Tag Archives: kuliah

Bersama Keluarga

Meski ga berpuasa, bulan Ramadhan tahun ini gua beberapa kali ikutan acara buka puasa bersama (bukber). Patut dicatat, selama bulan puasa ini, gua hanya ikutan bukber, ga ikutan sahur on the road. Karena menurut gua, daripada sahur on the road, lebih penting sahur on time ga sih?

Well, anyway…

Ada beberapa bukber yang gua ikutin di tahun ini. Bukber bareng teman-teman ghibah social media, bukber bareng temen-temen kantor, dan yang paling rutin, bukber bareng teman-teman semasa kuliah.

Bukber bareng temen-temen kuliah kali ini adalah tahun ke-13 kami melakukan bukber. Yang pertama terjadi saat kami baru mengemban title sebagai mahasiswa, pada tahun 2003. Tapi waktu itu, gua ga ikut. Lebih tepatnya, gua males untuk ngikut.

Gua datang dari SMA yang dasar ajarannya adalah agama Kristen. Mayoritas teman gua pun beragama Kristen. Jadi waktu SMA, gua termasuk golongan mayoritas. Ketika dunia luar mengeluh tentang diskriminasi minoritas, gua merasa tenang-tenang aja dalam tempurung SMA gua itu.

Waktu itu, gua sama sekali ga tau apa-apa tentang puasa. Mengapa harus ada sahur, kenapa buka puasa harus bersama-sama, dan untuk apa berlapar-lapar puasa. Bimbo, mana Bimbo…

Berdasarkan fakta-fakta itulah, gua ga merasakan sesuatu yang berbeda di bulan puasa. Bagi gua, bulan Ramadhan hanya satu dari bulan-bulan lainnya. Cuma bulan yang biasa. Ga ada yang istimewa atau yang ditunggu-tunggu.

Maka, ketika diajak bukber di tahun pertama kuliah, gua males buat ikutan.

Ketimbang ikut bukber, gua memutuskan untuk pulang ke rumah atau berdiam di kost. Daripada kumpul-kumpul untuk sebuah ibadah yang ga gua anut, gua memilih untuk beristirahat lebih lama atau nonton iklan sirup di televisi. Berbagai alasan pun gua lempar untuk nolak ajakan bukber.

“Roy, bukber yuk!”

“Duh, lagi diare nih.”

“Roy, dateng ga ke bukber?”

“Duh, lagi nanggung ngerjain tugas nih.”

“Roy, kok belum berangkat ke bukber?”

“Duh, lagi diare sambil ngerjain tugas nih.”

Sounds legit. Continue reading

Advertisements

Tentang Kuliah Teknik Tenaga Listrik Yang Absurd Itu

Sebagai mahasiswa fakultas Teknik, gua banyak dibekali dengan mata kuliah yang erat hubungannya dengan sains. Ada Fisika Panas, dan Fisika Gelombang Optik. Ada Mekanika Teknik, dan ada Teknik Tenaga Listrik. Ada tempe goreng, ada ayam goreng, semua yang digoreng… asik, asik, asik.

Sampai mana tadi? Oiya, mata kuliah sains. Dari banyak mata kuliah sains itu, ada satu kelas yang dosennya ga bakal gua lupa. Nama mata kuliah itu Teknik Tenaga Listrik.

Sebelum mulai kelas pertama, udah ada kabar yang beredar kalo dosen yang ngajar itu seorang ibu-ibu, galak, dan pernah kerja sebagai menteri. Kabarnya lagi, banyak senior-senior di kampus yang ngulang mata kuliah ini karena faktor dosennya. Entah kabar ini datang dari mana, yang jelas gua dan teman-teman kuliah lainnya setengah percaya.

“Namanya sih kayak nama menteri,” kata seorang teman.

“Ah, yakin? Menteri apa mantri beranak nih?”

“Huss! Huss! Dosennya dateng tuh.”

Dosen yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Gua tegang menanti. Seperti apa ya rupanya? Apa dia segalak yang digosipin? Kalo marah, apa dia mecahin genteng pake jidat? Atau malah makan beling? Sesadis apa sih dia?

Bayangan ibu itu mulai tampak jelas dari balik jendela. Tangannya membuka pintu, dan terlihatlah wajahnya. Ia ternyata bukan seorang menteri, atau mantan menteri. Ia seorang ibu paruh baya, mengenakan jilbab rabbani, berwajah lugu, dan bermata sayu. Ia lebih mirip ibu-ibu kebanyakan yang sering tampil di acara masak Rudi Choirudin.

“Ya, Ibu-ibu, sekarang masukkan ipar rese ke dalam air mendidih.”

