Tag Archives: fiksi

Dua Tangkup Cinta

Tik tok. Tik tok. Tik tok.

Lampu sen sebelah kiri berkedap-kedip. Sesekali gue memberi lampu dim, melempar kode ke tukang parkir yang sedang berdiri agak jauh. Sambil setengah berlari, ia melambai-lambaikan tangannya, menunjukkan slot kosong, tidak jauh dari posisi gue sekarang.

Suara klakson terdengar riuh di belakang. Para warga Jakarta yang terkenal tidak sabaran itu mulai menunjukkan jati dirinya. Maklum, sih, Jalan Sabang ini memang sempit untuk ukuran jalan tujuan wisata. Apalagi ini hari Sabtu. Sudah banyak rentetan mobil yang ingin bermain di Jalan Sabang atau sekadar ingin lewat.

“Cerewet,” ujar gue sambil memasukkan mobil ke spasi yang tukang parkir tadi tunjukkan. Rem tangan gue tarik. Jendela gue turunkan untuk melihat posisi parkir. Miring. Ah, bodo deh. Gue sudah tak sabar untuk masuk dan makan. Perut ini manja, minta diisi cemilan ringan sedari tadi.

Tempat yang gue tuju adalah sebuah kedai kopi. Cukup ramai karena pemiliknya itu seorang pembaca berita di salah satu televisi swasta dan, kebetulan juga, seorang selebriti Twitter. Kedai ini ramai dibahas di timeline, maka tak heran banyak orang penasaran dan ingin mencoba. Gue salah satunya. Berawal dari penasaran, kini jadi pengunjung rutin karena satu alasan.

Bukan, bukan karena kopinya. Tapi, karena setangkup roti panggang berisi selai srikaya. Kaya toast. Begitu kedai ini menamainya di buku menu.

Krincing!

Suara lonceng kecil berbunyi setiap pintu kedai itu terbuka. Mata gue langsung menyisir isi kedai, mencari kursi kosong. Ah, itu ada satu. Gue langsung menuju ke sana dan menaruh pantat di sofa merah, meja paling pojok.

“Mau pesan apa, Mas Aji?” tanya pelayan yang langsung mendekat ke arah meja gue. Dia hafal nama setiap pelanggan yang sering kemari.

“Kayak yang biasa,” jawab gue singkat.

“Satu kaya toast dan soda botolan?”

“Iya.”

Si Mbak tersenyum seraya mengambil menu dari atas meja. Mata gue kembali menyisir isi kedai. Sebetulnya tempat ini cenderung kecil. Hanya berukuran 3 x 7 meter. Pemiliknya mengakali dengan memasang cermin di satu sisi kedai dengan sofa merah yang membujur panjang di bawahnya. Sedang di sisi satunya ada kursi dan meja kayu kecil untuk ukuran 2 orang.

“Ini kaya toast-nya, Mas Aji,” seru pelayan sambil meletakkan piring dengan kaya toast pesanan gue di atasnya. Yummy.

kaya toast

Kaya toast ini sebetulnya sederhana. Hanya dua lembar roti tawar yang menjepit selai srikaya di tengah, lalu dipanggang. Namun yang membuat gue terus-menerus kembali ke sini adalah rotinya. Roti yang mereka pakai lebih tebal dari roti biasa. Tingkat kematangan rotinya pun pas. Tidak terlalu cepat diangkat sehingga tetap garing, namun juga tidak terlalu gosong sehingga tidak pahit. Pokoknya pas. Itu terbukti dari suara yang terdengar ketika roti digigit.

Kress!

Hm… ini enak. Enak banget.

Ketika gue menarik gigitan, selai srikaya langsung membuncah keluar dari bagian tengah kaya toast. Hampir saja menetes dan jatuh, sebelum gue sigap menjilat dan mengigit lagi.

Kress!

Hm… Do I have to repeat myself?

