Tag Archives: novel

Ikan-Ikan Mati: Sebuah Prolog

“You’ve just signed petition for ‘Desak Pemerintah untuk Selesaikan Konflik Sosial dengan Terobosan!’”

Seorang pemuda baru saja menandatangani sebuah petisi digital yang ia temukan tanpa sengaja di halaman depan facebook-nya, di antara deretan artikel yang entah berita, entah fitnah. Petisi itu memang sedang ramai dibicarakan. Sudah di-like 701,592 orang dan ditandatangani lebih dari 4 juta orang. Tujuannya hanya satu, ingin mendorong pemerintah agar dengan segera melakukan sebuah terobosan untuk menanggulangi konflik sosial.

Enam bulan terakhir, masyarakat Indonesia dibombardir dengan berita saling serang antar golongan. Artikel hoaks menyebar dengan cepat, memprovokasi mereka yang gemar meneruskan tanpa pernah membaca. Ego-ego yang tak ingin mengalah sedang tumbuh subur. Diserang, lawan balik. Dihina, maki balik. Dilaporkan, tuntut balik. Kantor polisi penuh dengan laporan-laporan atas dasar pasal perbuatan tidak menyenangkan atau pencemaran nama baik. Orang-orang semakin berkutub. Ekstrim dengan pilihan dan pandangannya masing-masing. Organisasi massa menggelar aksi dua hari sekali. Temanya berubah-ubah, tempatnya berpindah-pindah. Namun, semua dengan tujuan yang sama; memaksakan kehendak sendiri atau yang sesuai dengan agenda pribadi.

Media sosial jadi medan tempur, mulai dari kritik, sindiran, hingga makian jadi makanan sehari-hari para netizen. Status Facebook penuh dengan kebencian, foto liburan menghilang dari Instagram, dan cuitan di Twitter tak lagi menyenangkan.

Indonesia sedang gaduh-gaduhnya.

Sebuah terobosan memang diperlukan untuk menyelamatkan Indonesia dengan segera. Kampanye toleransi terbukti tidak memberikan hasil yang diharapkan. Spanduk bertuliskan “Kita semua bersaudara” yang dipasang di penjuru jalan protokol dan perumahan orang berada, sudah terasa basi sekali. Alih-alih menyelamatkan kebhinekaan, malah jadi pelindung warung nasi dari sengatnya matahari.

Indonesia sedang membutuhkan sebuah ide baru yang bisa memperbaiki semua itu. Indonesia memerlukan gagasan yang mampu menahan netizen agar tidak berteriak terlalu lantang. Indonesia menginginkan jawaban yang tepat sasaran, dan juga, instan.

Yang saat itu Indonesia tidak tahu, jawaban tersebut datang beberapa tahun kemudian dalam bentuk yang tidak pernah terbayang sebelumnya.

Continue reading

Advertisements

Perihal Ikan-Ikan Mati

Saat kalian baca tulisan ini, Ikan-Ikan Mati udah mengapung di toko-toko buku terdekat. Perasaan gua? Masih sama kayak waktu ngerilis The Maling of Kolor, sembilan tahun yang lalu. Deg-degan.

Khawatir, panik, dan cemas jadi satu. Meski begitu, ada satu rasa yang paling dominan saat buku ini akhirnya rilis ke pasaran.

Lega.

Keresahan yang selama ini menumpuk di kepala, akhirnya bisa tertuang pada halaman demi halaman. Pertanyaan-pertanyaan yang tumbuh rimbun dalam dada, akhirnya bisa tersusun rapih dari prolog sampai epilog. Keresahan dan pertanyaan itu sekarang udah diterjemahkan sepanjang 22 bab dan 315 halaman.

Gua berharap tulisan ini bisa diterima dengan baik oleh teman-teman semua. Bisa dinikmati di sore hari dengan secangkir teh hangat dan sepotong biskuit kelapa. Bisa juga jadi hadiah untuk gebetan yang baru kenalan seminggu lalu. Atau bisa menemani perjalanan jauh keluar kota atau jadi pembunuh waktu kala berkomuter dari rumah ke kantor setiap harinya.

Namun di atas itu semua, semoga buku ini bisa melahirkan tanda tanya atas keresahan yang coba gua sampaikan. Semoga bisa membuat kita untuk diam sejenak dan berpikir ulang.

Akhir kata, selamat membaca Ikan-Ikan Mati. Sampai bertemu di penghujung cerita. Dan semoga kita tetap berenang di peradaban.

Ari Budiman dan Truk Manggis

Nama gue Ari Budiman.

