Tag Archives: nyokap

Bakut Buatan Nyokap

Sebagai umat yang halal makan babi, kecintaan gua pada daging yang satu ini udah ada di ambang batas normal. Berbagai macam makanan yang terbuat dari olahan daging babi bisa gua lahap dengan antusias. Dipanggang, disate, disop, diapain pun, niscaya bakal gua makan dengan lahap.

Salah satu makanan olahan daging babi favorit gua adalah sayur bakut.

Asal muasal bakut sebetulnya dari ba kut teh, sebuah makanan peranakan yang pertama kali diperkenalkan oleh para kuli pelabuhan di Singapura dan Malaysia. Arti bak kut teh sendiri adalah daging, tulang, dan teh. Itu karena daging babi yang biasa digunakan adalah daging sisa yang memiliki tulang besar-besar.

Gua pertama kali makan sayur bakut ketika duduk di bangku SD. Dan sejak saat itu, cinta pun bersemi. Sayur bakut buatan nyokap ga macem-macem. Cuma iga babi, dicampur sayur asin, dimasak dalam panci presto, ditambah bumbu dapur lainnya, maka jadilah sayur bakut favorit gua.

Sebagai anak kecil, gua menganggap begitulah bentuk dan rasa sayur bakut. Pakai potongan iga, bening, manis-asin dengan sedikit rasa kecut. Begitulah sayur bakut yang gua tau. Begitulah sayur bakut yang gua suka.

Sampai ketika SMP, saat lagi nongkrong di mall kecil dekat sekolah, gua memberanikan diri untuk makan sayur bakut selain buatan nyokap. Waktu itu, gua dan beberapa orang teman lagi duduk-duduk di foodcourt, mencoba menelaah apa arti hidup di sela mikirin enaknya makan apa siang ini.

Di antara gambaran gado-gado atau nasi goreng yang melintas di kepala, sebuah ide muncul dengan tiba-tiba. Sebuah kios baru di ujung sana ternyata menjual makanan yang paling gua suka. Dengan mantap, gua melangkahkan kaki ke arah mas-mas yang sedang duduk menunggu pesanan.

“Mas,” panggil gua, “Sayur bakutnya satu.”

“Piring?”

Gua ingin menjawab panci tapi takut terdengar ambisius, “Iya satu piring aja, Mas.”

Kemudian ia menciduk satu mangkok bakut dan menyajikannya ke atas nampan yang gua bawa. Ga lupa sepiring nasi putih diletakkan di sebelahnya. Setelah beberapa lembar lima ribuan berpindah tangan, gua pun berjalan kembali ke kursi dengan wajah yang mengkerut. Mata gua ga lepas dari mangkok dengan kuah yang bergoyang di setiap langkahnya.

Rasanya ada yang salah. Ada yang aneh dengan sayur bakut ini. Continue reading

Advertisements

Ngeberak

Sejauh yang gua ingat, bokap nyokap gua itu jarang banget ngasih petuah dalam hidup. Bisa dibilang, bokap nyokap gua itu bukan orang yang suka ngasih wejangan berjam-jam sambil duduk berhadapan.

Bokap nyokap gua bukan orang yang cukup pede untuk bisa ngasih nasehat berupa kata-kata. Pun ada sesi seperti itu, biasanya terselip dari sebuah cerita yang mereka sampaikan. Entah nilainya tersampaikan atau tidak, itu sepenuhnya kembali ke gua. Sama sekali ga ada paksaan.

Mereka lebih banyak menjadi teladan lewat tindakan. Lebih sering memberi contoh, ketimbang duduk dan melontarkan nasehat. Mereka hanya melakukan apa yang mereka percaya baik, dan berharap anak-anaknya dapat mencontoh di kemudian hari. Seperti yang gua bilang sebelumnya, sama sekali ga ada paksaan. Semuanya kembali ke gua.

Namun, sejauh yang gua ingat, pernah ada satu sesi di mana nyokap meminta gua duduk dan mendengarkan nasihatnya. Satu nasehat yang sampai hari ini masih gua inget dengan jelas. Nasehatnya ga panjang, cuma terdiri dari dua kata aja. Dua kata yang singkat dan padat: jangan ngeberak.

Yes, my lovely mom said that once.

Ya begitulah nyokap gua. Jarang ngasih petuah. Sekalinya ngasih, ya yang model gitu. Berbau-bau jamban. Continue reading

What Makes Me Happy

Jumat, 22 November 2013. Langit di balik jendela udah gelap. Dua jarum jam di dinding kantor kian merapat ke angka 6 tapi belum ada tanda-tanda kerjaan gua akan selesai dalam waktu dekat. Memang begini nasib masuk kerja setelah cuti 5 hari berturut-turut. Tumpukan kerjaan udah kayak cucian kotor. Pengen rasanya gua kiloin di penjualan barang bekas biar dituker sama cabe, tapi gaji yang masuk tiap bulannya ke rekening melarang gua untuk melakukan itu.

