Tag Archives: japaneymoon

Kembali

Kata orang, ga cukup satu kali berkunjung ke Jepang.

Petuah yang sempat didengungkan beberapa teman, kini terngiang saat gua sedang berada di kereta menuju bandara. Kata mereka, selalu ada keinginan untuk kembali, karena secuil hati kita telah tertinggal di sana.

Entah apa pemicunya, kini petuah itu terus berulang di kepala. Berputar seperti kaset kusut. Sedikit mengganggu konsentrasi gua yang sedang menyiapkan passport dan tiket. Namun suara itu harus gua tepis, seraya melirik kembali tiket kepulangan kami. Sekadar memastikan kalo kami belum ketinggalan pesawat.

Untungnya masih ada tiga jam lagi. Masih ada waktu yang cukup untuk check in, makan malam, dan mencari oleh-oleh tambahan di area bandara. Tiket gua kembalikan ke kantong di bagian depan tas. Di kantong yang sama, ada lembaran lain yang menarik perhatian gua. Beberapa lembar itinerary yang menjadi pemandu gua selama berbulan madu di Jepang.

Total kami menghabiskan dua belas hari untuk menjelajah Jepang. Setengah pertama perjalanan kami dihabiskan dengan mengunjungi kota-kota di luar Tokyo. Kami berkeliling Kyoto pada dua hari pertama, untuk mengunjungi Kyomizudera, Gion, dan the famous Fushimi Inari. Sebetulnya masih banyak destinasi lain yang ingin kami datangi, tapi waktu mengharuskan kami berpindah kota.

Tujuan berikutnya adalah Tottori. Kota kecil di utara Kyoto ini sengaja kami kunjungi hanya demi satu hal: Gosho Aoyama Manga Factory alias Museum Detektif Conan. Cukup satu malam kami habiskan di sini untuk kemudian kami lanjutkan ke kota lainnya: Osaka.

osaka

Dotonbori dan Universal Studios Japan adalah dua destinasi utama kami selama di Osaka. Tiga hari dua malam kami habiskan di sini demi merasakan ramainya Dotonbori dan memenuhi salah satu poin dalam bucket list kami: mengunjungi semua theme park di dunia.

Sisanya, kami bermain-main di Tokyo. Titik-titik penting di sekitar Yamanote line kami babat di hari pertama. Odaiba jadi tujuan kami di hari kedua. Lalu sisanya kami habiskan di Tokyo Disney Resort dan wandering around di ibukota Jepang ini.

Empat kota, tiga theme park, dan belasan destinasi wisata telah kami sambangi. Mencoba tidur di bandara pada hari pertama. Merasakan deburan angin dingin di ujung jari dan daun telinga. Mencicip berbagai makanan yang lumayan cocok di lidah, meski masih belum bisa mengalahkan micin dan santan di rumah.

Kami telah mencoba banyak, tapi entah kenapa, masih saja terasa kurang.

Continue reading

Berfoto Ria di Madame Tussauds… Tokyo!

Kaki lelah adalah alasan mengapa gua dan Sarah akhirnya berkunjung ke Madame Tussaud Tokyo. Sebetulnya, museum patung lilin ini ga ada di itinerary Japaneymoon kami sama sekali. Harusnya hari itu kami berkunjung ke Tokyo Disney Resort dan bermain-main entah di Tokyo Disneyland atau Tokyo Disney Sea. Namun karena kaki lelah tadi, kami memutuskan untuk mengundurnya satu hari.

Setelah bangun rada siang, gua memutuskan untuk menukar jadwal yang semestinya hari Sabtu ke hari ini: Odaiba.

Odaiba adalah lahan buatan manusia (reklamasi), di teluk Tokyo, hanya berjarak sepelemparan batu dari tengah kota Tokyo. Mulanya dibangun untuk pertahanan perang pada 1850-an. Lalu berkembang menjadi area pelabuhan dan kini menjadi area komersil yang penuh akan perkantoran, pertokoan, pemukiman dan tempat wisata.

Salah satu spot yang menarik di Odaiba adalah patung Gundam berukuran nyata. Selain itu, ada Miraikan, semacam museum IPTEK Jepang yang konon katanya ada robot yang mirip banget sama manusia.

Namun sesampainya di sana, gua dan Sarah malah menemukan Madame Tussaud! Semua berkat poster-poster yang tertempel di beberapa pilar ga jauh setelah turun dari stasiun. Terletak di pusat perbelanjaan Decks Odaiba, Madame Tussauds Tokyo hanya berjarak 10 menit berjalan kaki dari stasiun Tokyo Teleport.

Harga tiketnya JPY 2,200, namun bisa lebih murah kalo beli online di situs resminya. Persis di sebelah Madame Tussauds terdapat atraksi lainnya, yakni Legoland Discobery Center. Kalo beli dua tiket itu sekaligus, bisa dapet harga combo!