Saking enaknya, gue tak ingin buru-buru menghabiskan. I know, roti panggang akan lebih enak selagi panas. Tapi, gue benar-benar tak ingin menghabiskan dengan segera. Rasanya terlalu cepat menghabiskan roti itu akan menjadi sebuah kesalahan yang akan gue sesali nantinya. Gue pun mengeluarkan laptop dari dalam tas. Ada beberapa tulisan yang harus diselesaikan. Kedai ini sudah seperti kuil buat gue. Suasananya pas-aja-gitu untuk mengalirkan ide-ide binal yang tak bisa keluar di tempat lain. Di sini hening… hm, biasanya, sih. Tapi, sore itu, hening sedang tidak menjadi tuan rumah.

“Jujurlah padaku!” teriak seorang yang persis duduk di meja sebelah. Continue reading

Advertisements

Sebuah Siang di Salemba

salemba

“Permisi. Numpang tanya.”

Kamu pun mengangguk. Di pinggir jalan Salemba, kamu berdiri sendiri. Nampak seperti mahasiswi dari kampus sebrang sana. Jadi sepertinya cocok untuk kutanya-tanya tentang daerah sekitar sini. Awalnya aku hanya menurunkan kaca jendela dan bertanya di mana letak sebuah mall yang lokasinya dekat dengan bundaran HI. Namun suaramu yang pelan membuatku harus turun dari mobil dan mengulangi pertanyaanku. Kamu bilang dari sini lurus saja, ketemu perempatan belok kanan, lalu ikuti saja jalurnya. Aku tak mungkin tersasar, begitu jawabmu.

“Makasih ya. Ngomong-ngomong, di sana itu ada…”

Lalu aku menyebutkan salah satu brand pakaian yang sedang happening. Lagi-lagi kamu mengangguk. Di sana ada semua, begitu katamu. Pakaian segala rupa, semua warna. Tapi semuanya dengan harga yang bukan jangkauan mahasiswa. Aku tertawa. Sepertinya itu lelucon andalanmu. Jadi sepertinya aku harus tertawa.

“Eh, kamu tuh temannya Icha ya?”

Echa, begitu ralatmu. Aku pun mengiyakan. Ternyata dunia memang sempit. Aku bilang sepertinya pernah melihat entah di mana. Mungkin di sekitar rumah, karena Echa itu tetanggaku. Kamu bilang memang pernah main ke rumahnya di Pondok Kopi. Aku bilang iya sambil mengeluarkan mimik pantas-saja-pernah-lihat. Kemudian aku membahas Echa dan kamu mengangguk-ngangguk sambil tertawa. Terima kasih untuk kebiasan-kebiasaan buruk Echa yang sudah membuat kita tertawa bersama.

“Kamu mau ke mana?”

Sarinah, jawabmu. Kamu ada pertemuan dengan dua orang teman dan beberapa cangkir kopi. Sudah janji, namun sedari tadi sulit mendapatkan taksi. Setauku itu dekat dengan bunderan HI. Aku tawarkan tumpangan dengan barter penunjuk jalan. Dan sekali lagi, kamu mengangguk.

“Kenal Echa udah lama?” Continue reading

Setan Indonesia Royal Deathmatch: A Prequel

Ada yang masih inget postingan ini?

Nah, postingan kali ini adalah prequel, atau kisah sebelum, dari cerita yang itu. Tanpa banyak basa-basi, mari kita sambit saja cerita yang berikut ini. Mari.

Karena cintanya yang besar terhadap dunia film, seorang sutradara lulusan Geologi ingin membuat film terobosan agar bisa menjadi hiburan bagi para penonton Indonesia. Kini, ia sibuk merancang sebuah naskah film yang dia yakini akan meledak di pasaran. Ia mendapatkan ide ketika sedang duduk di pinggir pantai di saat hujan… lalu tersambar kilat.

Ribuan volt telah membuat otaknya menjadi encer, lunak, dan kreatif. Ia, yang sebelumnya tidak bisa menulis, tiba-tiba bisa menulis cerita untuk filmnya sendiri dan sangat yakin ini akan meledak. Para pemain papan atas yang ia telah kontrak, membuatnya semakin yakin film ini akan meledak. Dan jika semua rencana di atas gagal, sang Sutradara telah membuat rencana cadangan untuk meledakkan acara ini. Sebuah rencana yang bernama kardus petasan.

