Tag Archives: film luntang-lantung

Keep Smile

Banyak yang ga tau, kalo Luntang-lantung (edisi pertama Lontang-lantung) merupakan novel komedi yang ide dasarnya diberikan oleh penerbit. Waktu itu, gua yang sedang sibuk mengejar karier, memutuskan untuk istirahat menulis buku. Tapi di sebuah siang, seorang editor menelpon gua dan mengajak untuk menulis komedi kembali. Awalnya gua menolak karena alasan yang gua sebutkan di atas tadi: fokus di pekerjaan. Namun kemampuannya bernegosiasi berhasil meluluhkan gua. Entah kesambet setan mana, akhirnya gua pun mengiyakan.

Banyak yang ga tau, kalo Luntang-lantung adalah novel dengan proses penulisan paling cepat yang pernah gua alamin. Biasanya, gua menyelesaikan naskah sebuah novel dalam waktu 4-5 bulan. Selain karena emang lamban, gua cenderung berhati-hati dan perfeksionis dalam menulis. Tapi berbeda dengan Luntang-lantung. Naskahnya selesai hanya dalam 2 bulan aja. Entah emang plotnya yang menarik, atau gua yang udah jatuh cinta sama tokoh utamanya.

Luntang Lantung Book

Banyak yang ga tau, kalo Luntang-lantung ludes di pasaran Jakarta kurang dari 4 bulan. Namun sayangnya, ga pernah di-restock, ga pernah dicetak ulang, dan ga ada kabar dari penerbit. Entah kenapa.

Banyak yang ga tau, kalo novel Luntang-lantung lah yang pada akhirnya membuat gua malas menulis dan enggan berurusan dengan dunia penerbitan lagi. Karena di depan gua, penerbit memuji dan mengakui bahwa Luntang-lantung ditulis dengan baik dan benar. Namun entah gimana omongan mereka di belakang gua.

Banyak yang ga tau, kalo segala usaha promosi Luntang-lantung murni datang dari gua. Ide dan hadiah kuis yang sempet wara-wiri di timeline Twitter waktu itu, semua bersumber dari pemikiran dan kantong gua. Otak gua peras siang malam, kocek gua rogoh dalam-dalam. Semua demi menyukseskan Luntang-lantung di pasaran. Padahal gua dan penerbit sempet bertemu untuk membahas segala sesuatu tentang taktik promosi. Sampai waktu yang ditentukan, bahkan satu retweet dari akun resmi mereka pun ga pernah muncul. Entah apa alasannya.

Mungkin memang selama ini gua yang salah, gua yang bodoh, gua yang ga tau, kalo ternyata… dunia penerbitan itu sekejam ini.

Continue reading

Advertisements