Tag Archives: jakarta

Menikmati Wisata Alam yang Hijau di Tengah Sesaknya Kota Jakarta

Dikenal sebagai kota metropolitan, Jakarta dipenuhi gedung pencakar langit di berbagai penjuru. Suasana panas, penuh asap, dan macet menjadi pemandangan sehari-hari. Ga heran kalo warga Jakarta kerap memilih liburan ke luar kota untuk merasakan suasana yang alami.

Lalu, apa ga ada tempat wisata yang alami di Kota Jakarta? Tentu aja ada. Apalagi, Jakarta memiliki garis pantai yang cukup panjang. Nah, ingin tahu destinasi wisata alam mana saja yang ada di kota metropolitan ini? Berikut ini adalah beberapa di antaranya:

Wisata Hutan Mangrove PIK

Sumber: thetripcorner.com

Wisata Hutan Mangrove Pantai Indah Kapuk (PIK) menjadi wisata alam yang kini populer di Jakarta. Apalagi, pihak pengelola menyediakan fasilitas yang komplit di dalamnya. Mulai dari area berkemah, menara pandang, hingga perahu untuk berkeliling perairan sekitar hutan bakau.

Berjalan kaki mengelilingi area hutan bakau menjadi aktivitas utama para wisatawan di Wisata Hutan Mangrove PIK. Di tengah jalan, kita bisa menjumpai beragam hewan liar yang tinggal di area tersebut. Di antaranya, berbagai jenis burung, biawak, dan lain-lain. Wisatawan juga bisa turut serta dalam aksi penanaman pohon bakau. Dijamin, seru! Continue reading

Advertisements

Pindah

Empat bulan terakhir ini hidup gua gonjang-ganjing.

Sejak akhir tahun lalu, gua dan Sarah harus pandai-pandai mengatur keuangan dan menata kembali ritme hidup. Semua bermula ketika gua memutuskan untuk berpindah kerja. Kantor baru, artinya tantangan baru, lingkungan baru, lokasi gedung yang baru, dan hal-hal baru lainnya.

Semua kayak isi bensin. Dimulai dari nol lagi.

Ga ada lagi wajah-wajah lama yang udah tau kerja gua kayak apa. Ga ada kantin kantor yang gua tau kapan kosongnya. Ga ada lagi rute pulang yang gua tau gimana selanya. Kenapa macet bangetnya, jam berapa agak lenggang, dan kapan gua mesti mulai bangun tenda di lobby kantor.

But I have to start this new journey.

Belajar lagi untuk tau apa yang bos mau. Melatih diri ngadepin bos divisi sebelah yang kalo meeting mukanya asem banget. Mencoba memahami apa hukuman sosial bagi mereka yang suka pulang tenggo. Apakah dicambuk, diarak massa, atau diminta baca komen detik.com satu per satu?

Ketika gua mulai menemukan pace di kantor yang baru, semesta berkehendak lain. Di bulan Maret kemarin, gua memutuskan untuk berpindah kantor lagi. Yes, I changed job in 3 months time. Didorong oleh ketidaknyamanan dan diajak oleh atasan yang lama untuk bekerja sama kembali, membuat gua mengiyakan tawaran berpindah dengan lumayan cepat.

Penyesuaian yang satu belum selesai, mulai lagi penyesuaian baru.

Pekerjaan baru, bisa dipelajari. Teman baru, dapat dicari. Yang paling membuat gua pusing dengan perpindahan-perpindahan ini adalah rute transportasi yang harus gua tempuh setiap hari.

Masih dengan semangat #YukNgangkotYuk, gua tetap memutuskan untuk ga bawa mobil ke kantor. Rasanya jalanan Jakarta udah cukup penuh untuk ditambah satu mobil lagi. Demi kewarasan, gua memilih untuk naik kendaraan umum atau transportasi online. Menghindari macet yang sering terlihat bak parkir massal di jalan raya.

Apalagi lokasi kantor gua yang sekarang terletak di salah satu lubang neraka Jakarta. Jalan Doktor Satrio. Yes, that so called segitiga emas Doktor Satrio. Continue reading

Kuliner Kelapa Gading

Orang bilang, jika mau ke Kelapa Gading, jangan lupa bawa passport. Selain karena jaraknya yang jauh, lengkapnya fasilitas di sana menjadi alasan kenapa Kelapa Gading layak jadi negara yang merdeka dan berdikari.

Sejak menikah, gua dan Sarah tinggal di sebuah apartemen mungil di daerah Kelapa Gading. Lengkapnya fasilitas tadi menjadi alasan umum mengapa gua memutuskan untuk membeli apartemen di daerah utara Jakarta ini. Alasan khususnya, karena di sini banyak banget tempat makan yang uenak!

Iya, uenak. Pake u. Biar muantep.

Kelapa Gading merupakan kota satelit yang memiliki luas 1600-an hektar. Dapat dijangkau dengan TransJakarta koridor 2 (Pulo Gadung – Harmoni), koridor 10 (Tanjung Priok – Cililitan), atau koridor 12 (Tanjung Priok – Pluit). Ada juga beberapa angkutan umum (seperti mikrolet dan bus) yang dapat dipilih untuk menjangkau Kelapa Gading. Untuk detailnya, klik aja link ini nih.

