Tag Archives: FMB

Look Who’s Here

Tanggal 10 Oktober yang lalu, gua melangsungkan resepsi pernikahan bareng sang istri. Seperti yang pernah diceritain di postingan ini, gua dan sang istri ga pengen nikahan kami berjalan biasa. Pengennya unik dan memorable, baik buat kami sendiri maupun buat para tamu yang dateng.

Konsep film Up yang tercecer di beberapa ornamen jadi gimmick tersendiri yang kami ciptain dan nikmatin di hari H. Mulai dari undangan, kue pengantin, film yang diputar, maupun di souvenir untuk para tamu undangan.

Selain itu, keisengan lainnya yang gua dan sang istri lakukan saat resepsi pernikahan adalah membawa handphone ke atas panggung. Tujuannya tentu saja bukan untuk live tweet, atau jadi quiz hunter. Melainkan untuk selfie.

Iya, selfie. Iya, dari atas panggung. Iya, di nikahan sendiri.

Tentu aja ga selfie dengan muka berdua aja. Tapi mengutip istilah anak sekarang, kami melakukan we-fie, alias selfie secara massal bareng beberapa tamu pilihan yang spesial. Bukan, bukan dengan yang telornya dua. Tapi dengan yang awam dengan aktivitas selfie dan tentu aja, yang dekat dengan kami berdua.

Akibat ulah kami ini, antrian salaman jadi rada mengular dan mampet pas lagi selfie. Untungnya hal ini cukup dimaklumi mengingat kami adalah pasangan yang haus akan eksistensi di dunia maya.

Enaknya melakukan we-fie, kami bisa langsung menapak tilas siapa aja yang dateng tepat 1 hari setelah hari resepsi. Ga perlu nunggu tim dokumentasi ngasih laporan, tinggal geser kanan kiri di gallery handphone.

Anywaaay,

Daripada gua berpanjang lebar lagi, ini dia beberapa cuplikan dari mereka yang dateng ke resepsi pernikahan gua dan sang istri, dua bulan lalu, yang berhasil kami tangkap dengan we-fie.

Look who’s here!

dendi dian vinsen adel

Twitter Gangsta: pasangan Dendi Riandi dan Dian PS serta duo “pemanas” timeline; Adel dan Vinsen. Sebetulnya ada lagi Mia dan Gelaph, the solemate, tapi mereka baru bisa wefie-an pas gua dan sang istri lagi mingle di bawah panggung.

Pas gua lagi ngedata sesi foto bersama, foto bareng anak-anak ini emang udah gua masukin daftar. Awalnya agak bingung mau masukin sebagai apa. Kalo temen kuliah kan gampang, tinggal sebut almamater. Temen kantor pun tinggal sebut nama kantor. Lah kalo sama temen yang ketemu di dunia maya ini disebutnya apa? Akhirnya gua tercetus ide, dan menuliskan sebuah kalimat yang disebutkan MC saat mau manggil mereka-mereka ini.

“Ya, kami panggilkan teman-teman… saja.” Continue reading

Advertisements

Membantu Sesama

Dear teman-teman pembaca saputraroy.com,

Siapa di sini yang udah atau baru mulai berwirausaha?

Siapa di sini yang usaha sendiri terus sering bingung karena duit omset kecampur sama duit pribadi? Atau siapa di sini yang usahanya barengan sama temen, terus sempet bersitegang karena ga transparan dan bagi untungnya membingungkan?

Atau ada yang udah menjalankan usaha sekian lama namun kesulitan bikin usahanya lebih besar lagi? Atau usaha kalian sedang tercekik ongkos produksi yang semakin tinggi dan butuh solusi gimana menurunkannya?

Sekarang kalian ga perlu khawatir lagi. Jawaban atas kegelisahan kalian kini udah hadir dan siap mengatasi pertanyaan-pertanyaan di atas. Ijinkan gua untuk menjawabnya lewat cerita seperti ini.

Semua bermula di tahun 2010, saat gua masih bekerja sebagai internal consultant dari sebuah bank swasta, unit kerja yang merupakan jelmaan mini dari kantor konsultan multinasional yang dipekerjakan oleh bank tersebut sebelumnya. Biar gampang ngebayangin, kerjaan unit kerja gua itu kayak dokter. Unit kerja yang “sakit” akan datang dan menceritakan “keluhannya”. Tugas unit kerja gua adalah “menyembuhkan” keluhan tadi.

Di sebuah malam, seorang rekan dari unit kerja yang sama, tiba-tiba mengajukan sebuah ide usaha. Dia membeberkan pemikirannya saat gua dibonceng naik motor olehnya sepulang kerja, nyaris tengah malam. Memang, waktu itu jam pulang ngantor gua udah kayak siaran Liga Champion. Dini hari.

“Gimana ide bisnis gue?”

Waktu itu gua bilang aja idenya menarik namun harus diuji terlebih dahulu ke pasar. Tadinya ingin langsung bilang kurang oke, tapi gua ngeri diturunin di tengah jalan. Mana udah malem, dingin pula. Jadi ada baiknya gua iyain aja dulu idenya. Biar cepet.

Tiap hari temen gua selalu meyakinkan gua tentang idenya. Pelan-pelan, gua pun melihat titik cerah dan mulai yakin juga. Lalu dia mengajak gua dan satu orang teman lagi untuk ngopi bareng dan membahas ide usaha ini lebih lanjut. We talked about how we’ll manage the business, how we’ll work, and the most important thing: how we’ll sell.

Di sebuah sore yang baik, akhirnya kami mengetuk palu.

Continue reading