Tag Archives: film luntang-lantung

Good Reason

Seperti halnya kisah Ari Budiman di film Luntang-lantung –dan jutaan sarjana lainnya di Indonesia–, gua juga pernah ngalamin luntang-lantung cari kerja.

Beberapa minggu awal setelah lulus kuliah adalah momen di mana gua sebanyak-banyaknya ngirim lamaran. Apalagi ketika gua tau banyak temen gua udah dapet kerja duluan. Gua ga mau kalah sama yang lain dan ingin cepet-cepet dapet kerja juga.

Tapi ternyata, nasib gua beda 180 derajat. Di saat temen-temen gua makin banyak yang dapet kerja, gua masih langgeng dengan status pengangguran. Jangankan dapet kerja, dipanggil wawancara aja kagak. Padahal nilai gua ga jelek-jelek amat. Malah lebih bagus dari sebagian mereka yang udah dapet kerja duluan. Saat itu, gua merasa dunia ga adil sama gua.

Life is not fair.

Dan seperti halnya Ari Budiman, saat gua mulai bingung tentang masa depan, saat gua mulai memikirkan apa jangan-jangan gua ditakdirkan untuk buka usaha tambal ban, handphone gua berdering. Di layar muncul sebuah nomor asing yang belum pernah gua simpan sebelumnya.

“Selamat siang, Pak Roy. Kami dari PT Abcdef.”

Waktu dia nyebut nama perusahaannya, gua langsung nginget-nginget apa pernah masukin lamaran ke sana, dan kalo pernah, sebagai apa. Tapi jangankan dua informasi itu, nama perusahaannya aja gua ga kenal.

“Hah? PT apa, Mbak?”

“PT Abcdef.”

“Hah?”

“PT Abcdef.”

Pengen bilang “Hah?” sekali lagi tapi takut dapet piring cantik. Demi menjaga peluang dapet kerja dan menghindari tuduhan punya masalah pada pendengaran, gua iyain aja dulu. Biar cepet.

“Besok bisa datang untuk wawancara, Pak Roy?” lanjut si Mbak.

“Jam berapa ya, Mbak?” Jual mahal dikit. Padahal kalo diminta dateng dari subuh buat nyapu dulu juga bisa.

“Jam 1 siang, Pak. Gimana?” tanya si Mbak lagi.

“Bisa, bisa. Bisa kok.” Ya bisa lah. Lah wong nganggur!

“Oke, saya tunggu ya, P–”

“Mbak, bentar, Mbak,” buru gua sebelum dia menutup telponnya, “Ini lokasinya di mana ya?”

“Di Jalan Agus Salim no. 122, Pak.”

“Ooo…”

“Samp–”

“Mbak, itu di mana ya?”

“…”

“Mbak, Mbak?”

“Deket Jalan Thamrin, Pak.”

Kelar nelpon, gua langsung nge-gugel nama perusahaannya. Ga ketemu. Gua tanya temen-temen pun pada ga tau. Ini perusahaan apaan ya?

Tapi gua tetep pede mau wawancara karena lokasi kantornya yang berada di jalan Agus Salim, dekat jalan Thamrin. Yang di pikiran gua, perusahaannya pasti kece karena lokasinya ada di pusat kota Jakarta. Pasti dia berada di salah satu lantai dari gedung pencakar langit ibukota. Pasti karyawannya keren-keren dan kalo makan siang ke cafe yang bonafit. Pasti gitu deh.

Continue reading

Advertisements

Gara-Gara Magang

Sebagian besar anak kuliahan pasti pernah magang. Lewat magang, seorang mahasiswa diharapkan bisa sedikit banyak mencicipi dunia kerja sehingga ga kaget saat menceburkan diri sepenuhnya. Jika menganalogikan dunia kerja sebagai ujian akhir, maka magang itu semacam kisi-kisi lah.