Seperti yang gua bilang di atas, tempat makan di Kelapa Gading begitu tumpah ruah. Nyasar pun kita tetap bisa menemukan tempat makan. Restoran dan cafe tercecer di setiap pelosok Kelapa Gading, mulai dari dalam mall, area pertokoan, sampai tersembunyi di pemukiman.

Kelapa Gading memberikan gua banyak pilihan. Kalo bosen ke mall ya tinggal resto hopping. Lelah resto hopping, bisa nongkrong di cafe favorit. Jenuh nongkrong pun, ya bisa balik lagi ke mall. Semuanya bisa ditempuh dengan naik angkot yang jika namanya diperpanjang akan terdengar sangat alay: KWK. KWKWKWKWK.

Nah, di postingan kali ini gua mau berbagi beberapa tempat makan yang layak untuk dicoba atau yang ga kalah keren sama tempat gaul di selatan. Gua akan mencoba ngasih info beberapa tempat yang ga banyak ditemukan di sisi lain kota Jakarta. Semoga postingan ini berguna buat nusa dan bangsa.

Here we go.

A. Coffee, anyone?

Ngopi udah jadi aktivitas favorit bagi warga Jakarta sejak dahulu kala. Mulai dari ngopi sachet-an, sampe ngopi tugas kuliah. Ditambah lagi, sejak gerai kopi internasional mewabah di Indonesia, ngopi jadi aktivitas yang semakin digemari.

Meski bukan penikmat kopi, gua cukup sering main dan nongkrong di beberapa kedai kopi untuk meeting internal ataupun ketemu calon klien. Yang belakangan ini sering gua datangi adalah Retorika Coffee yang ada di Jalan Kelapa Kopyor Raya, dekat dengan Apartemen Wisma Gading Permai. Teduh dan nyaman adalah dua kata yang tercetus begitu gua sampai di Retorika. Tempatnya memang ga besar namun cukup lenggang untuk duduk dan menikmati dunia sendirian selama berjam-jam.

retorika

Gambar dipinjam dari sini. Terima kasih.

Six Ounce Coffee juga tempat ngopi yang asik untuk nongkrong berlama-lama. Cafe yang lagi happening ini ga cuma menyediakan kopi, tapi juga beberapa pilihan makanan berat yang pas banget buat di-upload ke Instagram, dan tentunya, untuk dikunyah. Letaknya yang ada di Jalan Kelapa Puan Timur (dekat dengan Mall Kelapa Gading) membuatnya sangat strategis untuk titik ketemuan atau tempat kencan pertama.

Jadi, kalo lagi bawa gebetan ke Kelapa Gading dan mau ngopi-ngopi cantik, dua tempat itu layak banget deh buat dicoba. Dijamin lancar kencannya. Continue reading

Konser Idola Nomor Wahid

Ga ada band Indonesia yang bisa membuat gua sebegitu jatuh hatinya, selain Sheila on 7. Dan Jumat 19 September kemarin, akhirnya gua bisa mencoret salah satu item dalam bucket list gua: nonton konser Sheila on 7 secara langsung!

Sekitar jam tujuh, gua dan si pacar udah sampai di area Istora Senayan, tempat konser Radja Sephia dilangsungkan. Sekitar pukul setengah delapan, konser pun dimulai. Bukan oleh Sheila on 7, tapi oleh /rif. Malam itu, Sheila on 7 diplot untuk berbagi panggung dengan band rock Bandung yang juga besar di pertengahan tahun 90-an.

Tapi malam itu, gua datang bukan untuk /rif. Meski sempat bersenandung di beberapa nomor andalan mereka seperti Radja, Bunga, dan Lo Tuh Ye, malam itu gua datang untuk band yang tampil 1.5 jam setelahnya. Gua datang untuk Sheila on 7.

sheila on 7

Malam itu, Sheila on 7 membuka penampilan mereka dengan Pejantan Tangguh, single pertama dari album keempat yang berjudul sama. Lengkap dengan 4 orang di brass section, Sheila on 7 langsung menggebrak panggung yang berada tepat di tengah kerumunan penonton kelas festival.

Dan tepat saat itu, gua merinding.

Sebuah band yang biasanya gua saksikan di televisi dengan volume maksimal, kini ada di hadapan gua. Menyanyikan tembang-tembang yang menemani masa paling labil dalam hidup gua. Membawa gua ke jaman ketika ada embel-embel kata monyet pada cinta. Menghidupkan kembali memori masa muda.

Hentakan drum Brian, betotan bass Adam, distorsi gitar Eross dan lengkingan vokal Duta menjadi suara yang ga asing di telinga gua. Puluhan lagu dari sembilan album mereka udah gua lahap semua. Bagi gua, mereka berempat adalah idola nomor wahid.

