Tag Archives: japaneymoon

Destinasi

“Duh, aku bingung nih baca petanya.”

Sarah membolak-balik peta JR East untuk yang kesekian kalinya, coba mencari di mana stasiun Shinjuku berada. Biasanya, gua yang kebagian tugas untuk membaca peta dan memandu ke mana tujuan kami berikutnya. Siang itu, Sarah sedang ingin bertukar peran, yang sayangnya berujung pada kebingungan.

Memang, peta kereta Jepang terlihat menyeramkan. Ada puluhan line yang saling silang serta titik-titik stasiun menjamur bak jerawat di wajah remaja yang baru masuk puber. Jalur dan stasiun terpampang menggeliat di atas peta. Melintang padat memenuhi setiap sudut wilayah. Merambah jauh sampai ke ujung kota dan sekitarnya.

Ditambah lagi, masih ada jalur subway yang sering bersinggungan dengan belasan jalur kereta JR East. Menambah ruwet peta kereta yang warna jalurnya sampai bergradasi demi bisa mewakili semua jalur yang ada. Ga heran, Sarah kewalahan.

“Mana banyak banget gini jalur dan stasiunnya. Warnanya mirip-mirip lagi,” keluh Sarah, “Gimana sih ini bacanya?”

Selesai menghabiskan minuman, gua menoleh ke arahnya, “Kamu cari dulu Yamanote line yang warna ijo. Nah, stasiun Shinjuku ada di sisi kiri.”

Dengan informasi itu pun, Sarah masih terlihat kebingungan. Mungkin benar kata buku piskologi populer itu, kalo cowo ga pernah nyimak dan cewe ga bisa baca peta. Men don’t listen and women can’t read maps.

Selama ber-Japaneymoon, tugas kami memang terbagi dengan jelas. Gua mengatur tiket penerbangan, mem-booking hotel, menentukan objek wisata dan mencari tau tentang akomodasi selama di sana, sementara tugas Sarah adalah menikmati hasil kerja gua yang disebutkan tadi.

Namun karena durasi bulan madu kami 12 hari dengan banyak destinasi, gua harus membagi tugas ke Sarah kalo gua ga mau berangkat dengan ginjal tinggal sebelah. Berhubung Sarah penggemar Disney, rasanya ga akan memberatkan jika dia diminta untuk mempelajari Tokyo Disney Resort, yang jadi inti dari itinerary kami.

Jadi, Sarah yang bertanggung jawab selama kami di dalam area Tokyo Disney Resort. Wahana mana yang favorit, jajanan apa yang harus dicoba, atau souvenir apa yang paling pas untuk kantong backpacker macam kami.

“Yamanote line? Itu ada di mana?” tanya Sarah sekali lagi, “Aku ga bisa baca petanya nih.”

“Bisa kok. Kemarin kamu bisa baca peta Disneyland sama DisneySea.”

Continue reading

Advertisements

Aplikasi Penting Saat Traveling ke Jepang

Sebagai anak kekinian yang haus akan eksistensi, smartphone udah seperti tangan ketiga buat gua. Rasanya ada yang kurang kalo smartphone ga ada di kantong atau ga melekat di tangan.

Begitupun saat traveling.

Bagi gua, smartphone itu alat traveling yang ga boleh ketinggalan. Feature yang berjibun bisa melonggarkan barang bawaan kita. Kamera, console games dan music player melekat di satu alat, membuat spasi untuk pakaian atau alat-alat lainnya.

Aplikasi atau apps smartphone yang berlimpah ruah menambah fungsi dari feature dasar yang udah bermanfaat banget. Kini smartphone bisa jadi loket tiket, dispacther taksi, kompas, bahkan senter. Semua jadi satu, ga bikin ribet.

Selama ber-Japaneymoon kemarin, gua dan Sarah juga mengandalkan banyak apps. Untungnya, kami memperlengkapi diri dengan pocket wifi (portable wifi) dari Japan Experience. Signal kenceng dan unlimited internet access membuat kami sangat leluasa saat menggunakan beberapa apps secara bersamaan. Ga repot mesti nyari colokan terus-menerus, karena batrenya super awet. Sekali nge-charge, kuat dipakai selama 2 hari untuk smartphone kami berdua.

