Tag Archives: hiking

Yuk, ke Negeri di Atas Awan!

DISCLAIMER: Postingan di bawah ini ditulis oleh teman pembaca saputraroy.com; Raudha Salsabila secara sukarela tanpa todongan senjata tajam, tumpul, ataupun kondisi di antara tajam dan tumpul. Untuk membaca tulisannya yang lain, bisa main ke raudhasalsabila.blogspot.com atau follow @raurauwwrr. Terima kasih.

Kalau disuruh menyebutkan satu mata pelajaran yang paling gue benci waktu di sekolah jawabannya adalah mata pelajaran olahraga. Atau dalam bahasa kurikulum disebut Penjaskes. Ketika semua teman-teman bergembira menyambut hari di mana ada jadwal pelajaran olahraga, gue adalah satu-satunya murid yang berusaha mencari alasan supaya dibolehin gak ikut olahraga sama bapak/ibu guru. Karena gue perempuan, alasan yang paling sering dipakai pastinya “lagi dapet”.

Entah kenapa gue gak suka banget sama pelajaran olahraga. Tiap kali penilaian lari, gue jadi yang paling terakhir. Penilaian shoot bola basket, gak ada satu pun bola yang berhasil gue masukin ke dalam ring. Penilaian bola voli, passing yang gagal gak sebanding sama lengan yang udah lebam merah. Renang? Well, gue cuma bisa renang gaya batu, nyemplung dan gak bakalan ngambang ke permukaan.

Track record mata pelajaran olahraga yang sangat buruk membuat gue senang bukan main setelah lulus SMA, karena gue gak bakal ketemu lagi sama pelajaran yang satu itu!

Duduk di bangku kuliah semester satu, gue menjalani kehidupan kampus sebagaimana mestinya mahasiswa baru. Nenteng jas almamater ke mana-mana (peraturan di kampus gue, maba wajib menggunakan jas almamater selama satu semester), jalan bergerombol sama temen–temen sekelas, atau jalan nunduk kalau ngelewatin kumpulan mahasiswa semester tingkat atas. Pokoknya cupu banget dah.

Kegiatan gue juga cuma kuliah-pulang-kuliah-pulang. Dengan jadwal kuliah yang tiap harinya rata-rata cuma satu mata kuliah, fix kehidupan semester satu gue sangat suram.

Menginjak semester 2, gue bertekad pengen melakukan perubahan. Gue gak mau masa-masa suram di semester satu terulang lagi. Gue gak mau kalo hidup gue cuma dipenuhi oleh tugas-tugas kuliah. Demi membangun kehidupan yang lebih bervariasi dan tidak membosankan, gue akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan organisasi Pecinta Alam (PA) yang ada di kampus.

Gue tau kalau anak PA itu kegiatannya naik gunung. Yang gak gue tau, tiap kali mau naik gunung itu salah satu persiapannya adalah latihan fisik. Yang gak gue sadari adalah bahwa hiking itu juga termasuk olahraga! Dan kenapa ujung-ujungnya gue melibatkan diri sendiri pada suatu hal yang gak gue suka?

Mungkin benar ketika ada pepatah yang mengatakan bahwa ketika lo membenci sesuatu, maka semesta akan berkonspirasi mendekatkan lo pada hal tersebut. Continue reading

Advertisements

Wawancaur: Shaman Mountaineer

Salah satu cabang olahraga yang ada di bucket list gua adalah mendaki gunung. Namun sampe sekarang belum pernah kesampean. Paling banter, gua naik gunung di Singapura, itupun sebenernya cuma bukit. Sekarang, selain emang belum tau mau naik gunung mana, gua belum pernah naik gunung beneran karena katanya kalo mau naik gunung itu persiapan mental dan fisiknya harus pol-polan.

Bener harus penuh persiapan? Ciyus? Miapa? Demi kejelasan itu, gua pun ngajak ngobrol Acen Trisusanto, seorang pendaki gunung yang juga bisa ngeliat makhluk halus! Jomblo naas ini bukanlah seorang dukun, namun kebetulan dianugrahi kemampuan melihat yang aneh-aneh selama mendaki. Dari 7 gunung yang ia daki, udah beberapa kali pula ia mengalami kejadian supernatural.

Merbabu dan Rinjani adalah 2 dari 7 gunung yang pernah didaki dan rencana terdekatnya akan menaklukkan gunung Kerinci yang terletak di propinsi Jambi. Kalo kalian pengen tau lebih lanjut tentang catatan pendakiannya, mampir aja ke jalanpendaki.com atau pantau kicauannya di akun @acentris.

Jadi bener ga sih naik gunung itu harus penuh persiapan? Gimana sih rasanya bisa ngeliat makhluk halus pas lagi naik gunung? Temukan jawaban dari 2 pertanyaan di atas dan pertanyaan-pertanyaan caur lainnya di wawancaur gue bareng shaman mountaineer kali ini.

Wawancaur adalah proses wawancara yang dilakukan secara awur-awuran. Pertanyaan disusun semena-mena dan boleh dijawab suka-suka. Proses wawancaur dengan Acen benar-benar dilakukan via Whatsapp. Wawancaur diedit sesuai kebutuhan. Gambar adalah milik pribadi narasumber. Terima kasih.

Acen Sutrisno

Hai, Cen.

Hae.

Ceritain dong awal mula kenapa lu bisa suka naik gunung?

Awalnya itu waktu SMA gue sering liat temen-temen pecinta alam yang bawa-bawa ransel gunung (carrier). Kayaknya kok ganteng dan macho. Terus gue jadi kepengen kayak mereka.

Baru bisa manjat pas kuliah. Ternyata mendaki gunung itu nyenengin banget meskipun bikin kaki pengkor.

Apa senengnya sih bisa daki gunung?

Ketemu sama gunung yang cantik. You won’t see it everyday. Kita bisa nemu sunrise paling cantik di puncak gunung, bisa ngeliat bunga Edelweiss yang cuma tumbuh di gunung, bisa ngerasain sejuk dan segernya alam yang gue rasa cuma bisa ketemu di gunung

Selain itu, dengan daki gunung, kita bisa jadi manusia seutuhnya yang terkoneksi dengan hangat sama manusia lain, bahkan dengan yang baru pertama kali ketemu.

Sisanya, dengan daki gunung kita selalu bisa bikin orang lain sirik sama foto-foto kita, yes?

Pernah jatuh cinta di gunung? Continue reading