Tag Archives: film luntang-lantung

Wawancaur: Togar Simanjuntak

Kamis, 8 Mei 2014, #FilmLuntangLantung bakal rilis di bioskop kesayangan kalian semua.

#FilmLuntangLantung diangkat dari novel ketiga gua yang berjudul Luntang-lantung. Bercerita tentang 3 sahabat yang mencari kerja, cinta, dan jati diri. Nah, salah satu dari 3 sahabat itu bernama Togar Simanjuntak. Togar adalah orang Batak dengan karakter yang berbadan gempal, meledak-ledak, gahar, sok jago, tapi di satu sisi, dia adalah sosok yang setia kawan banget. Dan di #FilmLuntangLantung, tokoh tersebut diperankan dengan sangat apik oleh Nugroho Achmad alias si Lolox.

Lolox adalah seorang stand up comedian jebolan Stand Up Fest 3, tahun 2013 lalu. Gua sendiri belom banyak nonton sepak terjang Lolox di dunia stand up comedy, tapi setelah nonton #FilmLuntangLantung di press release tanggal 30 April lalu, gua harus berterima kasih ke casting director-nya karena bisa menemukan Lolox untuk memerankan Togar. Gaya bicara, tempramen, dan postur tubuhnya mirip dengan apa yang gua bayangkan saat menulisnya dulu. Pas!

Apa cerita-cerita Lolox selama syuting #FilmLuntangLantung? Dan kenapa bisa dia yang akhirnya kepilih untuk memerankan Togar Simanjuntak? Dan kenapa namanya yang Nugroho Achmad bisa jadi Lolox? Dua pertanyaan tadi akan terjawab di wawancaur kali ini.

Wawancaur adalah proses wawancara yang dilakukan secara awur-awuran. Pertanyaan disusun semena-mena dan boleh dijawab suka-suka. Proses wawancaur dengan Lolox benar-benar dilakukan via email. Wawancaur diedit sesuai kebutuhan. Gambar dipinjam dari sini. Terima kasih.

si lolox

Halo, Lox! Kesibukan lu sehari-hari sebenernya apa sih?

Heh! Kok pake “lu gue” ?! Gak boleh!

Ampun, Bang, iya ampun… Ya udah gua ganti ya, pake logat Batak juga nih. Ehem. Kesibukan hari-hari kau itu apa lah, Lox?

Kesibukan aku menjaga perdamaian dunia, karena dunia udah mulai gak kondusif. Sadar gak kalian semua, kalian ini masi bisa tenang-tenang duduk di bumi ini karena aku? Nah itu dia!

Pret!

Hahahak!

Nama asli kau yang dikasih si Mamak kan Nugroho Achmad. Kenapa bisa jadi Lolox?

Dulu aku tuh cadel, jadi kalo ditanya nama, aku selalu jawabnya NUGLOHO. Itulah asal mula terjadinya Danau Toba.

Hahahak!

Ceritain dong gimana ceritanya bisa diajak casting dan akhirnya main di film Luntang-lantung? Continue reading

Advertisements

Mei 2014!

Wuih, ga terasa ya tahun 2014 udah hampir setengahnya kita lewati. Di bulan kelima ini, gua mau mengajak teman-teman pembaca semua untuk lebih dekat dengan karya terbaru yang melibatkan gua di dalamnya: #FilmLuntangLantung!

Yes, this May is all about the Luntang-lantung movie!

Setelah bulan Oktober 2013 lalu gua banyak membahas tentang novel #LontangLantung, di bulan ini gua akan rutin menulis tentang #FilmLuntangLantung. Filmnya sendiri akan tayang serentak di 75 layar seluruh Indonesia pada Kamis, 8 Mei 2014.

#FilmLuntangLantung bercerita tentang Ari Budiman yang baru lulus kuliah dan sibuk mencari kerja. Setelah berkali-kali gagal, akhirnya Ari mendapatkan kerjaan idamannya, namun di saat yang bersamaa, ia harus membunuh suara hatinya. Sialnya lagi, ia malah melukai hati pacarnya akibat kerjaan idamannya ini. Endingnya gimana? Ya ditonton atuh!

