Tag Archives: jogja

Wawancaur: Family-Packed Traveler

Traveling sendirian itu menantang. Traveling dengan pasangan itu menyenangkan. Namun traveling dengan keluarga itu membahagiakan.

Keluarga gua sendiri rutin traveling bareng pas libur lebaran. Kesibukan bokap memaksa keluarga gua hanya bisa traveling setahun sekali. Meski tujuannya kadang hanya Puncak atau Bandung, tapi ketika traveling dengan keluarga, destinasi bukanlah poin yang terpenting. Bagi gua, berbagi waktu dan pengalaman yang sama adalah hal yang dituju.

Kalo ga percaya, coba kita tanya juga ke narasumber kita bulan ini: Mbok Venus.

Blogger kenamaan ini udah wara-wiri traveling membawa keluarga, baik itu anak-anaknya maupun ibu kesayangannya. Ngebayangin jalan-jalan 3 generasi ini pasti seru banget. Menempatkan diri sebagai ibu dan anak di waktu yang bersamaan dalam sebuah perjalanan tentunya ga mudah dan pastinya menghasilkan banyak cerita.

Kalo mau tau keseharian si Mbok, pantau aja akun @venustweets. Kalo mau baca pemikiran dan kisah jalan-jalannya, bisa mampir ke blognya venus-to-mars.com. Tapi kalo mau tau lebih dalam cerita perjalanan dengan keluarganya, simak di wawancaur kali ini.

Wawancaur adalah proses wawancara yang dilakukan secara awur-awuran. Pertanyaan disusun semena-mena dan boleh dijawab suka-suka. Proses wawancaur dengan Mbok Venus benar-benar dilakukan via Whatsapp. Wawancaur diedit sesuai kebutuhan. Gambar adalah milik pribadi narasumber. Terima kasih.

mbok venus

Halo, Mbok. Udah siap diwawancaur?

Halo, Roy. Siap dong!

Menurut kabar burung, si Mbok ini udah beberapa kali traveling bareng ibunya. Ke mana aja tuh, Mbok?

Iya, udah beberapa kali, Roy.

Pertama kali bisa ngajakin ibuku jalan itu tahun kemaren. Tujuannya ke Jogja. Tadinya cuma mau bertiga sama anak-anak. Tiba-tiba kepikiran, “Kenapa gak ngajakin ibuku sekalian yak?”

Ibuku tinggal di Probolinggo, Jawa Timur. Jadi waktu itu, aku dan anak-anak berangkat dari Cengkareng, ibuku naik bus dari Probolinggo, ketemuannya langsung di hotel di Jogja.

Terus kapan itu nemu tiket murah Jakarta – Bangkok PP. Impulsif beli tiket buat berempat lagi. Hahaha. Yang terakhir itu umroh bareng. Aaah! Itu pengalaman pergi-pergi bareng ibuku paling indah. Sebenernya, pergi umrohnya gak sengaja ngepas sama ulang tahun ibuku, tapi pas pulang, ibuku bilang gini, “Ini umrohnya hadiah ulang tahun ya? Makasih ya.”

:’)

Hiks.

Ada pengalaman menarik selama di Mekah? Continue reading

Advertisements

4 Makanan Paling Gembel Selama #JalanJalanKemiskinan

Di jalan-jalan kemiskinan, segala macam aspek pengeluaran sebisa mungkin ditekan habis-habisan. Lupakan hotel berbintang lima di pos akomodasi. Kami cenderung memilih hotel kelas melati dan minum puyer bintang tujuh setelahnya. Atau bisa juga dipangkas dengan nginep di rumah temen atau tidur sementara di bandara.

Pos transportasi paling mungkin dipangkas. Jangan naik yang mahal kayak Garuda. Lebih baik naik elang, rajawali, atau perkutut. Mobilisasi selama di tujuan juga bisa disubstitusi. Taksi diganti dengan bus, atau malah, jalan kaki. Biar jalan kakinya ga terlalu pegel, kita bisa pake sepatu yang ada roda di bagian belakang dan meluncur kayak anak kecil di Pondok Indah Mall.

Dan pos pengeluaran yang paling sering kami tekan saat jalan-jalan kemiskinan adalah budget buat makan.

Entah makanannya yang disubstitusi dengan yang lebih murah, atau malah jadwal makannya yang dihilangkan. Waktu jalan-jalan kemiskinan edisi pertama ke Singapura, kami sering banget nge-skip sarapan dan langsung makan jam 11-an. Kalo ibu-ibu sosialita mengenal istilah brunch demi pergaulan, kami mengenal brunch demi kelangsungan hidup!

Meski begitu, salah satu kebiasaan yang kami lakukan di jalan-jalan kemiskinan adalah makan enak di hari terakhir. Biar kesan yang melekat di ingatan itu, kita makan enak. Padahal perbandingan makan enak sama makan kerenya itu udah kayak hewan babi rusa di dunia. Langka bener!

Nah, kali ini gua bakal cerita tentang 4 makanan paling gembel yang pernah kami makan selama melakukan jalan-jalan kemiskinan. Gua bakal urutin dari yang paling mendingan ke yang paling parah.

Prepare yourself. Here we go.

4. Mie bakso (di antara Jakarta – Yogyakarta)

Awal tahun 2012, kami melakukan roadtrip dari Jakarta ke Yogyakarta. Karena itu long weekend, kami dapet info kalo jalur pantai utara Jawa padat ga merayap. Kami lalu memutuskan untuk menggunakan jalur selatan. Sempat lancar beberapa kilo, namun di Nagrek, deretan mobil yang parkir bebas di tengah jalan menjadi pemandangan yang sangat lazim. Macet total.

Berbekal Google Map, kami sok-sok motong jalan dan mencari jalur alternatif. Setiap kena macet, kami langsung buang arah. Pokoknya cari jalan yang lancar deh. Tapi gara-gara begitu, Jakarta – Yogyakarta kami tempuh dalam waktu total 17 jam! Auwo!

Karena sepanjang jalan kami mengambil arah yang acakkadut, maka makannya pun seketemunya. Entah di mana dan kilometer berapa, pas jam makan siang, kami berhenti aja gitu di sebuah warung yang ternyata jualan mie bakso. Untung dia ga jualan mur baut, bisa-bisa kami jadi anak didik Limbad.

Karena ga ada pilihan lain, ya akhirnya kami pesen mie bakso. Rasanya… biasa aja. Bener-bener mie bakso biasa, ga ada tambahan daging orok yang membuatnya kuliner khas daerah sana atau gimana gitu. Rasanya kayak mie bakso gerobakan yang sering kita temuin di jalan-jalan Jakarta.

Jauh-jauh ke Yogya, makannya mie bakso juga. Pffft!
Continue reading