Nah, di bawah ini gua akan bercerita pengalaman gua saat magang dulu. Cerita ini terjadi di tahun 2006, saat gua masih polos dan begitu naif. Cerita yang sama tertuang dalam Kaleidoskop saputraroy.com tahun 2013 yang bisa kalian download di sini. Kaleidoskop saputraroy.com 2013 adalah kumpulan postingan saputraroy.com terbaik versi pembaca yang dibagi menjadi beberapa kategori. Cerita “Gara-gara Magang” sendiri adalah postingan bonus pada kaleidoskop tersebut, yang versi jadul dan panjangnya pernah gua tuangkan pada buku kedua gua yang berjudul Doroymon.

Semoga kalian suka. Inilah; “Gara-gara Magang”.

internship

Liburan tahun ketiga kuliah gua isi dengan Kerja Praktek (KP), salah satu mata kuliah wajib yang mengharuskan gua untuk kerja minimal selama satu bulan di sebuah perusahaan. KP itu sejenis Kuliah Kerja Nyata atau magang gitu deh. Karena pilihan yang ada, akhirnya gua memutuskan untuk KP di Bapeda, alias Badan Perencanaan Daerah DKI Jakarta.

Gua KP bareng Dikun dan Sakai. Dikun adalah badut angkatan yang sangat lucu. Lucu dalam artian kayak Komeng, bukan lucu dalam artian kayak Nabila JKT48. Sementara Sakai adalah seorang teman yang kurus, gondrong, dekil, dan hitam. Eh, tunggu, tadi itu gua mendeskripsikan lutung. Ralat. Sakai itu kurus, gondrong, dekil, hitam, dan ga berbuntut. Nah itu, baru Sakai. Yang sangat mencolok dari Sakai adalah tampangnya seperti pelaku kriminal. Pelaku kriminal yang durjana, tepatnya. Ia ke mana-mana selalu naik motor. Dengan muka seperti itu, Sakai lebih terlihat seperti orang yang baru aja mendapatkan motor itu dengan cara menusuk pemilik aslinya di tengah jalan.

Salah satu tugas utama kami selama KP adalah luntang-lantung keliling Jakarta, mendatangi semua Bapeko/kab (Badan Perencanaan Kotamadya/ Kabupaten). Salah satunya adalah Bapekab Kepulauan Seribu. Dengan semangat 45, gua mencari di buku alamat dinas pemerintahan. Dengan jelas, di buku itu tertulis:

BAPEKAB KEPULAUAN SERIBU – Pramuka No. 9.

Ah, gua tau nih. Jalan Pramuka kan? Deket jalan Matraman kan? Gampang lah ini. Gua, Dikun, dan Sakai langsung bergegas turun dari ruangan kami di Bapeda dan menuju parkiran motor.

Perjalanan akan kami lakukan bertiga dengan naik dua sepeda motor. Ga kok, gua ga berdiri di antara dua motor, berakrobat sambil nyundul-nyundul bola api dan ada anjing laut tepok tangan di sekeliling gua. Gua duduk manis, dibonceng di salah satu motor. Gua duduk di belakang Dikun, sementara Sakai naik motor sendirian. Motor mereka diparkir di area Monas.

“Parkir di sini ga usah bayar, Roy,” kata Dikun yang sangat kontras dengan papan tarif parkir yang terpampang dengan gagah di depan Monas.

“Eh? Ga usah bayar?” kata gua dengan tampang kurang yakin.

“Kalo tukang parkirnya minta duit, lo senyum aja. Kalo ga, lo pura-pura ga liat aja.”

“Ga sekalian pura-pura mati, Kun?” Continue reading

55 Hal yang Jangan Dilakukan Ketika Nonton Film di Bioskop

1. Berisik.

2. Keseringan bertanya tentang cerita film ke penonton di sebelah. Padahal kenal juga ga. Setengah teriak pula. Lihat poin 1.