#FilmLuntangLantung diproduksi oleh MMA Pictures, disutradarai oleh Fajar Nugros, dan dibintangi oleh Dimas Anggara, Kimberly Ryder, Dhea Seto, Muhadkly Acho, dan Lolox. Kalo kalian penasaran banget, nih tonton dulu trailernya di sini:

Bagi yang udah baca novelnya, kalian bakal nemuin cerita yang beda di filmnya. Ada tokoh dan plot baru yang bikin cerita Ari Budiman dan kawan-kawan dalam mencari jati diri jadi semakin kaya dan berkembang dengan menarik. Jadi jangan khawatir, bakal banyak kejutan dan lelucon-lelucon baru di filmnya nanti! Continue reading

Wawancaur: Suketi Kuncoro

Kamis, 8 Mei 2014, #FilmLuntangLantung bakal rilis di bioskop kesayangan kalian semua.

Dalam rangka menyambut rilisnya film Luntang-Lantung, gua mau nge-wawancaur salah satu pemain yang terlibat di film itu. Seorang aktor baru yang juga pelaku stand up comedy di Indonesia: Muhadkly Acho.

Setelah berulang kali menyocokan jadwal dengan sekretarisnya, akhirnya gua dapet juga kesempatan untuk nge-wawancaur pria ganteng harapan bangsa ini. Di tengah sibuknya Acho menimba air dan menuangnya ke ember, gua berhasil nge-wawancaur pria yang ditampuk untuk memerankan Suketi Kuncoro, sahabat Ari Budiman yang jadi tokoh utama dari film Luntang-Lantung.

Gua sendiri udah sering liat penampilan Acho di atas panggung stand up. Mulai dari opener di Tanpa Batas, Little Man Big Problem, Stand Up Festival, dan yang terakhir saat Provoactive Proactive Stand Up Night 3 awal April kemarin. Kelihaiannya memilih diksi dan memainkan intonasi Betawi, jadi senjata utamanya memancing tawa penonton.

Kemampuannya mengocok perut di atas panggung udah ga diragukan lagi, tapi seberapa lihaikah Acho saat beraksi di layar lebar? Dan kenapa bisa dia yang akhirnya kepilih untuk memerankan Suketi Kuncoro? Dua pertanyaan tadi akan terjawab di wawancaur kali ini.

Wawancaur adalah proses wawancara yang dilakukan secara awur-awuran. Pertanyaan disusun semena-mena dan boleh dijawab suka-suka. Proses wawancaur dengan Acho benar-benar dilakukan via email. Wawancaur diedit sesuai kebutuhan. Gambar dipinjam dari sini. Terima kasih.

muhadkly acho

Halo, Acho! Kesibukan lu sehari-hari sebenernya apa sih?

Halo Roy. Kesibukan gua sehari-hari selain Model Catwalk makan tidur, gua bekerja sebagai Production Head di sebuah digital agency. Terus di luar jam kantor, gua juga sibuk stand up comedy di rice cooker TV dan off air event.

Ceritain dong gimana ceritanya bisa diajak casting dan akhirnya main di film Luntang-Lantung?

Continue reading

Surreal

Pernah ngerasain momen surreal?

Momen surreal adalah saat di mana lu meragukan apa yang lu rasain ini beneran apa cuma halusinasi. Momen ketika lu bertanya-tanya apa yang lu liat di depan mata ini kenyataan atau hanya sebuah bayang-bayang. Yang membuat kadang lu harus mencubit lengan sendiri sekadar memastikan apa yang terjadi, memang benar-benar terjadi.

Belakangan ini gua sedang mengalami momen itu. Mencubit pipi berkali-kali dan bergumam dalam hati, “This is real. This is happening.”

Tepatnya, momen itu terjadi saat gua mengunjungi situs Youtube dan untuk pertama kalinya, menonton ini.

#FilmLuntangLantung. Di bioskop kesayangan kalian. 8 Mei 2014.

