Tag Archives: indonesia

47 Lomba yang Jangan Diadakan Saat 17 Agustusan di Kelurahan

1. Balap karung, tapi karungnya karung matic.

2. Panjat pinang. Memanjat gadis lalu meminangnya. Harusnya dipinang dulu, baru dipanjat. Gitu bukan, sodara-sodara?

3. Makan kerupuk. Kerupuk kulit. Kulit bekas. Bekas sunat. Iuh.

4. Kuis “Who Wants to be a Millionaire?”. Kas karang taruna ama iuran warga kagak bakalan cukup.

5. Karaoke. Pake lagu di iklan odol. Itu lho yang joget-joget di atas gedung. Yang musiknya amburegul emeseyu bahrelway bahrelway.

6. Joget sambil bawa balon. Diiringi lagu di iklan odol. Itu lho yang joget-joget di atas gedung. Yang musiknya… ah sudah lah.

7. Petak umpet. Yang jaga di kelurahan Johar Baru, ngumpetnya di Timbuktu, kabupaten Afrika Barat, kecamatan Cicalengka.

8. Make up-in orang lain dengan mata tertutup. Lebih lengkapnya, mata batin yang tertutup. Disuruh make up, malah ngebunuh. Jangan ya. Plis.

9. Makan kerupuk. Pake nasi. Sama sayur oyong.

10. Sambil angkat kaki dan bilang, “Tambo cie!”

11. Tarik tambang. Tambangnya tambang batu bara.

12. Atau tambang pamungkas.

bambang pamungkas

13. Guys, ini list-nya masih panjang lho. Aku bisa berubah kok. Plis.

14. Balap karung, tapi nge-drift.

15. Bakiak berjamaah, tapi nge-drift.

16. Makan kerupuk, tapi nge-drift. Halah.

17. Balap lari. Lari-lari di pikiranmu. Eaaa.

Continue reading

Advertisements

Agustus 2014!

Halo, teman-teman pembaca.

Sebelum memulai postingan tema bulan Agustus, gua mewakili segenap redaksi saputraroy.com mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri 1435 H bagi teman-teman yang merayakan. Minal Aidin Wal Faizin, mohon maaf lahir dan batin.

Nah, sekarang balik ke pembahasan tema bulan Agustus 2014.

Bulan Agustus identik dengan kemerdekaan Republik Indonesia yang jatuh pada tanggal 17 nanti. Oleh karena itu (cailah), di bulan ini gua akan banyak membahas tema kemerdekaan. Kemerdekaan di sini bukan hanya berarti kebebasan Indonesia dari para penjajah, tapi juga makna kebebasan secara umum.

Salah satunya, gua akan berbagi beberapa cerita tentang upaya-upaya gua dalam membebaskan diri dari jeratan kerja delapan pagi sampai lima sore, lewat berwirausaha. Continue reading

Membeli Pengalaman

Tahun 2013 jadi tahun kedua gua menaikkan intensitas traveling, setelah pada tahun sebelum-sebelumnya, gua hanya menargetkan 2 kali melakukan perjalanan dalam setahun. Di tahun kemarin, gua diberi umur dan rejeki lebih untuk bisa jalan-jalan ke Bali-Lombok-Gili Trawangan, Surabaya-Batu, Palembang, Jepang, dan Bangkok-Pattaya.

Meski berbeda jumlah, tapi yang gua cari saat traveling setiap tahunnya tetaplah sama: culture shock.

Bagi teman-teman yang rutin bermain di blog ini, pasti engeh deh kalo tulisan perjalanan gua itu ya tentang perjalanannya, bukan destinasinya. Meski gua sesekali ngebahas seberapa biru lautan atau tinggi gunung yang gua lihat, tapi seringnya, yang jadi pusat atensi cerita gua adalah perjalanan dan kejutan-kejutan akan budaya yang gua temui di sepanjang jalannya. Bisa cerita tentang apesnya gua duduk bersebelahan dengan orang Nepal bau kari di pesawat, atau noraknya gua ngeliat toilet canggih yang lampunya bisa kedap-kedip sendiri.

It’s all about the journey, not the destination.

Ada beberapa hal yang bisa membuat kita dengan mudah merasakan culture shock selama lagi traveling. Lewat postingan kali ini, gua mau bagi beberapa tips tentang hal itu. Cekidot.

1. Makan

Sebagai gerombolan perut buncit, gua selalu nyobain makanan khas daerah setempat. Misalnya kalo lagi jalan-jalan ke Palembang, ya masa makan nasi goreng telor ceplok? Itu mah depan rumah juga ada. Kalo ke Palembang, ya kudu nyobain Pempek, dan jika memungkinkan, cari restoran Pempek yang enak dan ga buka cabang di kota lain biar makin terasa khas-nya.

Yang perlu diingat juga, jangan cuma nyobain 1 makanan khas. Kita kudu nyicip 2-3 makanan khas lainnya. Dari situ, kita bisa menarik kesimpulan, bahan apa yang mereka prioritaskan dalam memasak, rempah macam apa yang sering mereka gunakan, atau lauk apa yang kudu ada di setiap hidangan. Contohnya di Palembang, berbagai jenis makanan banyak menggunakan cuka. Apa-apa dicukain, apa-apa dicukain. Terserah lah, cuka-cuka yang masak.

Selain nyobain makanan khas setiap traveling ke luar negeri, gua juga selalu menyempatkan diri untuk nyicip cheese burger salah satu restoran cepat saji. Di saat para traveler seperti mengharamkan makan fast food saat jalan-jalan, gua malah bersedia suka rela untuk makan burger. Karena dengan makanan yang sama, diproduksi oleh restoran yang sama, maka yang jadi variabel pembeda hanyalah bumbu dan cara penyajian. Perbedaan semakin terasa saat komponen lain di buat sama.