3. Berbuat mesum.

4. Dengan pacar orang pula.

5. Mengangkat kaki ke kursi depan.

6. Atau mengangkat anak yatim menjadi anak sendiri.

7. Mencoba nyium gebetan di dalam bioskop saat gelap. Geez, it’s so 1990!

8. Makan nasi. Dengan lauk gulai tunjang. Pake nambah. Dan angkat kaki.

9. Abis itu teriak, “Uda, tambo cie!”. Lihat poin 1.

10. Bermain gadget. Silau, men!

11. Membuka google translate saat menonton film asing. Kan ada teks-nya. Woles, bro.

12. Tidur.

13. Ngorok pula. Lihat poin 1.

14. Nonton berdiri.

15. Sambil melambai-lambaikan tangan atau merekamnya dengan iPad. Ini bukan konser, bung.

16. Memakai kacamata. Kacamata kuda.

17. Atau kacamata renang.

18. Membawa remote DVD dan berharap film bisa di-pause saat kebelet pipis.

19. Bertanya ke penonton di sebelah, “Mas, ini gambarnya udah ori belom?”

20. Mengeja subtitle.

21. Nyemil makanan yang berbau. Seperti pempek, durian, atau abege berkeringat yang lagi ngantri di teater JKT48.

22. Duduk ga sopan. Misalnya, sambil duduk teriak “Anjing lu!”. Ga sopan. Continue reading

Review #FilmLuntangLantung

Review di bawah ini ditulis oleh si pacar, @sarahpuspita, sebagai salah satu dari beberapa ribu orang yang menonton #FilmLuntangLantung di hari pertama rilis, 8 Mei 2014. Mungkin bisa dijadikan acuan dan justifikasi untuk nonton #FilmLuntangLantung di hari-hari mendatang.

Mungkin, banyak dari kita yang meragukan kualitas sebuah buku yang diangkat ke layar lebar. Gue, udah jelas termasuk di antaranya. I always think that my imagination is the best. Bisa ditebak, seringnya, gue kecewa sama film yang diadaptasi dari buku atau novel yang sebelumnya udah gue baca.

Awalnya, gue pun skeptis sama Luntang-Lantung. Gue udah baca novelnya, and I love it so much. Gak rela rasanya kalo filmnya nggak sebagus bukunya. Apalagi, Luntang-Lantung ini genre-nya komedi. Bayangin deh kalo lo udah hapal semua jokes-nya. Garing banget nggak sih pas nonton? Krik.

Tapi berhubung gue terlanjur penasaran, akhirnya ikutlah gue nobar bareng Roy dan temen-temennya. Tepat di hari Luntang-Lantung muncul di bioskop, kami janjian di Planet Hollywood. Untungnya, jalanan gak terlalu macet. Sampe di sana, kami beli tiket, makan, trus nongkrong nungguin pintu studio dibuka.

Setelah pengumuman pintu studio telah terbuka, kami semua langsung masuk dan duduk dengan manis. Waktu film mulai dan di layar ada tulisan “diadaptasi dari novel komedi laris karya Roy Saputra”, gue tepok tangan sendirian dengan kampungannya. Actually mau sambil berdiri, tapi takut disambit sendal karena di belakang gue ada orang. Ketika Ari Budiman muncul di layar kemudian dengan komunikatif ngomong di depan kamera, somehow I know this movie would be interesting. Kapan lagi ya bok, diajak ngobrol sama Mas Dimas? *ikrib*

Selesai nonton, gue mencatat setidaknya ada lima highlight dari film Luntang-Lantung yang memorable menurut gue. Ini bisa alasan kenapa kalian harus nonton meskipun udah baca novelnya. Here you go:

1. Suketi Kuncoro

Bagi yang udah baca novelnya, pasti udah familiar kan sama yang namanya Suketi Kuncoro? Di #FilmLuntangLantung, sosok Jawa ini diperankan oleh Mu-had-kly Acho (finally! Susah lho, spelling nama Acho dengan benar T_T). Acho sendiri, waktu gue tanya ke Roy, tuh suka pake dialek Betawi asli kalo lagi stand up comedy. Tapi waktu jadi Suketi, buseeet, kagak ada sama sekali Betawi-Betawi-nya. Dese pyuuur orang Jawa yang medok pol, ngomongnya pelan, dan default setting mukanya selalu terjajah.