Buat yang pergi rame-rame, sewa pocket / portable wifi jadi pilihan yang lebih ekonomis ketimbang sim card. Dengan harga sewa USD 53 untuk 5 hari, satu pocket wifi bisa untuk 10 gadgets dan support segala jenis perangkat, mulai dari smartphone, tablet, bahkan laptop. Kalo kalian masih ada pertanyaan tentang pocket wifi, langsung aja deh klik FAQ ini nih.

pocket wifi

Nah, di postingan kali ini gua mau ngebahas apps apa aja yang mesti kalian install saat mau jalan-jalan, khususnya ketika traveling ke Jepang. Harap dicatat, semua aplikasi yang diceritakan di bawah ini gua gunakan melalui smartphone berbasis Android.

Dan seperti yang biasa gua bilang ketika bikin postingan model begini, semoga postingan kali ini berguna untuk bangsa dan negara.

Here we go.

1. The navigator apps

Biar ga nyasar dan menghemat waktu, ada baiknya kita membekali diri dengan pengamalan P4. Selain itu, install-lah beberapa aplikasi navigasi yang bisa menunjukkan kita ke jalan yang benar. Bukan, bukan aplikasi Alkitab atau sejenisnya. Tapi unduhlah Google Maps, sebagai aplikasi navigasi yang sangat mendasar.

Seperti yang pernah gua ceritakan di postingan sebelumnya, kereta adalah moda transportasi utama di Jepang. Jadi, ada baiknya unduh juga aplikasi Japan Trains, yang bisa ngasih tau kita jalur kereta mana dan keberangkatan jam berapa yang harus kita tumpangi agar sampai ke destinasi yang kita inginkan.

Keren betul bukan?
Continue reading

Ada Tarzan di Tottori

Bahasa menjadi satu-satunya momok yang membuat gua ragu untuk berangkat ke Jepang akhir tahun 2013 lalu bareng Tirta dan Siti. Aksara yang non-latin membuat membaca kalimat Jepang seperti bermain tebak gambar.

Namun gemerlap kota dan perbedaan budayanya membuat keraguan itu pelan-pelan memudar dengan sendirinya. Selain itu, gua juga mempersiapkan diri dengan buku Panduan Praktis Bahasa Jepang – Indonesia. Sebuah buku yang gua beli, untuk kemudian gua serahkan ke Tirta.

“Ini bagian lu nih, Ta. Pelajarin bahasa Jepang ya. Jadi selama di sana, lu yang bertugas nanya-nanya sama penduduk lokal.”

Sebuah kepercayaan yang disemena-semenakan oleh Tirta, karena satu-satunya bahasa Jepang yang akhirnya dia kuasai, hanya seputar erangan-erangan yang didapat dari film bokep Jepang.

Tapi ternyata, bahasa bukanlah rintangan selama kami berkelana di Jepang. Penunjuk jalan yang jelas serta tersebarnya tourism center di penjuru kota-kota besarnya membuat keraguan gua lenyap seluruhnya.

Hal inilah yang membuat gua percaya diri untuk mengulang kembali perjalanan ke Jepang. Kali ini bersama Sarah dalam rangka bulan madu kami.

Namun momok bernama bahasa itu kembali muncul saat gua dan Sarah tiba di kota yang belum gua kunjungi dua tahun silam. Sebuah kota kecil yang kami datangi demi bisa mampir ke museum Detektif Conan. Nama kota itu adalah Tottori.

Mungkin kalian akan bertanya-tanya kenapa kami memutuskan untuk mengunjungi kota yang ga familiar itu. Memang, setiap yang bertanya ke mana aja tujuan gua dan Sarah selama ber-Japaneymoon, selalu mengerutkan alis kebingungan ketika jawaban gua mengandung kata Tottori.

“Hah? Kota apaan tuh?”

“Emang ada apaan di sana?”

“Tottori? Yang cheese cracker?”

Semua bisa dimaklumi karena Tottori memang bukan kota yang populer untuk turis mancanegara. Tottori berbeda jauh dengan Tokyo atau Osaka yang rapat dengan gedung-gedung tinggi dan meriah pada malam hari. Ketika kawasan Dotonbori Osaka baru “bangun” saat langit menggelap, di waktu yang sama, warga Tottori mungkin sudah meringkuk di balik selimut sambil nonton On The Spot Trans 7.

tottori

Mungkin hal itulah yang membuat warga kota Tottori jarang ada yang bisa berbahasa Inggris. Mau ga mau, gua dan Sarah harus mengandalkan gerakan kaki dan tangan selama di sana. Sebuah gerakan yang dikenal luas dengan sebutan bahasa Tarzan.

Continue reading

Tokyo 101: Yamanote Line

Ga afdol rasanya kalo berkelana ke sebuah negara, tanpa mampir ke ibukotanya. Ada banyak alasan kenapa suatu kota ditampuk untuk menjadi ibukota. Salah dua atau tiga dari banyak alasan tersebut pastinya layak menjadi latar belakang mengapa kita wajib mengunjungi kota tersebut.