#FilmLuntangLantung Ari Budiman

Iye, gue tau, nama gue pasaran banget. Bahkan waktu gue mau bikin akun Twitter aja sampai nggak dapet-dapet nama user. Nama user @aribudiman jelas sudah ada yang punya. Mencoba kreatif dengan @budimanari, ternyata sudah ada Ari Budiman lain yang sama kreatifnya kayak gue, cuma dia jauh lebih cekatan. Gue coba ID @ariiiiiii —yang gue sendiri lupa ada berapa i-nya— tetap saja sudah ada yang punya. Akhirnya gue menyerah main Twitter, mending main roller blade di dalem komplek.

Kalau lo Google nama gue, ada 632,736 hasil dengan bermacam-macam jenis Ari Budiman. Mulai dari Ari Budiman yang MC kawinan, juragan pakan ternak, sampai Ari Budiman yang kapster salon. Nggak heran kalau ada orang yang suka tiba-tiba negor gue dan bilang:

“Eh, Ri, gue denger-denger lo bisa jadi MC kawinan, ya? Gue mau pesen, dong.”

Pesen? Lo kate gue risoles?

“Ri, hebat bener lo! Umur masih muda udah jadi juragan pakan ternak!”

Bahkan gue nggak tau apa itu pakan ternak.

“Wah, Ri, ganteng-ganteng, ternyata kamu ngondek, ya?”

Ngehe.

Yang paling random adalah yang pernah gue dapatkan dari seorang teman cowok.

“Ri, gua punya dua kabar buat lo. Kabar buruk dan kabar baik.”

“Apa, tuh?”

“Kabar buruknya: kata orang-orang, lo itu gay, ya?”

“Hah? Terus apa kabar baiknya?”

“Lo manis juga, ya.”

Nasib.

Biar nama pasaran begini, gue bisa dibilang orang yang sangat supel. Waktu Friendster masih berjaya, temen gue sampai nggak bisa ditampung di satu user. Nama gue di Friendster sudah seperti anggota kerajaan: Ari Budiman FULL III. Ari Budiman the Third. Ratu Elizabeth saja baru kedua. Nggak gaul lo, Beth!

Gue memang bisa berteman sama siapa saja. Tengoklah dua makhluk sahabat gue ini.

Togar Simanjuntak. Batak gila yang satu ini ngaku-ngaku kalau dia adalah cucu dari C. Simanjuntak, penulis lagu nasional. Ia adalah tipikal orang bersuara keras, yang jika menyanyikan lagu Ratu, “Cukuplah saja kau berteman denganku!”, maka akan ditanggapi dengan, “Iya, Bang. Temenan aja kok, Bang. Ampun, Bang, ampun. Janji deh besok nggak nakal lagi….”

Gue kenal Togar sejak SMA. Selama tiga tahun, gue duduk di sebelah Togar dan sadar bahwa Togar itu nggak suka bekerja di bawah perintah orang. Togar ingin berwirausaha. Sekarang Togar dapat apa yang diimpikannya dulu. Dia sudah punya bengkel motor milik sendiri.

Sekarang, mari kita tinjau sahabat gue yang kedua: Suketi Kuncoro. Suketi keturunan Timur Tengah; bapak Jawa Timur dan ibu Jawa Tengah. Dengan logat Jawanya yang medok, Suketi terdengar sangat ndeso meski ia sebetulnya nggak ‘kedesaan’. Suketi yang cenderung kalem dan pemalu, menjadi penyeimbang Togar yang meledak-ledak.

Oiya, gue sendiri adalah seorang sarjana ekonomi dari sebuah universitas Jakarta. Dan saat ini, gue sedang melakukan sebuah kegiatan yang lebih susah dari menebak ending sinetron Tukang Bubur Naik Haji.

Iya.

Gue sedang mencari kerja. Continue reading

Kancut: Sebuah Prolog

Sedikit nostalgia ke tahun 2008. Saat itu, saat sedang menganggur dan penuh ketidakjelasan selepas lulus kuliah, gua mengajukan ke penerbit sebuah naskah berjudul “Kancut”.

Ya, ya, lu ga salah baca kok. Judulnya emang “Kancut”.

Tulisan di bawah ini merupakan prolog yang menjadi awal mula dari segala kegaduhan yang terjadi di dalam naskah tersebut. Sebuah naskah yang akhirnya terbit menjadi novel dengan judul “The Maling of Kolor”.

Tulisan ini pula yang menjadi awal mula dari kegiatan gua menulis dan merilis buku. Sebuah kegiatan yang gua tinggalkan di sepanjang tahun 2014 kemarin.

Enjoy.

club

“DASAR ASU!”

Teriakan dari seorang ibu bersanggul menggema di antara bunyi dentuman musik disko yang sedang diputar di sebuah club ternama ibukota.

