Tag Archives: it’s a good day

Anekdot Favorit

Anekdot di bawah ini bukanlah karya gua. Gua hanya pernah mendengarnya dan ingin meneruskannya ke teman-teman semua. Alasan gua ingin meneruskannya adalah, karena meski hanya pernah mendengarnya satu kali, namun sampai hari ini, anekdot ini masih membekas di hati.

Jadi, selamat membaca anekdot favorit gua.

asiong

Sebutlah Asiong, seorang anak warga negara Indonesia keturunan Cina yang berusia 8 tahun. Saat ini, Asiong menginjak bangku kelas 2 Sekolah Dasar, yang membuat ia kadang dimarahi gurunya. Bangku kok diinjak-injak?

Diceritakan Asiong sangatlah perhitungan. Mungkin karena darah Cina yang mengalir dalam darahnya, mungkin juga karena Asiong sering membantu Mama-nya di toko, atau karena sejak kecil Asiong hobi nyemil tombol kalkulator. Ga heran, nilai pelajaran menghitung Asiong selalu bagus di sekolah.

Suatu pagi, sebelum Asiong berangkat sekolah, menulislah ia di secarik kertas. Selesai menulis, kertas itu ia lipat rapih dan tinggalkan di atas meja belajar dalam kamarnya. Sebelum beranjak keluar, Asiong membubuhkan besar-besar di bagian atas kertas yang terlipat. ‘Untuk Mama’, begitu tulisnya.

Sekitar jam 10 pagi, setelah Asiong berangkat sekolah, masuklah Mama Asiong ke dalam kamar. Saat sedang asik menyapu, Mama Asiong menemukan selembar kertas yang ditinggalkan Asiong tadi pagi. Hampir saja Mama Asiong membuang kertas itu, sampai matanya menangkap tulisan yang dibubuhkan dengan jelas di bagian atas. Dengan harap-harap cemas, Mama Asiong membuka kertas dan membacanya dalam hati.

“Mama.

Kemarin Asiong bantuin Mama nyapu. Mama hutang Asiong jasa nyapu. Mama hutang Asiong 10 ribu.

Dua hari lalu, Mama minta Asiong beli telur di warung. Mama hutang jasa jalan ke warung. 10 ribu.

Satu minggu yang lalu, waktu Mama sakit, Mama minta Asiong beli obat di apotek. Mama hutang Asiong 10 ribu.

Jadi, total, Mama hutang Asiong 30 ribu. Ditunggu ya, Ma. Asiong mau beli mainan.”

Mama Asiong hanya bisa tersenyum geli, merogoh saku, menaruh uang, mengambil pinsil dan kertas, lalu menuliskan pesan balasan untuk Asiong. Setelah beberapa menit, Mama selesai menulis, melipat kertas menjadi 2 bagian, dan meletakkannya di atas meja belajar. Agar tidak salah dan terbuang, Mama membubuhkan catatan di bagian atas kertas, persis seperti yang Asiong lakukan tadi pagi: ‘Untuk Anakku Tersayang’. Continue reading

Advertisements

Tanggal Baik

kata sarah

Lahir dari keluarga Chinese, bikin gue dan Roy nggak bisa tutup mata terhadap rentang umur pasangan. Dalam kepercayaan Cina kuno, perbedaan umur sering jadi pertimbangan dalam menentukan pasangan hidup.

Konon katanya, pasangan dengan jarak umur 4 tahun adalah yang paling ideal. Empat tahun diibaratkan sebagai empat kaki meja yang akan berdiri kuat dan kokoh. Harapannya, pernikahan pasangan dengan jarak umur 4 bisa sekuat dan sekokoh meja.

Sedangkan pasangan yang berbeda umur 3 tahun dan 6 tahun harus dihindari. Karena jarak ini mengundang ketidakcocokan (atau disebut ciong). Tiga tahun artinya ciong kecil, sedangkan 6 tahun artinya ciong besar. Dan selisih umur gua dan Roy… tepat 6 tahun.

Actually, gue dan Roy nggak percaya sih sama takhayul macem itu. Lha wong yang bedanya empat tahun banyak yang cerai juga kan?

Tapi kan, kalo bisa main aman, kenapa enggak? Toh kami nggak nyari tanggal baik. Menurut himbauan orang tua, kami cuma musti menghindari bulan buruk, yang mana udah berakhir beberapa hari sebelum ulang tahun gue di tahun depan. Dengan kata lain, nikahnya mah kapan aja bebas, asal nggak di dalem area bulan buruk itu.

Jadilah gue mengusulkan sebuah tanggal di antara ulang tahun gue dan Roy. Tujuannya tentu saja ngakalin perbedaan umur tadi. Karena kalo gue udah ulang tahun dan Roy belum, otomatis selisih umur kami jadi… LIMA TAHUN!

Pinter kan?

Enggak.