Karena bukan penggemar Lego, gua dan Sarah memutuskan hanya ingin ke Madame Tussauds aja. Setelah membayar sesuai harga yang tertera, kami langsung masuk ke dalam lift, yang langsung disambut sama Bruce Willis… dan mas-mas penjaga Madame Tussauds-nya. Kami berasa kayak lagi dikawal sama pemeran John McClane ini. Owsom!

Mirip dengan Madame Tussauds Singapura, Madame Tussauds Tokyo juga dibagi menjadi beberapa area: music, leaders, sports, history and culture, film, dan celebrity. Enaknya, waktu gua ke sana sih Madame Tussauds-nya sepi banget. Jadi gua dan Sarah bebas berfoto kayak yang punya.

Well, daripada gua berpanjang lebar menceritakan ada apa aja di sana, lebih baik gua membiarkan foto-foto kami yang bercerita. Here we go.

obama

Salah satu yang rutin ada di semua Madame Tussauds seluruh dunia: Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan abang-abang rese yang suka pinjem telpon. Continue reading

8 Tips ke Tokyo Disneyland

Tahun lalu, tepatnya di bulan Oktober, gua menikah dengan Sarah dan memulai bahtera rumah tangga kami dengan berbulan madu ke Jepang. Tujuan utama kami ber-Japaneymoon (begitu kami menyebutnya) adalah bermain-main di Tokyo Disney Resort. Di Tokyo Disney Resort sendiri terdapat 2 themed parks, yakni Tokyo Disneyland dan Tokyo DisneySea yang sama magisnya, apalagi buat penggemar Disney (serta anak perusahaannya) kayak gua dan Sarah.

Nah, di postingan kali ini gua ingin berbagi 8 tips bagi kalian yang mau main-main juga ke Tokyo Disney Resort, khususnya Tokyo Disneyland (TDL). Semoga postingan ini bermanfaat, terutama buat yang baru pertama kali ke sana. Ada beberapa hal yang sebaiknya disiapkan sebelum dan selama seseruan di sana.

Seperti yang biasa gua bilang kalo bikin postingan model begini, semoga kiat-kiat di bawah berguna buat nusa dan bangsa.

Here we go.

1. Check your dates!

Jika saat kuliah posisi menentukan prestasi, maka waktu sangat menentukan ketika berkunjung ke TDL. Animo warga lokal akan themed park membuat TDL tumpah ruah meski itu hari biasa. Untuk itu, selalu cek tanggal kunjungan kalian ke TDL di situs menakjubkan ini: crowd forecast information!

Situs itu memungkinkan kita untuk menerka tanggal-tanggal mana yang agak lowong dan tanggal mana aja yang ramenya kayak boleh masuk gratis. Ketika gua bilang rame, itu artinya rame banget. Percaya deh. Oktober kemarin bisa dibilang lumayan rame dan rata-rata waktu mengantri gua sekitar setengah sampai satu jam dan yang paling lama gua mengantri 2 jam untuk satu wahana.

Meski situsnya berbahasa Jepang dan sedikit membingungkan saat pertama melihatnya, sebetulnya cukup scroll ke bawah sedikit dan fokuskan perhatian pada kolom kalender yang ada di sebelah kiri.

crowd forecast

Langkah pertama, pilih tab merah untuk TDL dan biru untuk Tokyo DisneySea (TDS). Lalu tuju bulan keberangkatan dengan menekan tombol sebelah kanan dari panel yang ada angka 2016-nya. Untuk tau sekarang ada di bulan mana, cek tanggal 1 dari kalender yang terpampang. Angka yang berada di sebelah kiri dari tanggal 1 menunjukkan bulan ke berapa. Langkah terakhir adalah memperhatikan angka dan warna yang ada di pojok kanan di setiap kolom tanggal.

Pada tanggal 1 Juni, misalnya, penunjuk tingkat keramaian ada di angka 22 dan warna biru muda. Semakin besar angka dan semakin gelap kotaknya menunjukkan tingkat kepadatan yang semakin tinggi juga. Overall, weekday biasanya jauh lebih lowong ketimbang weekend, khususnya di hari Selasa dan Rabu.

So, please check your dates on this amazing site!

2. Datang lebih awal

Seperti yang gua bilang di atas, animo masyarakat lokal terhadap themed parks itu sangatlah besar. Dan mereka datang dari pagi, dari sebelum jam buka, dengan antusias yang teramat tinggi. Waktu ke Universal Studios Japan (USJ), gua sempat panik ketika pintu kereta terbuka, ada yang langsung lari. Gua kira negara api menyerang, tapi ternyata dia hanya ingin masuk lebih awal dan menghindari antrian.

So, come early won’t hurt you. Secara TDL juga memiliki ukuran jumbo yang jika menghabiskan waktu seharian di sini pun belum bisa merambah semua wahana dan atraksinya. Yang perlu dicatat, jam buka TDL berubah-ubah setiap harinya antara jam 8 atau 9 pagi. Untuk detailnya, bisa langsung cek di sini. Continue reading

Cari Makan di Jepang

Bagi penikmat wisata kuliner, Jepang menawarkan ratusan kedai dan jajanan yang mampu menggoyang lidah. Mayoritas makanan di Jepang mengandung soy sauce, sejenis kecap encer yang terbuat dari fermentasi kedelai. Rasa makanan di Jepang ga sehambar Singapura, namun belum segurih Indonesia yang kaya akan rempah dan santan.