“Aku sudah tau semua kelakuan busukmu dengan wanita murahan ini!” tuding si ibu ke arah seorang lelaki dan wanita penggoda yang ada di sebelahnya. Sayangnya, si lelaki terlalu mabuk, sehingga menjawab, “Maafkan akuuu, menduakan cintamuuu…”

“Kamu juga! Dasar perempuan murahan! Sing edan! Jangan ngerebut suami orang dong!” Kali ini si ibu bersanggul memfokuskan tudingannya kepada si wanita penggoda.

“Cih! Siapa yang ngerebut suami orang? Suami lo sendiri yang ngebet sama gue tuh. Makanya kalo punya suami dijagain dong,” elak si wanita penggoda, santai.

“Ngebet-ngebet. Wong aku tau kamu tuh pakai pelet!” teriak si ibu bersanggul penuh nafsu, “Makanya suamiku lari sama kamu. Ya toh? Dasar perempuan sundal!”

“Begh, salah. Gue asli Padang. Bukan Sunda.”

“Sundal, bloon.”

“Oo, kirain Sunda.” Si wanita penggoda mesem-mesem.

“Kamu ngaku saja kalau kamu bener pake pelet! Ya toh? Aku ini sudah selidiki kamu! Jadi, sudah jangan menghindar lagi! Bisanya main pelet!”

Kesal dituduh main pelet, si wanita penggoda mengambil ancang-ancang dan,

PLAK!

“Nduk iki berani-beraninya nampar aku?! Tidak tau apa kalo aku ini masih keturunan darah biru dari kerajaan Semarang yang merupakan ibukota Jawa Tengah?!”

“So?”

“Ya… gak apa-apa sih. Nambah wawasan saja.” Continue reading

Bukan Mimpi

Agustus 2010

“Enaknya dinamain siapa ya?”

Saat itu tengah malam. Gua sedang mengetik halaman pertama dari sebuah naskah yang diminta oleh penerbit. Mereka minta dibuatkan sebuah cerita komedi dengan latar dunia kerja. Sebuah kisah tentang sarjana baru, yang luntang-lantung cari kerja.

Gua mengetuk-ngetukkan jari telunjuk dan tengah di atas meja kamar. Otak diputar demi bisa menemukan sebuah nama untuk si tokoh utama. Biasanya gua akan memilih nama yang biasa banget untuk tokoh utama dalam cerita-cerita gua. Gua pernah pake nama Andre, Dimas, Yanto. Nama yang mungkin aja ditemukan di kehidupan sehari-hari. Nama yang standar. Nama yang bisa aja “lu” atau “gue” banget.

Kali ini, tantangan mencari nama menjadi dua kali lipat sulitnya. Gua bukan hanya perlu nama yang biasa, tapi juga nama yang pasaran. Karena nama pasaran itu lah yang nantinya akan jadi trigger dari plot utamanya. Sebuah nama yang bisa jadi ada di mana-mana. MC kawinan, juragan pakan ternak, kapster salon, atau mahasiswa yang baru lulus dan susah cari kerja.

“Budi? Heri? Gunawan? Rudi, Agus, Ari, Budi… ah, gua tau. Ari Budiman!”

Gua kebayangnya si Ari Budiman ini orangnya harus jago ngomong, suka ngeles, dan pandai bergaul. Dia bisa cas-cis-cus terus bingung belakangan. Egonya gede, ga mau kalah sama temennya. Easy going tapi banyak maunya. Tapi wajah dan perawakannya haruslah seperti orang pada umumnya. Ah, kayak gini aja deh…

#FilmLuntangLantung Ari Budiman

“Nama temennya siapa ya?”

Ceritanya, Ari punya 2 teman baik. Satu yang selalu ia banding-bandingkan, sementara satu lagi yang bisa menjawab segala keresahan dalam hidupnya. Karena ini untuk novel bergenre komedi, kayaknya sih bakal lebih gampang kalo gua bikin 2 sahabatnya ini punya dialek khas daerah tertentu.

“Bikin orang Batak kayaknya seru nih. Yang gede, yang sangar, yang gahar, yang… bloon.”

Maka jadilah Togar Simanjuntak, sahabat Ari Budiman, orang Batak yang ngaku-ngaku kalo dia ini cucu C. Simanjuntak. Awalnya gua ingin memberi nama Bangun. Tapi sepertinya nama Togar lebih membumi dan asik untuk dipanggil-panggil. Penggalan kata “Gar” terbaca lebih mantap daripada “Ngun”. Maka si orang Batak ini pun bernama Togar dan bermarga Simanjuntak. Badannya gempal, rambutnya lebat, kalo ngomong harus kencang dan meledak-ledak.

“Nah, temennya yang satu lagi mesti kalem nih.” Continue reading