Tag Archives: manila

Menemukan Rumah di Makati

Gua ingin pulang.

Udah 5 hari ini gua berkeliling Filipina pake kolor kertas. Gua udah merasakan tidur di bandara sekelas terminal bus di Angeles City, melewati jalanan banjir di Kalibo, dan kebagian hujan badai tropis di Boracay. Semuanya gua lalui sambil pake kolor kertas yang ga nyaman ini. Sekarang yang gua inginkan hanyalah di rumah, bercelana pendek sambil nyemil mie lidi yang pedes-pedes nikmat.

Untungnya, besok adalah jadwal penerbangan kembali ke Jakarta. Gua sudah ga sabar untuk pulang dan merasakan nikmatnya rumah.

Namun saat ini, gua masih jauh dari rumah. Gua sedang duduk di dalam sebuah bus dengan kecepatan rendah menuju Metro Manila. Kursi bus yang sudah gua duduki selama lebih dari satu jam ini pun mulai terasa ga nyaman. Selain karena kolor kertas tadi, semua ketidaknyamanan ini terjadi karena gua sama sekali ga tau harus turun di mana.

Tapi gua ga kehabisan akal. Gua berinisiatif untuk nanya penduduk lokal yang duduk di sebelah.

“Permisi, Pak,” kata gua dalam bahasa Inggris, “Daerah wisata yang terkenal di Manila itu di mana ya?”

“Hmmm. Kamu mau ke mananya Metro Manila?”

Yang gua ga tau, ternyata Metro Manila adalah kota yang sangat besar dan terdiri dari 4 distrik. Yang pertama ada distrik Manila, kota paling sibuk yang memiliki salah satu Chinatown terbesar di dunia. Lalu ada distrik Quezon City, ibukota Filipina sebelum dipindahkan ke distrik Manila. Yang ketiga adalah distrik yang terdiri dari kota-kota kecil seperti Malabon, Valenzuela, dan Navotas. Yang terakhir, dan yang merupakan area paling mahal, adalah Makati.

Karena gua terlihat bingung, akhirnya dia bilang bahwa kita udah nyaris berada di penghujung trayek bus. Ada baiknya gua turun di sini, di Ayala Center, Makati. Dia bilang itu adalah area yang rame banget dan punya banyak mall dan hotel. Di tengah rasa panik, gua pun mengikuti sarannya.

“Thank you!” kata gua setengah berteriak sambil tergopoh-gopoh membawa tas keluar dari dalam bus. Ga lama berselang, Tirta menyusul di belakang gua.

“Cari penginapan yuk,” jawab gua sambil melap keringat yang sedari tadi mengucur dengan jaya, “Udah ga sabar mau rebahan di kasur.”

“Nginep di mana?” Tirta melemparkan pandangannya ke sekeliling, “Kayaknya mahal-mahal deh. Areanya elit gini.”

Memang, sejauh mata memandang, langit Ayala Center tercakar oleh gedung-gedung yang menjulang tinggi. Mobil-mobil kelas wahid bersliweran di jalanan. Pun dengan orangnya. Dengan gaya necis dan klimis, mereka tampak seperti anggota boyband yang baru pulang dari paguyuban.

Awalnya kami berencana untuk mencari penginapan yang murah meriah. Namun dengan badan super pegal, sepertinya kami akan menginap di hotel pertama yang kami temuin malam itu: Dusit Thani. Hotel bernuansa Thailand ini terlihat besar, megah, namun kuno. Warna gedungnya kusam dan jauh dari kata modern. Gua dan Tirta lalu berembug di depan lobby Dusit Thani.

“Lo masih ada sisa duit berapa, Roy?”

“Hmm, 4ribu peso,” jawab gua, “Sekitar sejutaan lagi. Lo?”

“Ya sama lah kurang lebih. Ada 2 juta total. Kita nyari hotel yang 1 juta semalem masih sanggup lah ya.”

“Sanggup!”

“Paling di sini segituan lah ya,” kata Tirta yang gua amini dengan anggukan.
Continue reading

Advertisements

#PinoyTrip: 5 Hal yang Harus Diperhatikan Jika Traveling ke Filipina

Gimana judul di atas? Udah kayak On The Spot Trans 7 belom?