Setelah segelas kopi jahe dan sengatan volt membuat jidat Sutradara terbuka lebar, ia akhirnya berhasil menyelesaikan draft skenario filmnya. Sebuah skenario dengan tema yang lagi happening saat ini di Indonesia: Horor.

Meski di Indonesia sering menyisipkan adegan panas menjurus mesum pada film horor, Sutradara berprinsip tidak akan menggunakan siasat yang sama. Masih jelas dalam ingatannya ketika ia menyutradarai film Susuk Kuntilanak, dimana si Kuntilanak kalah bersaing dengan artis berbadan seksi. Kuntilanak stress dan hampir saja merobek kain kafan di bagian dada, sampai Sutradara segera melarang tindakan ini. Sutradara minta Kuntilanak untuk istighfar dan mengingatkan bahwa film ini berjudul Susuk Kuntilanak, bukan Susu Kuntilanak.

Skenario itu pun selesai. Tugas berat berikutnya telah menanti. Sutradara harus mencari produser yang cukup gila untuk mau membiayai film ini.

Produser 1

“Setan Indonesia Royal Deathmatch?! Apa pula ini?!” 

BRAK!

Produser membanting draft skenario film yang ditulis 8 hari 8 malam dengan dukungan kopi jahe itu. Sutradara memungut draft yang jatuh dan mengembalikannya ke hadapan produser.

“Mana ada yang mau nonton film ini?” tanya produser dengan intonasi naik.

BRAK!

Si Sutradara kembali memungut, “Tapi ini bagus, Pak! Bagus! Percaya deh!”

“Dengkulmu bagus?! Mana ada yang mau nonton setan-setan berantem?!”

BRAK!

Hampir saja si Sutradara memberi piring cantik kepada produser, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk menghapus keringat dari jidat, dan kembali, memungut. Ia masih belum menyerah.

“Tapi ini beda, Pak. Berantemnya… sampai… mati.” Sutradara sengaja memberi jeda untuk memberi kesan dramatis, namun gagal. Itu karena melihat setan berkelahi sampai mati bukanlah sesuatu yang cerdas sebab para setan tersebut… sudah mati dari sananya.

Dahi produser berdenyut kencang. Semakin kencang setelah melihat deretan artis yang akan dipakai sebagai pemeran film tersebut.

Pemain:

Pocong
Kuntilanak
Suster Ngesot
Setan Budeg
Hantu Jamu Gendong
Iblis Pempek

Produser geleng-geleng melihat nama yang terakhir, “Iblis Pempek? What the…

BRAK!

“Ini keren, Pak! Setan baru! Belum pernah ada sebelumnya. Dia mati tragis, Pak. Dia mati karena inflasi yang terlalu tinggi dan harga bahan baku terus meningkat. Lalu di dalam tekanan ekonomi yang hebat, ia mengambil keputusan untuk melakukan suatu tindakan yang…

“Singkatnya?”

“Gantung diri pake gesper, Pak.”

Produser menepuk jidat dengan keras. Setelah nyaris menggampar Sutradara dengan yellow pages, akhirnya ia mengusir si Sutradara keluar dari ruangannya tanpa banyak memberi penjelasan.

Tapi si Sutradara belum menyerah. Ia bertekad akan berkeliling dari pintu ke pintu, menjajakan skenario andalannya ini ke semua produser yang ia kenal.

Produser 2

BRAK!

Sutradara berinisiatif keluar dari ruangan produser setelah terjadi kegiatan banting-skenario-ke-lantai-dan-memungut-kembali lebih dari sepuluh kali. Awalnya, si Sutradara mengira ini adalah salah satu dari gerakan senam lantai yang sedang digemari para produser. Sutradara akhirnya sadar bahwa kegiatan itu tidak ada sangkut pautnya dengan senam lantai setelah si Produser mulai mengancam untuk melemparnya dengan gayung.

Produser 3

Sutradara masuk ke dalam ruangan produser, duduk, menjelaskan skenario, bangkit dari kursi, lari sambil menghindari sambitan pulpen, kertas 1 rim, dan alat tulis kantor lainnya dari produser.

Produser 4

“Bagaimana, Pak? Mau memproduseri?” Continue reading