Gua dan Sarah juga sempat icip kanan-kiri selama di Jepang, meski variasi makanan yang kami coba ga ekstrim-ekstrim banget. Kebanyakan masih ada karbohidratnya karena namanya warga Indonesia yang sejati, apalah arti makan tanpa nasi atau mie.

Pilihan makan-di-mana seringnya kami temukan dari internet, saat sedang menggugling restoran mana aja yang menyediakan menu dengan harga yang cocok untuk turis kelas menengah macam gua. Untungnya, gua dan Sarah punya pocket wifi yang kami dapatkan via japan-rail-pass.com.

Koneksinya kenceng, bikin kami ga keburu mati saat ngegugling nama restoran ketika kelaparan. Gua dan Sarah juga bisa ter-connect berdua sekaligus, sebuah keunggulan menggunakan pocket wifi ketimbang sim card. Batre yang awet juga jadi nilai tambah tersendiri waktu sedang mencari tempat untuk makan malam, padahal kami ga menemukan sumber listrik sedari pagi.

Nah, di postingan kali ini, gua mau bercerita sambil berbagi makanan apa aja yang mendapat acungan jempol setelah kami makan selama di Jepang. Semoga postingan ini bisa bermanfaat buat kalian yang sedang merencanakan traveling ke Jepang.

Here we go.

1. Ramen di Osaka

Ramen jadi menu wajib yang ingin kami coba selama ber-Japaneymoon. Setelah beberapa kali makan, kami menyimpulkan bahwa ramen terenak yang kami makan adalah Shi-Ten-Noh yang ada Dotonbori, Osaka.

Rasa enak ramennya udah terbayang sejak kami sampai di depan kedai. Rame banget. Untuk mesen aja kami harus ngantri dengan panjang yang lumayan.

Seperti halnya kebanyakan kedai ramen di Jepang, mereka punya cara memesan yang unik. Melalui semacam vending maching, kita tinggal masukin uang, menekan menu yang kita mau, lalu secarik kertas beserta kembalian (jika ada) akan keluar dari mesin. Kertas itu yang nantinya kita berikan ke pelayan untuk kemudian diproses lebih lanjut.

Karena bahasa pada vending machine-nya adalah bahasa Jepang, jadi ya gua setengah menebak menu apa yang akan gua pesan. Akhirnya, setelah mendapat wangsit dari dewa langit, gua menekan tombol menu nomor satu, dengan asumsi menu nomor satu adalah ramen yang paling standar dan paling sering dipesan.

Ternyata, tebakan gua… tepat!

shi-ten-noh

Kuahnya gurih, pedas, dan nikmat. Jika endang adalah bahasa gaul untuk mengekspresikan kata enak, maka ramen ini adalah endang bambang suhartini, alias enak banget. Irisan daging babinya pas, ga terlalu tebal, ataupun terlalu tipis yang bisa membuat kita merasa ga rugi membayar JPY 700. Continue reading

Juni 2016!

Sebelum memulai, gua mau minta maaf karena bulan lalu, gua jarang banget ngapdet blog. Alasannya masih sama kayak sebelum-sebelumnya: sibuk. Satu kata lima huruf yang selalu mengikat jari dan tangan gua.

Janji mau nge-review beberapa film Disney malah buyar di tengah jalan. Perhatian gua lagi terfokus pada FMB Consultant yang lagi melaju kencang di semester pertama tahun 2016 ini. Berbagai project terus berdatangan yang kian mematangkan tim yang ada dan membuat gua harus berkutat dengan penggalian ide. Kalo ga ada halangan, rencananya bulan Juni mendatang FMB Consultant akan menempati kantor baru di sekitar bunderan HI. Sebuah pencapaian yang butuh pemikiran dan tenaga yang ga sedikit.

Anyway,

Di bulan Juni ini gua akan menutup cerita bulan madu ke Jepang gua dan Sarah. November 2015 dan Maret 2016 gua udah ngebahas beberapa destinasi liburan yang mungkin bisa jadi referensi serta berbagi cerita menarik yang gua dan Sarah alami selama di sana. Nah, bulan Juni ini akan jadi pamungkas dari trilogi Japaneymoon.

Masih ada beberapa spot menarik yang ingin gua bagikan di sini. Cerita soal Tokyo Disney Resort masih sangat sedikit. Baru Tokyo DisneySea yang gua cuplik bulan lalu, itu pun cuma sepotong kecil dari keriuhan yang gua rasakan selama di sana. Semoga gua bisa bercerita lagi tentang magisnya Tokyo Disney Resort di bulan ini. Continue reading