Ibu itu terus berjalan melintas di depan kelas, menuju meja dosen. Setelah itu, ia langsung menulis beberapa bahan di papan tulis. Sepuluh menit pertama, gua masih konsen ngedengerin bahan yang Ibu itu jelasin. Setengah jam berikutnya, gua mulai ngantuk dan menguap dengan brutalnya. Satu jam berikutnya, gua hampir terjatuh dari kursi saking ngantuknya. Gawat. Semua itu karena si Ibu ngajarin kami bagai anak TK!

“Jadi begini ya, anak-anak…”

Nadanya datar, tanpa emosi. Satu jam pertama ia hanya menulis materi kuliah, tanpa interaksi sama sekali dengan mahasiswanya. Materinya pun sebetulnya bisa dibaca di modul atau buku. Dia juga ga galak sama sekali. Beda banget sama kabar yang beredar selama ini. Gua sampe heran, kok gosipnya banyak senior yang gagal mata kuliah ini? Hoax nih, jangan-jangan.

Continue reading

Simfoni

Foto ini diambil saat gua dan teman-teman kuliah sedang melangsungkan semacam malam perpisahan, sekitar pertengahan tahun 2007, saat kami masih kurus dan cicilan rumah belum menjadi masalah.

kuliah

Ga bisa dipungkiri, kuliah dan tugas adalah dua hal yang ga bisa dipisahkan. Ngejar deadline tugas jadi aktivitas mayoritas bagi mahasiswa macam gua waktu itu. Bergadang sampai pagi lalu langsung berangkat kuliah tanpa tidur, jadi sebuah kegiatan yang terlihat lumrah dilakukan secara biologis.

Tapi tugaslah yang ternyata mampu mengakselerasi keakraban gua dan teman-teman kuliah. Rasa senasib dan sepenanggungan menjadi katalis bagi kedekatan kami. Kebutuhan untuk bercerita dan berkeluh kesah, menjadikan teman satu-satunya telinga yang mampu mengerti. Pengen sih cerita ke orang tua, tapi rasanya sulit untuk menceritakan betapa beratnya tugas kuliah Total Quality Management itu tanpa diberondong oleh ekspersi “Hah?”

Meski tugas bertumpuk, kami bukanlah segerombolan mahasiswa kutu buku yang kupu-kupu. Kuliah pulang, kuliah pulang. Kami lebih cocok disebut kumbang-kumbang. Kuliah ngambang, kuliah ngambang. Ngambang entah ke mana sepulang kuliah.

Ada banyak cerita menarik ketika kami memutuskan untuk ngambang setelah suatu kelas dinyatakan selesai atau saat ga ada kuliah sama sekali. Namun salah satu cerita favorit gua adalah ketika kami nonton di mall baru yang berada lumayan jauh dari kost-an. Sebuah cerita yang berawal dari ajakan iseng untuk nonton Shrek.

“Eh, makan terus nonton yuk? Ke mall Margonda aja,” ajak gua ke teman-teman kuliah yang kebetulan lagi berkumpul di kost-an Akbar.

Akbar, sambil masih mengenakan sarung dan kaos oblong, menanggapi, “Yuk. Boleh, boleh. Mau nonton apa?”

“Hmm,” gua mengingat-ingat film apa yang sedang tayang minggu itu, “Gimana kalo nonton Shrek?”

“Hah?” Akbar terlihat kaget, “Nonton SEKS? Di mana? DI MANA?”

“…”

Akhirnya, tanpa membahas lebih lanjut kenapa Akbar bisa salah mendengar sejauh itu, gua, Akbar dan beberapa teman lainnya berangkat ke sebuah town square di kawasan jalan Margonda. Mall itu terbilang baru sehingga kami penasaran dan pengen nyobain ke sana. Berbekal uang beberapa puluh ribu, kamu pun berangkat dengan naik angkutan umum.

Sebelum nonton, kami mau makan di food court di mall yang sama. Karena masih terhitung baru, mall itu masih sepi, begitupun dengan food court-nya. Yang kamu ga tau, makan di food court kala sepi adalah sebuah adegan yang mirip cerita horor. Kalo sepi, pegawai setiap counter makanan di food court jadi… SANGAT BERINGAS.
Continue reading

Di Bawah Atap Warteg yang Sama

Nama warteg itu warteg Shinta.

Wartegnya sederhana. Dinding luarnya dicat warna biru dengan tulisan “Shinta” warna hitam terpampang besar. Interiornya juga ga neko-neko. Hanya kursi plastik yang mudah reyot, meja kayu buatan sendiri, dan kipas angin yang udah lewat masa jayanya. Meski begitu, dalam melayani pengunjungnya, warteg Shinta udah menggunakan teknologi touch screen.

Image0011

Gambar dipinjam dari sini.

Waktu gua nge-kost saat kuliah dulu, warteg Shinta termasuk warteg favorit. Hampir setiap malam, gua dan teman-teman kuliah makan di sini. Menunya variatif, rasanya lumayan, dan yang paling penting, harganya pas di kantong mahasiswa. Karena bagi kami, harga ga masalah, yang penting murah.