Anyway,

Di bulan Desember kemarin, gua dan Tirta melakukan #PinoyTrip; jalan-jalan ke Filipina dengan minim persiapan. Gua bahkan baru tau apa itu Boracay 2 minggu sebelum keberangkatan. Kilat banget deh nyiapin ini itunya. Bukan cuma kilat nyiapinnya, tapi kilat juga jalan-jalannya. Total kita di sana selama 5 hari dan berhasil menginjakkan kaki di 4 kota: Angeles City, Boracay, Kalibo, dan Manila.

Sepanjang perjalanan, gua menyimpulkan sepertinya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan jika ingin traveling ke Filipina, terutama bagi pelancong yang datang dari Indonesia. Semoga postingan ini berguna bagi nusa dan bangsa. Ini adalah bentuk sumbangsih gua buat negara.

Auwo.

1. Hati-hati nyebrang jalan!

Hampir setiap gua nyebrang jalan di Filipina, baik itu di Angeles City, Boracay, Kalibo, atau Manila, gua pasti nyaris ketabrak mobil. Bukan karena kendaraan di sana cepet-cepet atau bersupir orang Medan, tapi karena arah kedatangan mobil di Filipina terbalik dari di Indonesia.

Itu karena posisi kendali (supir) mobil di Filipina ada di sebelah kiri!

setir kiri cuy!

Para pengendara mobil di Filipina akan berjalan di lajur sebelah kanan. Jadi kalo nyebrang jalan di Indonesia kita akan nengok kanan dulu baru nengok kiri, maka pas di Filipina kita harus nengok kiri dulu baru ke kanan. Terbalik.

Menjadi unik karena sebetulnya Spanyol –sebagai bangsa yang dulu menjajah Filipina– nyetirnya di kiri, kayak Indonesia. Mungkin sebagai bentuk pemberontakan seutuhnya karena Belanda pun nyertirnya terbalik dari Indonesia.

Jadi pastikan nengok ke kiri dulu kalo mau nyebrang jalan di Filipina. Sejomblo-jomblonya lu, tetep ga mau kan dicium sama bemper mobil?

2. Jangan bawa handphone terlalu canggih

Selain karena sepertinya agak rawan (terbukti dengan adanya tanda larangan membawa shotgun di dalam mall), di sana micro SIM ga ready stock! Apalagi gratis ongkir. Payah, Sist. Kalah deh sama online shop di Jakarta.

Gua berniat beli nomor lokal saat lagi di Angeles City. Tujuannya ya biar bisa tetap terhubung dengan orang di Jakarta dan dengan Tirta sebagai teman seperjalanan. Jadi kalo kita terpisah, lebih mudah untuk saling berhubungan (bukan berhubungan badan, tentunya).

Namun apa dinyana (cailah), gua ga menemukan satu pun toko seluler yang menyediakan micro SIM. Bahkan gerai resmi kartu SIM-nya pun ga ready stock micro SIM. Mereka bilang, untuk micro SIM biasanya harus pre-order dulu. Udah kayak buku anak Twitter aja pake pre-order segala.

Padahal, hampir semua dari smartphone yang beredar sekarang pake micro SIM. Ada baiknya, kalo kita berniat beli nomor sana, pakailah handphone yang ga menggunakan micro SIM.

Biar aman dan pasti-pasti aja deh.

3. Bertanyalah sebelum makan

Bukan dengan pertanyaan, “ada promo pake kartu kredit apa ga, Mbak?”, tapi dengan pertanyaan,
Continue reading

#PinoyTrip: Dari Jakarta Ke Boracay!

Akhir tahun lalu, gua berkesempatan untuk traveling ke Filipina bareng Tirta (@romeogadungan). Semua berawal di suatu siang ketika gua lagi asik browsing tiket kereta dengan menggunakan internet fasilitas kantor. Oh sungguh teladannya diriku.

Rencana awalnya adalah gua ingin menghabiskan akhir tahun membelah pulau Jawa dengan naik kereta. Dari stasiun ke stasiun, dari kabupaten ke kabupaten. Perjalanan akhir tahun yang ga terburu-buru. Liburan dengan tujuan bermalas-malasan. Santai.