#FilmLuntangLantung

“Bang, novel Luntang-lantung-nya lucu parah! Difilmin dong, Bang! Pasti seru deh!”

Kurang lebih begitulah bunyi satu mention yang masuk di sebuah siang pada tahun 2011. Gua tersenyum karena senang ada satu pembaca yang memberikan apresiasi positif. Namun senyum yang sama juga berarti mengabaikan harapannya untuk melihat Luntang-lantung dalam wujud film. Novel Luntang-lantung baru rilis beberapa minggu, sangat jauh untuk bisa dikategorikan layak diangkat ke layar lebar.

Memang, waktu itu udah ada beberapa novel yang diadaptasi menjadi film. Namun semuanya pastilah national best seller. Semua novel yang udah pernah diangkat ke layar lebar berlabel laris manis dari Sabang sampai Merauke. Jangankan nasional, waktu itu Luntang-lantung belum best seller di satu kelurahan pun.

Gua ga ada niatan untuk mengajukan novel ini ke mana-mana. Novel ini belum ada prestasinya. Banyak yang baca aja gua udah seneng. Gua ga berani masukin Luntang-lantung ke rumah produksi. Jangankan ke rumah produksi, rumah bordil aja gua ga berani.

Siang itu juga, gua membalas mention yang masuk tadi. Mengucap terima kasih atas komentarnya, tanpa sedikitpun membahas tentang kemungkinan novel gua menjadi film. Karena dalam hati gua tau, kemungkinan itu kecil sekali. Lebih kecil dari alat kelamin oknum YZ di video mesum bareng Maria Eva. Sangat-sangat kecil sekali.

Namun lucunya, mention bernada serupa masuk berulang kali dari beberapa pembaca yang berbeda. Apresiasi positif yang dibarengi dengan pertanyaan sejenis, “Bang, kok ga difilmin?” atau seruan seperti, “Jadiin film dong, Bang!” ga jarang muncul di tab mention.

Tapi jangankan difilmin, saat itu gua sedang berjuang sendirian menghidupkan Luntang-lantung di rak-rak toko buku. Gua sedang giat mendongkrak Luntang-lantung lewat kuis atau promo selintas di berbagai social media. Yang ada di pikiran gua saat itu hanya gimana biar buku ini bisa survive dan semangat yang gua usung dapat tersalurkan dengan luas.

Perjuangan itu menghasilkan. Luntang-lantung sempat naik ke rak best seller Gramedia-Gramedia besar di Jakarta. Gramedia Pejaten Village, Kelapa Gading, Matraman, Artha Gading, dan beberapa lainnya. Yang paling lama, Luntang-lantung menghiasi rak best seller Gramedia Pondok Indah Mall. Respon positif semakin mengalir ke kolom comment di blog, inbox email, ataupun tab mention. Gua bahagia karena akhirnya perjuangan ini menghasilkan.

Namun kenyataan berkata lain. Meski ludes dalam waktu 4 bulan di pasaran Jakarta, nasib Luntang-lantung berhenti ga lama setelahnya. Ga ada cetakan berikutnya, ga ada restock, dan ga ada kabar dari penerbit. Perjuangan gua selesai bersamaan dengan hilangnya Luntang-lantung di rak toko buku.

Gua sedih banget. Tapi di satu sisi, gua gregetan.

Novel ini banyak dapet apresiasi positif tapi kok udahan? Novel ini ludes di pasaran Jakarta tapi kok udahan? Novel ini sempet mendapat label best seller di Gramedia besar tapi kok udahan?

Tapi meski stock novelnya udahan, perjuangan gua ga akan udahan.

Tangan gua kepal kuat-kuat saat tekad tadi bermain dalam kepala. Jika buku ini ga muncul lagi di rak toko buku, gua akan memperjuangkan agar dia bisa lahir kembali lewat media lain.

“Bang, novel Luntang-lantung-nya lucu parah! Difilmin dong, Bang! Pasti seru deh!”

Iya. Lewat film.

Continue reading