Di Kuala Lumpur misalnya, daging cheese burger di sana terasa seperti obat batuk. Sementara di Thailand, yang terasa seperti obat batuk justru minuman bersodanya. Di Jepang, daging cheese burger jauh lebih lebar daripada rotinya. Membuat harga yang lumayan mencekik menjadi dapat dimaklumi.

Satu restoran cepat saji, belasan variasi. Menarik bukan?

Continue reading

Big Applause for The Big Guy

Kalian pasti pernah kan suka sama sebuah lagu yang baru intro-nya diputer aja rasanya udah cocok banget? Gue sering. Salah satunya dengan lagu Made My Day-nya Dwika Putra.

Pertama kali denger lagu ini dari tautan soundcloud yang ditwit oleh salah seorang teman. And that was it. Gua tau gua bakal suka sama lagu ini sejak dari petikan di intronya.

Aransemennya akustik. Hanya petikan gitar kopong mengiringi suara Dwika yang cukup halus, tipis, dan jernih untuk ukuran pria sebesar dirinya. Tapi justru simple-nya aransemen lah yang bikin gua pengen dengerin berulang-ulang.

Tipikal lagu yang bisa lu maenin saat: lagi nelpon gebetan, bingung mau ngobrolin apa, di kamar ada gitar, lalu lu berkata, “Eh, tau lagu Made My Day? Apa? Ga tau? Mau gue nyanyiin?”. Iya, that kind of song. Simple, yet sweet kind of song. And hey, karena ini akustik dengan sebuah gitar, lu bisa nyanyiin ini di mana aja, buat siapa aja. Semacam lagu modus. Keren kan?

Dwika sendiri dikenal sebagai orang yang pandai bermain rhyme lewat akun Twitternya. Jadi, jangan heran kalo di lagu ini banyak ditemukan kata yang berbunyi serupa atau berima satu sama lainnya. Lirik lagunya sederhana, namun karena permainan rhyme ini lah yang membuat gua penasaran dengan kata apa yang bakal Dwika pakai sebagai teman kata sebelumnya. Menarik.

Intinya, gua suka lagu Made My Day.

Berbekal itu lah, saat Dwika mengumumkan sedang menjual album perdananya, gua bertekad untuk membeli satu. Setelah melakukan order yang mudah, sebuah paket sampai di rumah selang beberapa hari.

 

Voila!

Tale of a Name berisi 8 lagu yang semuanya disajikan dalam lirik bahasa Inggris dan format akustik. Sebuah gitar kopong dan sehelai pita suara Dwika bakal menemani pendengarnya di sepanjang 8 lagu. Membosankan? Ga tuh. Continue reading

Tentang Konser Glenn Semalam

Siapa penyanyi Indonesia yang mampu membuat lu teriak selama lebih dari 1 menit dalam sebuah konser?

Jawabannya adalah Glenn Fredly. Di konser Cinta Beta semalam, ia membuktikan itu. Seisi Istora Senayan diajaknya untuk berteriak sekencang-kencangnya melepaskan beban di dada. Gua yakin, salah satu di antara ribuan penonton pasti ada yang teriak curhat colongan di sana.

“AAAAAAA!”

“SIALAAAN LOOOO!”

“GUE DIJEBAK MLM!”

konser cinta beta

Gambar dipinjam dari sini. Terima kasih.

Konser Glenn dimulai tepat pukul 8 malam dan dibuka oleh seorang selebritas serba bisa, Pandji Pragiwaksono. Dia mengatakan bahwa akan ada banyak sekali kejutan malam itu. Pandji sendiri adalah kejutan yang pertama karena di konser musik semalam, ia ga nge-rap (thank God for that), tapi melakukan stand up comedy. Setelah dibuat terkekeh-kekeh oleh Pandji, penonton diajak untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya. Goosebumps was in the house that night.

Begitu Pandji selesai, Glenn langsung mencuri lampu sorot dan menyanyikan beberapa lagu secara bertubi-tubi. Lagu-lagu up beat seperti Happy Sunday dan Luka dan Cinta membuat penonton ga bisa beristirahat dari musik-musiknya yang keren abis.

Di konser semalam, Glenn membawa personil band lengkap. Mulai gitar, bass, drum, perkusi, sampe brass section. Pemain saxophone menjadi highlight tersendiri dengan permainannya yang faultless dan aksi panggung yang menghibur. Serunya lagi, ga ada backing vocal di atas panggung. Because that night, it’s all about Glenn’s voice. The amazing Glenn’s voice.

Setelah bernyanyi seru-seruan di nomor-nomor bertempo cepat, Glenn membawa kita berharu biru lewat tembang-tembang galau, seperti Sedih Tak Berujung, Tega, dan Terserah. Selesai menyanyikan lagu yang menguji batas kesedihan seseorang, Glenn bertanya ke penonton,

“Masih baik-baik saja?”

Huehehe. Kampret lu, Glenn.

Banyak interaksi terjadi antara Glenn dan penonton. Ga jarang, dia melepas bagian reft agar kita dapat bernyanyi sendiri. Sesekali, ia juga melempar jokes ke penonton. Dia bukan hanya penyanyi yang unggul, tapi seorang performer yang lengkap.

Menurut gua, yang sangat keren dari konser semalam adalah permainan tata cahaya panggungnya. Seperti yang Pandji sampaikan di awal tadi, konser ini akan banyak kejutan, sehingga penataan cahaya memegang peranan yang sangat penting untuk menciptakan element of surprise-nya. Seperti yang mereka lakukan saat akan memasukkan kejutan kedua. Continue reading