Iiih!

Anyway, palu akhirnya diketuk. Ultah gue 24 Agustus, sedangkan ultah Roy 14 September. Kami berdua dan keluarga udah sepakat resepsi akan digelar di tanggal 5 September. Letaknya bener-bener persis di tengah. Tanpa ragu, kami booking gedung tanggal segitu, lalu bayar DP sebagai tanda jadi.

calendar1

Namun, beberapa hari kemudian, tiba-tiba kami berdua dapet kabar kalo tanggal 5 September 2015 itu masih termasuk bulan Cit Gwee.

Cit Gwee itu apa sih?

Continue reading

Konser Idola Nomor Wahid

Ga ada band Indonesia yang bisa membuat gua sebegitu jatuh hatinya, selain Sheila on 7. Dan Jumat 19 September kemarin, akhirnya gua bisa mencoret salah satu item dalam bucket list gua: nonton konser Sheila on 7 secara langsung!

Sekitar jam tujuh, gua dan si pacar udah sampai di area Istora Senayan, tempat konser Radja Sephia dilangsungkan. Sekitar pukul setengah delapan, konser pun dimulai. Bukan oleh Sheila on 7, tapi oleh /rif. Malam itu, Sheila on 7 diplot untuk berbagi panggung dengan band rock Bandung yang juga besar di pertengahan tahun 90-an.

Tapi malam itu, gua datang bukan untuk /rif. Meski sempat bersenandung di beberapa nomor andalan mereka seperti Radja, Bunga, dan Lo Tuh Ye, malam itu gua datang untuk band yang tampil 1.5 jam setelahnya. Gua datang untuk Sheila on 7.

sheila on 7

Malam itu, Sheila on 7 membuka penampilan mereka dengan Pejantan Tangguh, single pertama dari album keempat yang berjudul sama. Lengkap dengan 4 orang di brass section, Sheila on 7 langsung menggebrak panggung yang berada tepat di tengah kerumunan penonton kelas festival.

Dan tepat saat itu, gua merinding.

Sebuah band yang biasanya gua saksikan di televisi dengan volume maksimal, kini ada di hadapan gua. Menyanyikan tembang-tembang yang menemani masa paling labil dalam hidup gua. Membawa gua ke jaman ketika ada embel-embel kata monyet pada cinta. Menghidupkan kembali memori masa muda.

Hentakan drum Brian, betotan bass Adam, distorsi gitar Eross dan lengkingan vokal Duta menjadi suara yang ga asing di telinga gua. Puluhan lagu dari sembilan album mereka udah gua lahap semua. Bagi gua, mereka berempat adalah idola nomor wahid.

Begitu selesai dengan Pejantan Tangguh, sang idola nomor wahid langsung membawakan single bertempo cepat lainnya: Sahabat Sejati. Dan seketika, Istora berubah jadi Inul Vista raksasa. Semua ikut bernyanyi dari awal sampai akhir. Bahkan sampai ke uwo iye-uwo iye khas Duta di bagian akhir lagu.

Kelar diajak menarik urat di Sahabat Sejati, masuklah lagu ketiga. Sebuah lagu yang semua anak 90-an pasti tau. Whether you love it or hate it, you definitely know it. Terbukti, baru genjrengan gitar pertamanya aja, semua penonton udah bersorak. Seperti ga sabar pengen nyanyiin bareng sebuah single yang kemungkinan besar pernah dinyanyikan anak 90-an di momen pesta perpisahan sekolah. Sebuah lagu yang mengantarkan Sheila on 7 masuk ke gerbang musik Indonesia.

Yes, baby. It’s Kita. Continue reading

Cukup

Gua ga pernah pede dengan fisik gua, terutama saat PDKT sama cewek.

Saat SMP, satu-satunya yang bisa diandalkan dari fisik gua adalah postur tinggi. Itupun, tinggi badan ini gua dapet karena faktor keturunan, bukan karena gua atlet andalan sekolah atau suka debus nyemilin sumpit. Dengan tinggi di atas rata-rata, biasanya gua akan lebih mudah diingat daripada temen-temen cowok lain saat berhadapan dengan lawan jenis.

Minimal kalo ada yang bilang ke seorang cewek, “Si Roy titip salam tuh.”

Biasanya akan dijawab dengan, “Oh, Roy yang tinggi ya?”

Stop sampai di situ. Karena setelah kalimat yang tadi, respon selanjutnya ga seindah yang dibayangkan. Jangan bayangkan kalimat seperti, “Salam balik ya” atau “WUOGH!” lalu lari-lari keliling lapangan karena kegirangan disalamin gua.

Tapi biasanya berupa, “Oh, Roy yang tinggi ya? Ehe he he he he.”

Atau mungkin, “Oh, Roy yang tinggi ya? Kebetulan, layangan gue nyangkut nih.”