Setiap Suketi muncul di layar, gue selalu ngakak ngeliat ekspresi mukanya. Tambah ngakak kalo dia buka mulut buat ngomong dengan logat Jawa-nya itu. Gue sampe langsung bisik-bisik ke Roy, “Ih, Acho ini kok pas banget ya jadi Suketi! Alami!”

He’s definitely a scene stealer. Standing ovation deh! Cuintak! Continue reading

Bukan Mimpi

Agustus 2010

“Enaknya dinamain siapa ya?”

Saat itu tengah malam. Gua sedang mengetik halaman pertama dari sebuah naskah yang diminta oleh penerbit. Mereka minta dibuatkan sebuah cerita komedi dengan latar dunia kerja. Sebuah kisah tentang sarjana baru, yang luntang-lantung cari kerja.

Gua mengetuk-ngetukkan jari telunjuk dan tengah di atas meja kamar. Otak diputar demi bisa menemukan sebuah nama untuk si tokoh utama. Biasanya gua akan memilih nama yang biasa banget untuk tokoh utama dalam cerita-cerita gua. Gua pernah pake nama Andre, Dimas, Yanto. Nama yang mungkin aja ditemukan di kehidupan sehari-hari. Nama yang standar. Nama yang bisa aja “lu” atau “gue” banget.

Kali ini, tantangan mencari nama menjadi dua kali lipat sulitnya. Gua bukan hanya perlu nama yang biasa, tapi juga nama yang pasaran. Karena nama pasaran itu lah yang nantinya akan jadi trigger dari plot utamanya. Sebuah nama yang bisa jadi ada di mana-mana. MC kawinan, juragan pakan ternak, kapster salon, atau mahasiswa yang baru lulus dan susah cari kerja.

“Budi? Heri? Gunawan? Rudi, Agus, Ari, Budi… ah, gua tau. Ari Budiman!”

Gua kebayangnya si Ari Budiman ini orangnya harus jago ngomong, suka ngeles, dan pandai bergaul. Dia bisa cas-cis-cus terus bingung belakangan. Egonya gede, ga mau kalah sama temennya. Easy going tapi banyak maunya. Tapi wajah dan perawakannya haruslah seperti orang pada umumnya. Ah, kayak gini aja deh…

#FilmLuntangLantung Ari Budiman

“Nama temennya siapa ya?”

Ceritanya, Ari punya 2 teman baik. Satu yang selalu ia banding-bandingkan, sementara satu lagi yang bisa menjawab segala keresahan dalam hidupnya. Karena ini untuk novel bergenre komedi, kayaknya sih bakal lebih gampang kalo gua bikin 2 sahabatnya ini punya dialek khas daerah tertentu.

“Bikin orang Batak kayaknya seru nih. Yang gede, yang sangar, yang gahar, yang… bloon.”

Maka jadilah Togar Simanjuntak, sahabat Ari Budiman, orang Batak yang ngaku-ngaku kalo dia ini cucu C. Simanjuntak. Awalnya gua ingin memberi nama Bangun. Tapi sepertinya nama Togar lebih membumi dan asik untuk dipanggil-panggil. Penggalan kata “Gar” terbaca lebih mantap daripada “Ngun”. Maka si orang Batak ini pun bernama Togar dan bermarga Simanjuntak. Badannya gempal, rambutnya lebat, kalo ngomong harus kencang dan meledak-ledak.

“Nah, temennya yang satu lagi mesti kalem nih.” Continue reading