Meski kami pergi dan makan sama-sama, namun alasannya bermacam-macam. Cesi, salah satu teman kuliah, suka makan di warteg Shinta karena hanya di sinilah dia bisa pesen nasi bukan satu porsi. Setengah porsi? Bukan juga.

“Mbak, saya makan di sini dong,” kata Cesi, “Nasinya… seperdelapan aja ya.”

Awal-awal mbaknya suka bingung, gimana cara naker nasi biar bisa pas seperdelapan. Apa dia mesti ambil satu porsi dulu terus dikurangin setengah secara bertahap, atau dia boleh phone a friend untuk menyelesaikan masalah ini? Tapi karena sering, lama-lama si Mbak terbiasa juga. Namun hidup terasa datar jika tanpa ujian. Suatu hari, Cesi menantang si Mbak warteg ke level berikutnya.

“Mbak, nasinya seenampuluhempat ya.”

Continue reading

Gara-Gara Magang

Sebagian besar anak kuliahan pasti pernah magang. Lewat magang, seorang mahasiswa diharapkan bisa sedikit banyak mencicipi dunia kerja sehingga ga kaget saat menceburkan diri sepenuhnya. Jika menganalogikan dunia kerja sebagai ujian akhir, maka magang itu semacam kisi-kisi lah.

Nah, di bawah ini gua akan bercerita pengalaman gua saat magang dulu. Cerita ini terjadi di tahun 2006, saat gua masih polos dan begitu naif. Cerita yang sama tertuang dalam Kaleidoskop saputraroy.com tahun 2013 yang bisa kalian download di sini. Kaleidoskop saputraroy.com 2013 adalah kumpulan postingan saputraroy.com terbaik versi pembaca yang dibagi menjadi beberapa kategori. Cerita “Gara-gara Magang” sendiri adalah postingan bonus pada kaleidoskop tersebut, yang versi jadul dan panjangnya pernah gua tuangkan pada buku kedua gua yang berjudul Doroymon.

Semoga kalian suka. Inilah; “Gara-gara Magang”.

internship

Liburan tahun ketiga kuliah gua isi dengan Kerja Praktek (KP), salah satu mata kuliah wajib yang mengharuskan gua untuk kerja minimal selama satu bulan di sebuah perusahaan. KP itu sejenis Kuliah Kerja Nyata atau magang gitu deh. Karena pilihan yang ada, akhirnya gua memutuskan untuk KP di Bapeda, alias Badan Perencanaan Daerah DKI Jakarta.

Gua KP bareng Dikun dan Sakai. Dikun adalah badut angkatan yang sangat lucu. Lucu dalam artian kayak Komeng, bukan lucu dalam artian kayak Nabila JKT48. Sementara Sakai adalah seorang teman yang kurus, gondrong, dekil, dan hitam. Eh, tunggu, tadi itu gua mendeskripsikan lutung. Ralat. Sakai itu kurus, gondrong, dekil, hitam, dan ga berbuntut. Nah itu, baru Sakai. Yang sangat mencolok dari Sakai adalah tampangnya seperti pelaku kriminal. Pelaku kriminal yang durjana, tepatnya. Ia ke mana-mana selalu naik motor. Dengan muka seperti itu, Sakai lebih terlihat seperti orang yang baru aja mendapatkan motor itu dengan cara menusuk pemilik aslinya di tengah jalan.

Salah satu tugas utama kami selama KP adalah luntang-lantung keliling Jakarta, mendatangi semua Bapeko/kab (Badan Perencanaan Kotamadya/ Kabupaten). Salah satunya adalah Bapekab Kepulauan Seribu. Dengan semangat 45, gua mencari di buku alamat dinas pemerintahan. Dengan jelas, di buku itu tertulis:

BAPEKAB KEPULAUAN SERIBU – Pramuka No. 9.

Ah, gua tau nih. Jalan Pramuka kan? Deket jalan Matraman kan? Gampang lah ini. Gua, Dikun, dan Sakai langsung bergegas turun dari ruangan kami di Bapeda dan menuju parkiran motor.

Perjalanan akan kami lakukan bertiga dengan naik dua sepeda motor. Ga kok, gua ga berdiri di antara dua motor, berakrobat sambil nyundul-nyundul bola api dan ada anjing laut tepok tangan di sekeliling gua. Gua duduk manis, dibonceng di salah satu motor. Gua duduk di belakang Dikun, sementara Sakai naik motor sendirian. Motor mereka diparkir di area Monas.

“Parkir di sini ga usah bayar, Roy,” kata Dikun yang sangat kontras dengan papan tarif parkir yang terpampang dengan gagah di depan Monas.

“Eh? Ga usah bayar?” kata gua dengan tampang kurang yakin.

“Kalo tukang parkirnya minta duit, lo senyum aja. Kalo ga, lo pura-pura ga liat aja.”

“Ga sekalian pura-pura mati, Kun?” Continue reading