Begitu selesai dengan Pejantan Tangguh, sang idola nomor wahid langsung membawakan single bertempo cepat lainnya: Sahabat Sejati. Dan seketika, Istora berubah jadi Inul Vista raksasa. Semua ikut bernyanyi dari awal sampai akhir. Bahkan sampai ke uwo iye-uwo iye khas Duta di bagian akhir lagu.

Kelar diajak menarik urat di Sahabat Sejati, masuklah lagu ketiga. Sebuah lagu yang semua anak 90-an pasti tau. Whether you love it or hate it, you definitely know it. Terbukti, baru genjrengan gitar pertamanya aja, semua penonton udah bersorak. Seperti ga sabar pengen nyanyiin bareng sebuah single yang kemungkinan besar pernah dinyanyikan anak 90-an di momen pesta perpisahan sekolah. Sebuah lagu yang mengantarkan Sheila on 7 masuk ke gerbang musik Indonesia.

Yes, baby. It’s Kita. Continue reading

Tepat Waktu

“Bahasa Inggris-nya biru apa, anak-anak?”

“Blue!”

“Kalau bahasa Inggrisnya buku?”

“Book!”

“Kalau bahasa Inggrisnya tenggelam?”

“Blubuk, blubuk, blubuk…”

Suara itulah yang sedang jadi soundtrack saat mobil gua membelah genangan air setinggi betis orang yang udah siap nikah secara mental dan finansial tapi mungkin belum punya pasangan. Betis orang dewasa.

Memang beginilah resiko mengambil rute penerbangan di awal tahun. Hujan besar yang jadi siklus tahunan Jakarta membuat perjalanan jadi terganggu. Bukan hanya jadwal penerbangan yang delay karena cuaca, tapi perjalanan dari rumah ke bandara pun bisa terhambat karena hujan deras yang sering berbuah banjir di Jakarta. Dan itulah yang saat ini sedang gua alamin.

Gua sedang menerjang banjir demi bisa ke bandara.

Semua bermula ketika gua membeli tiket penerbangan pertama ke Singapura, pukul 7 pagi. Malam sebelumnya, gua pesan taksi agar jemput gua sekitar pukul 5. Kurang lebih dibutuhkan 45 menit dari rumah gua ke bandara saat subuh. Atau 15 menit jika digendong oleh The Flash. Setelah selesai pesan taksi dan packing, gua pun pasang alarm dan memutuskan untuk tidur.

Besoknya, gua bangun tepat pukul 4 pagi. Sialnya, bukan oleh alarm tapi gara-gara bunyi geledek yang kenceng banget. Di luar, hujan sedang turun sederas-derasnya deras. Tapi gua masih optimis kalo hujannya cuma sesaat, karena biasanya hujan besar itu bukan hujan yang awet. Yang awet itu cendol.

Guys, mau ke mana, guys? Buru-buru amat? Itu celananya kok ga dipake dulu? Guys?

Iya, iya, yang tadi itu dawet. Oke, lanjut ya.

Setelah mandi dan bersiap, yang gua lakukan berikutnya adalah duduk manis, menunggu pesanan taksi gua datang. Tapi setelah lewat 5 menit dari waktu yang dijanjikan, gua langsung inisiatif nelpon pangkalan taksi.

“Maaf, Pak,” jawab suara di ujung telpon, “Ga ada taksi yang mau ke sana. Banjir, katanya.”

Banjir? Gua buru-buru keluar dan melongok ke balik pagar. Meski hujan besar, di depan rumah gua masih terlihat becek-becek doang. Gua pun menjawab, “Pak, di sini ga banjir. Hujan sih. Tapi ga banjir.”

“Banjir, Pak.”

“Bentar, bentar. Ini Jakarta-nya sama ga sih?”

“Akses ke sananya banjir, Pak,” lanjut si Bapak.

Karena waktu mepet, akhirnya gua menyudahi perdebatan apakah kita berada di kota yang sama atau ga, dan membatalkan pesanan taksi. Nyokap yang sedari tadi nemenin, menyarankan untuk membangunkan kakak gua yang masih tertidur. Lebih baik gua minta kakak gua untuk dianterin keliling-keliling nyari taksi di jalan.

Singkat cerita, gua, kakak, dan nyokap keliling-keliling di tengah hujan deras. Namun perjalanan mencari taksi berbuah nihil. Sepanjang penglihatan kami, ga ada satupun taksi yang mangkal atau berkeliaran subuh itu.

Gua bingung. Semakin bingung ketika melihat jam di tangan udah menunjukkan pukul setengah 6. Gua harus jalan ke bandara sekarang kalo ga mau ditinggal pesawat.

“Udah, Roy, gue anterin aja ya ke bandara. Daripada telat,” tawar kakak gua yang dengan cepat gua iyakan.

Tapi masalah ga selesai sampai di sini. Seluruh akses antara rumah gua dan bandara udah tergenang air. Banjir udah meluas ke mana-mana. Sementara jarum jam terus berputar, ga menunggu gua menemukan akses tercepat tanpa banjir ke bandara.

Di saat itulah, gua mulai panik. Continue reading