Begitupun dengan Tokyo.

Secara harafiah, Tokyo berarti “ibu kota timur”. Nama To-kyo merupakan kebalikan dari nama kota Kyo-to, ibu kota Jepang sebelumnya yang berada di barat. Sebelumnya Tokyo dikenal dengan nama Edo, namun ketika pemerintahan kaisar berpindah ke kota ini, namanya pun diganti menjadi Tokyo.

Sekitar 12 juta orang tinggal di Tokyo dan ratusan ribu lainnya pulang pergi setiap hari dari sub-urban untuk beraktivitas di kota ini. Mayoritas dari keduabelasjuta orang tadi bermobilisasi menggunakan kereta, moda transportasi utama yang menopang kota Tokyo.

JR East adalah penyedia kereta nomor satu yang menghubungkan banyak titik-titik penting di Tokyo. Ada belasan jalur (line) JR East yang diberi warna berbeda biar gampang ngenalinnya, terutama saat berada di stasiun yang melayani lebih dari satu line JR East. Biar lebih jelas, kalian bisa liat dan save as peta JR East di sini.

Biar bisa bermobilisasi dengan efisien, sebisa mungkin belilah JR Pass sebelum sampai di Jepang. JR Pass atau Japan Rail Pass adalah semacam tiket khusus untuk turis mancanegara yang memungkinkan kita untuk naik segala macam moda transportasi di bawah bendera JR tanpa ada biaya tambahan.

Waktu #Japaneymoon kemarin, gua menemukan situs pembelian JR Pass yang nyaman dan mudah. Namanya japan-rail-pass.com. Ga hanya JR Pass, situs yang dikelola oleh Japan Experience ini juga menyediakan beberapa keperluan traveling lainnya. Step by step pembeliannya jelas dan pembayarannya bisa menggunakan kartu kredit. Kalo udah selesai, JR Pass akan dikirimkan via FedEx langsung ke alamat kita.

Yang membedakan dengan membeli JR Pass di travel lokal, Japan Experience memberikan tambahan guide book dan peta yang dibuat khusus untuk pembelinya. Dua item tadi bermanfaat banget buat gua selama wara-wiri di Tokyo dan kota lainnya di Jepang. Continue reading

Maret 2016!

Kayaknya gua belum cerita banyak ya soal Japaneymoon?

Setelah di bulan November kemarin gua mencanangkan tema bulanan Japaneymoon, nyatanya hanya ada 2 cerita soal museum Fujiko F. Fujio yang sempat gua bagikan di blog ini. Sepertinya gua mesti cerita lagi nih soal Japaneymoon di bulan Maret ini.

Total gua dan Sarah ber-Japaneymoon selama 12 hari. Empat kota dengan belasan destinasi jadi makanan kami selama berada di Jepang. Ada banyak cerita seru, tips perjalanan yang kayaknya bisa berguna, serta perjalanan kuliner yang rasanya ingin segera gua bagikan di blog ini. Mudah-mudahan semangatnya bisa kesampean sesuai rencana, ga kayak bulan November kemarin. Amin.

Salah satu yang ga sabar ingin gua bagikan adalah panduan berkeliling Tokyo dalam satu hari via jalur kereta favorit gua. Hanya dengan JR Pass dan stasiun di sepanjang jalur tersebut, kita udah bisa menikmati titik-titik mainstream di Jepang. Jalur manakah itu? Pantengin terus aja deh blog ini.

Masih ada juga cerita perjalanan gua beberapa theme park yang emang menjadi inti itinerary bulan madu kami Oktober lalu. Setelah Universal Studios Japan, mudah-mudahan di bulan Maret ini gua bisa cerita soal Disneyland atau DisneySea. Tungguin ya!

By the way, #Japaneymoon adalah bulan madu dari pasangan blogger pertama di Indonesia yang mendapat dukungan dari partner. Dan #Japaneymoon mendapat kehormatan untuk menerima dukungan dari Japan Experience.

Japan Experience adalah travel agency yang memiliki spesialisasi tentang pariwisata Jepang. Mereka menyediakan berbagai macam layanan untuk memenuhi kebutuhan para traveler agar bisa berkelana dengan nyaman selama di negeri Sakura tersebut. Mulai dari JR Pass, pocket wifi, sim card, maupun airport transfer. Penasaran? Yuk, main-main ke situsnya di sini.

Selain tema baru di bulan yang baru ini, blog gua juga mengalami beberapa pembaharuan lainnya. Yang pertama adalah logo. Continue reading