Kepala pusing, leher pegel, dan mata mulai perih.

Hanya laptop dan tumbler jadi teman gua berlembur ria. Sesekali, jempol dan jari manis tangan kiri menekan tombol alt-tab secara cepat untuk mengubah layar ke situs-situs berita. Oke, oke, situs berita selebritis, lebih tepatnya. I mean, siapa sih yang ga pengen tau berita ter-update soal batalnya pernikahan Asmirandah? Semua cowok di Indonesia harus tau dan peduli akan hal itu.

Ketika jari kembali menekan alt-tab dan akan lanjut kerja, lampu notifikasi smartphone Android berkedap-kedip di pojok kanan atas. Ternyata itu nyokap yang mengirimkan pesan lewat sebuah messenger. Pesannya singkat, hanya tiga kata.

Makan rumah ga?

Bukan, bukan. Gua bukan rayap yang suka makan rumah dan menjadikan daun pintu sebagai lalapan. Tapi memang begini istilah nyokap ketika mau mengonfirmasi apakah anaknya yang ganteng maut ini mau makan di rumah atau ga. Karena jika iya, nyokap akan menyisakan sayur dan menunggu kepulangan gua.

Buru-buru gua membalas karena nyokap ini tergolong orang yang ga sabaran. Jika dalam hitungan menit gua ga jawab, bisa-bisa rentetan PING! akan masuk ke kolom chat. Maka dengan cekatan, gua bilang akan makan di rumah namun entah jam berapa.

Ga perlu menunggu lama, kotak berwarna biru dengan judul “Mama” muncul dari bawah. Sebuah respon “Ok” dengan bentuk yang sealay-alaynya alay. Tersusun dari berbagai emot dan karakter-karakter yang bisa muncul dengan mudah berkat autotext.

autotext nyokap

Dulu, gua sempat ngelarang nyokap buat ganti handphone.

Continue reading

Napak Tilas di Pasar Baru

Sekitar sebulan yang lalu, gua nganterin nyokap ke Pasar Baru. Nyokap adalah seorang penjahit dan paling sering ke Pasar Baru untuk beli kain, kancing, dan keperluan menjahit lainnya. Ke Pasar Baru bulan kemarin menjadi kunjungan pertama gua setelah beberapa bulan ga ke sana.

Waktu kecil, gua sering banget ke Pasar Baru untuk nemenin nyokap belanja keperluannya. Selain emang suka jalan-jalan, gua doyan makan ayam kentaki, dan gerai ayam kentaki paling deket dari rumah ya di Pasar Baru ini. Letaknya di lantai 4. Naik lift yang di bagian kanan dari metro Pasar Baru, sampai di lantai 4 lalu belok kanan, terus ke kiri. Dari situ akan mulai tercium aroma ayam yang tergoreng dengan tepung khas kentaki.

Sampai sekarang gua masih inget lokasi dan betapa bersemangatnya gua tiap kali diajak nyokap ke Pasar Baru.

Namun seiring waktu berjalan, kentaki ada di mana-mana. Gua mulai jarang nemenin nyokap ke Pasar Baru karena gua bisa mendapatkan apa yang gua mau hampir di mana-mana. Nyokap lebih sering ke Pasar Baru sendiri. Kalo pun gua ikut biasanya untuk membeli peralatan sekolah di toko Lee Ie Seng. Toko ini lengkap, serba ada, dan tergolong murah. Dijual oleh engkoh-engkoh cina yang ga pernah bilang “tanya aja toko sebelah” karena di sebelahnya, ga ada toko sejenis. Lee Ie Seng ini berjaya, pada masanya.

Toko Lee Ie Seng

Kunjungan sebulan yang lalu seperti napak tilas buat gua. Toko Lee Ie Seng (yang berdiri sejak 1878) udah tutup meski papan namanya masih ada di sana. Di depannya malah digelar lapak kaki lima penjual poster, sendal, dan kacamata cengdem; seceng adem. Dengan semakin mudahnya menemukan Gramedia dan Gunung Agung, Lee Ie Seng pun tutup. Ia kalah tertelan masa.

Banyak hal telah berubah di Pasar Baru. Dulu jalanan ramai oleh pengunjung yang berjalan kaki. Sekarang malah ramai oleh lapak-lapak kaki lima yang menjorok dan menyisakan ruang sempit untuk pejalan kaki.

Sepertinya hal itu sengaja dilakukan karena pengunjung Pasar Baru sendiri udah mulai sepi. Kalah oleh mall-mall ber-AC yang menawarkan titik perbelanjaan dan hiburan yang lebih lengkap. Lapak-lapak kaki lima diharapkan dapat menarik pengunjung kelas menengah ke bawah. Sementara dulu, berbelanja di Pasar Baru adalah sebuah kemewahan tersendiri. Pasar Baru berubah mengikuti tabiat manusia masa kini. Continue reading