Bisa juga, “Oh, Roy yang tinggi ya? HUEK CUH!”

Atau, “Oh, Roy yang tinggi ya? Lho, ini di mana? Tanggal berapa? Aku siapaaa?”

Karena selain postur tinggi, yang tersisa pada fisik gua bisa dibilang jauh dari kata menarik. Perut besar, paha tebal, dan wajah yang sering cengar-cengir ga jelas membuat kisah cinta masa remaja gua jauh dari yang manis-manis.

Saat duduk di bangku SMA, masalah ini coba gua tanggulangi dengan pake baju yang modis. Berkat internet, gua dan teman-teman SMA gua punya referensi berpakaian yang baru. Situs-situs luar negeri jadi bacaan setiap hari. Tujuan kami hanya satu, mampu menarik perhatian semua cewek yang ada di sekolah.

“Wah, ini keren nih. Rapih dan formal banget,” kata temen gua sambil membaca situs gosip tentang Brad Pitt.

“Yang ini juga keren nih. Edgy,” ujar temen satunya, seraya ngasih liat situs fashion.

“Bro, yang ini bagus banget nih!” seru seorang temen yang berhasil memancing perhatian kami semua, “Bugil!”

“Itu situs bokep, TAPIR.”

Pikir gua waktu itu, setidaknya, biarpun ga ganteng, gua masih bisa keren lah. Maka masa SMA adalah masa di mana gua mencari barang dengan brand-brand yang lagi in. Semua demi bisa mendapat perhatian lebih dari sekedar “Oh, Roy yang tinggi ya?”

Tapi karena proporsi bentuk badan gua yang agak anomali, baju sekeren apapun jatohnya ya biasa aja gitu. Pake baju lengan panjang, ketika bahunya pas, lengannya kependekan. Sekalinya lengannya pas, eh bahunya melorot.

Gua selalu iri dengan mereka dengan badan proporsional, yang kalo pake baju apa aja rasanya pas aja gitu di badan. Ada kan orang-orang yang kayak gitu. Yang pake baju dua puluh ribu jadi bisa kelihatan mahal banget. Lah kalo gua pake baju mahal, yang ada malah ditanya dapet baju sumbangan dari yayasan mana.

Ganteng ga bakat, mau keren pun gagal. Dukun, mana dukun?
Continue reading

Ulang Tahun Kali Ini

Hari ini gua ulang tahun.

Kayaknya, ulang tahun kali ini adalah ulang tahun yang paling tau-tau dateng aja gitu. Biasanya, gua selalu senang ketika masuk bulan September dan kadang suka menghitung mundur beberapa hari jelang ulang tahun.

Mungkin ketidaksadaran ini terjadi karena usia gua udah ga terlalu memusingkan hal-hal kayak gitu. Tapi yang pasti, lupanya gua akan ulang tahun sendiri lebih karena kesibukan di kantor, re-launch Toko Bahagia, persiapan pitching ke calon klien FMB, dan kondisi kesehatan yang lagi ga prima. Bahkan gua baru inget kalo ulang tahun gua udah deket ketika si pacar nanya, “Kamu mau kado apa di ulang tahun nanti?”

Jangankan kado, minggu itu gua ga kepikiran apa pun tentang ulang tahun. Pikiran gua hanya terpusat di pekerjaan kantor, Toko Bahagia yang rilis di awal bulan ini, serta jadwal pitching calon klien FMB yang kian mendekat. Bahkan obat dokter pun suka lupa gua makan. Gua benar-benar sedang disibukkan oleh hidup.

Itu semua membuat gua semakin tersadar akan 1 hal. Bahwa seiring bertambahnya usia, hidup semakin tidak ramah untuk gua. Makin banyak tanggung jawab yang harus gua emban membuat perjalanan tiap harinya kadang ga terasa mudah untuk dilewati.

Dulu, waktu masih kecil, setiap pulang sekolah selalu ada makanan yang gua ga perlu tau dari mana datangnya. Menginjak usia remaja, gua baru ngerti kalo nasi di atas piring bukan datang dari Ibu Peri-nya Lala dan Bombom atau kantong ajaib Doraemon. Ada keringat yang harus dikuras untuk menghadirkan sepiring nasi hangat dan lauk enak di atas meja makan setiap harinya.

Begitu juga dengan perjalanan karier. Seiring bertambahnya pengalaman, pekerjaan yang dipercayakan juga semakin bertambah. Awal-awal ngantor, kerjaan masih sedikit, pulang kantor masih bisa ngeliat matahari terbenam. Di tahun kedua, sedikit berubah. Keluar kantor, langit udah gelap dan makan mulai ga teratur. Tahun ketiga sampai sekarang, kalo ditanya pulang kantor masih sempet ngeliat matahari terbenam apa ga, gua akan menjawab,

“Hah? Matahari? Apa itu?”

Continue reading