Tag Archives: makanan

Membuncit di Sudirman Street

Apa yang bisa mengalahkan nikmatnya sepotong daging babi?

Menurut gua, jawabannya adalah dua potong daging babi. Dengan rasa semanis udang dan tekstur tak sealot kambing, sepertinya belum ada yang bisa mengungguli lezatnya daging sapi pendek itu.

Itulah mengapa, wajah gua sumringah ketika sampai di Sudirman Street, Bandung. Karena di sana, makanan berbahan olahan daging babi begitu melimpah ruah.

Terletak di antara jalan Sudirman dan Cibadak, Sudirman Street semacam jalanan khusus pejalan kaki dengan kios makanan di kanan kiri. Bentuknya seperti food court yang terletak di tengah jalan. Tapi ga usah khawatir kepanasan atau kehujanan, karena ada kanopi yang siap mengayomi (halah) kita. Pun ga usah ragu akan kebersihannya, karena kesigapan cleaning service-nya setara food court di mall-mall.

Dari info yang gua dengar, Sudirman Street buka setiap hari sejak pukul 10 siang sampai 12 malam. Namun baru berfungsi optimal ketika pukul enam sore, di mana food stall non permanen mulai beroperasi, menambah pilihan makanan bagi pengunjungnya.

sudirman street

Sudirman Street udah ramai saat gua tiba di sana sekitar pukul tujuh malam. Hujan yang lumayan deras ga menghalangi puluhan penikmat kuliner untuk memenuhi setiap kursi dan meja yang disediakan.

Mata gua sungguh berbinar-binar ketika menyusuri Sudirman Street. Menu dengan olahan daging babi hampir ada di setiap kiosnya. Mie, nasi campur, sate, siomay, dan masih banyak lainnya. Ada juga beberapa menu halal, seperti soto ayam atau nasi bakar, meski tingkat keramaiannya ga setinggi kios yang menjualan makanan berbahan daging babi.

Melihat banyaknya menu dengan olahan daging babi ini, Sarah berkomentar, “Gila, semuanya jualan babi gini. Ga takur dibakar ormas apa ya?”

“Wah, kalo dibakar justru enak. Jangan lupa pakein kecap manis!” respon gua yang segera ditanggapi dengan toyoran oleh Sarah.

Continue reading

Advertisements

April 2016!

Weekend selalu menyenangkan, setidaknya buat gua. Sebagai warga kantoran di kota yang mumet kayak Jakarta, weekend adalah kesempatan emas untuk melepaskan diri dari rutinitas harian demi bisa jalan-jalan atau bermalas-malasan seharian.

Gua pribadi sebetulnya lebih senang menghabiskan weekend di apartemen. Sejak menikah, gua dan Sarah tinggal berdua aja di sebuah apartemen mungil di daerah Kelapa Gading. Karena apartemennya masih baru, ada aja yang masih harus diberesin agar lebih nyaman ditinggali. Dan karena hanya tinggal berdua, kami juga lah yang mesti menjaga kebersihan dan kenyamanannya.

Pun begitu, sesekali kami menyempatkan waktu untuk wisata kulineran atau nonton di luar. Kelapa Gading terkenal dengan ratusan pilihan makanan, jadi rasanya sayang udah tinggal di sini tapi jarang icip kanan-kiri.

Seringnya kami juga berkelana keluar dari Jakarta Utara. Demi beberapa suap makanan yang kami intip di Instagram atau karena tergoda artikel berapa-jenis-makanan-yang-enak-banget-di-daerah-sini yang wara wiri di timeline Facebook. Continue reading

#JalanJapan: 3 Cara Traveling Hemat ke Jepang

Awal November kemarin, gua, Tirta, dan Siti melakukan #JalanJapan selama 7 hari. Total pengeluaran gua selama di sana sekitar 4.1 juta atau kurang lebih 600 ribu per harinya. Ini udah termasuk makan, jajan, penginapan, dan beberapa transportasi (di luar oleh-oleh).

Menurut gua, jumlah di atas tadi masih under budget. Karena dari yang gua pernah denger dan baca, biaya hidup di Jepang bisa mencapai 1 juta per harinya. Tapi total biaya hidup selama
7 hari gua kemarin itu hanya setengahnya lebih dikit. Empat jutaan. Nominalnya mirip dengan 7 kali malam mingguan anak Jakarta. Jadi, sepulang dari sana, skip aja 7 kali malam minggu biar bisa balik modal. Untuk para jomblo, tentu hal ini bukanlah suatu masalah. Laptop dan lotion cukup untuk mengisi sepinya malam. Namun untuk yang pacaran, tinggal mengganti nongkrong di mall dengan duduk-duduk manis di sofa ruang tamu sambil nyemil chiki bareng pacar. Meski menggunakan laptop dan lotion juga bukan suatu pantangan.

Nah, di postingan kali ini gua mau ngasih kiat-kiat gimana berhemat selama traveling di Jepang. Tiga kiat di bawah ini udah gua coba sendiri selama di sana. Maklum, namanya juga pelancong kere.

Semoga tips-tips ini bisa bermanfaat buat kalian yang lagi bersiap traveling ke negara Sakura ini. Dan seperti yang biasa gua tulis tiap bikin postingan model begini, anggap aja kiat-kiat di bawah ini sebagai sumbangsih gua buat bangsa dan negara.

Auwo.

1. Bento, Bento, Bento! Asik!

Siapa yang membaca kalimat di atas dengan nada lagu Iwan Fals? Anyone? Anyone? No?

So, anywaaay, kata temen gua yang pernah ke sana, biaya sekali makan (plus minum) selama di Jepang itu sebesar 1,000 yen, atau sekitar 100 ribu rupiah. Jumlah yang sama akhirnya gua tulis di budget plan dan itinerary. Namun kenyataannya berkata lain. Gua bisa menghemat 50% lebih dari budget makan.

Semua berkat frozen bento!

Frozen bento adalah nasi kotak yang disajikan lengkap dengan lauk dan sayur. Biasanya, bento-bento dingin kayak gini bisa kita temuin di minimarket-minimarket kesayangan kita semua: Lawson, Seven Eleven, atau Family Mart. Tapi abis beli bento, jangan jongkok depan Lawson sambil berdebat apa warna langit. Di sana, Lawson dan teman-temannya itu minimarket, bukan tempat nongkrong.

Karena ini frozen (sebenernya ga beku kok, cuma dingin aja), jangan lupa untuk minta diangetin dulu. Bilangnya gimana? Gampang! Petugas minimarket di sana memang ga lazim berbahasa Inggris, jadi langsung tunjuk-tunjuk aja microwave yang biasanya ga jauh dari mesin kasir.

Harga frozen bento di 3 minimarket ini berkisar di antara 350-500 yen, atau sekitar 35-50 ribu. Apa? Masih kurang murah?

Kalo budget sekali makan lu cuma di angka 300 yen, belilah frozen bento di tempat-tempat berikut: Daily-in atau Heart-in. Dua nama tadi bukan minimarket, tapi kios-kios yang tersebar hampir di seluruh stasiun besar di kota-kota utama Jepang. Dengan menu dan rasa yang hampir mirip, kita bisa dapet frozen bento dengan harga 250-300 yen doang!

Bener kata Iwan Fals. Ternyata bento itu… asik!

Continue reading