Tag Archives: gradien

Trave(love)ing 2: Behind The Scene

Setahun lima bulan setelah lahirnya Trave(love)ing, kini hadir Trave(love)ing 2.

Ide untuk membuat Trave(love)ing jilid kedua selalu ada di kepala ga lama setelah jilid pertamanya terbit dan diterima dengan baik oleh teman-teman pembaca. Cerita cinta yang dikemas dalam perjalanan beberapa pencerita sepertinya sebuah konsep yang menarik dan ga pernah membosankan. Sebuah konsep yang layak untuk direproduksi.

Namun yang jadi pertanyaan adalah, “Masa iya kita berempat nulis tentang patah hati lagi?”

Sebuah koper udah Mia lempar dari atas Burj Khalifa, sepucuk fajar udah Dendi temukan di Bangkok, segelas kopi udah berhasil Grahita hilangkan dari kenangan, dan sepasang sepatu teplek merah muda udah berani gua tinggalkan. Kami berempat udah move on, lalu apa lagi masalahnya? Niatan me-reproduksi Trave(love)ing terpaksa gua peti es-kan sementara.

Di tengah kebingungan mencari ide, gua membaca ulang Trave(love)ing jilid pertama. Berusaha menemukan apalagi yang bisa diceritakan dari sini. Di pengulangan yang ketujuh, akhirnya gua tersadar akan sesuatu. Bahwa ga ada lagi yang bisa diceritakan dari sini. Kisah kami berempat udah berakhir saat kami mengangkat gelas tinggi-tinggi dan bersulang untuk hati yang udah mau pergi.

Kisah kami sudah selesai.

Itu artinya harus ada kisah-kisah baru yang diceritakan jika mau ada jilid kedua. Harus ada tema besar baru yang menjadi poros dari cerita-cerita di buku yang kedua. Harus ada destinasi-destinasi baru untuk menyegarkan setiap cerita. Harus segar, berbeda, dan baru.

Gua mendiskusikan niatan ini ke penulis jilid pertama lainnya: Mia, Grahita, dan Dendi. Awalnya ada keberatan di sana sini, namun akhirnya mereka setuju untuk memberikan estafet cerita ke petualang-petualang yang baru. Pencerita-pencerita yang baru.

Seperti yang gua bilang sebelumnya, bukan hanya personil, tapi inti cerita pun harus yang baru. Gua pun mengurung diri di dalam kamar dan coba mencari inspirasi. Coret sana-sini demi mendapat gagasan segar, baca sana-sini demi mendapat referensi yang menarik, nyisir sana-sini biar gantengan sedikit.

Di hari yang kesekian, ide itu pun lahir. Tema besar Trave(love)ing 2 masih akan bergalau-galauan sepanjang perjalanan tapi untuk alasan yang berbeda. Bukan risau karena patah hati, tapi kacau karena dihadapkan oleh suatu hal yang setiap pelancong pasti hadapi.

Persimpangan.
Continue reading

Advertisements

Wawancaur: Solemate

Sulit untuk memisahkan wanita dengan aksesorisnya. Ya pakaian lah, ya tas lah, ya sepatu lah. Seperti halnya dua sahabat bak soulmate yang sama-sama lahir di bulan Mei ini: Mia Haryono dan Grahita Primasari.

Penggemar sepatu jenis stiletto dan open-toe pump ini telah membawa kecintaan mereka akan sepatu ke jenjang berikutnya. Setelah sukses dengan Trave(love)ing, mereka akan merilis buku yang menganalogikan cinta dan sepatu! Bersama dengan 18 wanita penikmat sepatu lainnya, mereka siap merilis buku yang berjudul Solemate ini ga lama lagi.

Kayak gimana sih ide awal proses pembuatan buku Solemate? Dan apa pendapat mereka tentang sepatu-sepatu yang bikin sakit saat dipakai? Dua pertanyaan dan hal-hal krusial (cailah) lainnya bisa disimak di wawancaur from soulmate to Solemate kali ini.

Wawancaur adalah proses wawancara yang dilakukan secara awur-awuran. Pertanyaan disusun semena-mena dan boleh dijawab suka-suka. Proses wawancaur dengan Mia (MH) dan Grahita (GP) benar-benar dilakukan via Whatsapp. Wawancaur diedit sesuai kebutuhan. Gambar adalah milik pribadi narasumber. Terima kasih.

mia gelaph - solemate

Hai, Mia, Grahita. Kita langsung mulai ya wawancaurnya.

MH: Oke sip.

GP: Ho oh.

Menurut kalian, kenapa sih cewe itu bisa punya sepatu banyak banget? Kalo cowo kayak gua kan satu dua pasang rasanya udah cukup.

MH: Kalo gue, biar gak bosen aja sih. Bisa gonti-ganti sesuai baju, misalnya.

GP: Karena cewek itu suka dan pingin terlihat cantik. Dan sepatu itu emang salah satu hal yang bikin cantik. Apalagi stiletto. Bikin postur tubuh jadi tegak, keliatan bagus gitu.

Kalo kalian sendiri punya sepatu berapa pasang?

MH: How many shoes that I have? One more, please! :p

GP: Errr… gak ngitung sih. Tapi rak 5 susun penuh sama sepatu. Sebelahnya masih ada tumpukan kotak sepatu lagi.

Buset.

GP: Kira-kira aja deh tuh, Roy.

Kalo sepatu yang bagus itu yang kayak gimana menurut kalian berdua?

MH: Relatif sih. Gue akan bilang bagus itu pertama modelnya. Kemudian pas dan enak dipake atau nggak, bikin kaki bagus atau enggak. Ketiga, harga :|

GP: Tergantung bentuk kaki sih. Tapi kalo gue, sepatu bagus itu yang bikin kaki keliatan lebih ramping, betis lebih jenjang, kulit lebih cerah.

Itu sepatu apa cream anti aging?

GP: Hahahaha, ngehek.

Beauty is pain. Misalnya, sepatu heels yang ga nyaman biasanya bikin terlihat lebih cantik. Kalian setuju ga sama itu? Continue reading