya lebih kecil ketimbang film yang pertama.

Jalan cerita The Raid 2 berkembang pesat dibanding film terdahulunya yang sangat tipis dari segi plot. Ketegangan dihasilkan bukan hanya dari adegan laganya, tapi juga dari drama dan intrik yang berkembang di sepanjang film. Pemeran-pemerannya pun ciamik. Arifin Putra, yang berperan sebagai Uco, adalah yang terbaik di antara aktor berkelas lainnya.

Jadi, sekali lagi, postingan ini ga bertujuan untuk menghina atau mengkritik dengan pedas. Gua hanya ingin mengajak kalian tertawa dari film yang brutal dan berandal banget ini.

The Raid 2 sendiri merupakan lanjutan dari The Raid 1… ya iya lah ya, judulnya aja ada angka 2-nya gitu. Sungguh informasi yang tidak informatif. Kisah The Raid 2 merupakan sambungan perjalanan hidup Rama, si polisi baik budi, yang sebelas dua belas lah sama Casper. Baik banget doi. Bersih, peduli, tegas. Kayak tagline-tagline caleg gitu.

Di sekuelnya ini, ceritanya Rama harus menyamar menjadi anggota mafia demi bisa memberantas korupsi dan membalas dendam kakaknya. Gara-gara itu, Rama harus masuk penjara, padahal sebenernya dia pengen masuk IPA biar bisa jadi dokter.

Daripada berpanjang lebar lagi dan menebar spoiler di sana-sini, kali ini gua hanya akan berbagi beberapa adegan yang menurut gua bisa bikin kita ketawa selama nonton The Raid 2.

Here we go.

the_raid_2_berandal

1. Makan di penjara

Rama sedang di penjara dan akan makan siang. Menu makanannya ayam goreng. Menjadi lucu karena… anak kost aja biasa makan mie instant. Ini di penjara makan ayam, Bro. Ngekost di penjara aja apa nih? Udah dapet makan ayam, kamar mandi dalem juga. Cuma kurang cuci gosok aja.

2. Gelut di lumpur

Menurut gua, adegan kelahi di lumpur ini adalah salah satu highlight scenes dari The Raid 2. Yang bikin gua mulai ngikik adalah ketika semua orang gelut di lumpur dengan baju yang sama, dan dengan muka yang kotor dan ketutupan lumpur. Di tengah cepat dan ganasnya perkelahian, semua orang sekilas terlihat serupa dan mirip.

Gua kan jadi bertanya-tanya, “Ini ngebedain yang mana temen yang mana musuh gimana ya? Apa pas berantem pada pake name tag? Apa setiap sebelum nonjok, mesti nanya dulu?”

“Kang, punten.”

“Iye? Kenape?”

“Punten ya, Kang. Saya mau nanya. Akang teh grup Uco apa grup lakinya Nafa Urbach yang udah jarang nongol di tipi itu?”

“Gue geng-nya Uco. Kenape?”

“Oh, ga apa-apa, Kang. Cuma mau mastiin aja. Kalo saya mah dari geng lakinya Nafa Urbach itu. Sekarang saya teh mau ijin mukul ya, Kang. Mungkin akan terasa sakit sedikit. Nuhun.”

Tapi yang paling kocak dari adegan gelut di lumpur ini adalah ketika ada 2 orang narapidana memanfaatkan momen ini untuk melarikan diri. Kenapa kocak?

Pertama, karena 2 narapidana ini melarikan diri dengan susah payah manjat pager tinggi, berduri pula. Tangannya sampe ketusuk kawat duri yang melingker di atas pager. Pas lagi susah-susah manjat pager, tiba-tiba, pintu besi yang ada di sebelahnya… dibuka sama polisi.

Yaelah, pintunya kebuka, coy! Kagak kekunci! Tau gitu kan lewat sana aja sambil Assalammualaikum. Ga usah lah manjat-manjat. Pake ketembak sniper pula. Hadeh.

Selain itu, adegan ini kocak karena 2 narapidana itu manjat ke arah kantor penjara! Bego banget ga sih? Kalo mau lari ya mbok ke arah luar, lah kok ini malah ke arah kantor penjaranya? Gua rasa sebenernya mereka bukan mau kabur, tapi mau numpang fesbuk-an di kantor sipir!
Continue reading

#1DayInBangkok: Patpong!

Beberapa minggu lalu, gua berkesempatan untuk traveling ke Bangkok dalam rangka outing kantor. Sampai Bangkok di Jumat siang dan pulang ke Jakarta Minggu pagi. Itu artinya gua hanya punya waktu bersih 1 hari di sana. Travelingnya agak wara-wiri dan melelahkan karena ya durasinya cuman 1 hari tapi mau ke mana-mana. Untuk kali ini, gua pengen cerita tentang satu tempat di Bangkok yang sangat khas.

Tempat itu bernama: Patpong!

patpong

Gambar diambil dari sini. Terima kasih.

Patpong adalah sebuah red district area, di mana seks dan prostisusi dijajakan secara terbuka. Banyak bar dan club yang terang-terangan mempertontonkan kemolekan badan wanita… meski kadang ga tau juga ini wanita beneran atau jadi-jadian. Ini Bangkok, Bung!

Nama Patpong sendiri berasal dari nama keluarga asal Cina yang memiliki sebagian besar property di sana. Mungkin dulunya si engko cina ini punya perusahaan konstruksi bernama Patpong Sedayu Grup dan mulai berekspansi. Lalu setiap hari Minggu ada enci-enci cina masuk tivi yang bilang, “Senin harga naik! …haiya.”

Untuk mencapai Patpong, gua naik taksi bareng 3 rekan kantor. Setelah menyebutkan bahwa tujuan kita adalah Patpong, supir taksi langsung menawarkan beberapa macam club yang ia tau dengan bahasa setengah Inggris, setengah lagi entah apa.

“Wat du yu wan? Masaj hah? Masaj?” tanya si supir menawarkan pijat, sepertinya. Gua dan 3 orang rekan geleng-geleng sambil senyum.

Si supir lalu menunjuk sebuah club di pinggir jalan, “Oferder, yu ken masaj…”

Kita masih mendengarkan.

…shower…

Wah, ada features baru nih? Abis mijet bisa mandi gitu?

…and then…

Kita menyimak.

“…BUM BUM!” Continue reading