Namun manusia boleh berencana, akhirnya Tirta juga yang menentukan.

Siang itu, tiba-tiba aja Tirta ngajakin gua buat ke Boracay, Filipina. Kata Tirta dan dari hasil browsing, Boracay itu semacam Bali-nya Filipina. Pulau dengan pantai cantik membujur di salah satu sisinya. Dan entah kesambet setan mana, gua pun menyanggupinya.

Tiket pun dibeli, kamar dipesan, dan berangkatlah kami tanggal 24 Desember 2012, tepat sehari sebelum Natal. Nah, di postingan kali ini gua akan bercerita jam demi jam perjalanan dari Jakarta ke Boracay.

Here we go!

13:07

Sampai di Gambir. Celingak-celinguk cari bus Damri yang siap berangkat. Duduk macho di kursi agak belakang. Ga lama berselang, seorang bule berbulu dada pirang kecoklatan (yes, dia buka kancing kemejanya sampe 3 biji) duduk di sebelah. Keteknya bau keju basi. Kampret.

14:02

Sampai di bandara internasional Soekarno Hatta terminal 3 dengan penuh rasa haru dan sujud sukur karena akhirnya terbebas dari bule bau terkutuk itu. Dengan segera nelpon Tirta untuk nanya posisi. Dia bilang dia udah di dalem untuk check in dan gua pun langsung masuk.

Gua dan Tirta sama-sama bawa dua gembolan besar di punggung. Sengaja ga bawa koper yang ditaruh di bagasi untuk mempersingkat waktu di bandara setiap kali mendarat. Menunggu koper di baggage claim bisa memperlambat kami; para pelancong yang tergesa.

14:30

Boarding time. Gua ngelewatin metal detector sambil bertanya-tanya, apa anak pop dan jazz bisa lewat sini? Kan metal.

Petugas yang kebetulan wanita meminta gua untuk mencopotkan ban pinggang. Gua bilang jangan memaksa gua untuk berbuat asusila dan bertobatlah karena kerajaan Allah sudah dekat. Tapi dia tetep kekeuh menyuruh gua mencopotkan ban pinggang. Padahal gua udah pake ban pinggang tanpa kepala yang biasa gua gunakan setiap traveling untuk menghindari pencopotan semacam ini.

Si Mbak tetep meminta gua untuk mencopot. Melihat betapa besarnya jempol si Mbak dan proyeksi betapa perih jika ditabok olehnya, gua pun akhirnya mengiyakan.

Ban pinggang pun gua copot di depan si Mbak. Gua merasa kotor dan nista.

14:59

Tirta sedang asik curhat mengenai kehidupan percintaannya. Gua bertanya balik, “Lah, Ta. Gua kira udah beres pas lu ceritain di Trave(love)ing 2?”

Berbarengan dengan gelengan kepala Tirta, speaker menghalo-halo untuk naik ke pesawat karena bentar lagi mau take off. Gua kembali melihat tiket untuk mencocokkan nomor penerbangan dengan yang dihalo-halo. Cocok.

Gua melihat jam. Ini jam 3 sore. Mari kita liat sampe Boracay jam berapa.

18:20

Setelah 2 jam penerbangan ditambah 1 jam selisih waktu, akhirnya gua sampai di Kuala Lumpur buat transit. Ini adalah pengalaman pertama gua transit. Setelah sampai di bandara, gua ga ke arah imigrasi, tapi ngikutin plang petunjuk –jelasnya– transit. Di sana, petugas hanya mengecek boarding pass (yang udah tercetak dari Jakarta) dan memberitaukan posisi gate untuk penerbangan berikutnya.

Begitu beres dengan urusan transit ini, gua memutuskan untuk makan malam. Masih ada 1.5 jam sebelum penerbangan Kuala Lumpur – Clark. Leha-leha dulu masih sempet kayaknya.

19:23

Akhirnya gua berhasil nyeting wifi bandara LCCT. Sebagai catatan, wifi LCCT hanya bisa diakses selama 3 jam per sekali log in. Begitu berhasil masuk, langsung deh gua ngetwit “touchdown, Kuala Lumpur!”. Biar tingkat gaul naik 1439%!

20:45

Ada pengumunan. Continue reading